
Semenjak menemui Jhon di ruang rawatnya, Atika jadi lebih banyak diam, tidak seperti biasanya, yang selalu ngoceh, dan manja saat bersama dengan keluarga.
Setelah keluar dari rumah sakit, Atika lebih sering di kamar, bahkan sangat terlihat jelas ia tidak bersemangat, hal itu dikarenakan, Atika memikirkan nasib Jhon, yang akan menggantikan semua hukuman yang telah Siska lakukan.
Atika menyadari dan tidak menyangkal, bahwa Jhon juga bersalah dalam insiden penculikan dirinya waktu itu, namun saat Jhon merubah pemikirannya, dan memilih menggagalkan rencana Siska, bahkan menyelamatkannya, dari genggaman Siska, membuat Atika tak tega dengan segala keputusan yang ada, rasa iba yang ada pada dirinya tidak bisa ia tutupi, bagai mana pun juga, Jhon hanya di manfaatkan Siska saat itu, bahkan Jhon tak sedikit pun melukai atau menyakiti Atika, malah menyelamatkannya.
Atika yang mencoba bicara pada suaminya, setelah menemui Jhon, berharap suaminya memberi kesempatan pada Jhon, dan memberi pelajaran pada Siska, serta menyadarkan Siska akan cinta Jhon yang begitu besar padanya, dan dengan demikian Jhon dan Siska bisa menjadi orang yang baik kelak, bagaimana pun, sebagai manusia yang memiliki perasaan Atika tidak mampu, mengabaikan begitu saja.
Sementara Rafa di kantornya, tidak fokus, memikirkan sikap Atika semenjak pulang dari rumah sakit, sikap Atika yang jauh berbeda dari biasanya.
Bicara seadanya, dan lebih banyak diam, bahkan hanya berdiam diri di kamarnya.
Biasanya Atika sering merengek, minta ini dan itu, ingin pergi kemana pun yang di inginkan nya, dengan dalih kehamilannya, tapi tidak dengan hari ini, dan hal itu membuat Rafa frustasi.
penasaran apa yang di lakukan Atika di rumah, berpikir mungkin hanya karena bawaan kehamilan, mood Atika berubah, Rafa pun menghubungi sang mommy.
Dering ponsel yang berkali-kali, dan saat melihat nama putranya yang tertera, Felix mengangkat panggilan itu.
"Halo Raf, tumben jam segini nelpon mommy, apa nggak sedang rapat sayang?? ujar Felix yang tahu biasanya putranya di jam begini, sangat sibuk.
" Rapat Rafa wakilkan pada Rico mom"
"Trus?? ada apa kamu hubungi mommy, apa ada hal serius??
" Rafa hanya mau menanyakan Atika mom"
"Loh, kan kamu bisa menghubungi ponsel Atika, dan menanyakan langsung?? ujar Felix merasa aneh pada putranya itu.
" Tapi aku nggak yakin Atika akan mengangkat panggilan ku mom"
Felix semakin bingung, dengan perkataan putranya itu, dan mulai menebak-nebak, apakah putra dan menantunya sedang bertengkar??
"Apa kalian bertengkar sayang??
"Entahlah mom, Rafa hanya menolak apa yang di inginkan Atika, soal Jhon dan Siska, bahkan bicara seadanya, tapi Atika tidak Terima dengan keputusanku, dan karena hal itu, sikapnya agak berubah mom" ujar Rafa menjelaskan.
"Sepertinya memang begitu sayang, setelah sarapan pagi dan kamu juga daddy berangkat, Atika tidak melakukan aktivitas apa pun lagi, langsung naik ke atas, dan saat mommy bertanya pun, Atika hanya menjawab seadanya saja, padahal biasanya dia suka bercanda kalau diajak bicara"
"Baiklah mom, Rafa tutup dulu, Rafa sebaiknya pulang, kami akan bicarakan hal ini dengan baik-baik"
"Baiklah sayang, mommy yakin kamu bisa atasi semua ini, dan ingat jangan terlalu keras dan membuatnya tertekan, hanya karena masalah ini, dan mommy nggak mau karena masalah ini, kandungan Atika jadi bermasalah" Felix mengingatkan Rafa, agar lebih hati-hati, mengambil setiap kata yang akan ia utarakan nanti, karena ia paham, ibu hamil sangat sensitif, dan mudah mengenai perasaannya.
