
Semenjak kedatangan Rafa waktu itu Atika semakin kacau, bahkan ia sering tak makan, karena baginya semua hambar, membuat tubuhnya lemah.
Nenek Mila pun jadi ikut prihatin melihat keadaan cucunya itu, ingin memberitahu pada Rafa, tapi ia tak punya nomor untuk menghubungi Rafa, dan sewaktu Rafa datang, nenek Mila lupa meminta nomornya kala itu.
Sementara di tempat lain, Rafa sedang duduk berdua dengan seorang wanita di sebuah kafe, siapa lagi kalau bukan Sonia Luwu, teman masa kecilnya.
Rafa bercerita soal keadaan rumah tangganya saat ini, di mana istrinya yang salah paham saat melihat mereka di pusat perbelanjaan saat itu.
"Aku jadi merasa tak enak hati pada mu Raf, karena aku, kamu dan istrimu jadi bertengkar, karena salah paham" ujar Sonia yang merasa bersalah.
"Jangan bicara begitu Son, aku nggak nyalahin siapa pun, baik kamu atau istriku, dan lagi pula ini adalah salah paham, dan istriku memang wanita yang sangat polos, hingga sulit menerima keadaan"
"Tapi tetap saja Raf, aku nggak enak hati" ujar Sonia yang tetap merasa dia sumber pertengkaran Rafa dan istrinya.
"Sebenarnya, sebelum istriku melihat kita, situasinya memang sudah tidak baik, di tambah dia melihat kita saat itu, jadi semakin membuatnya berpikir jauh" ungkap Rafa, tak ingin sahabatnya itu terus menyalahkan dirinya.
"Apa kamu sudah menjelaskan padanya kalau antara kita tidak lebih hanya hubungan sahabat?? Tanya Sonia.
" Sudah.! tapi istriku sulit mempercayai itu, karena apa yang di lihatnya, membuat ia yakin dan tidak meragukan apa pun" ujar Rafa, yang tahu betul sikap istrinya itu.
"Apa aku perlu bertemu Atika, untuk menjelaskan semuanya?? Tawar Sonia pada Rafa.
" Sepertinya itu ide yang lebih baik, mungkin kalau Atika mendengar langsung dari kamu ia akan bisa terima dan paham"
"Kalau begitu bawa aku ke tempat Atika berada, aku akan bicara dengannya, ujar Sonia, tak ingin juga di cap sebagai perusak rumah tangga orang lain, apa lagi ini sahabatnya sendiri.
" Kalau kamu memang berniat, apa aku bisa buat satu permintaan?? tanya Rafa.
"Tentu, kalau itu akan membuat lebih baik kenapa tidak.! ujar Sonia.
"Saat kita ke sana nanti, bawalah juga Mark suami mu, agar Atika yakin kalau kamu adalah sahabatku, bukan wanita spesial seperti yang di pikirkan Atika, apa lagi kalau Atika nanti melihat kamu datang dengan Mark, pasti Atika tidak akan bisa lagi meragukan aku" ujar Rafa.
"Baiklah, kalau begitu aku akan menghubungi Mark, semoga saja dia tidak sibuk" ujar Sonia.
Sonia pun menghubungi Mark, menceritakan semua pada Mark, apa yang terjadi padanya juga Rafa.
Mark yang mendengar cerita Sonia, bukannya merasa iba pada Rafa, justru Mark malah tertawa terbahak-bahak, mengingat Rafa, yang selalu membuatnya cemburu, bila Sonia bersama dengan Rafa.
Mendengar suaminya tertawa, seolah mengejek Rafa sahabatnya, Sonia pun kesal pada Mark, hingga kekesalan itu di lihat oleh Rafa, saat Sonia bicara dengan Mark.
__ADS_1
"Apa Mark tidak bersedia?? tanya Rafa yang mengira Mark, menolak karena sibuk.
" Tidak.! Mark tidak menolak, justru ia setuju ikut" jelas Sonia.
"Lalu kenapa kamu seperti kesal pada Mark??
" Karena aku mengatakan istrimu salah paham karena melihat kita, Mark malah tertawa, karena ia puas istrimu salah paham, katanya itu balasan buat kamu yang selalu membuat Mark cemburu, bila kita bersama" jelas Sonia, jadi semakin kesal dengan Mark.
"Dasar si Mark brengse* itu, bisa-bisanya dia malah menertawai ku, awas saja nanti aku akan membalasnya" ujar Rafa, yang ikut kesal pada Mark.
Tak lama Mark pun tiba di kafe, tempat Sonia dan Rafa menunggunya.
"Wah-wah, aku jadi penasaran bagai mana murkanya istrimu saat melihat kamu dan Sonia" ujar Mark, yang datang langsung meledek Rafa.
"Setan Lo.! ujar Rafa sembari menendang kaki Mark di bawah meja.
Mark yang melihat Rafa kesal, semakin terbahak, jarang-jarang Mark menikmati momen seperti ini, karena Rafa selalu unggul di atasnya selama ini.
" Cukup Mark.! kamu bukannya membantu malah memperkeruh suasana" ujar Sonia, menegur suaminya itu.
