Ketegaran Hati Wanita Miskin

Ketegaran Hati Wanita Miskin
Jadikan Aku Sandaranmu


__ADS_3

Pagi menyapa seluruh insan manusia, yang masih bersyukur bisa menikmati mentari pagi dengan sinar yang memberi semangat di setiap nafas kehidupan.


Rian yang sudah tidak sabar ingin bertemu pujaan hatinya, sudah begitu rapi dan bersiap menuju Cafenya.


Sementara Rafa masih bergelut dengan perasaanya, yang mana ia merasa bimbang setelah mendengar ucapan pak Danu saat di desa.


Celi dan Lili bertepan tidak ada jam kuliah satu hari ini, memilih untuk menghabiskan waktu di Cafe Rian.


Walau jelas, Lili tak bersemangat, karena dari kemarin ia belum meliha Rian, semenjak mereka bicara di ruangan Rian waktu itu.


Celi yang melihat Lili hanya murung tersenyum, Celi tahu Lili tidak semangat pergi ke Cafe, dan Celi yakin Rian akan bicara pada Lili nanti, karena ia sudah dapat kabar dari Rafa bahwa Rian berhasil mendapat restu dari ayah dan ibu Lili.


"Kenapa melamum terus hm?? tanya Celi duduk di sebelah Lili.


" Segitu benci kah Rian padaku, hingga ke Cafe pun dia tidak datang?? apakah dia begitu jijik padaku Cel?? atau aku tidak usah bekerja lagi di sana agar Rian datang ke Cafe?? ucap Lili yang sudah meneteskan air matanya.


Celi pun terkejut mendengar Lili ingin berhenti bekerja di Cafe Rian, karena berpikir Rian tak datang ke Cafe karena jijik melihat Lili.


"Hei,,, apa yang kamu pikirkan Li?? jangan mudah berpikir negatif, dan masalah tidak akan selesai dengan menghindar, tapi di hadapi dan di selesaikan, ucap Celi memberi Lili pandangan.


" Kamu benar Cel,,, aku sudah bertekad, untuk menerima Rian, namun sepertinya Rian sudah tak lagi perduli padaku, ucap Lili dengan isak tangisnya.


"Kalau nanti Rian di Cafe, apa kamu ingin berterus terang?? tanya Celi lagi.


" Yah,,, aku sudah memutuskan, walau aku tahu akan sulit untuk meyakinkan ayah dan ibu nantinya, ucap Lili lagi, karena hal utama yang membuat Lili selalu menolak Rian, karena tak ingin menuakiti perasaan kedua orang tuanya, yang sudah menekankan padanya, agar tak merasakan nasib yang sama seperti kakaknya.


"Selesaikan satu-satu, pertama; tentukan dulu hati dan perasaanmu, lalu berjuanglah bersama pada cinta kalian, kan kalau ada teman berjuang akan lebih ringan beban yang kita pikul, bukan begitu?? ucap Celi yang selalu bijak dan tenang bila ada masalah.


Lili pun mengangguk, dan menghapus air matanya, ia suda bertekad dan memantapkan hatinya.


" Sudah lebih tenan?? tanya Celi melihat Lili menghapus air matanya.


Lili hanya mengangguk, dan bergegas untuk berangkat ke Cafe.


Saat Celi membuka pintu, Rafa tepat ingin mengetok pintu kamar kost Celi dan Lili, namun belum sempat mengetok, Celi sudah lebih dulu membuka.


"Eh,, kagetnya, ucap Celi mengelus dadanya.


" Maaf,, aku hanya mau pamit di luan, karena hampir telat, ucap Rafa.


"Oh, tak apa, kami juga sudah mau berangkat ucap Celi lembut.


" Baiklah,, aku di luan ya, kalian hati-hati, ucap Rafa sembari melakukan kebiasaanya mengelus kepala Celi lembut di sertai senyum yang selalu membuat Celi berdebar.

