
Atika yang sudah salah orang, mengira Rafa adalah tamu yang seperti biasa datang ke Vila, ternyata salah orang, apa lagi tadi pagi Atika sudah beraninya mengerjai Rafa dengan meminta komisi dengan satu informasi.
Atika pun ikut masuk menyusul Bibi Lana yang sudah masuk ke dapur.
"Bibi.! Atika tidak salah dengar tadi kan, kalau bibi menyebut orang itu dengan sebutan "Tuan Muda"??
"Kalau kupingmu tidak bermasalah, tentu yang kau dengar itu tidak salah, Bibi Lana terlihat kesal karena Atika sudah berani melarang tuan mudanya untuk masuk tadi.
Atika yang mendengar ucapan Bibi Lana pun, menelan salivanya kasar, dan semakin panik, karena Atika tidak salah dengar.
" Bibi.!
"Apa lagi Atika.?? Bibi Lana terlihat jengah, karena Atika selalu bicara dan sedikit menganggu aktivitas Bibi Lana yang sedang menyiapkan makan malam.
" Apa Lana akan di pecat si tuan muda itu?? Lana terlihat murung karena memikirkan nasibnya akan di tendang dari Vila itu
"Bibi mana tahu Atika, kita lihat saja nanti, kalau tuan muda mengatakan kamu harus berhenti bekerja, dan bibi tidak bisa berbuat banyak.
Atika pun lemas, tentu yang di ucapkan Bibi Lana benar, " siapa yang akan berani membelanya nanti di hadapan tuan muda itu".
"Tapi Atika kan tidak tahu, kalau tuan yang tadi pemilik Vila ini, dan Atika kira, tuan muda itu, tamu yang selalu datang ke Vila ini.
" Makanya kalau ketemu orang itu, kamu jangan hanya pintar nyerocos aja Tika, harus ingat dengan jelas juga wajahnya.
"Maaf Bibi, jawab Atika lirih.
" Sudah.! sekarang kamu bawa makanan ini, dan tata yang rapi, tuan muda akan turun sebentar lagi, ucap Bibi Lana.
Atika pun patuh, melakukan yang di perintahkan Bibi Lana, sesekali Atika melirik ke atas, karena sangat takut karena sudah membuat kesalahan.
Dewa yang sudah selesai membersihkan dirinya, keluar dari kamar tamu, untuk makan malam, dan tak lama Rafa pun turun dari lantai atas.
Atika dan Bibi Lana sudah berdiri tak jauh dari meja makan.
Atika yang sempat melirik Rafa turun dari lantai atas, hanya menunduk, bahkan dadanya berdebar, melihat wajah datar nan dingin itu, membuat Atika semakin ciut.
Rafa yang sudah sampai di lantai bawah, menatap Atika sekilas yang terus menunduk takut, Rafa yakin gadis itu sudah menyadari kesalahannya.
__ADS_1
Rafa pun duduk, dan mengambik nasi serta beberapa lauk yang tersedia. Saat ia akan menyuap makanannya, Rafa sempat melihat Atika yang melirik sekilas ke arahnya.
"Bibi Lana.! berapa Art wanita yang bekerja di Vila ini?? Rafa bertanya, tanpa melihat lawan bicaranya, dan hanya fokus pada makanannya.
" Ada tiga tuan, Bibi, Atika, dan Bi yati.
"Lalu, siapa yang merekomendasikan gadis itu bekerja di Vila ini, ucap Rafa yang tetap fokus pada makannya, dan tanpa ekspresi sedikit pun.
Bibi Lana yang paham perkataan Rafa, menunduk takut, tapi Bibi Lana tetap menjawab pertanyaan Rafa.
Atika pun semakin gemetar, menyadari yang di bicarakan itu adalah dirinya.
" Kalau itu, Bibi minta maaf tuan, karena Bibi yang membawa Atika bekerja di Vila ini, ucap Bibi Lana jujur.
"Apa Bibi lupa, aturan di Vila ini??
" Maaf tuan, Bibi tidak lupa, Bibi hanya kasihan, karena Atika membutukan pekerjaan untuk membutuhi pak Danu, ucap Bibi Lana tertunduk.
"Bibi bisa memilih, Bibi yang saya pecat atau gadis itu keluar dari Vila ini, ucap Rafa tak terbantahkan.
Atika yang mendengar ucapan Rafa, akhirnya mendongak menatap Rafa yang terlihat dingin dan datar.
" Maaf tuan, tolong jangan pecat Bibi Lana, biar saya yang keluar dari Vila ini, ucap Atika menatap Rafa sendu.
"Bagai mana Bik?? tanya Rafa tak berniat menjawab perkataan Atika.
