
Atika pun terbangun dari tidurnya karena merasakan tubuhnya yang sedikit bergoyang.
Saat membuka mata, Atika terkejut, melihat tubuhnya masih terbalut selimut dan melihat Dewa yang duduk di depan dan seorang supir.
"Apa-apaan ini Dewa, hardik Atika pada Dewa dan melepas selimut tebal itu dari tubuhnya.
"Maaf Nona, saya hanya menjalankan perintah, ucap Dewa tak berani menoleh kebelakang.
"Perintah apa maksud kamu.!!
"Nanti Nona akan tahu sendiri, ucap Dewa membuat Atika melotot kesal karena Dewa selalu bicara singkat padanya.
"Jangan bilang kalian menculik ku dari mansion, ucap Atika membuat Dewa saling pandang pada anak buahnya yang menyetir mobil itu.
"Maaf Nona, saya terpaksa, dan ini perintah mutlak dari bos, ucap Dewa lagi.
"Bos.?? apa bos mu itu sudah tidak waras?? menyuruh kalian menculik ku.!! ucap Atika semakin kesal.
"Nona tanyakan sendiri nanti pada bos, sahut Dewa agar Atika tak bertanya lagi.
Atika yang kesal pun diam, sungguh ia ingin sekali memukul suaminya itu, dan Atika yakin, Momy dan Dady juga ayahnya pasti sangat hawatir di mansion saat mengetahui ia di culik.
Tak lama mobil pun tiba di hotel pribadi itu, hotel yang di khususkan hanya untuk kepentingan keluarga besar Widodo, dan untuk acara-acara khusus dan istimewa.
Dewa pun membuka pintu mobil, dan mempersilahkan Nona mudanya turun dari mobil itu.
"Silahkan Nona, ucap Dewa mengarahkan Atika berjalan memasuki hotel tersebut, dan Atika hanya menurut saja, berjalan mengikuti langkah Dewa.
Dewa pun membuka pintu kamar hotel itu dan mempersilahkan Atika masuk.
"Silahkan Nona, bos sudah menunggu anda di dalam, ucap Dewa menunduk hormat, dan Atika pun masuk tanpa mengatakan sepatah kata pada Dewa karena masih kesal, bisa-bisanya bos dan asistennya bekerja sama melakukan hal konyol ini, pikir Atika.
Atika masuk dan Dewa pun menutup pintu kamar hotel itu, dan pergi dari sana, dia harus mempersiapkan batin dan jiwanya, untuk menghadapi singa jantan dan singa betina yang ganas, ia tahu perbuatannya ini sudah di ketahui tuan dan Ny besarnya.
Baru saja Dewa sampai di parkiran hotel, suara notifikasi di ponselnya membuat Dewa menghentikan langkahnya, dan melihat pesan yang masuk itu, Dewa merinding membaca pesan itu.
"Apa kau pernah melihat kepala rusa berbadan manusia?? itulah pesan yang di kirim Aliando pada Dewa.
Dewa hanya bisa pasrah apa hukuman yang akan di terimanya dari tuan besarnya itu, ia pun pergi meninggalkan hotel itu, dan memilih pulang ke apartemennya.
Sementara Atika yang sudah masuk ke kamar hotel itu, tak mendapati suaminya di dalam, namun saat mendengar suara air dari dalam kamar mandi, menandakan suaminya berada di dalam kamar mandi itu.
Rafa pun keluar dari kamar mandi, melihat istrinya duduk di sofa, Rafa tersenyum senang, ia tahu istrinya itu sedang kesal, tapi Rafa tak mempedulikan itu, baginya yang terpenting istrinya akan jadi miliknya semalaman ini, tanpa ada gangguan dari Momy nya yang jahil.
__ADS_1
Rafa memakai pakaiannya, setelah itu ia pun mendekati istrinya dan duduk di sofa, tepat di samping Atika.
Rafa yang melihat istrinya hanya diam dan tak ingin melihatnya, sengaja menyandarkannya kepalanya di bahu Atika.
Atika pun menggeser duduknya dan menepis kepala suaminya yang bersandar di bahunya.
