
Saat Atika, Rafa, dan Felix masuk ke ruang perawatan pak Danu, mereka mendapati Aliando yang bercerita santai di dalam, terlihat kedua pria paru baya itu sangat akrab sebagai besan, dan pak Danu, sudah terlihat semakin membaik dan cukup melegakan hati Rafa, karena istrinya tidak melihat luka-luka yang sangat mengerikan di tubuh ayahnya itu.
"Ayahhh, panggil Atika dan berlari kecil memeluk ayahnya, sebenarnya dari tadi Atika menahan sesak di dadanya, membayangkan keadaan ayahnya yang terbaring lemah, namun saat melihat keadaan ayahnya cukup di katakan sudah stabil, membuat Atika lega, dan menumpahkan tangisnya dalam dekapan ayahnya itu.
"Suuut, jangan menangis, ayah baik-baik saja, maafkan ayah karena melarang suami mu mengatakan yang sebenarnya pada mu, karena ayah tahu kamu pasti akan sedih, ucap pak Danu mengusap lembut punggung Atika, dan merenggangkan pelukannya.
"Atika sangat takut ayah, kalau ayah sampai kenapa-napa, Atika tidak akan memaafkan diri Atika sendiri, ucap Atika terisak pilu.
""Heiii, lihatlah ayah sudah baik-baik saja, itu karena dia kalian dan perhatian kalian semua, terutama menantu ayah, kau tahu suami mu tidak hanya sekedar menantu bagi ayah, dia anak ayah yang sangat berbakti, ayah pantas mensyukuri semua ini, meski keadaan ayah saat ini masih belum sembuh total, tapi ayah merasa sudah sembuh, karena merasakan perhatian yang luar biasa dari kalian apa lagi menantu ayah, dan ayah sangat berterima kasih pada mu nak Rafa, dan pada anda juga ibu Felix dan pak Aliando, kalian adalah orang tua yang berhasil mendidik putra kalian menjadi laki-laki yang bertanggung jawab, dan sangat berbudi pekerti, ucap pak Danu haru meneteskan air matanya, ia merasakan serasa memiliki keluarga yang lengkap saat ini.
"Ayah bicara apa sih, tidak ada kata terima kasih, karena sudah kewajiban seorang anak melindungi dan memperhatikan orang tuanya, ucap Rafa mendekati pak Danu dan mengelus lembut punggung pak Danu.
"Itu benar pak Danu, jangan bicara begitu, itu adalah anugerah dari Tuhan, pak Danu mendapat menantu yang baik dan perhatian, kami juga mendapatkan putri dan menantu yang baik dan berhati mulia yaitu putrimu Atika, jadi itu adalah berkah untuk kita bersama, jangan merasa berhutang Budi, karena kebaikan yang di berikan putra kami, karena pak Danu bukan saja ayah Atika tapi juga ayahnya Rafa putra kami, ucap Aliando membuat pak Danu semakin terharu.
"Jadi ayah hanya bangga pada suamiku?? ucap Atika merenggut manja, membuat mereka semua terkekeh lucu dengan sikap bumil yang satu itu.
"Sepertinya begitu, dan kamu juga sudah punya ibu dan ayah yang menyayangi mu kan?? ucap pak Danu menggoda Atika yang cemberut.
"Ayahhh, ucap Atika kesal karena ayahnya sengaja menggodanya.
Mereka pun tertawa bahagia, kebersamaan itu sangat mereka nikmati dan Atika yang ingat dengan kehamilannya yang belum ia beritahukan pada ayahnya, ini saat yang tepat menyampaikan kabar bahagia ini, pikir Atika.
"Ayahhh, Atika mendekati ayahnya dan menggenggam lembut jemari tangan yang terlihat sedikit keriput itu, menatap mata ayahnya dalam dan tersenyum hangat.
"Kenapa hm?? tanya pak Danu menatap Atika yang sepertinya ingin menyampaikan sesuatu padanya, tapi apa itu pak Danu jelas tidak tahu.
__ADS_1
"Disini ada cucu ayah, ucap Atika meneteskan air matanya, mengarahkan jemari ayahnya pada perut ratanya.
Deg
Jantung pak Danu berdebar, mendengar ucapan Atika, dan menatap Rafa menantunya serta Felix dan Aliando, memastikan apakah ucapan putrinya itu benar atau tidak.
Rafa dan Momy serta Dady nya, yang paham dengan tatapan pak Danu, mengangguk dan tersenyum menandakan dan membenarkan ucapan Atika tersebut.
Pak Danu pun menatap mata Atika yang meneteskan air mata, membuat pak Danu juga tak bisa menahan tangis bahagianya, sungguh ini kabar yang begitu indah, apa lagi yang ingin ia minta dari Tuhan, semua kebahagian itu datang bagai air yang mengalir, semua yang di rasakan pak Danu bagaikan mimpi, kehidupannya berubah total, semenjak mengenal keluarga Widodo, padahal kalau di lihat dari segi mana pun, mereka bagai langit dan bumi, dan sangat jauh berbeda, tapi itulah hidup siapa yang tahu kedepannya bagai mana, karena Tuhan yang punya rencana, kita hanya menjalankan rencana itu dengan baik dan tulus, batin pak Danu.
"C c cucu a a ayahhh, ucap pak Danu dengan bibir bergetar, menyentuh lembut perut rata Atika dan air mata yang mengalir deras.
