Ketegaran Hati Wanita Miskin

Ketegaran Hati Wanita Miskin
Sama-Sama Hancur.


__ADS_3

Bagai di sambar petir, Rian rasakan kala mendengar perkataan Lili.


Rian tak menyangka hubungannya dengan Lili jadi renggang karena ia tak jujur tentang Rafa.


Rian pun menghubungi Rafa, karena situasi sudah tak mendukung lagi, bahkan Rian merasa takut dan panik bersamaan, ia takut kala Lili bicara pada ayahnya, dan semua ucapannya waktu itu, akan di anggap dusta belaka.


Rafa yang mendengar dering ponselnya, melihat siapa yang menghubunginya.


Saat melihat nama Rian tertera di layar, secepatnya Rafa menjawab panggilan itu.


'Hallo,,, ada apa Rian?? kamu di mana, apa tidak jadi datang?? tanya Rafa yang belum tahu apa yang sudah terjadi.


"Raf,,, aku tak tahu harus bilang apa lagi, kita sudah sama-sama hancur saat ini, ucap Rian dari seberang telponnya.


" Maksud kamu hancur bagai mana?? tanya Rafa yang tak paham.


"Kamu itu bodoh, atau apa hah.!!! ucap Rian meninggikan suaranya karena Rafa tampak seperti orang bodoh.


" Bicara yang jelas Rian,, jangan emosi, ucap Rafa lagi.


"Celi sudah tahu semua tentang kamu.!!!


Duaarrrr


Rafa langsung lemas, dadanya berdebar kencang, lututnya bergetar seolah tak mampu menopang tubuhnya saat ini.


Felix yang melihat perubahan wajah Rafa, setelah menerima telpon, terlihat panik, ada apa dengan putranya itu, ia pun mendekati Rafa mencoba bertanya apa yang terjadi.


" Raf,, ada apa sayang?? apa terjadi sesuatu??


Rafa yang mendengar suara momynya pun menoleh, sejenak ia memeluk momynya, tak dapat menahan rasa sesak di dadanya, Rafa menangis di pelukan momynya.


Felix yang merasakan tubuh Rafa bergetar, dan ia tahu anaknya sedang tidak baik-baik saja.

__ADS_1


"Kenapa hm?? cerita sama momy, jangan begini, karena momy akan hawatir sayang, ucap Felix lembut sembari mengelus punggung Rafa lembut.


Aliando yang melihat Rafa dan istrinya di sudut ruangan, merasakan ada hal sesuatu terjadi, dan kenapa Rafa memeluk istrinya begitu lama, dan dari cara gestur Felix, Aliando seperti menenangkan Rafa, tak ingin penasaran, Aliando pun pamit dari para tamu, berjalan menuju pada Rafa dan istrinya.


" Apa yang terjadi mom?? tanya Aliando, pada Felix.


Felix hanya menggeleng, memberi isyarat lewat tatapannya, bahwa Rafa butuh sandaran dan ketenangan.


"Son,,,, jangan begini, kalau ada masalah, cerita sama daddy dan mom, ucap Aliando menepuk lembut punggung Rafa.


Rafa pun merenggangkan pelukannya, menatap daddy dan momnya.


" Rafa akan cerita nanti pada kalian, saat ini Rafa harus pergi, mom, dad, ucapnya dengan bibir bergetar.


"Kalau ini masalah hati, mom yakin, anak mom bisa menyelesaikannya hm?? ucap Felix lembut.


" Entahlah mom, Rafa tak yakin, ucapnya lirih.


"Jangan jadi pengecut son, selesaikan dengan jantan.!! ucap Aliando tegas, karena ia selalu bersikap tegas pada Rafa.


Rafa pun sudah tiba di rumah kostnya, ia melihat Rian yang duduk bersandar di depan rumah kostnya.


Rian yang melihat Rafa datang, menatap tajam, geram dan emosi, karena Rafa tak pernah mendengarkan kala di ingatkan tentang kejujurannya, namun Rafa seakan tak perduli, hingga imbasnya mengenai Rian juga, karena Lili sangat marah dan membencinya karena merasa turut di bohongi.


