
Celi dan Lili baru saja selesai mengisi perut mereka, setelah menahan lapar dan haus selama atrian.
Sementara Rian yang belum melihat kehadiran Celi dan Lili di Cafenya, mencoba menghubungi Celi dan Lili.
Dering ponsel Celi pun berbunyi, Celi melihat nama Rian tertera di layar ponselnya, dan ia pun menjawab panggilan dari Rian.
"Halo Rian,,
"Kenapa belum kembali ke Cafe, apa terjadi sesuatu?? Rian bertanya hawatir.
" Tidak,, kami baik-baik saja, dan ini kami akan meluncur ke Cafe, sahut Celi tak ingin Rian hawatir.
"Baiklah,, aku menunggu kalian di Cafe, sahut Rian dan memutuskan sambungan telpon.
Celi dan Lili pun menaiki motor Maticnya, dengan barang belanjaan dua kotak berukuran sedang yang di pengang Lili di belakan kemudi Celi.
Sementara,,, Rafa Aqueres yang melihat arlojinya sudah pukul 5 sore, beranjak dari ruangannya, dan mengajak Dewa sang asisten pribadinya untuk pulang.
Dewa pun menuruti perintah atasannya itu, berjalan di belakang mengikuti langkah tuannya itu.
Rafa dan Dewa sudah meninggalkan gedung perusahaan, selama perjalanan mereka hanya membahas tentang hal kerjasama antar perusahaan, dan saat lampu merah, mobil Rafa dan Dewa pun berhenti menanti sampai lampu berganti hijau.
Rafa yang terlihat lelah juga bosan di dalam mobil pun, menatap lewat kaca mobilnya ke arah para pengemudi yang juga menantikan lampu berganti hijau.
Saat matanya melihat sosok seorang gadis di atas motor Maticnya ia pun semakin serius melihat kedua wanita itu.
"Dewa,, panggil Rafa membuat Dewa yang fokus ke depan, menatap tuannya yang menyebut namanya.
" Iya tuan,, apa anda perlu sesuatu?? tanya Dewa sigap.
"Tidak,, ucap Rafa cepat"
"Kau lihat gadis yang diatas motor Matic itu??
" Iya tuan,,, apa tuan ingin menyapa?? tanya Dewa polos.
"Menyapa katamu?? apa kau kira aku kurang kerjaan?? sahur Rafa kesal.
" Lalu maksud tuan bagai mana?? tanya Dewa yang tak paham maksud tuannya itu.
__ADS_1
"Bukankah dia wanita yang di Mall tadi?? ucap Rafa sambil pemperhatikan wanita yang di tunjuknya itu.
Dewa pun melihat dengan teliti, wanita yang di katakan tuannya itu.
" Benar tuan, ucap Dewa memastikan wanita yang di atas motor Matic itu adalah wanita yang tadi berada di Mall.
"Kau tahu,, aku tadi sempat berpikir bahwa dia "Gadis Sinting" dan karena ulahnya aku jadi malu di Mall itu tadi, ucap Rafa terlihat kesal, mengingat kejadian di Mall tadi.
"Tapi aku lihat, gadis itu cukup polos,, ucap Rafa tak menyadari ucapannya dengan senyuman yang sulit di artikan.
"Apa saya perlu mencari tahu identitas gadis itu tuan, tanya Dewa yang melihat sepertinya tuannya itu tertarik dengan gadis itu.
"Apa kau perlu bertanya padaku?? ucap Rafa balik bertanya.
" Baiklah tuan saya akan cari datanya, ujar Dewa yang sudah paham atas pertanyaan yang tuannya berikan.
Lampu lalu lintas pun berganti hijau, Dewa yang ingin tahu kemana tujuan kedua gadis cantuk itu, sengaja mengikuti dari belakang.
Saat Dewa melihat lampu sent motor gadis itu yang ingin berbelok ke kiri, sengaja memperlambat laju mobilnya, dan melihat kedua gadis itu, berhenti di sebuah Cafe yang cukup terkenal di kota itu.
Saat mereka akan melaju, Rafa meminta Dewa menepi sebentar dan membuka kaca mobilnya, melihat seorang pria, menghampiri kedua gadis itu.