__ADS_1


Celi pun hanya mengangguk, tersenyum malu karena Lili melihat perlakuan Rafa.


Rafa hanya tersenyum melihat Celi yang tersenyum malu dan berlalu pergi dengan motornya.


Lili yang melihat Celi meronah, menyikut Celi dengan lengannya.


"Duh manisnya,, gue jadi iri nih, ucap Lili meledek Celi.


Celi hanya memutar bola matanya malas, setiap berhubungan dengan Celi dan Rafa, Lili selalu Kepo.


" Udah,, jangan di bahas, kelamaan, ntar kita telat, untung bosnya baik, apa lagi pada teman gue ini, kalau tidak kita sudah lama di depak dari Cafe, larena sering telat, ucpa Celi balik menggoda Lili.


Celi dan Lili pun tiba di Cafe,, namun mereka merasa aneh, karena Cafe terlihat sepi, Lili yang berpikir Rian memilih menutup Cafenya karena tak ingin melihat Lili lagi, merasa sesak di dadanya, tak mengira Rian begitu menderita karena ketidakjelasan hubungan mereka.


Namun sepersekian detiknya,, Lili sadar ia tak ingin Rian menutup Cafenya hanya karenanya, memilih untuk pergi dari Cafe.


Namun saat berbalik, ingin keluar dari Cafe Lili terkejut karena Rian sudah berdiri di hadapannya, tepat dekat pintu masuk Cafe.


Rian memamg sengaja, menutup Cafenya seharian ini, krena ia ingin momen yang berharga ini harus jadi satu kenangan dalam sejarah hubungannya dengan Lili.


Celi yang sudah paham keadaan, meninggalkan sepasang sejoli itu, untuk menikmati waktu dan mengungkapkan perasaan yang sudah tertunda lama.


Lili menatap Rian sejenak, lalu menunduk lagi, tak sanggup menatap, tatapan dalam dari Rian.


"Masih mau berdiri di situ?? ucap Rian dengan merentangkan kedua tangannya, agar Lili berhambur ke pelukannya.


Rian pun memeluk Lili erat, merasakan kehangatan yang sangat lama merasakan hampa, serta melepas rindunya yang sudah dua hari tak melihat pujaan hatinya itu.


Rian mengecup berkali-kali kepala Lili, meneteskan air mata, karena begitu bahagia karena Lili mentambut hangat pukannya.


Lili yang merasakan pelukan erat Rian, tangisnya semakin pecah, sesak di dadanya selama dua hari ini, melebur sudah, dan rindunya berbalas dengan kehadiran Rian saat ini.


Rian pun merenggangkan pelukannya, menatap dalam mata Lili, lalu mengecup mata sembab itu berkali-kali, bahkan Rian tak bisa menahan gejolah bahagianya langsung menyambar bibi Lili, mencium lembut, namun tak menuntut, mencurahkan seluruh perasaannya, bahwa ia sangat mencintai Lili.


" Hustt,,, jangan menangis lagi hm?? aku tak suka dengan air mata ini, merusak wajah cantikmu, tersenyumlah, karena itu membuatku menambah kadar cintaku yang sudah sangat berat, ucap Rian menghapus air mata Lili.


Lili pun tersenyum mengangguk, lalu kembali memeluk Rian, seolah takut Rian akan meninggalkannya.


"Kita ke ruanganku, ada hal yang ingin ku bicarakan padamu, ucap Rian sembari mengenggam erat tangan Lili membawa ke ruangannya.


Saat di ruangan Rian, mereka duduk di sofa dan Rian memegang kedua bahu Lili agar menghadap padanya, menatap Lili dalam lalu berkata..


" Mulai saat ini, bersandarlah padaku, dan aku serius dalam ucapanku, aku ingin kamu menjadikan akau tempatmu mencurahkan segala bebanmu, jangan menyembunyikan apa pun dariku hm?? ucap Rian tulus.

