
Sudah tiga hari Cita berada di mansion keluarga Widodo, selama itu pulalah Dewa selalu melewati hari-hari yang membosankan.
Apa lagi perintah sang ratu macan, melarangnya untuk bertemu sang kekasih hati, jangankan satu bulan, satu hari saja bagaikan setahun bagi Dewa, sungguh situasi saat ini sangat menyiksanya.
Sementara Cita yang tidak pernah menikmati hidup enak, bak seorang putri kesayangan yang penuh dengan perhatian dan kasih sayang.
Namun meski demikian, tidak membuat Cita begitu bahagia, karena tentu saja ia pun merasakan hal yang sama seperti Dewa, yang merasakan rindu, karena sudah tiga hari tidak ketemu, bahkan saling komunikasi pun tidak, karena Felix menyita handphone Cita, hal hasil Dewa pun tak bisa untuk sekedar tahu bagai mana keadaan Cita saat ini.
Pagi ini Dewa semakin tak fokus dengan pekerjaannya, keadaan semakin menyiksa dan menyita semangatnya, karena penyemangat nya saat ini sedang jauh dari sisinya, apa lagi yang membuat Dewa semakin uring-uringan, saat beberapa teman Cita di bagian OG dan OB, bertanya di mana Cita, membuat Dewa geram tak tertahankan, karena harus mencari jawaban yang tepat pada mereka, agar para temannya Cita tidak lagi bertanya tentang Cita padanya.
"Wah, wah, lihatlah sang Dewa cinta, sepertinya mengalami depresi"
Rafa yang masuk keruangan Dewa, melihat keadaan Dewa yang sedang tiduran di pinggiran sofa, dengan posisi kaki di atas sofa, kepalanya di bawah, atau terbalik.
"Jangan bilang kamu berencana bunuh diri, bisa heboh sejagat raya, dengan berita viral tentang kematian mu, dengan konteks, mengakhiri hidup karena seorang wanita"
"Brisik.!! nggak usah sok prihatin Lo sama gue, giliran gue butuh dukungan dan bantuan Lo, eh malah Lo pake mode mengharu lagi, ujungnya gue yang apes, karena terpaksa menyerah karena terpojok kan sendiri"
Kesal Dewa yang merasa Rafa sama sekali tidak menolongnya malam itu, justru malah ciut karena sindiran dari sang ratu macan.
"Yah.. mau gimana lagi, Lo kan tahu mommy itu seperti apa, selalu saja bisa ,membuat kita nggak berkutik, apa lagi Daddy"
"Yah.. senggaknya Lo cari cara gitu, apalah yang bisa buat nolongin Gue"
"Oke, Gue minta maaf karena nggak bisa bantuin Lo malam itu, yang jelasnya Lo sabar aja selama sebulan ini, toh Cita di mansion baik-baik aja, apa lagi yang Lo khawatirkan??
" Lo itu lulusan apa sih dulunya, sampai kok masalah beginian Lo nggak paham, seperti Lo nggak pernah ngerasain saat Lo di jauhi dari Atika, sama tante"
"Gue paham maksud Lo, trus kita emang bisa ngalahin mommy, yang ada cari mati"
__ADS_1
"Entahlah, Gue juga bingung cara apa lagi biar Gue bisa ketemu Cita, buntu otak Gue"
Dewa merasa bicara dengan Rafa pun nggak membuahkan hasil sama sekali.
Padahal Dewa berharap, meski tak bisa bertemu dan bicara pada Cita, yah seenggaknya Dewa bisa melihat Cita, meski dari kejauhan sekali pun, agar bisa menghilangkan rasa rindunya.
Saat Dewa berpikir cara apa lagi yang harus ia lakukan, semakin buntu pikirannya, ia pun mulai mengingat kembali, dua hari yang lalu saat Dewa pergi ke kampusnya Cita, berharap bisa bertemu, eh malah si Cita di antar langsung oleh si ratu macan, bahkan di jemput dengan orang suruhan si ratu, udah mencoba beberapa cara, namun hasilnya selalu nihil.
"Ting"
Notifikasi terdengar dari ponselnya si Rafa, dan tertera di sana My Wife, yang sudah tentu itu adalah atika.