Rafa yang mulai tak senang saat melihat pria itu mengacak rambut wanita yang membuat ia sedikit bergejolak di dada pun, meminta Dewa melajukan mobilnya, seolah Rafa tak terima pria itu berbuat manis pada wanita yang membuat ia jatuh pada pandangan pertama.
Dewa yang paham pun tak banyak bicara, dan melajukan mobil dengan keheningan hingga mereka tiba di mansion.
Saat turun dari mobil Rafa bicara pada Dewa tanpa melihat lawan bicaranya.
"Pastikan secepat mungkin dapatkan datanya, ucap Rafa seraya berjalan masuk ke mansion.
Dewa yang paham pun hanya mengangguk patuh.
Saat masuk Rafa melihat mom nya, sedang menata meja, menyiapkan makan malam.
" Sudah pulang sayang?? ucap Felix melihat putranya yang berjalan mendekat padanya.
"Hmm, sahut Rafa dan mencium pipi sang mom, lembut.
"Kamu terlihat lelah nak, ucap Felix melihat wajah Rafa seperti kurang semangat.
__ADS_1
" Sedikit mom, sahut Rafa singkat.
"Mandilah, setelah itu kita makan malam, ucap Felix lembut dengan senyum terbaiknya.
"Baiklah mom yang cantik, ucap Rafa mencolek pipi mengoda mom nya itu.
Felix hanya bergeleng melihat sikap putranya itu, yang selalu manja dan jahil bila padanya.
Sementara Celi dan Lili, terlihat semangat melakukan tugas mereka, apa lagi saat ini Cafe Rian sangat ramai pengunjungnya.
Rian yang melihat dari kejauhan kedua wanita yang terikat sahabat itu tersenyum, betapa ia begitu bahagia selalu melihat kekompakan Celi dan Lili, apa lagi saat bekerja mereka selalu semangat.
Namun Rian tiba-tiba mengepalkan tangannya, saat melihat wanita pujaannya di colek seorang pelanggan Cafe, siapa lagi kalau bukan Lili, tapi Rian belum punya nyali mengungkapkan isi hatinya, karena ia takut di tolak untuk yang kesekian kalinya.
"Maaf tuan, Lili menatap tajam pria yang mencoleknya.
"Bila anda sopan, maka kami pun akan segan" ucap Lili sopan, karena ia tak ingin membuat keributan, hanya memperingatkan tidak memandang orang lain rendah.
"Sok jual mahal, ucap pria itu tak senang karena Lili memperingatinya.
"Kalau anda ingin bebas mencolek wanita, tempatnya bukan di sini tuan, masih ada club yang menyediakan wanita yang bebas di jamah, tapi itu perlu uang tentunya, dan saya yakin anda terntu tidak terlalu miskin untuk hal itu, ucap Lili yang mulai tersulut emosi.
" Wanita di mana saja itu sama, kalian hanya sok terlihat jual mahal, padahal kalian sama saja dengan wanita "murahan" di luar sana, ucap pria itu semakin merendahkan.
"Plakkkkk.!!!
Lili yang tak terima pun langsung melayangkan tamparan buat pria kurang **** itu, bahkan suara tamparan itu membuat para pengunjung Cafe teralihkan.
" Kau..!!!!
"Apaa.!!!! sahut Lili tak mau kalah.
Rian yang sudah dari tadi juga emosi melihat kelakuan pria itu pun, ingin langsung menonjok wajahnya, namun sebagai pemilik Cafe ia harus bersikap profesional, karena kenyamanan pengunjung paling utama, tak ingin terjadi sesuatu pada gadis pujaannya, ia meminta pihak keamanan, turun tangan.
"Beraninya kau menamparku, ucap pria itu emosi hendak menampar Lili balik, namun belum sempat, pihak keamanan sudah tiba dan menahan tangan pria itu agar tak menampar Lili.
"Awas saja kau.!! Aku kan membuatmu di pecat dari sini, ucap pria itu, dan suaranya semakin tak terdengar karena pihak keamanan sudah menyeret pria itu ke luar dari Cafe itu.
" Ciiihhh,, dasar "Gadis Sinting" berdecih saat pihak keamanan sudah melepaskannya dan menyuruh pergi dari areal Cafe.
__ADS_1
Next