
Dokter Yoga pun masuk ke ruangan pak Danu, saat membuka pintu, hal pertama menyambutnya adalah tatapan tajam Aliando yang seperti ingin menelannya hidup-hidup.
Namun Dokter Yoga, bersikap cuek, dia merasa tidak pernah menganggu dan menggoda siapa pun.
"Ada keluhan pak Danu?? tanya dokter Yoga tanpa basa-basi, ingin secepatnya menyelesaikan urusannya dalam ruangan yang menyesakkan itu.
"Untuk saat ini tidak ada dokter, hanya sedikit keram di pergelangan tangan, mungkin karena infus ini, ucap pak Danu yang terlihat lebih semangat dari hari sebelumnya.
"Saya bisa melihat itu pak Danu, sangat jelas pak Danu begitu senang dan bahagia, dan itu sangat baik pada kesehatan pak Danu, ucap Dokter Yoga, tersenyum senang.
"Anda benar dokter, hati yang bahagia dan senang adalah obat yang paling ampuh menyembuhkan segala penyakit, ucap pak Danu tersenyum cerah dan semangatnya bertambah dua kali lipat, mendapat kabar bahagia dari putri kesayangannya itu.
"Dokter Yoga, menurut saya sebaiknya pak Danu di rawat di rumah saja, ucap Felix agar pak Danu tidak kesepian ada Atika yang bisa selalu menemani dan menghiburnya.
Aliando yang mendengar istrinya bicara pada dokter Yoga, menatap tajam pada dokter Yoga, ia tak suka ucapan istrinya di balas dokter Yoga itu.
Tapi sepertinya dokter Yoga sengaja, menyiram minyak pada api yang sedang berkobar, ia sengaja memanas-manasi Aliando yang terbakar cemburu itu.
"Tidak masalah Ny, pak Danu akan lebih nyaman di rawat di rumah, dan tentunya sangat membantu pemulihan karena suasana keluarga yang selalu memberi perhatian penuh, ucap dokter Yoga lembut, tersenyum manis pada Felix, membuat Aliando mengepalkan tangannya, ingin menonjok wajah dokter Yoga itu.
Karena tak ingin citra dan harga dirinya buruk di nilai besannya, Aliando pun, menarik istrinya keluar dari ruang VIP itu, tak ingin berlama-lama satu ruangan dengan dokter Yoga, yang selalu membuat dada Aliando memanas.
"Apaan sih dad, ucap Felix yang tak suka dengan sikap suaminya, menarik paksa keluar dari ruang VIP itu.
"Momy sengaja kan, bicara begitu sama dokter genit itu, membuat Dady agar terpancing.!! sahut Aliando yang tidak mau di salahkan.
"Huh.!! Dady sangat keterlaluan, siapa juga yang sengaja, Momy mengatakan hal itu pada dokter Yoga karena tak ingin terjadi sesuatu pada pak Danu, ucap Felix membuat Aliando bingung.
"Maksud Momy?? tanya Aliando, mengerutkan dahinya menatap Felix bingung.
"Momy punya firasat buruk, dan menurut Momy orang itu menargetkan pak Danu, karena Momy melihat gerak-gerik mencurigakan tadi, ucap Felix dan Aliando pun paham maksud istrinya itu.
__ADS_1
Aliando pun menarik istrinya ke lorong rumah sakit yang lumayan sepi, dan jarang di lalui orang-orang.
"Apa yang Momy ketahui, tanya Aliando sedikit berbisik, agar tidak ada yang mendengar pembicaraan mereka.
"Tadi sebelum dokter Yoga masuk, Dady dengar tidak, dokter Yoga bicara di depan pintu kamar pak Danu, dengan seseorang, Momy dengar tadi, orang itu sepertinya tertangkap ketahuan menguntit kita di dalam, dan sepertinya orang itu seorang wanita, apa Dady tidak lihat tadi, saat kita ikut memeriksakan kandungan Atika, salah satu perawat di sana begitu tak suka melihat menantu kita, dan sangat mencari perhatian pada Rafa, Momy yakin perawat itu punya rencana buruk dan ingin menggunakan pak Danu untuk melancarkan misinya.
Mendengar perkataan istrinya, Aliando pun mengingat balik saat mereka di ruangan pemeriksaan tadi, dan baru menyadari sempat melihat perawat itu bersikap centil dan cari perhatian pada Rafa putranya, dan karena hanya melihat sepintas Aliando mengira itu hanya sikap ramah yang mereka lakukan agar terlihat santun di hadapan para pasien atau siapa pun, tapi ternyata istrinya banyak menangkap gerak-gerik perawat itu, dan tentunya ia akan segera mungkin mengurus kepulangan pak Danu dan membawanya pulang ke mansion hari ini juga.
"Momy benar, sebaiknya pak Danu kita bawa pulang ke mansion hari ini, ucap Aliando seraya mengambil ponselnya, menghubungi Dewa agar mengurus kepulangan pak Danu, namun belum sempat Aliando menekan nomor Dewa, tiba-tiba mereka mendengar suara seorang wanita yang bicara pada seseorang, Felix dan Aliando pun mendekati suara itu dengan mengendap-endap, saat mereka melihat orang tersebut, mereka pun melotot kaget, karena orang tersebut adalah perawat yang baru saja mereka bicarakan tadi.
