
Tawa lepas dan senyum indah, tidak pernah luntur dari wajah Cita, yang begitu menikmati momen kebersamaannya, atau bisa di bilang kencan pertamanya bersama pria yang sudah berhasil menaklukkan hatinya.
Dewa pun tak bisa mengungkapkan dengan kata-kata rasa bahagianya saat ini, melihat wanita pujaan hatinya itu begitu bahagia, dan tak lagi melihat wajah murung yang selama ini ia lihat, sebelum mereka menjalin hubungan.
Cita yang asik bermain air, tak sengaja menatap kearah Dewa yang sedang duduk santai, sambil menatapnya penuh puja, bahkan ketampanannya bertambah, karena saat ini Dewa tersenyum begitu lepas, apa lagi baru kali ini Cita melihat senyum kekasihnya itu begitu alami, tidak seperti yang sebelumnya, pria tampan itu hanya menunjukkan sikap serius, dan jarang tersenyum.
"Kenapa melihatku begitu?? bertanya karena Cita begitu intens menatapnya dari jarak yang tidak begitu jauh darinya.
"Ah, bukan apa-apa mas, hanya saja-, Tak melanjutkan ucapannya, membuat Dewa sedikit penasaran, hingga bertanya kembali, tak ingin kekasihnya menyimpan sesuatu, apa lagi bila masih berhubungan dengan mereka berdua.
" Hanya saja apa?? kok nggak di terusin??
"Hmm, bukan apa mas, aku hanya melihat, ternyata kalau mas tersenyum begitu, ketampanan mas bertambah dia kali lipat"
Dewa yang mendengar perkataan Cita, sedikit memicingkan matanya, berpikir kalau Cita sedang meledek nya.
"Kamu nggak lagi meledek ku kan, atau kamu sedang menggodaku? "
"Siapa juga yang meledek atau pun menggoda mas, aku hanya berkata jujur" sembari berjalan mendekati Dewa yang duduk di sebuah batu yang besar.
"Terima kasih sudah jujur dalam menilai diriku, terlebih mas lebih kagum dan salut padamu, yang begitu mandiri dan dewasa, mas beruntung kamu mau berhubungan dengan mas yang begitu banyak kekurangan ini"
"Tidak ada yang sempurna mas, Sehebat-hebatnya seseorang, tidak akan luput dari kekurangan, dan itu memang sudah kodrat manusia, jadi jangan merendah diri, yang utama itu rendah hati, karena itu yang terpenting dalam hidup"
Mendengar perkataan Cita baru saja, Dewa begitu terharu, tidak menyangka, gadis kecilnya yang selama ini ia tahu menjalani hidup yang cukup keras, masih bisa bersikap optimis, dan selalu berpikir positif, membuat Dewa semakin besar mencintai Cita yang hanya terlihat biasa dari luar, namun luar biasa di dalamnya, sungguh begitu bersyukur di pertemukan dengan wanita yang begitu berhati besar.
__ADS_1
Melihat Dewa yang terdiam sejenak, Cita mengira, kalau Dewa menilainya terlalu lemah sebagai wanita, hingga Cita ingin mengatakan sesuatu, agar Dewa paham apa maksud dari perkataannya itu.
Namun saat Cita ingin kembali bicara, Dewa dengan reflek menghentikan Cita untuk bicara, sembari menggenggam tangan Cita begitu erat, serta tatapannya pun begitu intens pada Cita saat ini.
Cita yang paham dengan situasi, bersikap tenang, dan menantikan Dewa bicara, dan juga membalas tatapan Dewa dengan penuh kelembutan, seolah memberikan Dewa semangat yang kuat.
"Kamu tahu, mas tidak pernah memimpikan hal yang begitu indah terjadi pada hidup mas, tapi, Tuhan itu maha baik, tanpa mas minta, Dia memberikannya dengan cuma-cuma pada mas, dan kamu tahu apa itu?? " Kamu" kamulah hal yang terindah itu, dan mas berharap besar, kamu mau menjadi pendamping mas, yang selalu ada di sisi mas, tempatku pulang, dan menjadi sandaran mu, dan jadi ibu yang hebat buat anak-anak kita kelak, apa kamu bersedia sayang??