Rafa tersenyum melihat tingkah cuek dan kesal istrinya, melihat istrinya bergeser dan menepis kepalanya yang bersandar, Rafa pun menggeser duduknya juga, hingga berulang kali, sampai Atika mentok di sudut sofa, dan hal hasil ia pun terkurung dalam dekapan suaminya yang tak bisa bergeser lagi.
"Jangan mendiami ku sayang, karena aku bisa gila, kau tahu seharian ini aku tak fokus bekerja, dan melupakan makan siang ku, karena pikiranku hanya tertuju padamu, ucap Rafa mengangkat istrinya duduk di pangkuannya.
Mendengar perkataan suaminya, Atika pun menatap sendu, sungguh ia hanya pura-pura ngambek, tapi suaminya sudah kehilangan akal dan melupakan makan siangnya, membuat Atika menyesali sikapnya.
"Maaf, ucap Atika lirih, dan tertunduk tak sanggup menatap tatapan suaminya.
"kenapa Hem?? ucap Rafa mengangkat wajah istrinya dengan jari tangannya, menatap dalam mata indah yang terlihat sendu itu.
Atika tak menjawab suaminya itu, ia pun membenamkan wajahnya di dada bidang suaminya itu, ia merasa keterlaluan dengan sikapnya yang seperti kekanak-kanakan.
"Sudah makan??
Atika menggeleng, membuat Rafa terkekeh sendiri, pertanyaan bodoh itu bisa-bisanya ia lontarkan pada istrinya, karena sudah pasti istrinya belum makan malam, karena sudah menculiknya.
"Mau makan apa sayang, apa ada yang di inginkan baby?? ucap Rafa mengelus perut rata istrinya itu, membuat hati Atika menghangat, suaminya selalu paham keadaannya yang memang menginginkan sesuatu.
"Baiklah kita akan cari bakso yang paling enak di kota ini, dan kamu bisa makan sepuasnya nanti, ucap Rafa membuat Atika tersenyum senang dan berbinar, membayangkan bakso lezat dan nikmat itu.
Rafa pun membawa istrinya mencari bakso yang paling enak, agar istrinya bisa menikmati dan merasa senang, apa lagi ini permintaan baby mereka, membuat Rafa semakin bersemangat menemani istrinya itu, Rafa sangat bersyukur istrinya tidak mengidam yang aneh-aneh, apa lagi tidak terlalu suka dengan yang asem-asem, seperti kebanyakan wanita hamil mengidam mangga muda dan semacamnya.
Hidangan bakso yang lezat dan aromanya begitu mengunggah selera, membuat Atika sudah tak sabar untuk menyantap dan melahap habis bakso itu, Atika pun langsung menarik mangkok bakso itu, dan menyantap dengan semangat dan sangat menikmati bakso lezat itu.
Rafa yang melihat istrinya makan begitu lahap, tersenyum senang, setidaknya ia bisa memenuhi keinginan istrinya dan baby mereka, meski lebih dari bakso pun Rafa tentu akan berusaha mendapatkannya, asalkan istrinya senang dan bahagia, karena tujuannya adalah membahagiakan istrinya dan ia ingin istrinya selalu mengandalkannya sebagai suami yang bertanggung jawab.
Sehabis makan Rafa tidak langsung membawa istrinya kembali ke hotel, tapi membawa istrinya jalan-jalan sebentar, mengingat Rafa yang tidak banyak waktu bersama istrinya, karena pekerjaan, setidaknya ia bisa meluangkan waktu untuk menyenangkan istrinya itu.
Atika sangat menikmati waktu berduaan nya dengan Rafa, menculiknya dari mansion ide yang cukup menyenangkan, walau tadinya ia kesal, dan kekesalannya tergantikan dengan kebahagian kecil yang di lakukan suaminya itu, makan berdua, jalan-jalan, menikmati suasana taman kota yang indah yang tidak terlalu ramai itu, dan suasana itu sangat di nikmati mereka walau terlihat begitu sederhana.
Sementara di apartemen yang cukup mewah, ketegangan dan aura mematikan mengintimidasi Dewa yang baru saja tiba di apartemen miliknya.