__ADS_1
"Iya mom, kalau gitu Rafa tutup ya"
Setelah mengakhiri panggilannya, rafa menghela nafasnya panjang, berpikir,, bagai mana caranya membicarakan hal ini, dengan hati-hati.
Setelah menghubungi Rico, memberitahukan soal kepulangannya, dan mengurus masalah kantor, Rafa pun langsung pergi meninggalkan kantor.
Di perjalanan, pikirannya hanya tertuju pada Atika, berharap apa yang akan ia bicarakan nanti, bisa di terima Atika, dan menyudahi masalah ini, karena merasakan seperti jauh dari sang istri, yang bersikap diam dan hanya banyak melamun.
Tak terasa Rafa sudah tiba, bergegas cepat, keluar dari mobil.
Saat masuk, Rafa langsung menyadari sepinya rumah tanpa ocehan istrinya, yang biasanya bersenda gurau dengan para Art di rumah itu, namun sangat terasa sepi, karena keadaan rumah, hanya ada aktivitas para art saja.
Rafa pun naik keatas, menuju kamar mereka, ingin segera tahu dan melihat apa yang di lakukan istrinya di sana.
Perlahan Rafa membuka pintu kamar nya, saat masuk, tak melihat sosok istrinya di sana, namun, langkahnya terhenti, saat tatapannya tertuju pada balkon kamar, ternyata Atika duduk di sana dan hanya melamun saja, membuat Rafa sesak bernafas melihat situasi itu, dan berniat untuk menyelesaikan masalah ini dengan baik.
Rafa pun berjalan menuju balkon, namun melihat tatapan mata istrinya, seolah tak perduli dengan kedatangannya.
Rafa langsung duduk di sebelah Atika, dengan hati-hati ia meraih tangan Atika, seolah memberi isyarat ingin mengatakan sesuatu, namun Atika dengan halus menepis, seolah tak ingin di sentuh oleh suaminya itu, bahkan Atika membuang pandangannya ke arah lain.
Merasakan sikap istrinya demikian, Rafa hanya bisa bersabar, tak ingin membuat mood istrinya tambah kacau, hingga Rafa mengalah.
Mendengar ucapan suaminya itu, Atika sama sekali tak berniat menjawab, hanya diam dan tatapannya masih tetap sama, ke arah lain, enggan melihat suaminya itu.
Rafa yang melihat istrinya tak merespon ucapan nya, jadi sedikit tersulut, hingga merasa tak di hargai oleh istrinya, membuat Rafa melupakan pesan sang mommy.
"Segitu berartinya seorang Jhon di hati mu, hingga sikap mu berubah pada mas.!! runtuh sudah kesabarannya, namun sedikit menunjukan rasa tak sukanya kepedulian istrinya dengan pria lain.
Atika yang mendengar ucapan Rafa, jadi ikut tersulut, seolah menuduhnya punya perasaan lebih pada Jhon, padahal ia hanya menunjukkan sikap kemanusiaan dan nuraninya saja, tapi suaminya malah mengartikan lain.
Menatap tajam pada Rafa, seolah menyatakan ucapan suaminya terlalu berlebihan dan omong kosong.
"Kalau menurut mas begitu, itu terserah kamu, pendapat dan pemikiran setiap orang kan berbeda" kembali membuang pandangannya kearah lain, setelah menjawab ucapan suaminya itu.
Namun Rafa semakin tak suka, dengan jawaban Atika, membuatnya kesal, seolah apa yang di pikirkannya benar adanya, dan membuat Rafa sedikit cemburu, karena istrinya memikirkan pria lain.
"Itu artinya laki-laki itu lebih berarti untuk mu, dari pada mas, hingga dalam semalam sikap mu langsung berubah pada mas.!!
" Apa maksudmu bicara begitu mas??
Tak terima di tuduh yang macam-macam oleh suaminya.
__ADS_1
"Menurut kamu apa lagi?? sudah jelas laki-laki itu lebih penting bagimu, hingga kamu begitu memperjuangkannya, bahkan rela kita bertengkar hanya demi seorang laki-laki yang sudah melakukan kejahatan padamu.!! semakin tersulut.
" Kalau mas hanya mau berdebat denganku, lebih baik mas tinggalkan aku sendiri, aku tidak menyangka mas tega, dan berpikiran kotor seperti itu" ujar Atika yang sudah menahan tangis, dan perasaannya semakin sensitif.
"Demi laki-laki itu, kamu mengusir mas dari sini??
