
Aliando yang juga menugaskan Rico, untuk mencari tahu siapa dalang penculikan Celi dan Nana, mendapat laporan dari Rico, bahwa Dino dan istrinya ada di balik layar penculikan itu.
Setelah membaca pesan dari Rico, Aliando pun menghubungi Rico.
"Bereskan istrinya Dino, dan bawa ke markas.!! Dan pastikan anaknya dengan keadaan baik-baik saja, sediakan baby sister, untuk merawat anaknya.
" Siap Bos.! sahut Rico cepat.
Tak lama Rafa sampai di lokasi penyekapan Celi dan Nana, Aliando pun tiba juga di tempat itu.
"Tunggu.!!!
Teriakan Aliando mengalihkan perhatian Rafa, dan tentu Rafa kesal, karena dadynya membuat amarahnya yang sudah hampir meledak sempat mengembun.
" Ada ada lagi Dad?? Rafa bertanya dengan wajah datar dan dingin, karena ia tak mungkin melampiaskan amarahnya pada sang Dady.
"Dady hanya mau bilang, kau cukup selamatkan Celi dan Nana, dalangnya itu bagian Dady.!!
Rafa pun geram dengan ucapan Dady nya, karena ia sudah sangat ingin menghajar habis yang sudah berani menyentuh wanitanya, kalau saja nanti ia melihat keadaan Celi yang membuat murka dirinya, Rafa tak menjamin bisa menuruti, perkataan sang Dady.
" Rafa tak janji Dad, kita lihat saja nanti.!! ujar Rafa dan berjalan mendekat pada sisi dingding gudang kosong itu, karena mereka akan masuk secara perlahan.
Aliando hanya mengeleng pasrah dengan sikap putranya itu, dalam hatinya berkata, "Wataknya ternyata, tak jauh beda denganku" hiks.
Rafa yang di dampingi beberapa pengawalnya, menyusup secara perlahan, samar-samar ia mendengar suara teriakan membentak, lalu suara tangis yang membuat dadanya bergemuruh.
"Habisi semua.!! dan kau, menunjuk seorang pengawal terbaiknya, " ikut denganku"
Rafa dan pengawalnya itu pun mendekati ruangan yang semakin terdengar jelas suara tangis dan isak dari dalam, membuat ia menggeram emosi yang semakin meluap, hingga ia tak bisa menahan lagi, langsung menendang pintu itu.
Tatapan mata Rafa seperti kilatan api, saat melihat sang kelasih tergeletak lemah tak berdaya, sementara Nana hampir di lecehkan terlihat dari pakaiannya yang sudah tak berbentuk dengan baik.
Dor..
Dor..
Dor.. Dor
Rafa pun membabi buta menembaki orang yang ada di dalam, Dino yang sudah tak bisa mengelak, kakinya tertembak membuat ia sulit untuk bergerak.
Rafa secepat kilat berlari, menendang dan menghajar dengan pukulannya yang bertumpukan tenaga bercampur emosi, bahkan tak menghiraukan lagi pesan sang Dady.
Namun saat Rafa ingin menginjak dada Dino yang sudah berlumuran darah akibat tadi Rafa menembaknya lagi.
__ADS_1
Aliando yang baru tiba di ruangan itu pun, karena sempat membantu para pengawal yang lain melumpuhkan lawan, hingga ia sedikit terlambat menemani Rafa.
"Jangan sentuh dia.!! ucap Aliando menghentikan aksi Rafa yang hendak menghabisi Dino.
" Kematian terlalu ringan untuknya, dan dia bagian Dady, ucap sang Dady.
Para pengawal yang mendengar ucapan Aliando pun tercekat, kalau kematian saja ringan lalu apa yang paling berat, pikir mereka, sungguh sulit untuk di tebak, batin para pengawal berteriak.
Rafa tidak menjawab ucapan sang dady yang menghentikannya untuk menhabisi Dino, ia pun meludah karena jijik melihat tampang Dino yang sudah bagaikan monster.
Rafa mengangkat Celi, dan Rico mengangkat Nana, kareba keduanya sudah tak sadarkan diri karena berkali-kali di tampar dan di pukur, Celi selalu membrontak hingga Dino lepas kendali dan hilang akal, menyuruh beberapa anak buahnya untuk melecehkan Nana.
Dalam perjalan di dalam mobil, rafa yang memangku Celi, rahangnya mengeras, saat melihat beberapa luka di tubuh Celi, pipinya bengkak dan memar, membuat Rafa ngilu.
"Aku takkan mengampuni mereka yang membuatmu merasakan sakit di tubuhmu, mereka akan membayar dengan kepala dan darahnya.!! Rafa mengertakan gigi dan tangan yang mengepal.