__ADS_1


Lili pun semakin tak bisa membendung tangisnya, lagi-lagi ia merasa haru dengan perkataan Rian, sunggu ia sudah egois membuat Rian begitu lama merasakan sakit bahkan selalu menolaknya, Lili pun merasa bersalah.


"Jangan menangis sayang,, memeluk Lili erat.


" Aku hanya bahagia,, aku mencintaimu, ucap Lili di sela isaknya dalam pelukan Rian.


"Aku tahu itu, bahkan aku lebih mencintaimu, ucap Rian mengusap lembut punggung Lili.


" Dengar baik-baik, dan aku harap kamu tidak marah karena aku sudah lancang ucap Rian yang ingin mengatakan ke pergiannya ke desa Lili menemui ayah dan ibunya.


"Lancang?? maksud kamu apa?? tanya Lili yang tak paham.


" Setelah kita bicara beberapa hari yang lalu, aku sempat putus asa dan akan melepasmu dengan ikhlas, apa lagi saat kamu bilang, menolakku karena ada pria lain, dan itu membuatku hancur, ucap Rafa menatap Lili yang menunduk.


"Maaf,, ucap Lili lirih.


" Tak ada yang perlu di maafkan, dan aku paham mengapa kamu sulit untuk menerima aku, setelah mendengar cerita ayah dan ibumu, ucap Rafa, yang membuat Lili melotot kaget.


"M,,maksud kamu?? ucap Lili terbata.


" Maaf sayang,, tanpa izinmu aku pergi ke desamu menemui ayah dan ibu, ucap Rian takut Lili marah.


"L,,llalu apa yang di katakan ayah dan ibu?? tanya Lili dengan dada yang berdebar, dan mengira Rian pasti di usir dari rumahnya.


" Awalnya aku juga takut sayang, tapi Rafa menyemangatiku, dan mendukung langkahku untuk menemui ayah dan ibumu, bahkan saran untuk pergi ke sana juga dari Rafa, aku pantas berterima kasih padanya, ujar Rian yang beruntuk pjnya sahabat yang bisa mendukung.


"A,,aapa ayah dan ibu menyambut kamu dengan baik?? tanya Lili yang sangat ingin tahu apa yang di lakukan ayah dan ibunya pada Rian.


" Sangat sayang,,, sangat baik, bahkan di luar dugaanku dan Rafa.


Apa kamu tahu, ayah dan ibu bahkan merestui hubungan kita, ucap Rian lagi.


Lili pun langsung menghambur ke pelukan Rian lagi, menangis haru, karena Rian membuktikan keseriusan perasaanya pada Lili, bahkan langsung menemui ayah dan ibunya.


"Sayang,,, jangan sedih lagi, dan aku sudah berjanji pada ayah dan ibu, bahkan pada diriku sendiri, akan menjaga, mencintai, dan membahagiakanmu, ucap Rian mengangkat wajah Lili dengan tangannya.


Lili hanya mengangguk, tak tahu berucap apa lagi karena merasakan bahagia luar biasa, beban yang selalu membayanginya dengan masa lalu, hilang seketika, karena Rian membuatnya terbang dengan cinta yang tulus.


" Kalau ada waktu yang tepat, kita akan mengunjungi ayah dan ibu, sekaligus bicara serius untuk mengikatmu sebagai teman hidupku, dan aku sudah berjanji pada ayah dan ibu kemarin.


Lagi-lagi Lili tak dapat berkata apa pun, bahagia yang di rasakannya saat ini, tak dapat ia ungkapkan dengan kata-kata, dan ia percaya Rian adalah laki-laki yang tepat untuknya, karena tak memandang status sosial yang begitu berbeda denganya, dan itu nyata karena cinta yang tulus.


Next

__ADS_1


Mohon tinggalkan jejak ya Guys.


Salam Arthor.


__ADS_2