"Iya ayah, ayah akan jadi kakek, ucap Atika tersenyum hangat, menghapus air mata ayahnya.
"Ibu Felix, pak Aliando, kita akan jadi kakek dan nenek, ucap pak Danu terkekeh kecil dalam tangis bahagianya.
"Dan kita akan jadi kakek yang tampan dan cool tentunya, ucap Aliando tak mau kalah dari istrinya, membuat mereka semua tertawa bahagia, sungguh begitu indah rencana Tuhan untuk mereka, padahal kalau di ingat-ingat, kehidupan Felix dan Atika, bisa dikatakan bagai kehidupan di atas tanah gersang, yang merasakan hidup sangat menderita, ibarat mengharapakan hujan dalam penantian dan kesabaran yang cukup lama yang turun dari langit membasahi tanah yang gersang itu.
Kesabaran, ketegaran, serta keikhlasan adalah tiga hal yang sangat mutlak, dan tidak akan pernah membohongi hasil yang akan kita peroleh, asalkan kita tulus menjalaninya.
Sementara di balik pintu kamar VIP itu, sepasang mata yang mengintip di sana, menggeram kesal melihat kebersamaan dan kebahagiaan di dalam ruangan itu, siapa lagi kalau bukan perawat gila yang berambisi mendapatkan milik orang lain, pikiran liciknya pun bekerja saat mengetahui siapa pasien yang ada di kamar VIP itu.
Perawat picik itu pun merencanakan sesuatu, bagai mana pun caranya ia tidak akan melepaskan kesempatan emas itu, batinnya menggeram.
Leni nama perawat yang tergila-gila pada Rafa, ia mengenal Rafa saat mereka sama-sama berada di kota Xx.
__ADS_1
Rafa saat itu melakukan perjalanan bisnis, sementara Leni sedang menikmati liburan bersama beberapa teman sekampusnya, masa kuliah dulu.
Menginap di hotel yang sama, dan saat mereka menikmati liburan di kota Xx, tak sengaja Leni yang tidak sengaja menubruk Rafa saat di loby hotel, merasakan debaran pandangan pertama pada Rafa, hingga ia berharap bisa mendapatkan Rafa jadi miliknya, dan sebelumnya Leni tidak tahu ia ternyata bekerja di rumah sakit yang ternyata pemiliknya adalah Rafa, membuat Leni semakin berambisi untuk mendekati Rafa dan mendapatkannya.
Bahkan Leni berkali-kali mengajukan dirinya, sebagai perawat untuk di rekomendasikan menjadi perawat pribadi untuk keluarga Widodo, agar memudahkannya mendekati Rafa, setiap kali ada kesempatan bertemu dengan Rafa, tapi rencananya selalu gagal dan mengecewakan.
Leni yang masih mengintip di balik pintu itu pun, di pergoki dokter Yoga yang ingin memeriksa keadaan pak Danu pasien istimewanya itu.
"Sedang apa kau di sini?? tanya dokter Yoga membuat Leni gelagapan karena terkejut, kedapatan menguping dan mengintip.
Felix yang mendengar suara dokter Yoga, ingin melihat keluar dan apa yang terjadi di sana, tapi suaminya langsung menatap tajam, seolah memberinya peringatan untuk tidak beranjak dan tetap duduk, dan jangan tersenyum pada dokter genit itu.
"S s saya hanya ingin memberikan ini pada Nona muda, ucap Leni gugup menunjukkan Vitamin untuk ibu hamil berbentuk Pil itu, Leni memang sengaja mengantongi itu, sebagai alat untuk berdalih bila ketahuan agar tidak mencurigakan.
"Tidak perlu.!! kau tahu keperluan Nona muda sudah ada yang mengurus secara khusus, dan tidak sembarang orang untuk menangani itu, jangan sampai Nona muda salah mengkonsumsi Vitamin akibat kecerobohan dan kepercayaan dirimu.!! ucap dokter Yoga,membuat Leni mengepalkan tangannya geram, semua usahanya selalu gagal, apa lagi dokter Yoga sangat tidak menyukainya, Leni pun pergi takut Rafa dan yang lainnya melihatnya dan itu bisa membuat mereka curiga.
"Maaf Dok, maafkan saya karena sudah lancang, ucap Leni menundukkan kepalanya, dan berlalu pergi.
Dokter Yoga pun menatap langkah perawat Leni yang kian menjauh, dari awal ia sudah tidak menyukai perawat Leni, karena sikap centilnya dan sangat berambisi, membuat dokter Yoga muak dan sangat tak suka, apa lagi melihat Leni mengintip di kamar VIP ini, dokter Yoga pun merasa curiga, sikap perawat Leni yang selalu menguntit keberadaan tuan mudanya itu.
"Jangan coba-coba bermain-main, kalau kau masih sayang dengan nyawa dan kepalamu, batin dokter Yoga yang tahu sisi kejam keluarga Widodo, yang tidak diketahui banyak orang, dan hanya orang tertentu yang paham dan tahu bagai mana, prinsip keluarga Widodo, "Bila terusik maka kematian masih terlalu ringan untuk mu" batin dokter Yoga menghela nafasnya panjang.
Next.
Jangan lupa jejaknya ya Guys.
__ADS_1
Salam Arthor.