Ketegaran Hati Wanita Miskin

Ketegaran Hati Wanita Miskin
Buah Yang Jatuh Takkan Jauh Dari Pohonnya.


__ADS_3

Semenjak ibu Atika meninggal, hidup Atika memang sangat memprihatinkan, banyak hal buruk di laluinya, tapi Atika tetap sabar walau sakit dan berat ia tidak menyerah dan putus asa.


Cobaan hidup bagi setiap manusia tentunya berbeda-beda, begitu juga dalam menyikapinya, sebagian orang bisa bertahan karena punya kepercayaan teguh, bahwa Tuhan melihat setiap kesabaran seseorang dan mampu melalui dengan tabah dan sabar.


Tapi di sisi lain sebagian orang menyikapi dengan pilihan salah, mencari pelarian dan lari dari kenyataan hidup yang sudah terlukis sebagai kodrat untuk takdir setiap manusia.


Ketegaran tentu tidak terdapat pada semua orang, tapi dengan berserah diri, dan keyakinan, apa pun masalah, dan seberat apa pun beban hidup pasti punya jawaban dan solusi sendiri-sendiri.


Atika memang selama ini, di kenal gadis yang tidak ingin punya masalah pada siapa pun, walau banyak orang sering menyakitinya, Atika tidak pernah membalas perbuatan siapa pun yang melukai dan menyakiti perasaannya, Atika hanya mengampuni perbuatan mereka dengan doa-doanya. Bagi Atika menyiram minyak di atas api yang berkobar, bisa juga membuat ia ikut terbakar, karena sebesar apa pun kobarannya, akan tahluk pada air yang menyurutkan kobaran api tersebut.


Seperti kemarin, Atika masih saja menerima perkataan pedas dan menyakitkan dari para gadis yang selalu membencinya hanya karena berdasar Atika seorang gadis miskin yang tak pantas dalam hal apa pun.


Namun Atika tetap bersikap sabar dan tenang, walau ucapan yang menyakitkan itu, begitu menyakitinya. Bagi Atika membalas perbuatan yang tak terpuji, sama saja akan lebih buruk dari orang-orang yang menghinanya.


Bu Dewi sangat marah pada Atika yang sudah membuat putrinya malu kemarin, karena tak terima ibu Dewi melabrak Atika di pasar, sedang belanja bersama Bibi Lana.


'Hei gadis miskin.!!! Berani-beraninya kau mempermalukan putriku di depan orang banyak, dan aku tidak akan melewatkan kesempatan ini, aku akan katakan pada semua orang, kalau kau gadis yang tidak tahu malu.!! ucap ibu Dewi berteriak, hingga orang-orang sekitar menatap heran pada ibu Dewi dan Atika yang saling pandang.


Atika tak menjawab, ia hanya diam menatap ibu Dewi yang menatapnya tajam, dan beberapa orang di sekitar mereka berkerumun menyaksikan Atika dan ibu Dewi berperang dengan tatapan masing-masing.


"Maaf Bu Dewi, aku tidak pernah mempermalukan putri anda, tapi dia sendirilah yang mempermalukan dirinya di depan orang-orang, ucap Atika bersikap tenang.

__ADS_1


"Cih.!! apa kau kira aku percaya pada ucapan gadis miskin sepertimu, kau hanya wanita yang berlaku licik untuk merubah hidup nu yang miskin, yang berhayal jadi seorang ratu.!! ucap Buk Dewi tajam, menatap Atika sinis.


"Saya memang gadis miskin, tapi semiskin apa pun saya, saya tidak pernah mengemis pada keluarga anda, ucap Atika, membuat ibu Dewi semakin geram, karena Atika malah menjawab ucapannya dengan tenang, dan bukannya takut.


"Hahahahaha, lihatlah gadis kumuh ini ibu-ibu, baru saja bisa makan enak tapi sudah sombong dan banyak bermimpi.!! ucap Bu Dewi berteriak mempermalukan Atika.


Bibi Lana yang juga berdiri di sana, sungguh tak habis pikir melihat ibu Dewi yang sangat berani melontarkan kata-kata, yang tidak bisa di pertanggung jawabannya, tapi Bibi Lana tak ambil pusing soal itu, ia tahu Atika tidak akan mudah terpancing dengan ucapan ibu Dewi yang sengaja mempermalukan Atika.


