Ketegaran Hati Wanita Miskin

Ketegaran Hati Wanita Miskin
287. Permainan Baru Di mulai


__ADS_3

Pukul tujuh malam tepat, Dewa menjemput Cita, karena tak ingin keluarga besar Widodo menunggu kedatangan mereka terlalu lama, jelas Dewa paham bagaimana jadinya kalau mereka sampai telat, tentu banyak hal yang akan jadi perhitungan dari sang nyonya besar.


"Gimana mas?"


"Cantik, mas suka dengan gaun yang kamu pakai, apa lagi dandanan kamu"


"Apa aku nggak terlalu norak mas??"


"Ah kamu ini, selalu saja berpikir jauh, bagi mas kamu itu cantik luar dalam, bukan karena penampilan dari gaun atau pun riasan wajah kamu, dan mas nggak suka ya kalau kamu selalu seperti itu, tetap percaya diri, dan memang beginilah adanya penampilan kita, meski kita pernik sampai gimana pun, tetap hati yang paling utama dan etika baik"


"Maaf mas, aku hanya sedikit gugup, bukan berpikir untuk berpenampilan lebih dari ini, begini aja, aku sudah sangat malu mas, karena baru kali ini aku berdandan resmi seperti ini, apa lagi mau bertemu orang penting lagi, kan sedikit nggak nyaman mas"


"Sudah, nggak usah mikir yang macam-macam, nanti kamu akan tahu dan menilai sendiri, masalah nyaman dan tidak nyaman, mas yakin kamu pasti sangat nyaman, kita berangkat, nanti telat lagi"


Sepanjang perjalanan Dewa bisa merasakan kegugupan Cita, apa lagi saat Cita berulang kali meremas jari tangannya, tapi Dewa tidak berniat untuk menenangkan Cita, toh ia berpikir, mereka bukan mau bertemu gendoruwo, melainkan sepasang macan yang begitu baik hati.


Merasa geli dalam hati Dewa, saat memikirkan sepasang macan itu, apa lagi Dewa sudah bisa menebak bagai mana konyolnya sepasang macan itu saat bertemu Cita nantinya, akan ada drama terbaik dan aktingnya sangat total tentunya.


Tak lama mobil yang di kendarai Dewa tiba di pelataran mansion, dan tentunya Cita yang melihat sekitar mansion saat memasuki gerbang utama, semakin tak karuan, dan jangan tanyakan soal debaran dadanya, yang semakin berpacu dalam melodi, karena baru kali ini pula Cita melihat rumah mewah bak istana.


"Ayo turun, kok malah bengong??


" Kita nggak salah alamat kan mas??


"Salah alamat gimana maksud kamu??


" Apa memang benar ini tempatnya mas??


"Lah iya, udah ah jangan kebanyakan mikir, ayo turun, biar kamu nggak mikir kita salah alamat"


Perlahan Cita pun keluar dari mobil, pandangannya pun melebar kemana- mana, sungguh ia begitu takjub melihat mewahnya mansion itu, hingga ia tidak sadar kalau semua orang sudah menatapnya dari tadi bahkan menunggu di depan pintu utama mansion, menyambut kedatangannya, karena mendengar suara seseorang, Cita baru menyadari kalau ia sudah menjadi tontonan beberapa pasang mata.


"Bukannya di ajak masuk, malah ikut bengong disini.!!


Cita yang mendengar suara omelan seorang wanita, akhirnya tersadar dari ketakjubannya, dan betapa malunya ia, saat melihat beberapa orang berdiri di pintu utama, dan seorang wanita paruh baya datang dengan sejuta omelan nya, dan tentunya sang nyonya besar.


Cita yang malu, dan semakin gugup pun, langsung spontan menunduk hormat, sebagai tanda kesopanannya dan cara ia menyapa.


"Selamat malam, nyonya"

__ADS_1


"Huh.! kamu yang nyuruh dia manggil saya nyonya??


Serangan tiba-tiba itu pun, langsung membuat Dewa gelagapan, dan sudah bisa di tebak, ini awal permainan baru, dan ujungnya akan mendapat apes, dan kenapa sih punya wanita, polos amat, batin Dewa menjerit.


"Ttt tidak tante, Cita kan baru ketemu tante, tentunya dia masih sungkan"


Mendengar jawaban dari Dewa, Felixia pun mengalihkan pandangannya, pada Cita kembali, dan tentunya dengan senyuman yang merekah, tidak berwajah galak seperti pada Dewa tadi.


