Ketegaran Hati Wanita Miskin

Ketegaran Hati Wanita Miskin
Si Miskin Selalu Salah.


__ADS_3

Mobil Yang di bawa Dewa sudah tiba di Vila, tanpa menunggu Dewa membukakan pintu, Rafa sudah lebih dulu keluar dari mobil, dengan langkah tegasnya, Rafa memasuki Vila.


Bibi Lana yang lagi bersih-bersih di ruang tamu heran, melihat tuan mudanya yang belum lama pergi sudah kembali lagi.


Rafa yang sudah dari tadi merasakan sesak di dadanya, langsung menghempaskan tubuhnya di sofa, dengan helaan nafas yang terdengar berat, mejamkan matanya, besandar di sandaran sofa, menenangkan sejenak suasana hatinya.


Merasa cukup nyaman Rafa pun memanggil Bibi Lana yang sedang bersih-bersih.


Bibi Lana yang di panggil pun, bergegas cepat, mendapati Rafa yang duduk di sofa.


"Iya tuan, sahut Bibi Lana menunduk hormat.


" Duduklah Bik, ucap Rafa mempersilahkan Bibi Lana duduk di sofa.


Bibi Lana pun mengangguk patuh, dan duduk sesuai perintah Rafa.


"Ceritakan tentang Atika, ucap Rafa yang sudah tak sabar ingin tahu kehidupan yang di jalani Atika.


Bibi Lana sempat kaget atas ucapan Rafa, namun Bibi Lana tak ingin menanyakan alasan tuan mudanya menanyakan tentang Atika, Bibi Lana pun menceritakan kisah Atika.


"Atika itu gadis yang baik dan penurut, semasa ibunya masih hidup, Atika termasuk gadis periang dan polos.


Atika putri satu-satunya pak Danu dan Ratna ibunya Atika.


Memasuki umur 14 tahun, Atika kehilangan ibunya, saat ibunya Atika jualan kue keliling, sebuah mobil dengan kecepatan tinggi menabrak ibu Atika hingga kehilangan nyawanya.


Pak Danu yang pada saat itu bekerja di kebun teh, mendapat berita kecelakaan istrinya, langsung pingsan karena terkejut dan shok, mendapat berita itu, dan para pekerja lainnya, melarikan pak Danu ke rumah sakit.


Karena terlalu shok, pak Danu terkena struk, dan mengalami kelumpuhan hingga saat ini.


Ibunya Atika yang sudah di bawa ke rumah sakit, dan di nyatakan dokter sudah meninggal sebelum tiba di rumah sakit, akhirnya tanpa mendapat perawatan dari pihak rumah sakit, ibu Atika pun di bawa pulang ke rumah.


Atika yang tak punya keluarga dekat, hanya bisa menangis melihat jasad ibunya yang sudah terbujur kaku, dan ayahnya Atika yang dalam perawatan dan belum sadar, sama sekali tidak melihat jasad istrinya di makamkan .


Hanya Atika lah yang mengantar dan memakamkan ibunya saat itu, tanpa sanak saudara, hanya penduduk setempat yang turut memakamkan Ratna.


Atika yang masih belia, sama sekali tak memahami apa pun saat itu, bahkan setelah menghantarkan ibunya ke pemakaman, Atika harus mencari uang untuk biaya perawatan pak Danu yang masih di rumah sakit.


Demi ayahnya Atika sempat kerja di perkebunan sebagai buruh kasar, meski waktu itu sempat di tolak untuk bekerja karena Atika masih terlalu muda melakukan hal yang begitu berat.


Atika yang memohon atas dasar ayahnya yang membutuhkan biaya rumah sakit, akhirnya Atika di izinkan bekerja, dan banyak penduduk juga yang membantu Atika memberikan sedekah, walau tak banyak, tapi bisa membantu untuk mengumpulkan uang.


Kerja keras Atika pun membuahkan hasil. Atika bisa membawa pak Danu pulang karena sudah melunasi biaya rumah sakit.


Karena tak punya biaya untuk berobat, pak Danu hanya bisa pasrah dengan kelumpuhan yang di deritanya.


Atika yang masih sekolah, bekerja setelah pulang dari sekolah, hingga Atika lulus SMP, dan memilih tidak lanjut sekolah, memutuskan untuk bekerja demi ayahnya.


Seiring berjalannya waktu, Atika yang tak paham mengenai rumah yang di tempati mereka di rampas oleh pihak keluarga ibunya yang tiba-tiba muncul.


Atika dan ayahnya di usir dari rumah itu, secara paksa, dan membuat Atika dan ayahnya sempat tidur semalaman di gubuk kebun teh.