Maksud hati Dewa untuk menenangkan otaknya dan memikirkan bagai mana caranya ia menghadapi singa jantan dan singa betina yang ganas itu, tapi ternyata kesialannya dalam satu hari ini masih berlanjut.
Sepasang singa ganas menyambut Dewa di apartemen miliknya,. siapa lagi kalau bukan Felix dan Aliando.
Dewa tak heran kenapa tuan dan Ny besarnya itu bisa masuk, karena kekuasaan yang di miliki singa jantan itu tidak di ragukan lagi.
__ADS_1
Dewa tak berani duduk di sofa miliknya, berdiri tak jauh dari sofa itu, dan tatapan tajam itu masih mengintimidasinya.
"Ada yang bisa kau jelaskan tentang menantuku?? ucap Felix tersenyum menyeringai.
"I i itu ide tuan muda sendiri Ny, ucap Dewa terbata.
"Huh.!! sudah ku tebak.!! ucap Aliando, dan tentu saja itu ide gila putranya, kalau tidak Dewa tidak akan punya nyali melakukan itu pada menantunya.
"Karena kau sudah melakukan kesalahan, dan tentunya hukuman akan berjalan bukan?? ucap Aliando tersenyum mengejek pada Dewa, senyum yang mengartikan, habislah kau kali ini.
"Sesuai keinginan anda Tuan, Ny besar, ucap Dewa pasrah, mau tidak mau Dewa mana berani membantah.
"Bagus, cukup menyenangkan, aku suka kau bertanggung jawab dengan perbuatan mu, ucap Aliando.
"Momy lapar tidak?? tanya Aliando yang memulai permainannya.
"Sangat.! sahut Felix tersenyum penuh arti.
"Kau dengar istriku lapar, dan buatkan makanan, ucap Aliando pada Dewa, dan tentunya Dewa harus memasak sendiri makanan itu.
"Siaalll.!! aku lebih memilih di tonjok dari pada harus memasak, menyalakan kompor saja aku tidak pernah, batin Dewa menggeram kesialannya malam ini akan jadi mimpi terburuknya.
Dewa pun pergi ke dapur miliknya, di sana ia terlihat gelisah, bingung harus memasak apa, tapi ia tetap harus melakukannya.
Dewa membuka kulkasnya, didalam hanya terdapat mie instan dan telur saja, membuat Dewa ingin sekali menjerit histeris, bahkan isi kulkasnya pun tak mendukung keadaannya yang sedang menjalani hukumannya, malah seolah isi kulkas itu menertawakan nasib sialnya.
Dewa tidak perduli lagi, memikirkan semua itu ia bisa gila, dan memilih memasak mie instan itu, karena hanya itu yang ada, apa pun nanti komentar Tuan dan Ny besarnya itu, Dewa pasrah.
"Dewa buatkan kopi.!! teriak Aliando, padahal Dewa sudah pusing di dapur, mendengar perintah dari Tuhannya itu Dewa pun ingin sekali melemparkan barang-barang yang ada di dapur itu.
Dewa pun membuatkan kopi yang di minta Tuanya itu, setelah di seduh nya, Dewa pun mengantarkan kopi itu, melihat Tuan dan Ny besarnya itu tertawa senang menikmati permainan ular tangga di ruang tamu miliknya.
Setelah menyuguhkan kopi itu, Dewa pun ingin melanjutkan memasak mie instan itu, tapi lagi dan lagi, Dewa di panggil, dan kali ini, suara Ny besarnya itu.
"Dewa buatkan jus, dan jangan terlalu manis, ucap Felix santai, tak perduli Dewa kesal atau pun apalah.
Lengkap sudah penderitaan Dewa, bosnya yang menikmati kemesraan bersama Nona mudanya, tapi justru dia tertindas di apartemen miliknya sendiri, dan sepertinya malam ini Dewa tidak akan bisa tidur nyenyak di ranjang empuk miliknya, good by ranjang empuk ku, batin Dewa hiks, hiks, hiks..
Next
Jangan lupa jejaknya ya Guys.
Salam Arthor.
__ADS_1