"Tidak perlu sungkan, dan jangan panggil saya nyonya, tapi panggil saya " Bunda "


Ayo masuk, kita makan malam dulu, lalu kita akan cerita banyak nanti tentunya"


Tanpa rasa canggung, seolah sudah mengenal lama, Felix langsung menggandeng tangan Cita, dan membawanya masuk, setibanya di depan pintu utama Cita pun menyapa yang lainya, bahkan pikirannya entah sudah lari kemana-mana, melihat sikap keluarga yang baru bertemu, bahkan jauh dikatakan sederajat dengannya, tapi begitu ramah dan baik.


"Nah, sekarang kamu bunda kenalkan dulu ya mereka satu persatu.


Yang ini, suami bunda, kamu bisa panggil dengan ayah, jangan om atau tuan ya, saya tidak suka itu,


" Selamat datang di rumah kami nak, ujar Aliando"


"Ss.. selamat malam Aa.. ayah"


"Senang bertemu dengan mu Nak"


"**.terima kasih, Aa.ayah"


"Dan yang ini, menantu saya"


"Salam, panggil aku atika, senang bertemu dengan kamu, dan jangan sungkan ya"


"Salam kak Tika, senang juga bertemu dengan kakak"


"Nah, karena sesi perkenalan sudah selesai, sekarang kita makan malam, dan kamu harus makan banyak yah"


Saat sudah berada di meja makan, mereka baru menyadari kalau satu kursi masih kosong, dan tentunya makan malam tidak akan berlangsung bila kursi tersebut belum terisi.


"Loh, mana anak itu??


" Tadi ada kok, tapi kemana ya, sahut Atika yang juga baru menyadari kalau suaminya tidak duduk di kursinya"

__ADS_1


"Anak itu yah, sudah jadi orang tua masih saja kelakuannya seperti anak TK, ada tamu begini, malah bikin menunggu"


"Rafaaaa.!!!!


" Brisik..


"Wah, cari masalah sepertinya ini anak"


"Kenapa masih di sana, sini ayo makan, nggak enak loh, ada tamu jadi nungguin"


"Rafa, nggak lapar, udah lanjut aja mom"


"Maksudnya??


" Rafa bilang nggak lapar, ya nggak lapar"


"Ini perintah mommy Rafa, atau..,


" Oke, oke, Rafa makan puas"


"Kamu ini kenapa sih, kok tiba-tiba ngambek??


" Masih nanya?? mommy nggak asik"


"Nggak asik, gimana maksudnya??


" Itu tadi, semua orang di kenalin ke Cita, giliran anak sendiri, di lupain "


Mendengar penuturan Rafa, akhirnya felix paham, kenapa sang putranya ngambek, hingga membuatnya tertawa geli.


"Kamu itu ya, ngambek nggak pada tempatnya, mommy nggak ngenalin kamu, karena Cita udah nggak mungkin lagi, nggak kenal sama kamu, secara kamu bosnya di kantor, tiap hari juga ketemu, nggak lucu ah, ngambek masalah itu, seorang bos ngambek di lihat karyawannya"


"Yah, setidaknya mommy kan bisa bilang ke Cita, kalau aku anak mommy, meski aku bosnya Cita di kantor"


"Sudah, sudah.! nggak perlu di bahas lagi, sekarang kita makan, lihat tuh, si Cita bahkan malu lihat kamu yang sebagai bosnya, ngambek, padahal keseharian kamu di kantor bahkan tak begitu, apa nggak malu kamu??


Sang daddy pun akhirnya buka suara, karena kalau tidak di sudahi, akan semakin panjang, dan bisa-bisa makan malam akan jadi pelengkap drama terbaru antara anak dan mommy nya.


Akhirnya makan malam pun di mulai, dan berjalan dengan hikmat, bahkan di sertai dengan canda tawa, menambah kehangatan keluarga, yang begitu damai di mata seorang Cita, yang tidak pernah merasakan suasana seperti ini dalam keluarga, tentunya rasa haru menyelimuti hatinya malam ini, bahkan keberadaannya seperti orang tidak asing, membuat Cita bisa merasakan punya keluarga yang utuh seperti yang ada di hadapannya saat ini, dan tentunya itu nyata di rasakan nya.

__ADS_1


Next...


__ADS_2