" Mas.!!
Akhirnya Atika tak bisa lagi menahan, menjawab suaminya dengan suaranya yang sedikit meninggi, dan air matanya pun tak bisa lagi ia tutupi.
"Kenapa?? bukankah yang mas katakan itu benar adanya? masih bersitegang.
" Kalau mas sudah tidak menginginkanku lagi, jangan menuduh ku dengan keji seperti ini, mas bisa tinggal mencampakkan aku, kalau mas mau, nggak perlu membuat tuduhan yang menyakitiku mas, dan aku akan pergi kalau memang mas yang menginginkan, karena aku tahu dan sadar siapa aku, hanya seorang wanita miskin yang bernasib baik, yang mas pungut dari keterpurukan dan kemiskinan.!!
Tak lagi berpikir jernih, Atika malah membuat Rafa merasakan sesak, karena ternyata istrinya berpikir ia hanya memungutnya dan kasihan saja, dan tidak melihat cintanya yang besar.
"Sedangkal itukah pikiran mu?? mas mengira kita bisa bersama, karena cinta kita yang besar dan kuat, ternyata aku keliru.!! ujar Rafa, sembari beranjak dari duduknya, pergi meninggalkan Atika sendiri di balkon itu.
Melihat kepergian suaminya, Atika semakin menangis pilu, berharap ia hanya akan mempertahankan agar Jhon di beri kesempatan, namun malah semakin rumit, dan suaminya malah menuduhnya yang tidak-tidak, membuat Atika merasa, suaminya bebas menilainya wanita seperti apa, dan mengira karena dia hanya berasal dari keluarga yang miskin dan memprihatinkan, hingga bebas menuduhnya demikian??
Sementara Rafa yang sudah turun dari kamarnya, di bawah ia melihat sang mommy yang menatapnya dengan penuh tanda tanya.
Melihat raut wajah putranya, felix paham betul bahwa putra dan menantunya tidak baik-baik saja.
"Kalian bertengkar??
Rafa menatap mommy nya sejenak, lalu mengangguk lemah, rasa sesal ada dalam hatinya, yang telah menuduh istrinya punya perasaan lebih pada jhon, namun di satu sisi, Rafa juga tak terima dengan ucapan istrinya, yang berpikir dangkal, mengatakan hanya melihat dari sisi kasihan dan kemiskinan hidupnya, di masa lalu.
"Mom, untuk sementara Rafa di apartemen dulu, sampai Atika tenang, dan menyadari kesalahannya" ujar Rafa yang mengambil keputusan sendiri.
"Memangnya kesalahan apa yang Atika lakukan?? tanya felix yang merasa semakin berbelit saja masalah putra dan menantunya itu.
" Rafa pusing mom, untuk saat ini, biarkan saja begitu, mom nggak perlu bertanya pada Atika, biarlah Atika menyadari sendiri, tanpa dorongan atau nasehat siapa pun, karena ia harus bisa menentukan sikap yang tegas, dan berpikir jernih, bila ada masalah, dan tak mengungkit masa lalu, dan biarkan kami selesaikan sendiri masalah ini, tanpa campur tangan mommy dan daddy" ujar Rafa dengan serius, hatinya terlalu sakit, mendengar ucapan Atika yang membawa-bawa urusan masa lalu, seolah dia melihat istrinya hanya dari segi ke hinaan dan kemiskinan, hingga hal kasihan.
Felix yang melihat sikap serius putranya, hanya pasrah, ia yakin putranya punya alasan tersendiri dengan ucapannya yang demikian, dan hanya berharap agar putra dan menantunya secepatnya berbaikan, dan menyelesaikan masalah mereka dengan cara dewasa, dan tidak terjadi hal yang tak di inginkan.
"Baiklah, mom mengerti dan menghargai keputusanmu, tapi mom harap ini tidak terlalu larut, karena kamu harus, melihat keadaan Atika yang saat ini, jadi jangan menjadikan masalah ini, jadi bumerang yang akan kamu dan Atika sesali kelak.!! ujar felix yang selalu mengingatkan putranya itu, meski Rafa putranya, bukan berarti ia akan membenarkan semua sikap dan keputusan putranya itu.
Next..
Makasih buat para saudaraku yang sudah dukung,serta kritik dan saran yang sehat, dan saya berusaha untuk lebih baik lagi, agar kalian semakin semangat membaca karya saya iniπππ
__ADS_1