"Maaf Buk Dewi, saya rasa kata-kata itu lebih pantas untuk ibu dan putri anda, karena banyak orang di luar sana yang lebih jauh di katakan hidup mewah, tidak sanggup untuk menghina orang lain, tapi anda, yang bisa di kattakan masih hidup cukup sudah berani menghina orang lain, padahal orang yang anda hina itu tidak pernah meminta apa pun pada anda, ucap Arika, membuat ibu Dewi semakin murka, karena menamparnya dengan kata-kata yang membuatnya malu.


"Dasar wanita tidak tahu malu, kau hanya wanita murahan yang merayu orang kaya untuk merubah hidup miskinmu.!! ucap Bu Dewi membuat Atika tak bisa menahan sesak di dadanya lagi, karena ucapan Bu Dewi bisa saja membuat orang-orang berpikir buruk terhadapnya.


"Memnag buah yang jatuh dari pohonnya tidak jauh dari pohonnya, pantas saja putri anda sangat pandai menghina orang lain, ternyata ibunya sendiri yang sudah menanamkan sifat buruk itu, ucap Atika membuat semua orang menertawai Bu Dewi, karena Atika membuktikan bahwa ia tidak seperti yang di katakan Bu Dewi yang menuduhnya mempermalukan putrinya.


Atika lega, ternya masih ada orang-orang, yang melihatnya menggunakan hati nurani, di lihat dari tatapan dan senyum orang-orang di sana seolah memujinya yang sudah membuat ibu Dewi mempermalukan dirinya sendiri.


Rafa yang sedang di pabrik bersama pak Danu, mendapat laporan dari para pengawalnya yang mengawasi Atika dan Bibi Lana.


Rafa sengaja melakukan itu, karena tak ingin terjadi apa pun pada Atika dan Bibi Lana, apa lagi kemarin ia mendapat laporan Atika yang di permalukan para gadis-gadis yang selalu membenci Atika.


"Katakan.!

__ADS_1


"Nona Atika di labrak seorang wanita di pasar tuan, dan ibu itu ternyata salah satu orang tua dari gadis-gadis yang kemarin, ucap pengawal itu pada Rafa yang mendengarkan dari seberang telponnya.


"Apa Tika ku terluka??


"Tidak tuan, Nona sangat hebat, membuat ibu itu malu sendiri tadi, dan pergi begitu saja, saya juga merekam kejadian itu tuan, ucap pengawal itu menjelaskan.


"Kirimkan videonya sekarang, ucap Rafa mengakhiri sambungan telpon itu sepihak.


Pengawal itu pun mengirimkan video yang sempat di ambilnya saat Atika berdebat pada Bu Dewi tadi.


Bunyi notifikasi di ponsel Rafa berbunyi, Rafa langsung membuka pesan itu, dan memutar video itu.


Rafa terkekeh, melihat Atika yang begitu tenang mengatasi Bu Dewi yang terbakar amarah, bahkan Rafa sangat salut karena Atika bisa membuat orang-orang di sana kagum pada sikapnya yang sangat tenang, tapi bisa membuat ibu Dewi meledak-ledak, karena Atika bagia menampar ibu Dewi tanpa harus mengotori tangannya, tapi cukup mengembalikan ucapan Bu Dewi yang pedas dan tak bermutu itu.


"Apa putriku sedang membasmi serangga lagi?? tanya pak Danu yang melihat Rafa tersenyum-senyum sendiri melihat layar ponselnya.


"Ayah benar, Atika sangat mirip dengan momy, karakter mereka bisa di katakan tidak jauh beda, ucap Rafa terkekeh membayangkan dua wanita yang beda usia tapi banyak kesamaan pada sifat mereka.


Pak Danu pun ikut terkekeh, membayangkan Atika dan besannya yang sering melakukan hal di luar nalar orang lain, dan selalu punya ide untuk berbuat jahil dan konyol.


Next.

__ADS_1


Jangan lupa jejaknya ya Guys.


Salam Arthor.


__ADS_2