Rafa pun membuka kamar kostnya, ia tak sanggup bicara apa pun, saat masuk mereka sudah di dalam, Rian yang emosi langsung melayangkan tinjunya pada Rafa, tapi Rafa tak melakukan perlawanan, seoalah ia pasrah jadi temeng kemarahan Rian.


"Puas kamu Raf,,?? berkali-kali aku mengingatkanmu, bahkan ayahnya Lili sudah menasehatimu waktu itu, tapi kamu seolah tuli, tak menghiraukan apa pun, dan yang terjadi sekarang, aku juga kena imbasnya karena Lili tak ingin bertemu lagi denganku, ucap Rian dengan nafas tersengal karena emosi dan sempat menonjok Rafa tadi.


Rafa tak bicara apa pun, ia hanya diam, tatapannya kosong, duduk di lantai bersandar di dingding kamarnya.


Rian yang tadinya emosi dan sangat marah, tak tega melihat Rian yang hanya diam dengan tatapan kosong, namun air matanya mengalir dari pelupuk matanya.


Rian merasa iba, juga egois karena, waktu ia merasakan hal yang sama pada Lili, Rafalah yang membantunya serta memberinya semangat, tapi apa yang Rian lakukan saat ini, ia malah marah serta memukul Rafa tadi, sungguh Rian jadi merasa bersalah karena tak bisa di andalkan sebagai sahabat.

__ADS_1


" Pulanglah Rian,, semua sudah berakhir, ucap Rafa lirih.


"Ayolah Raf, jangan begini, mari berjuang bersama, karena kita sama-sama bersalah dalam hal ini, ucap Rian lagi.


" Saat ini aku hanya ingin sendiri, ucap Rafa yang sudah tidak bisa berpikir jernih, ingin rasanya ia mendobrak kamar kost Celi, namun untuk menampakkan wajahnya saja di depan Celi ia tak mampu, ia yakin Celi pasti menagis saat ini, tapi bagai mana caranya ia mengatakan yang sebenarnya, karena Celi tidak akan percaya lagi padanya.


"Terserah kamulah Raf, kalau begitu aku pergi, ucap Rian keluar dari rumah kost Rafa.


Rian paham, Rafa perlu waktu untuk menenangkan pikirannya, dan Rian juga ingin sendiri, memikirkan cara bagai mana bicara yang sejujurnya pada Lili.


Setelah Rian pergi,, Rafa menangis sembari melihat fotonya dan Celi di walpaper ponselnya.


"Maaf,,,, aku tak bermaksud membohongimu, aku hanya ingin mencintaimu sesuai harapanmu, tapi justru caraku menyakiti perasaanmu, maaf sayang,, ucapnya sendiri sambil melihat foto Celi.


Lili yang tahu sahabatnya itu bersedih, saat tiba ia melihat Celi berbaring di atas kasur, terlihat mata sembabnya, Celi menangis dalam diam.


Lili pun naik ke atas ranjang, memeluk Celi, dengan tangisnya.


Celi yang merasakan pelukan itu, serta mendengar Lili menangis, jadi semakin sedih dan tangisnya pun pecah.


Malam yang larut di hiasi air mata dua pasang kekasih itu, Lili tak bicara hanya menangis, karena ia tahu bagai mana sakitnya di bohongi.


Rian yang tak bisa menerima ucapan Lili, dan perkataan Lili selalu terngiang di kepalanya, membuat ia frustasi dan menghabiskan banyak alkohol di Cafenya.


Dua pasang kekasih itu, larut dalam pikirannya masing-masing.


Sedangkan Rafa sudah seperti mayat hidup, duduk bengong dan tatapan kosong, entah apa yang di pikirkannya hanya Rafa yang tahu.


Felix yang hawatir dengan Rafa, berkali-kali menghubungi ponselnya, namun tak ada jawaban.


Aliando yang tak ingin melihat istrinya panik, meminta Dewa menemui dan mencari Rafa, jujur saja Aliando juga hawatir, namun ia tak ingin menunjukkan hal itu di depan istrinya, karena akan menambah kekhawatiran sang istri.


Next

__ADS_1


Mohon tinggalkan Jejak ya Guys.


Salam Arthor


__ADS_2