"Aku tidak mau tahu, jangan sampai gagal, lakukan rencana malam ini juga, dan bila perlu habisi Atika wanita udik itu sekalian.!! ucap perawat itu, membuat Aliando dan Felix geram, beraninya menargetkan menantu mereka, lihat saja apa yang akan kau dapatkan nantinya pikir Felix, jiwa Kepo dan jahilnya mulai bangkit, dan sepertinya ia akan melakukan permainan menarik saat ini, pikirnya tersenyum menyeringai.
Aliando dan Felix meninggalkan tempat itu, Felix meminta suaminya agar secepatnya, mengurus kepulangan pak Danu, dan membicarakan hal ini pada putranya, agar waspada, dengan perawat gila itu, yang juga menargetkan menantunya, sementara Felix pergi ke ruangan UGD, dengan alasan ia ingin mencek tekanan daranya, dan meminta beberapa perawat agar melayaninya termasuk menyebut Leni, si perawat gila itu.
Mendengar itu Leni tersenyum senang, ia berpikir mendekati Felix tidaklah buruk, dan berharap ia bisa semakin dekat dan bisa mempengaruhi Felix untuk menendang Atika dari sisi Rafa.
"Ada yang bisa kami bantu Ny, bicara selembut mungkin agar Felix tersentuh pikir Leni.
Leni pun sangat senang, karena Felix menanggapinya dengan lembut, tapi ia tidak menyadari di balik kelembutan itu, ada rencana licik yang terselubung di otak Felix, dan lihat saja senyumannya sudah membuktikan sangat memiliki arti, tapi arti senyuman itu hanya Felix yang tahu dan Arthor, hehehehe.
Leni pun mulai memasang alat tensi itu di lengan Felix, namun baru saja Leni mulai memompa dan merasakan denyut nadinya Felix, Leni tersentak kaget, karena jeritan Felix yang memekakkan telinga itu.
"Heii.!! kau mau membunuhku ya.!!! hardik Felix membuat Leni gelagapan, tak mengerti maksud Felix, yang mengatakan mau membunuhnya.
"Maaf Ny, maksud anda apa?? tanyanya bingung dan sedikit takut, karena tatapan mata Felix yang melotot padanya.
"Maaf katamu.!! apa begini caramu, memeriksa semua pasien, kalau begini yang ada bukannya sembuh, tapi semakin parah, ucap Felix pura-pura meringis merasakan tangannya keram karena alat tensi yang di pasang di lengannya.
"Tapi Ny, itu memang hal yang biasa untuk memeriksa tensi darah, dan sejauh ini belum pernah ada yang komplein, ucap Leni agar tidak di salahkan.
"Oh, maksud kamu saya mengada-ngada iya.!!! ucap Felix menatap tajam Leni, yang semakin gelagapan.
__ADS_1
"Bukan begitu maksud saya NY, ucap Leni membela diri.
"Saya tidak mau tahu ucap Felix, sekarang panggil semua dokter yang bertugas saat ini, saya tidak ingin para pasien yang datang ke rumah sakit ini mendapat pelayanan yang tidak baik, ucap Felix menyeringai.
Mendengar perkataan Felix, Leni pun gemetar takut, bisa habis dia kalau semua para dokter mengetahui pelayanannya tidak memuaskan pemilik rumah sakit ini.
Apa yang kau tunggu, cepat panggil mereka.!! hardik Felix, dan mau tidak mau Leni pun tak punya pilihan, saat Leni ingin pergi memanggil para dokter itu, Felix sengaja menjulurkan kakinya kearah langkah Leni, dan kaki Leni pun tersangkut dan jatuh.
Bruukk.!!!!
"Auuuu, Leni meringis kesakitan, jidatnya terbentur ke lantai cukup keras.
Melihat hal itu Felix tersenyum senang, ini masih permulaan perawat gila, dan rasakan itu, beraninya kau ingin mencelakai menantuku.!! batin Felix geram.
"Apa kau tidak punya mata hah.!! ucap Felix yang pura-pura meringis sakit mengelus kakinya yang sengaja ia dijulurkan nya tadi, sengaja membuat Leni jatuh.
Leni pun bangkit dari lantai itu, dan Felix ingin sekali tertawa saat melihat benjolan memerah dan mulai memburu di jidat Leni.
"Maafkan saya NY, karena buru-buru, saya tidak melihat kaki anda tadi, ucap Leni mengelus-elus jidatnya.
"Ya sudah.!! sebaiknya saya pergi, dan saya sudah tidak tertarik lagi untuk di periksa, kau obati kening mu itu, ucap Felix berjalan meninggalkan Leni di ruang UGD itu, misinya sudah berjalan mulus, dan ia sangat senang dengan hasil karyanya itu.
Leni yang tahu Felix sengaja melakukan itu padanya, mengepalkan tangannya, ingin sekali rasanya ia membalas Felix saat itu juga, tapi ia tak berdaya, karena ia tidak akan menang melawan musuh di dalam rumahnya sendiri, dan ia tidak ingin rencananya gagal karena di tendang dari rumah sakit itu dengan tidak wajar.
Melihat senyum istrinya Aliando bisa menebak kalau istrinya baru saja melakukan hal konyol dan kejahilannya, tapi Aliando senang karena istrinya bisa memberi pelajaran pada orang-orang yang mencoba bermain api dengan mereka, dan tentunya jangan harap bisa lepas dari genggaman mereka, karena sekali menyelam tentunya juga minum air, batin Rafa tersenyum simpul membalas senyuman manis istrinya itu.
Next.
Jangan lupa jejaknya ya Guys.
Salam Arthor.
__ADS_1