Almarhum kakek Abib pekerja taman di Vila ini, membawa Atika dan ayahnya ke gubuknya yang berada di belakang paviliun, dan sebelum kakek Abib menghebuskan nafas terakhirnya, kakek Abib pun memberikan gubuk tua itu pada Atika dan pak Danu.


Semenjak hari itu, kehidupan Atika pun semakin berat.


Segelintir orang yang tak menyukai Atika yang sering utang di warung, dan Atika yang belum bisa membayar hutang pun harus mengalami hinaan, dan kalung peninggalan ibunya yang begitu berharga bagi Atika raup di rampas pemilik warung karena hutang yang tak kunjung Atika lunasi.


Karena kasihan Bibi pun menawari Atika bekerja di Vila, untuk bantu-bantu, dan gaji yang di peroleh Atika adalah gaji saya setiap bulannya kami bagi dua.

__ADS_1


Tekad Atika untuk menyembuhkan pak Danu, selalu berusaha menabung, mengumpulkan uang sebanyak yang ia mampu, bahkan uang itu tidak pernah Atika gunakan untuk keperluannya, bahkan baju yang Atika pakai sehari-hari, baju bekas dari penduduk yang bermurah hati pada Atika, dan tanpa rasa malu Atika menerima dengan senang hati.


Baginya tidak terlalu penting dengan penampilan demi tujuannya menyembuhkan Pak Danu.


Keseharian Atika yang selalu mendapat ejekan dari para gadis seumurannya, yang di juluki sebagai "gadis kumuh", Atika hanya membalas ejekan dan hinaan dengan senyuman saja.


Atika sebenarnya gadis yang lemah, di hadapan orang-orang Atika terlihat kuat dan pemberani, selalu tersenyum menyembunyikan rasa sakit yang di alaminya.


Bahkan orang-orang menilai Atika seolah tak punya beban, karena selalu bisa menyembunyikan bebannya.


Dewa yang mendengarkan cerita Bibi Lana pun sampai meneteskan air mata, tak menyangka hidup Atika yang begitu berat, padahal kalau di lihat dari sikap Atika, memang terlihat seolah tak punya beban.


" Untuk kejadian malam itu, Bibi minta maaf tuan, karena sudah lancang memberikan makanan pada Atika, dan Bibi terima kalau harus di pecat tuan, ucap Bibi Lana yang mengira, sudah lancang melanggar aturan di vila itu.


"Bibi jangan salah pahan, saya menanyakan tentang Atika bukan karena itu, karena saya menyesal, dan tidak bertanya dulu pada Bibi, dan juga karena saya kesal pada Atika.


Bibi Lana yang mendengar perkataan Rafa pun lega, yang tadinya mengira tuan mudanya akan memecat Bibi Lana karena sudah lancang, mempekerjakan Atika dan memberi bekal makanan.


" Apa menurut Bibi, Atika masih mau bekerja di sini?? tanya Rafa penuh harap, karena merasa bersalah, sudah mengusir dan berkata kasar pada Atika.


"Bibi tidak bisa pastikan, Atika masih mau atau tidak, dan bila tuan ingin Atika bekerja lagi di Vila ini, kita bisa langsung bertanya pada Atika pergi ke gubuknya nanti.


" Mungkin itu lebih baik, dan sekalis saya mau melihat keadaan pak Danu, ucap Rafa yang dudah bertekad bulat, dan ingin minta maaf pada Atika.


"Bibi masaklah makanan, untuk kita bawa ke sana nanti.


" Baiklah tuan, Bibi akan memasak, ucap Bibi Lana senang.


Rafa yang tak jadi pergi ke pertemuannya, menghabiskan waktunya di dalam kamar, dan menunggu waktu, untuk pergi ke gubuk Atika.


Bibi Lana yang sudah menyiapkan beberapa makanan, tersenyum senang, karena Atika akan kembali bekerja di Vila.


Atika yang menadapatkan gaji di hari pertama kerja sebagai kuli, langsung membeli makanan untuk ayahnya, karena Atika sudah berjanji pada Ayahnya.


Sebungkus nasi di tangannya, berkali-kali Atika mengucap syukur, karena mendapatkan rezeki.


Atika yang sudah tiba di depan gubuknya, berteriak kencang karna terlalu bahagia dengan hasil yang Atika dapat.


"Ayah, Atika pulang.!


Langkah Atika pun terhenti saat melihat pintu gubuknya terbuka, dan melihat di depan pintu ada tiga pasang sendal.


Arika yang mengira terjadi sesuatu pada ayahnya, langsung berlari masuk, dan memanggil ayahnya.


" Ayaaahh.!


Atika tersentak saat melihat siapa yang ada di gubuknya, sedetik kemudian Atika menyadari Bibi Lana berada di gubuknya, dan melihat bekal makanan yang tersusun rapi di atas tikar dekat pembaringan Ayahnya.


