
Setelah Lili keluar dari ruangan Rian, Celi melihat Lili bari saja menghapus air matanya, dan Celi sudah tahu apa yang membuat Lili bersedih.
Celi pun memeluk Lili, mencoba menenangkan Lili, tak ingin bertanya, karena Celi yakin saat ini Lili hanya butuh teman sebagai sandarannya.
"Dia membenciku Cel, ucap Lili dalam isak tangisnya.
" Rian tidak begitu,, ucap Celi menjawab Lili.
"Kenapa tidak berterus terang saja hm?? tanya Celi lagi.
" Aku ngak bisa Cel,, aku takut apa yang terjadi pada kakakku, akan terulang padaku, aku ngak mau buat ayah dan ibu mengalami kesdihan yang sama, bahkan ketakutan ibu, selalu mengingatkanku agar tidak seperti kakakku, ucap Lili menagis pilu membayangkan bagai mana sang kakak tercintanya naas meregang nyawa hanya karena status tak sepadan, hingga pria yang di cintainya menghianatinya, karena tak bisa menerima kenyataan kakaknya mengakhiri hidupnya dan hanya meninggalkan pesan terakhir dengan sepucuk surat, menjelaskan bahwa ia tidak berguna, sudah membuat malu keluarga, hanya karena cinta membutakan mata hatinya, kakaknya bahkan memberikan hal berharganya hingga hamil di luar nikah.
Pada saat kakaknya Lili memberitahukan pada pria itu kala sang kakak mengandung benihnya, yang di dapat sang kakak adalah penolakan dan tidak mengakui janin yang ia kandung.
Hinaanlah yang kakaknya dapat, bahwa pria itu mengatakan "Dia tidak akan pernah mengakui janin dari seorang wanita miskin, bahkan lebih menyakitkan, pria itu mengatakan bahwa janin itu adalah hasil dari pria lain, dan menuduh sang kakak menjajakan tubuhnya pada pria kaya raya.
Itulah membuat Lili, tak bisa menerima Rian, bahkan ayah dan ibunya yang trauma akan nasib sang kakak, selalu mengatakan pada Lili jangan sampai berhubungan dengan pria yang jauh dari kasta sosial mereka, karena pada umumnya orang kaya memandang sebelah mata pada orang miskin dan selalu menganggap rendah.
Lili juga tak ingin membuat ayah dan ibunya kecewa, karena hal itu otomatis mengingatkan mereka pada kejadian naas yang menimpa sang kakak.
Apalah daya Lili, ia tak bisa membohongi perasaannya pada Rian, namun ia juga tak ingin ayah dan ibunya kecewa karena sudah merasakan hal yang begitu menyakitkan.
Di depan mata kepala ayah dan ibunya, mereka melihat jasad sang kakak di dalam kamar tidurnya, bahkan mereka harus meninggalkan rumah itu, hanya tidak selalu membayangi akan kejadian di masa lalu.
Lili yang begitu sedih pun, meminta Celi menemaninya untuk menenangkan diri, ke suatu tempat yang selalu membuat mereka nyaman bila sedang ada masalah.
Desiran ombak menunjukkan gelombangnya, bergulung menuju tepian pantai.
Lili menatap ombak itu seoalah merasakan perasaanya bagai gulungan ombak itu, saat sudah di tepian maka air laut itu akan tertarik kembali ke dasar laut.
Begitulah perasaan Lili saat ini, di saat ia ingin menetapkan hatinya, namun ia seperti tertarik bagai arus air laut itu menuju masa lalu yang di alami sang kakak, membuat ia tak bisa mengambil keputusan yang jelas pada hubungannya dengan Rian.
Lili tahu keputusan yang ia ambil adalah keputusan yang salah.
Karean tidak semua orang sama, bahkan saat ia melihat keseriusan Rian, ia yakin Rian tidak seperti pria bre*****k yang pernah kakaknya kenal.
Lili hanya bisa pasrah ke mana nasib akan menggiringnya, namun ia tak bisa pungkiri bahwa ia juga sangat mencintai Rian.
__ADS_1
Tak terasa hari sudah sore, Celi masih setia menemani Lili di pantai tersebut.
Sebagai sahabat Celi harus bisa jadi sandaran Lili, karena Celi juga menganggap Lili sebagai saudara perempuannya.
Saat Celi ingin mengajak Lili pulang, ponselnya berdering, nama yang tertera di layar menunjukkan Rafa Calling.
Celi pun mengangkat pangilan dari Rafa.
"Halo Fa,, sahut Celi sedikit menjauh dari Lili yang duduk di tepi pantai.
" Kamu di mana?? tanya Rafa, karena tak mendapati Celi di Cafe Rian.
"Aku lagi di suatu tempat, sahut Celi.
" Di suatu tempat bagai mana maksudmu?? tanya Rafa bingung, karena Celi tak memberitahu nama tempatnya.
