Ketegaran Hati Wanita Miskin

Ketegaran Hati Wanita Miskin
Menghapus Beban Masa Lalu.


__ADS_3

Sebelum Rafa dan Rian kembali ke kota, ayah dan ibunya Lili meminta Rian dan Rafa agar makan bersama mereka dahulu.


Selama ibunya Lili menyiapkan hidangan makan malam mereka, Rafa, Rian dan ayahnya Lili berbincang di teras rumah.


"Apa Lili masih satu kost dengan nak Celi?? tanya pak Danu ayahnya Lili.


" Iya ayah,, mereka mana bisa di pisahkan, bahkan Celi begitu menyanyangi Lili, jawab Rian.


"Ayah sangat salut pada nak Celi, dia lebih memilih hidup sederhana, padahal punya segalanya, ucap pak Danu salut pada Celi.


" Ayah sudah tahu kalau Celi adalah putri dari keluarga Quera?? tanya Rafa kaget.


"Iya ayah tahu,, sahut pak Danu menatap Rian dan Rafa bingung.


" Mengapa kalian bertanya begitu?? tanya pak Danu Lagi.


"Tidak apa-apa ayah,, sahut Rian.


" Hanya saja Celi masih menutupi dari Rafa, ucap Rian lagi.


"Maksudnya?? tanya pak Danu dengan alis mengerut, tak paham.


Melihat pak Danu yang bingung, Rian tersenyum, dan menatap Rafa seolah memberi kode agar Rafa berkata jujur pada pak Danu.


Rafa yang paham pun mengangguk paham akan tatapan Rian.


" Sebagai orang tua tidak salahnya saya meminta saran dari ayah, ucap Rafa serius menatap pak Danu.

__ADS_1


"Ceritalah nak, bila ayah bisa membantu walau hanya nasehat, ucap pak Danu seakan paham maksud dari Rafa.


" Sebenarnya aku dan Celi sama-sama menyembunyikan identitas kami, waktu kami bertemu secara tak sengaja, dan aku cari tahu secara detail tentang Celi, dan aku juga heran mengapa Celi lebih memilih hidup seadanya dan memilih bekerja di Cafe Rian, karena menurutku tak masuk akal, krena tuan Quera punya perusahaan dan kekayaan terbilang cukup besar.


Namun setelah ku telusuri, aku pun yang menyukainya pada pandangan pertama, merasa tak yakin mendekatinya dengan segala keadaan yang berlimpah padaku, untuk itu aka memutuskan seperti yang di lakukan Celi, namun aku bermain di balik layar tak sepenuhnya melepas seperti Celi, karena hanya aku yang bisa di andalkan daddy untuk mengelolah perusahan, dan daddy hanya memantau beberapa perusahaan cabang saja. ucap Rafa panjang lebar menerangkan.


"Kalau menurut pendapat ayah, kalian sama-sama salah, karena, hubungan yang di dasari dari kebohongan akan menyakitkan dari hal nyata, jika suatu saat Celi tahu nak Rafa ternyata seorang yang begitu terhormat dan terkenal, ayah yakin Celi pasti akan kecewa, karena nak Rafa sudah tahu siapa Celi sebenarnya. Lain halnya dengan Celi, yang sama sekali tidak tahu, karena di awalnya dia mengenalmu dari sisi sederhana dan mungkin juga karena itu Celi bisa berbaur denganmu dengan baik, tanpa embel-embel yang dia ingin hindari dari cara hidup mewah juga aturan, karena Celi lebih menyukai kehidupan tanpa ketrikatan dalam aturan.


Rafa yang mendengar wejangan dari pak Danu pun tertegun, karena ia tak berpikir akan hal yan mungkin akan terjadi, di tambah lagi Rafa sudah membulatkan tekadnya untuk mengungkapkan perasaannya pada Celi, namun apakah hubungan ini akan baik dengan kebohongan?? seperti yang pak Danu katakan, batin Rafa berkata.


Pak Danu yang melihat Rafa bungkam, menepuk bahu Rafa lembut dan berkata..


" Ayah hanya bisa beri nasehat, bila sudah menyatakan perasaanmu, perlahan cobalah mengatakan dengan terbuka, sebelum Celi tahu dari orang lain, karena sejatinya, ucapan jujur dari seorang yang di harapkan lebih baik walau sedikit kecewa, dari pada dari orang lain karena akan sulit menerima, merasa diangap bodoh karena sudah terbuai dengan kebohongan itu, ujar pak Danu bijak.


Rafa pun mengangguk, tanda ia menyetujui saran pak Danu, serta mendapat angin segar karena nasehat pak Danu.