Ketika Rafa melihat isi chat yang di kirim Cita, Rafa pun langsung tersenyum sumringah, sementara Dewa yang melihat Rafa tersenyum, semakin muak, karena berpikir si Rafa sedang ber chat ria dengan istrinya Atika, dan tidak memperdulikannya, yang saat ini butuh saran atau ide dari bos nya itu.
"Cih.!! kalau Lo mau mesra-mesraan sama istri Lo, sana balik keruangan mu, ngelihat Lo senyam senyum nggak jelas buat Gue mual"
"Cih.!! siapa juga yang mesra-mesraan, Gue itu senyum karena ada kabar baik buat Lo be**"
" Cih..! nggak sabaran amat sih Lo.! tadi aja ngatain Gue, sekarang kabar baik apa??
"Serius nih, Lo nggak lagi ngerjain Gue kan??
" Huh, emang ngerjain Lo Gue dapat bonus gitu?? yang ada Gue malah sial"
"Oke.! Gue serius nih, kabar baik apa sih??
" Barusan tadi Atika Nge Chat Gue, katanya siang ini mereka mau shopping sama mommy juga Cita, mau beliin keperluan Cita, di mall X"
"Terus kabar baiknya apa?? maksud Lo Gue ikut bahagia gitu, kalau Cita lagi belanja, shoping gitu???
__ADS_1
" Terkadang otak Lo keluarin sekali-sekali, terus Lo lihat kalau di dalam otak Lo ada otak udang, mending Lo ganti aja sama otak burung, biar Lo sekalian noh terbang ke angkasa raya, geram Gue, punya teman kok loading nya lelet amat"
"Ngomong itu yang jelas, nggak usah buat Gue tambah pusing, pake nyuruh lihat otak Gue apa ada udangnya, ganti jadi otak burung, biar Gue terbang, sekalian aja Lo bilang Gue ganti otak serigala Gue mengaum sekalian"
"Makanya dengerin, biar Lo paham, dan nggak LOLA"
"Apaan lagi tuh LOLA??
" Loading Lama.!!
"Bre*****k Lo, yang serius kenapa??
" Kan tadi Gue udah kasih tahu sama Lo, kalau Atika, Cita dan Mommy lagi shoping, kabar baiknya, yah tentu saja kita bisa nyusul mereka ke sana, dan Lo bisa cari cara buat ketemu sama Cita di sana Be**"
"Mantap.!! itu baru namanya ide cemerlang, eh, tapi apa kita aman, pasti tante bawa orang kepercayaan juga kan, gimana caranya kalau para pengawal tante lagi ngawasi mereka di sana??
" Yah kita nggak datang gitu aja dong, yang jelas gimana caranya supaya mommy atau siapa pun itu nggak ngenalin kita, caranya yah mau nggak mau kita harus nyamar, tapi kalau tetap nyamar jadi cowok, mommy sulit untuk ditaklukkan, jadi kita mending nyamar nya jadi cewek cantik, pasti mommy dan yang lainnya nggak ngenalin kita"
"Bagus juga tuh ide Lo, sekarang biar Gue suruh orang kita membeli perlengkapan nyamar, biar lebih klop dan sempurna"
"Yah udah cepat, keburu mereka pulang, yang ada kita nggak jadi beraksi nantinya"
Dengan semangatnya Dewa menghubungi orang kepercayaan nya, dengan memesan barang-barang yang mereka berdua perlukan untuk menyamar.
Sementara, jangan tanya orang yang ada di seberang sana, yang bingung dengan perintah atasannya, namun tak bisa banyak bertanya dan untuk apa, yang jelasnya ia hanya bisa menurut, dan merasa sial seolah di kerjain atasannya, dengan membeli perlengkapan wanita, sudah tentu banyak para karyawan toko yang di datanginya tersenyum lucu, karena begitu antusias membeli semua perlengkapan yang di butuhkan atasannya itu, meski harus menebalkan wajah dan bersikap dingin, pada setiap orang yang melihatnya, namun jangan tanyakan dalam hatinya, mengutuk semua perintah atasannya, yang membuatnya malu serta sial yang cukup menjaga image nya, tapi apa hendak di kata, perintah atasan adalah mutlak baginya, dan harus di laksanakan, kalau nggak panjang urusannya.
Haddehhhh😆😆😆
Next...
__ADS_1
"Lagian Lo