"Aku lagi menemani Lili, dia lagi ada masalah, nanti aku akan cerita ke kamu, pulanglah lebih dulu, karena Lili masih enggan beranjak, ucap Celi menjelaskan.
" Baiklah,, jangan terlalu lama di sana, dan cepatlah pulang, hati-hati di jalan, ucap Rafa lagi.
"Iya, kami akan segera pulang, jangan hawatir, aku tutup dulu ya, ucap Celi dan mengakhiri panggilan tersebut.
Saat Rafa baru selesai mandi, ia mendengar suara motor yang di kendarai Celi dan Lili.
Rafa pun melihat lewat jendela kaca rumah kostnya, saat Celi dan Lili masuk ke kamar kost mereka.
Rafa yang sudah tak sabar ingin tahu, apa masalah Lili, berencana setelah menyantap makan malamnya, ia akan bertamu ke kamar kost Celi dan Lili.
Ketukan pintu, membuat Celi mengurungkan niatnya saat ingin bicara pada Lili.
Celi pun berjalan menuju pintu, dan membukakanya.
Saat daun pintu terbuka lebar, menampakkan Rafa yang berdiri di depan pintu kamar kost itu.
" Masuklah, ucap Celi mempersilakan Rafa masuk, dan sekilas ia menatap Lili yang duduk termenung di tepi ranjangnya karena, pintu kamar itu terbuka lebar.
"Kamu bilang tadi pergi ke suatu tempat, ada masalah apa sebenarnya? Rafa bertanya sambil duduk di kursi kayu yang ada di kamar kost Celi dan Lili.
__ADS_1
"Ke pantai di jalan O, ujar Celi memberitahu.
" Hanya masalah perasaan, antara Lili dan Rian, ucap Celi lagi.
"Maksudnya, Lili dan Rian mereka punya hubungan spesial gitu?? tanya Rafa yang belum paham.
" Belum bisa di katakan spesial, karena Lili belum menerima Rian sesungguhnya, tapi mereka sama-sama tahu antara perasaan mereka satu sama lain, ujar Celi lagi.
"Kalau mereka punya perasaan yang sama, kenapa tidak terus terang saja? ujar Rafa semakin penasaran.
" Kadang karena sesuatu, seseorang harus mengorbankan perasaannya, karena tak ingin mengecewakan atau menyakiti hati orang yang kita sayangi, dan itu terjadi pada Lili dan Rian, ujar Celi.
"Apa Rian punya wanita lain, dan perasaan Lili bertepuk sebelah tangan?? tanya Rafa Lagi, yang belum bisa mencerna apa yang di katakan Celi.
" Tidak,,, Rian pria yang sangat baik, hanya saja masalahnya ada di Lili.
"Rian sudah berkali-kali mengungkapkan perasaannya, bahkan berkali-kali di tolak, Rian tidak putus asa, dia selalu berusaha dan memberi ruang pada Lili, karena ia tak ingin Lili merasa terpaksa.
" Namun,, penantian Rian tak setulus cintanya pada Lili, karena Lili tak bisa menerima Rian, karena rasa takut dan trauma akan kejadian di masa lalu Lili.
"Lili pun mempunyai perasaan yang sama pada Rian, namun karena tak ingin membuat ayah dan ibunya kecewa karena masa lalu yang kelam, yang menimpa kakaknya Lili, hingga melarang Lili berhubungan dengan pria yang tidak setara status sosialnya, karena pria yang tidak bertanggung jawab hingga kakaknya Lili meregang nyawa mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri.
Rafa pun tertegun dengan cerita Celi, di samping kecerian Lili ternyata banyak duka yang tersimpan, mungkin dengan ia bersikap demikian, bisa mulupakan hal yang begitu berat dalam ingatannya.
Sungguh Rafa prihatin pada Lili yang begitu kuat, bahkan rela mengorbankan perasaannya.
"Apa Rian sudah pernah bertemu dengan orang tuanya Lili?? tanya Rafa lagi.
" Tidak, Rian tak berani melangkah terlalu jauh, karena Lili belum bisa menerima, dan Rian juga menghargai Lili, tak ingin membuat Lili membencinya, ujar Celi
"Aku akan coba bicara pada Rian besok, dan mudah-mudahan ada jalan keluar, ucap Rafa lagi.
" Yah,, kita dukung mereka, agar tak menyakiti perasaan masing-masing, dan sebelum terlambat, ujar Celi yang sepakat pada Rafa.
"Tidurlah,,, temani Lili, sudah larut, ucap Rafa pada Celi dan mengelus lembut kepala Celi, dan lagi-lagi sentuhan kecil itu membuat Celi seperti begitu di sayang dan di perhatikan, dan membuat perasaan Celi menghangat akan perlakuan kecil dari Rafa, dan tentunya itu juga membuat nama Rafa mulai mengisi hati dan perasaan Celi.
Next
__ADS_1
Tinggalkan jejak ya Guys
Salam Arthor