
Celi menikmati makan malamnya di sebuah restauran mewah.
Senyum manis telukis indah di bibirnya, di tambah canda dari pria di depannya, membuat Celi tertawa lepas, sesaat ia melupakan sesak di dadanya.
Egil Admadja, keponakan dari Yayuk, dan tentu adalah sepupu Celi.
Egil datang dari luar negeri, berkunjug karena merindukan auntynya yaitu Yayuk, momnya Celi.
Celi yang menjemput Egil dari bandara, mengajak Egil untuk makan malam sebelum pulang ke rumah.
"Ku kira, kamu ngak akan bisa secantik ini Cel, ucap Egil sambil menyuapkan makanannya.
"Aiishh,,, jangan bilang kamu masih ingat aku waktu masih kecil, ucap celi terkikik mengingatnya.
" Tentu saja aku selalu mengingatnya, karena wajah jelekmu itu selalu membuat aku tertawa, ucap Egil terkekeh.
"Huhh,,, aku bahkan tidak ingin mengingatnya, kesal Celi.
" Hahaaa,, melihat wajahmu begitu, aku jadi ingat saat kau menangis dengan ingus yang meler, Egil terbahak membayangkan Celi kecil, bila menangis ingusnya akan berantakan di wajahnya.
Celi pun tertawa lepas, kala ingat, masa kecilnya, cengeng, dan entah kenapa setiap ia menangis dulu, ingusnya tak bisa ia tahan agar tak keluar.
Di tengah tawa yang asik itu, ada sepasang mata manatap mereka dari kejauhan di sudut pojokan restauran itu.
Rafa yang baru selesai makan malam bersama rifalnya, tak sengaja melihat Celi juga ada di sana, tangannya terkepal kala melihat laki-laki yang bersama Celi, begitu akrab, dan yang membuat Rafa mengeraskan rahangnya, saat pria itu menghapus sisa makanan di bibir Celi.
Tentu pemandangan itu membakar dada dan hati Rafa, rasa cemburu berkobar saat ini.
Ia tak terima ada pria lain menyentuh, pujaan hatinya, meski Celi sudah membuat keputusan sepihak, tapi tidak dengan Rafa, karena baginya Celi hanya miliknya.
Saat Celi dan Egil beranjak hendak meninggalkan restauran tersebut, Celi yang biasa manja pada Egil, bergelayut di lengan Egil yang merengek hadiah apa yang di bawa Egil padanya.
Namun saat Celi menandang lurus ke depan, tatapannya bertemu dengan Rafa.
__ADS_1
Sesaat Celi melihat tatapan Rafa berkobar, Celi tahu saat ini Rafa marah dan emosi, apa lagi saat ini posisi Celi teihat mesrah dan manja pada Egil, sudah bisa di pastikan Rafa berpikir yang tidak-tidak dengannya.
Rafa yang tak tahan melihat pemandangan di depannya, berdiri, berjalan menuju Celi dan Egil.
Celi pun gemetaran, takut Rafa akan berbuat hal yang tak terpuji, tangannya dingin dadanya berdebar kuat, saat Celi memajamkan matanya serta mengambil nafas dalam, mengambil ancang-ancang untuk menghadapi Rafa.
Saat ia membuka mata, dan melihat Rafa semakin mendekat, Celi semakin panik, sedetik kemudian Celi malah bengong, karena Rafa hanya melewati Celi dan Egil, seolah tak kenal satu sama lain.
Deg
Sakit,,, hati Celi sakit melihat Rafa, dengan tatapan datar dan dingin melewatinya begitu saja.
Apa Rafa sudah melupakannya.?? pertanyaan yang ada di benak Celi.
Benarkah Rafa sudah tak mencintainya?? lagi dan lagi, hanya pertanyaan yang bergelut di kepalanya saat ini.
Apa sesakit ini juga yang Rafa rasakan ketika aku mengabaikannya.??
Egil yang melihat mata Celi berkaca-kaca, mengira Celi sedih karena Egil tak memberitahu hadiahnya.
"Gitu aja ngambek, pake acara mewek lagi, ucap Egil meledek Celi.
Celi yang mendengar ledekan Egil, hanya cemberut seolah membenarkan ucapan Egil, karena ia tak ingin Egil tahu masalahnya dengan Rafa.
" Ayo pulang, saat tiba nanti kamu akan tahu apa hadiahnya, ucap Egil menarik Celi berjalan keluar dari restauran itu.
Saat di mansionnya Celi beralasan capek, ia memilih untuk istirahat di kamarnya, dan Egil pun membiarkan Celi pergi istirahat.
Saat di kamar,, pecah sudah tangis Celi yang sudah ia tahan sejak tadi.
Celi terus membayangkan sikap Rafa yang mengabaikannya tadi.
Rafa yang sangat cemburu, bahkan tak bisa meluapkan amarahnya, menemui Rian di cafenya.
__ADS_1
Saat di Cafe Rafa tak banyak bicara pada Rian, yang jelasnya juga Rian malas bicara karena sama-sama merasakan hampa.
Rafa sudah tak terkontrol lagi, ia bahkan sudah sangat banyak meneguk alkohol, Rian sendiri yang sama frustasinya, bukannya melarang Rafa, melainkan turut hanyut dalam buaian alkohol itu.
Ucapan yang tak jelas keluar dari mulut ke dua pria yang patah hati itu, bahkan mereka terkadang tertawa seperti orang gila, dan kadang menangis dan terlihat bodoh.
Rasa penyesalan yang di rasakan ke dua pria yang pupus harapan karena cinta itu, membuat mereka sesaat lupa diri.
Rian yang meraung-raung menyebut nama Lili, tapi tidak dengan Rafa, Rafa menunjuk-nunjuk patung yang di pajang di Cafe itu.
Rafa menuding, dan terkadang melempar patung itu, mengatakan "Beraninya kau merebut Celiku.!!!
" Celi hanya milikku..!! milikku.!!!
Kau akan ku lenyapkan.!! tanganmu akan ku potong.!! karena telah berani menyentuh Celiku.!!!!
Ponsel Rafa pun berdering, karena sangat mabuk berat, ia bahkan tak tahu letak ponselnya di mana, Rafa menyambar kotak rokok Rian dan mengira itu ponselnya.
"Ha,,hallo sa,,say..ng, kau merindukanku hm?? mengira kotak rokok itu ponselnya. " Aa,aku juga merindukanmu honey,,, ucap Rafa yang bicara semakin ngelantur.
Sementara Rian sudah terkapar di lantai Cafe, karena sudah tak sadarkan diri.
Rafa pun keluar dari Cafe, meninggalkan Rian di sana, dengan langkah sempoyongan, Rafa masuk ke dalam mobilnya, ia ingin segera pulang karena tak sadar, ia mengira Celi menghubunginya tadi, tak ingin Celi hawatir dan mengira Celi menunggunya saat ini.
Rafa pun menjalankan mobilnya dalam keadaan mabuk berat, dan mobil yang dibawanya, berjalan, meliuk-liuk di jalanan.
Saat di perempatan jalan, Rafa yang tak jelas lagi dengan penglihatannya, hampir menabrak mobil di depannya, hingga mobil yang hampir bertabrak dengan mobil Rafa, menghindar hingga mobil Rafa meluncur kearah pembatas jalan, dan..
Braakkkk.!!!!!
Mohon tinggalkan jejak ya Guys.
Salam Arthor
__ADS_1