" Cukup tuan, anda tidak perlu menekan Bibi Lana, saya akan keluar sesuai keinginan anda, ucap Atika yang tak terima Bibi Lana terpojok.
Rafa tak juga menghiraukan ucapan Atika, dan hanya menatap Bibi Lana dalam.
Dewa yang menikmati makan malamnya, hanya mendengarkan pembicaraan Bosnya itu dan dua wanita yang berbeda usia itu, Dewa tak ingin ikut campur, karena kalau ia salah bicara bisa-bisa dia yang kena getahnya, dan lebih baik cari aman saja, pikirnya.
"Tuan, saya tahu saya salah, dan untuk itu saya mohon maaf, dan saya harap anda tak menyalahkan Bibi Lana, dan saya permisi, ucap Atika pergi meninggalkan Vila.
Bibi Lana yang melihat kepergian Atika, hanya bisa pasrah, dan tak bisa membela Atika sedikit pun, karena memang Bibi Lana lah yang meminta Atika membantunya di Vila, bahkan gaji yang di peroleh Atika, gaji Bibi Lana yang di bagi dua, agar Atika tetap bisa menghidupi diri dan ayahnya.
Rafa tidak perduli dengan kepergian Atika tetap menikmatu makanannya.
__ADS_1
" Lain kalai tidak boleh ada kesalahan seperti ini Bik, ucap Rafa yang berdiri karena sudah selesai makan.
"Iya tuan, Bibi minta maaf, ucap Bibi Lana menunduk hormat.
" Hm, Rafa hanya berdehem berjalan ke lantai atas menuju kamarnya.
Bibi Lana pun membersihkan sisa makanan, dan mencuci piring yang kotor, dan pikiran Bibi Lana hanya tertuju pada Atika, dan memikirkan nasib Atika.
Atika yang biasanya, membawa makanan dari Vila untuk ayahnya, berniat menemui Bibi Lana dengan cara mengendap-endap masuk ke kamar Bibi Lana, dan Atika berharap untuk malam ini Bibi Lana memberinya makanan untuk ia bawa pulang, karena ayahnya pasti sudah sangat lapar sekarang.
Rafa yang berdiri di balkon kamarnya, melihat Atika yang mengendap-endap menuju kamar belakang, dan membuat Rafa ingin tahu apa yang di lakukan Atika di sana, dan Rafa pun turun diam-diam untuk melihat apa maksud Atika masuk dengan cara seperti pencuri begitu.
Atika yang sudah masuk ke dalam kamar Bibi Lana pun merasa lega, karena Bibi Lana, ternyata masih membuatkan bekal makan untuknya dan juga ayah Atika.
"Bibi, Atika minta maaf, ucap Tika sendu menatap Bibi Lana.
" Sudahlah, jangan hawatir, Bibi tak apa, dan besok Bibi akan coba cari kerja yang lain untukmu, dan sebelum kamu dapat kerja, ini Bibi punya uang sedikit, kamu ambillah, dan bawa juga makanan ini, kamu makan di rumah saja, mungkin ayahmu sudah menantimu dan sudah lapar, ucap Bibi Lana sedih.
"Terima kasih Bibi, kalau Tika sudah dapat kerja, Tika akan kembalikan uang Bibi, ucap Atika yang sudah berkaca-kaca.
" Itu tidak perlu Tika,,Bibi ikhlas, dan pulanglah, nanti ayahmu hawatir.
"Atika pergi dulu Bik, Atika minta maaf karena sudah membuat Bibi jadi ikut di marahi, ucap atika yang tak enak hati.
" Jangan di pikirkan, kamu hati-hati, jangan sampai ada yang melihat, ucap Bibi Lana mengingatkan.
Rafa yang sejak tadi menguping pembicaraan Bibi Lana dan Atika pun, bersembunyi di balik dingding kamar Bibi Lana, saat mendengar suara pintu terbuka.
Atika pun menoleh kiri dan kanan, lalu ia berjalan sepelan mungkin agar tidak menimbulkan suara.
Rafa yang melihat Atika, sudah sedikit jauh, mengikuti Atika dari belakang, dan saat Atika sudah mendekati pintu gerbang sampin Vila, Rafa pun menarik bekal makan yang di bawa Atika tadi, hingga Atika terlonjak kaget, saat makanan itu sudah terlempar dan tentu isinya juga tumpah tak bersisa.
Braakkkk.!!
Atika hanya menatap bekal makan itu sendu, lalu menatap Rafa yang menatapnya tajam dan sinis.
Next.
__ADS_1
Jangan lupa jejaknya ya Guys.
Salam Arthor.