Levi Quera yang mendapat kabar dari Aliando, bahwa Rafa dalam perjalanan membawa Celi juga Nana ke rumah sakit, langsung mengerahkan pihak rumah sakit meyiapakan segala sesuatunya, karena ke dua putrinya butuh pertolongan.
Beberapa mobil pun terpakir acak di halaman rumah sakit, Levi melihat Rafa keluar dari mobil dengan mengangkat Celi dan berjalan menuju brankar yang sudah tersedia serta beberapa perawat yang sigap melakukan tugas mereka.
Rico yang mengendong Nana, dengan hati-hati meletakkan di atas brankar itu, hingga para perawat langsung sigap mendorong, agar ke dua gadis itu secepatnya di tangani oleh dokter yang sudah menunggu.
Levi yang melihat keadaan ke dua putrinya pun lemas, dadanya seperti di remas, ia merasa bersalah karena tak bisa melindungi orang-orang tersayangnya.
Untung saja istrinya masih di rawat, kalau sampai istrinya melihat keadaan ke dua putrinya, mungkin Yayuk akan shock.
Aliando pun menepuk bahu Levi ringan, ia tahu Levi masih shock dengan keadaan.
"Ke dua putrimu akan baik-baik saja, ucap Aliando menguatkan Levi.
Levi hanya mengangguk, karena lidahnya sulit untuk bicara, karena melihat kondisi Celi dan Nana yang tak sadarkan di saat di bawa ke rumah sakit.
Rafa yang sudah tidak sabar menunggu dokter yang menangani kelasihnya itu, menggila seketika, hingga banyak orang menatap Rafa heran.
" Sebenarnya apa yang di kerjakan mereka di dalam, kenapa lama sekali.!!!
"Apa dokter itu juga sudah bosan hidup.!!
" Awas saja kalau Celiku kenapa-napa, rumah sakit ini akan ku hanguskan saat ini juga.!!! Rafa berkali-kali berteriak karena menurutnya sangat lama.
Aliando pun tak tahan melihat sikap putranya itu, membentak Rafa, karena sudah menganggu ketentaraman di dalam rumah sakit itu.
"Bersabarlah.!!! dokter itu juga tak bodoh, kalau sudah selesai tidak keluar dari sana, kalau kau tak bisa diam, lebih baik pergi dari sini.!!! ucap sang dady, karena menurutnya sikap Rafa berlebihan.
__ADS_1
" Cihh.!!
Rafa menatap sinis dadynya, tak terima karena sang dady mengusirnya.
Tak lama dokter yang menangani Celi pun keluar, dan segera ingin menyampaikan kondisi Celi.
"Baga mana keadaan putriku?? Levi
" Apa yang kau kerjakan di dalam, hingga begitu lama.!! Rafa
"Apa mereka baik-baik saja?? Aliando.
Dokter itu pun jadi serbah salah, ingin menjawab yang mana lebih dulu pertanyaan dari tiga orang berkuasa itu.
Yang satu terlihat sangat hawatir dan panik.
Yang satu lagi, terlihat hawatir, panik, juga emosi.
Yang satu hawatir, terlihat tenang, tapi tatapan tajamnya seolah menguliti tubuh sang dokter.
Sesaat dokter pun menelan salivanya kasar, tak tahu siapa yang lebih dulu harus ia jawab, atas pertanyaan beruntun itu.
" Hehh.!!! kau sudah bosan hidup ya?? di tanya malah bengong.!!
"Rafa..!!
Bentak Aliando yang tak suka, karena Rafa selalu bicara membuat orang takut, padahal si dokter yang bergidik melihat tatapan sang dady,, heheehee.
" Nona Celi masih belum sadar, lukanya juga tidak terlalu parah, hanya bagian punggungnya yang terbentur ketas, mengakibatkan Nona Celi harus menjalani penyemenan tulang yang retak, dan tidak terlalu berbahaya, hanya retak ringan tuan, ucap dokter itu.
"Ringan jidatmu.!!! tetap saja itu sakit, apa kau kira kekasihku sampai tak sadarkan diri, karena tidak sakit hahh.!!
Rafa kembali membentak dokter itu, hingga Levi dan Aliando menggeleng pasrah.
" Kalau Nona Nana, lebih serius dari Nona Celi.
Nona Nana, mengalami depresi, kejadian itu membuat ingatannya Nana, kembali pada hal yang pernah Nona alami, apakah Nana pernah memngalami kekerasan.?? tanya dokter itu serius.
Levi, Aliando dan Rafa pun serempak mengangguk, dan tertunduk.
Sungguh nasib Nana yang buruk, lagi dan lagi ia harus mengalami hal yang hampir luntur dari ingatannya, apa lagi saat mereka akan melecehkan Nana, jelas saja membuat Nana histeris gemetar ketakuatan.
Next
__ADS_1
Jangan lupa jejaknya ya Guys.
Salam Arthor.