
Rafa yang sudah tidak sabar ingin segera sampai di mansionnya, dan menanyakan persiapan untuk melamar Celi, membuat ia ingin sekali terbang.
Felix yang sudah tahu Rafa akan pulang hari ini, dengan segala keresahan menghinggapi perasaannya.
Istrinya Wdodo yang melihat menantunya, gelisah mengelus lembut punggung Felix, ia tahu Felix sedang dalam perasaan sedih, takut dan hawatir.
Aliando sengaja meminta mami dan papinya datang ke mansionnya, karena menurutnya, papinya bisa menenangkan Rafa nanti saat tahu kebenarannya, apa lagi Rafa yang begitu menghormati Widodo, yang sangat Rafa anggap sebagai panutannya.
Widodo menatap Felix pun tak tega, terlihat jelas wajah murung dan hawatir tercetak jelas di wajah menantunya, hingga Widodo memutuskan ia yang akan menjelaskan langsung pada Rafa.
"Jangan hawatir nak, papi yang akan jelaskan nanti, dan kalau pun nanti Rafa bertindak di luar kendali, kita hanya berusaha menenangkannya, ucap Widodo pada Felix dan Aliando.
Felix pun hanya mengangguk pasrah, ia tak bisa berpikir jernih saat ini, sebentar lagi di depan matanya ia akan menyaksikan kesakitan sang putra, dan ia tak yakin apa ia akan sanggup melihat itu atau tidak.
Namun dalam benaknya, hari ini akan tuntas, dan ia akan menguatkan hatinya, bahkan lebih sakit dari ini sudah ia lalui, dan ia yakin situasi menyesakkan ini akan berlalu, walau pun Rafa putranya akan menjalani hari-harinya penuh beban yang perasaan hancur.
Deru mensin mobil yang terdengar terparkir di halaman mansion, membuat Felix semakin panik, hingga ia mencrngkram kuat tangan suaminya.
Derap langkah tegas mengisi ruangan hening itu, dan semakin dekat semakin mendebarkan dada semua orang yang sudah menunggu kedatangan si empunya langkah tegas itu.
Rafa yang melihat semua orang yang di sayang berkumpul menanti kepulangannya, tersenyum sumringah, ia sungguh bahagia karena semua yang ia sayang sangat memperhatikannya dan memberinya kasih sayang yang tak berkesudahan.
"Rafa pulangggg, mom, dad, teriak Rafa yang sudah merindukan malaikat hatinya itu, siapa lagi kalau bukan sang momy.
Teriakan Rafa itu pun di sambut dengan peluk hangat Felix, dan suaminya serta Grandma dan Grandpanya.
Felix pun menampilkan senyum terbaiknya, meski di balik senyum itu terasa perih di hatinya, bahkan ia tak tega melihat semangat yang terpancar di wajah putranya itu.
Rafa pun duduk di sebelah Felix setelah mendapat pelukan hangat dari dady momy nya, juga Grandma dan Grandpanya.
" Bagai mana perkembangan di sana?? tanya sang dady berbasa-basi memulai pembicaraan agar tidak terlalu tegang.
"Semuanya baik dad.! Dan aku sangat merindukan wanita cantik ini, ucap Rafa menciup pipi Felix dengan sayang dan sengaja menggoda sang momy.
Felix pun semakin sakit mendengar ucapan Rafa, namun ia berusaha tersenyum, walau sejak tadi ia sudah menahan sedak dan air matanya agar tak jatuh.
" Oh,,, jadi cucu Grandma tidak merindukan Grandma ya, ucap Grandma nya, cemberut.
Rafa hanya terkekeh melihat wajah cemberut Grandma nya, karena gemas dan selalu membuat ia senang.
Felix yang tak kuat pun menatap Widodo dalam, ia tak sanggup lagi dalam kepura-puraan itu, dan ia sudah tak bisa lagi membendung air matanya, hingga setiap kali menetes ia langsung secepatnya menghapus agar tak di lihat Rafa.
Widodo yang paham pun, mengangguk saat melihat tatapan dalam dari menantunya itu, dan ia sengaja memancing Rafa untuk menuju pembicaraan yang seharusnya mereka sampaikan.
"Jadi bagai mana?? apa selama di negara xx, kamu tidak mendapatkan wanita lebih cantik dari Celi?? ucap Widodo membuat semuanya selain Rafa seolah berhenti bernafas.
" Kalau wanita cantik tentu banyak, tapi aku tidak butuh wanita yang ada di sana, karena aku sudah punya yang sangat cantik, dan akan menjadikannya ratu di hati dan hidupku, ucap Rafa bangga, dan membuat Felix tak tahan lagi, dan menumpahkan air matanya, yang sudah tertahan sejak tadi.
__ADS_1
Rafa yang melihat air mata sang momy pun jadi panik dan heran.
Ada apa dengan sang momy pikirnya.
"Mom, kenapa menangis hm?? ucap Rafa yang sudah memeluk sang momy erat.
" Rafa,, panggil Grandpanya, dan Rafa pun menatap heran wajah dady dan Grandma nya yang terlihat tegang, dan menatap Grandpa nya yang manggilnya.
"Ada sesuatu yang perlu kamu tahu, dan sebaiknya kamu ikut Grandpa ke ruang kerja dady mu, ucap Widodo sengaja mengajak Rafa untuk bicara bertiga saja dengan Aliando juga.
Rafa yang binggung pun, hanya mengikuti langkah dady dan Grandpa nya, menuju ruang kerja sang dady, dan tinggallah Felix dan mami nya Aliando, dalam tangis yang semakin pilu.