"Come on baby, aku hanya bercanda, lagian siapa suruh ngajak istri orang makan berdua, dan menyingkirkan suaminya yang tampan ini" ujar Mark, masih meledek Rafa.
" Woi, santai bro, hanya bercanda.! ujar Mark yang berdalih, padahal dalam hatinya masih menggelitik lucu.
"Well?? apa kita berangkat sekarang?? tanya Mark, tak lagi bermain-main, kini ia serius.
" Tentu, jangan sampai Atika semakin membenci Rafa juga aku" ujar Sonia yang tak ingin Atika melihatnya sebagai wanita yang buruk.
Mereka pun akhirnya pergi, meninggalkan kafe itu, dan langsung menuju bandara menggunakan pesawat ke kota Y.
Selama dalam pesawat, Rafa hanya diam, meski ia mendengar Mark dan Sonia cerita banyak, tapi Rafa tak tertarik ikut dalam cerita itu, pikirannya hanya tertuju pada Atika, belum lagi ia memikirkan mommy nya yang masih di rumah sakit.
Tak butuh waktu lama, hanya menempuh waktu 1 jam 35 menit, pesawat pun mendarat.
Rafa yang sudah memberitahu kedatangannya, tidak heran lagi kalau sudah ada para anak buahnya yang menunggu di sana.
Melihat para anak buah Rafa yang sudah menunggu kedatangan mereka, Mark yang melihat itu pun takjub, sungguh Rafa memang pria yang tidak bisa ia tandingi sebagai pembisnis terkenal.
Satu persatu mereka pun memasuki mobil, dan dengan kecepatan sedang mobil pun melaju ke tempat alamat Nenek Mila, di mana Atika berada.
__ADS_1
Perjalanan yang menempuh 35 menit itu pun, akhirnya sampai pada tujuannya, Rafa beserta Sonia juga Mark, turun dari mobil yang mereka tumpangi.
Nenek yang melihat kedatangan Rafa, langsung berlari keluar, ingin segera menemui Rafa.
"Hai Nek, sapa Rafa sopan"
"Syukurlah kamu datang Nak, Nenek sejak kemarin ingin menghubungi mu, tapi nenek tak punya nomor mu" ujar Nenek Mila yang tak lagi membalas sapaan Rafa.
"Memangnya ada apa nenek ingin menghubungi ku?? tanya Rafa, mulai berpikir buruk.
" Setelah kamu pergi dua hari yang lalu, Atika sering nggak makan, hingga kondisinya sangat lemah, dan sekarang ini Atika demam tinggi" ujar nenek tak ingin lagi cerita panjang lebar, takut Atika kenapa-napa.
Deg
Jantung Rafa langsung berdetak kencang, dan ia pun langsung berlari masuk ke dalam rumah, di ikuti nenek, Sonia juga Mark.
Membuka pintu kamar agak kasar, hingga menimbulkan suara cukup keras, Rafa pun langsung berjalan cepat menuju Atika yang terbaring lemah.
Dengan tangan gemetar Rafa menyentuh kening Atika, suhu yang begitu panas Rafa rasakan, membuat Rafa semakin takut, melihat keadaan istrinya yang sedang hamil.
Tanpa bicara apa pun Rafa langsung mengangkat Atika dari kasur itu, dan sepertinya Atika sudah tak sadarkan diri.
Mark yang melihat Rafa menggendong Atika, langsung sigap keluar, menyuruh anak buah Rafa menyiapkan mobil dan langsung menuju rumah sakit terdekat.
Mark satu mobil dengan Rafa, sementara Sonia satu mobil dengan Nenek Mila.
"Sayang bangun, jangan seperti ini, maaf kalau mas sudah menyakiti mu" ujar Rafa tak lagi peduli dengan image nya di depan Mark, yang menangis, dengan Atika yang ada dalam pangkuan dan dekapannya.
Rasa takut pun menjalar di pikiran Rafa, jangan sampai terjadi apa-apa dengan istrinya, karena ia tidak akan memaafkan dirinya sendiri, karena sudah membuat istrinya salah paham.
Sementara di mobil yang lain, Nenek Mila pun menangis pilu, merasa tidak bisa merawat cucunya, hingga Nenek Mila pun merasakan hal yang sama seperti Rafa.
Tak lama mereka pun tiba di rumah sakit terdekat, dengan sigap Rafa turun dari mobil membopong istrinya masuk ke dalam rumah sakit.
"Dokter..!!!! tolong istriku, ku mohon siapa pun kalian, tolong istriku..!! Teriak Rafa yang menggema di dalam rumah sakit itu, pikirannya kalut, rasa takut pun semakin menyerangnya.
Para petugas rumah sakit yang sempat kaget dengan teriakan Rafa, sempat tercenung di tempatnya masing-masing, namun sedetik kemudian mereka langsung bergerak cepat membawa Atika masuk ke UGD.
Next....
__ADS_1
Up lagi ya, tetap dukung, dan jangan lupa jempolnya, juga Vote nya ya Sob🙏🙏🙏