Perbincangan mereka pun terhenti, ketika ibunya Lili menhampiri mereka, mengajak untuk bersantap makan malam.


Saat makan,, Rafa jadi begitu merindukan sosok momynya, karena ibunya Lili sama persis seperti sang momy memberinya perhatian, begitu juga dengan Rian, hatinya menghangat di perlakukan seperti anak sendiri, dia pun menatap haru ibunya Lili.


"Jangan bengong, makanlah,,, ibu memang begitu pada siapa pun, ucap pak Danu yang melihat Rian masih belum memakan makananya karena sangat tak menyangkan di perlakukan dengan baik, padahal sepanjang jalan menuju desa Rian begitu was-was, karena akan mendapat penolakan, batinnya.


" Ah, iya ayah, sahut Rian tersenyum kikuk, karena ketahuan bengong.


"Apa tidak sebaiknya menginap nak?? saran ibunya Lili karena sudah malam hari, dan hawatir pada Rian dan Rafa berkendara malam hari, karena jarak desa ke kota memakan waktu 4 jam.


" Mungkin lain waktu bu,, Rafa besok ada rapat penting, ucapnya, menolak halus.

__ADS_1


"Baiklah,, kalau begitu ibu tak memaksa, dan makan yang banyak, kalian akan melalui waktu cukup lama di perjalanan nanti, ucap ibu Lili lembut.


Setelah usai makan, tak lama Rafa dan Rian pun berpamitan pada ayah dan ibunya Lili.


Hal yang tak pernah di duga Rian dan Rafa, saat berpamitan ayah dan ibunya Lili melepas keberangkatan Rafa dan Rian dengan pelukan hangat, sungguh mereka berdua sangat beruntung bertemu suami istri yang sangat baik dan rendah hati, bahkan Rian meneteskan air mata, ia mendapatkan hal yang berharga, dan sangat beruntung hatinya berlabuh pada gadis yang memiliki orang tua yang baik serta di didik dalam lingkungan keluarga yang taat pada moral dan etika baik, karena terlihat Lili sangat menghargai siapa pun, termaksud kedua orang tuanya, pantas saja Lili tak bisa menyakiti perasaan kedua paruh baya itu, karena mereka tak pantas di sakiti, batin Rian yang begitu senang dan lega.


" Ayah dan ibu baik-baik di sini, setelah Rian meyakinkan putri kalian, Rian dan Lili akan datang berkunjung, ucap Rian sembari menyalami kedua paruh baya itu, begitu juga dengan Rafa.


Sebelum Rian masuk ke dalam mobil, sementara Rafa sudah lebih dulu masuk ke mobil, Rian pun merogoh sakunya mengambil amplop berisi uang dan memberinya pada ibunya Lili.


"Bu,,, mohon jangan di tolak, ini ikhlas dari saya, memang tak seberapa, tapi mungkin bisa membantu untuk mengembangkan usaha warung Roti ibu, ucap Rian hati-hati, tak ingin ibu dan ayahnya Lili tersinggung atas pemberiannya.


Ibunya Lili yang tak menyangka akan hal itu pun, menangis haru, memeluk Rian lagi karena tak mengira bahwa Rian begitu serius pada Lili putrinya, hingga turut perhatian dengan kehidupan ekonomi mereka, ayah dan ibunya Lili yakin kalau Rian, tidak seperti pria yang sudah membuat mereka hancur di masa lalu.


" Jangan menangis bu,, aku akan menjadi mantu ibu, tentu aku juga anak ibu kelak, yang bertanggung jawab pada ayah dan ibu, ucap Rian lagi membuat pak Danu, memeluk erat Rian menumpahkan tangisnya karena begitu beruntung akan mendapat menatu yang sangat baik.


"Rian pamit ayah, ibu, ucap Rian setelah melepaskan pelukan dan tangis haru itu sembari menyalami ayah dan ibu Lili.


Mobil yang di kendarai Rian dan Rafa pun melaju, kedua paru baya itu masi setia berdiri di teras rumahnya, menatap mobil itu hingga tak terlihat lagi.


Perasaan haru dan bahagia menyelimuti ayah dan ibunya Lili, seolah sakit dan trauma yang mereka rasakan di masa lalu, terbayar dengan kehadiran calon mantu mereka, " Bahagialah nak di sana, adikmu akan menempuh hidup barunya, dan restui dia, agar hal yang pernah kamu alami dulu, tidak terjadi pada adikmu, batin ayah Lili metasakan sesak, sakit dan bahagia secara bersamaan.


Next


Mohon tinggalkan jejak ya Guys.


Salam Arthor.

__ADS_1


__ADS_2