Widodo pun duduk di sofa tunggal, Rafa dan dady nya di sofa yang sama.
Rafa yang semakin binggung pun akhirnya bertanya, karena di rundung rasa penasaran, di tambah lagi, momy nya yang tiba-tiba menangis.
" Sebenarnya ada apa ini dad?? bertanya pada sang dady yang duduk di sampingnya.
"Kamu dengarkan saja Grandpa, dan akan menjelaskannya padamu, ucap Aliando yang jiga tak tahan menahan sesak di dadanya.
Rafa pun menatap Grandpa nya, serius, dan berharap apa yang di bicarakan bukan hal yang buruk.
" Rafa,,, Widodo menghela nafasnya perlahan sebelum lanjut bicara.
"Maaf,, ucap Widodo yang membuat Rafa semakin bingung, kenapa malah minta maaf??
Duaarrrr
Rafa yang mendengar ucapan Grandpa nya pun terkejut, bahkan dadanya berdebar kuat, bagai di sambar petir ucapan itu membuat Rafa ingin berteriak
"Apa alasannya, Rafa tidak bisa melamar Celi?? ucap Rafa yang sudah ingin meledak, tapi masih berusaha tenang, dan ingin tahu alasan Grandpa nya itu.
"Grandpa tidak bisa cerita banyak dan surat ini, akan menjawab pertanyaanmu itu, ucap Widodo memberikan amplop itu pada Rafa.
Rafa pun menerima amplop itu, dan melihat tulisan yang di kenalnya dan tentunya itu tulisan sang kekasih, dan namanya yang tertulis di atas amplop itu, membuat Rafa merasakan debaran jantungnya semakin cepat
Rafa pun membuka amplop itu cepat dan ia pun mulai membacanya
"Teruntuk Rafa kekasihku"
Sebelumnya aku minta maaf dari hatiku yang paling dalam.
Setelah kau baca surat ini kau boleh membenci atau pun mengutukku, karena itu pantas untuk seorang penghianat sepertiku.
Deg
Rafa pun semakin gemetar saat membaca kalimat "penghianat"
__ADS_1
Aku minta maaf karena sudah menghancurkan kepercayaan dan cintamu yang begitu tulus padaku, dan aku memang tidak pantas untukmu.
Kau tahu Rafa, aku bahkan pernah bermimpi akan menjadi wanita paling bahagia saat kau akan menggiringku ke pelaminan, namun itu semua memang hanya mimpi.
Aku wanita kotor, yang sudah menghianati cintamu, dan aku tidak bisa menjaga harta yang paling berharga pada diriku, dan tentunya wanita kotor ini, tidak pantas pada seorang Rafa yang begitu baik.
Aku di jebak pria yang pernah ada di masa laluku, hingga hal yang tak seharusnya terjadi, terjadi di kala malam kau menghubungiku, dan aku wanita yang bodoh percaya atas ucapan manisnya, hingga kami bertemu, dan dia sudah merencanakan hal licik itu jauh sebelum aku menemuinya, dan setelah malam itu, aku yang kotor ini, berpikir, tidak akan ada lagi tempat untukku bagi siapa pun, hingga aku memutuskan pergi dan memabwa semua kenangan kita.
Aku yakin saat ini kau sangat membenciku, dan itu pantas untukku.
Berbahagialah Rafa, dengan wanita yang bisa menjaga kehormatannya, dan tidak menghianatimu kelak, dan aku mendoakan yang terbaik untukmu.
Aku minta maaf, meski maaf ini tak berarti, setidaknya aku merasa lega telah mengatakan ini padamu, meski aku tahu kau takkan bisa memaafkan aku.
Maaf..
Celi.
Rafa yang sudah membaca surat itu, dengan derai air matanya, ia meremas surat itu hingga tak berbentuk lagi.
Tanpa bicara sepatah kata pun Rafa langsung berdiri, berjalan keluar dari ruang kerja sang dady.
Tatapan kosong, dan air matanya masih mengalir deras, hingga saat di ruang tamu ia tak menoleh lagi pada sang momy dan Grandma nya yang menangis pilu.
Felix yang melihat putrannya berjalan melewati mereka begitu saja, memanggil Rafa lirih.
"Rafa..
Rafa yang mendengar sang momy memanggilnya pun, berhenti tanpa menoleh kebelakang, ia tak sanggup melihat sang momy, yang sama besarnya mendambakan Celi sebagai menantu, namun takdir berkata lain.
"Rafa sayang... jangan pergi nak, ucap Felix yang tak sanggup lagi mengucapkan kata-katanya.
Hatinya hancur melihat putranya yang terpuruk, mengapa lagi dan lagi ia merasakan sakit yang sudah lama ia lupakan.
Rafa tak lagi tahan mendengar tangis momy nya, berjalan pergi meninggalkan mansion dan tak tahu entah kemana tujuannya saat ini.
"Raaffaaa..!! teriak Felix yang melihat putranya malah pergi, dan Rafa sama sekali tak perduli, dan menulikan pendengarannya.
Aliando dan papinya hanya bisa pasrah dan menghela nafas berat melihat kepergian Rafa.
" Sudah mom, biar Rafa menenangkan dirinya dulu, ia butuh waktu untuk menerima kenyataan ini, ucap Aliando mendekap Felix erat, dan juga tak tahan melihat keadaan sang istri tercintanya.
Next
Jangan lupa jejaknya ya Guys.
Salam Arthor.
__ADS_1