"Sudah pulang Tik?? tanya Bibi Lana memecah ketegangan Atika, agar tidak berpikir buruk dengan kedatangan tuan mudanya itu.


" Apa ayah sakit Bik?? Atika balik bertanya, hawatinya masih terlihat jelas di wajah Atika.


"Ayahmu baik-baik saja, dan tujuan kami datang, karena tuan muda ingin bicara padamu.


Atika pun menoleh ke arah Rafa, karena Bibi mengatakan tuan muda sombong dan kasar itu datang ke gubuknya.


Tatapan Atika, di artikan Rafa, menantikan jawaban kedatangan mereka, dan Rafa yang sudah menyiapkan mentalnya pun bicara.


" Maaf untuk kejadian kemarin, dan aku menyesali sikap kasarku padamu, ucap Rafa tegas.

__ADS_1


"Anda tak salah tuan, di mana pun, " si miskin tetap bersalah"


Deg


Rafa tertegun dengan perkataan Atika, dadanya berdenyut sakit, Rafa paham Atika berkata begitu karena sikap Rafa pada Atika, yang menilai Atika sama seperti gadis lain.


"Atika, tuan muda berniat baik datang ke sini, jangan bicara begitu, ucap Bibi Lana menasehati Atika.


" Maaf Bibi, Atika harus memberi ayah makan, ucap Atika tak menanggapi ucapan Bibi Lana.


Atika pun membuka bungkusan makanan yang di belinya sepulang kerja tadi.


"Bibi juga bawa makanan Tika, kamu makanlah, biar Bibi yang menyuapi pak Danu.


Atika tak mendengarkan Bibi Lana, menyuapi ayahnya dengan nasi yang di belinya tadi.


Rafa dan Dewa melihat nasi yang di bawa Atika, meringis dan sesak.


Nasi putih dengab lauk tahu dan tempe, dan sebungkus kerupuk, bagai mana bisa membuat pak Danu cepat sembuh, makanannya saja tak cukup gizi.


" Atika, Bibi menyanyangimu seperti anak Bibi sendiri, dan Bibi harap kamu menghargai kedatangan tuan muda, dan meminta maaf padamu.


"Atika tahu Bik, dan tidak ada yang perlu di maafkan, justru Atika yang salah, ucap Atika fokus menyuapi ayahnya.


" Selain minta maaf, kedatangan tuan muda juga ingin menyampaikan kalau Atika bisa bekerja lagi di Vila bersama Bibi.


"Atika sudah dapat kerja kok Bik, dan Atika tidak ingin menjilat ludah yang sudah Atika buang, karena Atika sudah berjanji tidak akan menampakkan wajah Atika dan menginjakkan kaki di Vila itu lagi.


Duaarr


Terhujam kata-katanya sendiri, membuat Rafa malu pada dirinya sendiri, yang sudah percaya diri datang menemui Atika, dan melupakan ucapannya malam itu.


Sindiran Atika, membuat Rafa sadar, bahwa Atika tidak akan semudah itu untuk memaafkan sikap kasarnya.


Bibi Lana pun kehabisan kata-kata, tak bisa berbuat banyak, karena Bibi Lana paham bagai mana pribadi Atika.


Rafa yang merasa Atika tidak akan menerima tawarannya, berdiri dari duduknya karena tak ada artinya berlama-lama lagi, karena jawabannya sudah ada.


" Maaf.! ucap Rafa lirih, berjalan keluar dari gubuk Atika dan di susul Bibi Lana dan Dewa.


Langkah Rafa dan Bibi Lana juga Dewa terhenti, saat Atika memanggil Bibi Lana, membuat mereka serempak membalik badan.


"Bibi tunggu.!!


Atika membawa bekal makan yang di bawa Bibi Lana, dan memberikan bekal makan itu untuk di bawa kembali.


" Bibi, bekalnya ketinggalan, ucap Atika menyerahkan bekal makan itu.


"Atika, ucap Bibi Lana lirih, dan terlihat mata Bibi Lana berkaca-kaca.


" Tidak apa Bik, Atika dan ayah sudah makan, dan lagi Atika takut, akan di kira mencuri lagi, ucap Atika, membuat dada Rafa ingin meledak, lagi dan lagi Rafa terhujam kata-katanya.


Atika pun masuk ke gubuknya, tak sanggup melihat mata Bibi Lana yang terlihat kecewa, bahkan Bibi Lana meneteskan air mata.


Atika pun menangis pilu


letakkan kepalanya di pahak kaku ayahnya, mencurakan sesak yang di tahannya sejak tadi, menyesali sikapnya terhadap Bibi Lana, yang selalu perhatian dan membantu Atika dalam kesulitan.


Next.

__ADS_1


Jangan lupa jejaknya ya Guys.


Salam Arthor.


__ADS_2