Senyum yang lembut Cita lemparkan pada Dewa, sungguh ia juga tak akan menyangka akan mendengar ungkapan bahagia ini dari pria yang di cintai nya itu, berharap dalam hati, setiap ungkapan itu di dengar sang Khalik, yang tentunya akan turut serta campur tangan dalam hubungan mereka.
"Tentu aku bersedia mas, dan mari kita sempurnakan kekurangan kita itu menjadi awal untuk hidup baru kita, dan kelak jadilah pria yang selalu menjadi tempatku bersandar, dan menerima semua kekuranganmu, ayah yang baik dan juga bertanggung jawab untuk anak-anak kita kelak, dan yang utama selalu tanamkan aku dalam lubuk hatimu yang paling dalam, karena itu adalah tempatku, bukan yang lain"
Rasa haru pun semakin menyelimuti, Dewa bahkan memeluk Cita begitu erat, tak tahu lagi mau berkata apa, yang mendengar ungkapan Cita baru saja, dan berharap akan menjadi awal yang baru bagi mereka berdua.
Dewa pun merenggangkan pelukannya, sembari mencium lembut kening Cita, bahkan seolah alam sekitar, ikut merasakan apa yang mereka rasakan saat ini.
"Kamu masih ingat, awal pertemuan kita??
Cita yang mendengar pertanyaan itu pun menoleh, dan mengangguk tanda ia masih ingat bagai mana awalnya mereka bertemu.
" Saat itu, mas begitu kesal dan sangat geram padamu, yang terlalu berani, namun di sisi lain, justru hal itu membuat mas semakin ingin tahu lebih banyak tentang mu, meski awalnya mas, hanya menganggap kamu wanita nggak jelas, waktu itu hehehee"
Cita yang mendengar sedikit kesal, karena di katai wanita nggak jelas, tapi ia tidak mau kalah, justru Cita melemparkan senyum pembalasan pada Dewa, karena ia akan mengatakan balik, bagai mana ia menilai Dewa saat mereka bertemu di awal.
"Setiap orang punya pendapat tersendiri menilai orang mas, justru aku saat itu lebih jauh kesalnya, karena menurutku itu mas, laki-laki kejam, dan,_
__ADS_1
" Dan apa??"
"Nggak jentle"
"Hah"
"Karena mas waktu bertemu di awal, sudah sangat ngeselin, belum juga bertanya udah main pecat dan buat aturan sesuka hati, padahal waktu bekerja di hotel itu, aku begitu nyaman, eh nggak tahunya ada mahluk yang ngeselin minta ampun"
"Tapi waktu itu pasti kamu nggak bisa kan, ngelupain wajah mas yang tampan ini"
"Ih, yang ada aku malah nggak berharap bertemu mas lagi waktu itu, karena kesalnya"
"Maaf ya, kalau waktu itu mas udah buat kamu kesal, bahkan sempat membuatmu sulit dalam situasi saat itu"
Dewa tak melanjutkan percakapan tentang pertemuan di awal itu, ia lebih memilih mengatakan kata maaf dari pada terus membalas ucapan Cita dan menambah kekesalannya, karena baginya saat ini hanya bertujuan membahagiakan wanita terkasihnya itu, dan semoga apa yang mereka harapkan bersama dapat terwujud dengan saling mendukung satu sama lain, dan tentunya dengan saling memahami antara mereka berdua.
" itu kan sudah lewat mas, yang terpenting saat ini, kita berdua sudah sama-sama saling terbuka, dan aku hanya minta satu hal, pada mas"
"Apa itu sayang"
"Jangan sakiti aku dengan adanya kekuranganku, karena di saat aku lemah, tapi orang terdekat ku sendiri malah menjatuhkan dan memanfaatkan ku, maka itulah hal yang terburuk, dan membuatku hancur berkeping-keping, bila orang yang aku cintai dan sebagai sandaran ku tidak lagi berada di pihak ku, bahkan menghancurkan ku"
"Tentu sayang, maka dari itu perlunya ada di sisiku, yang selalu ada untuk mengingatkanku dalam khilaf dan kekuranganku juga"
Cita menganggukkan kepalanya tanda ia paham apa yang di maksud pria yang di cintai nya itu, dan semoga kedepannya, apa pun cobaan yang datang menerpa mereka selalu bisa saling menggenggam erat dan mendukung satu sama lain.
__ADS_1
Next