
Rafa tak bisa berbuat banyak, memaksa pun akan fatal nantinya, hingga ia memutuskan untuk tinggal sampai Atika bisa ia bujuk untuk pulang.
Sebelumnya Rafa menyuruh Dewa, agar anak buahnya kembali saja, dan hanya memerlukan beberapa orang saja, termasuk Dewa.
Nenek Mila yang melihat Rafa begitu frustasi, menemui Rafa yang masih duduk di halaman belakang.
"Biarkan Atika tenang dulu, tidak baik membuat ibu hamil dalam tekanan" ujar Nenek Mila, yang duduk di sebelah Rafa.
"Saya tidak mengerti apa yang Atika pikirkan Nek, semua ucapannya membuatku bingung" ungkap Rafa, yang berkali-kali menghembuskan nafasnya dengan kasar.
"Kalau nenek menebak, sepertinya Atika salah paham, karena sewaktu dia tiba di sini, nenek sempat menanyakan apa yang membuatnya bersedih, dan Atika hanya menjawab, kalau dia hanya kamu permainkan, dan menipunya, dan selebihnya dia tidak cerita apa pun lagi" ujar Nenek Mila menjelaskan.
"Mempermainkan dan menipu?? apa maksudnya Nek?? tanya Rafa yang semakin bingung.
" Entahlah, Nenek pun tidak tahu persis apa maksud Atika, tapi menurut nenek ucapan Atika seperti menjurus soal perselingkuhan, apa kamu pernah bermain api di belakang Atika?? tanya Nenek ingin tahu.
"Saya tidak pernah berselingkuh atau pun main gila Nek, saya bukan tipe laki-laki yang suka gonta-ganti wanita, dan itu bukan tipe seorang Pratama" ujar Rafa,, meyakinkan sang Nenek.
"Tapi menurut Nenek, salah paham ini ada hubungannya soal perselingkuhan, atau Atika pernah melihat kamu besama dengan wanita, dan jadi salah paham" ujar Nenek Mila lagi, agar Rafa mengingat-ingat.
Rafa pun jadi teringat, kalau sebelum Atika pergi, mommy nya bilang Atika keluar dengan para Art, dan pergi berbelanja, dan waktu itu bukti tanda pengeluaran kartu kredit yang digunakan Atika terlihat jelas saat masuk notifikasi di ponselnya.
Rafa yang ingat sesuatu, langsung mengambil handphone nya, memeriksa kembali pesan beberapa hari yang lalu, dan saat ia mencek, Rafa baru menyadari kalau pusat perbelanjaan saat Atika belanja, bertepatan di mana ia juga dan Sonia Luwu berada, dan berpikir mungkin Atika melihat mereka saat itu, pantas Atika bicara demikian, mengatakan kalau ada yang lebih pantas darinya, batin Rafa, hingga helaan nafas Rafa pun jadi semakin berat, apa kalau ia menjelaskan pada Atika, Atika akan percaya??
"Bagai mana?? kamu sudah ingat sesuatu? Tanya Nenek Mila.
" Iya Nek, dan nenek mungkin benar, Atika salah paham karena adanya seorang wanita, mungkin saat itu Atika melihat saya bersama dengan seorang wanita, tapi percayalah nek, wanita itu adalah sahabat kecilku yang baru saja datang dari luar negeri, dan kami memang bertemu, dan tepat saat itu hubunganku dengan Atika sedikit tak baik, dan karena melihat itu, Atika jadi berpikir yang tidak-tidak, hingga memutuskan pergi dari rumah.
"Berarti permasalahannya, sudah kamu temukan, bicarakan baik-baik dengan Atika, dan yakinkan dia kalau apa yang di lihatnya belum tentu sesuai dengan apa yang Atika pikirkan, dan sudah jelas ini salah paham" ujar nenek Mila, agar semuanya selesai dengan baik.
"Tentu Nek, aku akan bicarakan ini dengan Atika, tapi mungkin akan agak sedikit sulit, karena Atika orangnya agak keras kepala Nek, tapi Rafa akan berusaha meyakinkan Atika, bila perlu Rafa akan minta Sonia datang ke sini untuk menjelaskan yang sebenarnya" ujar Rafa meyakinkan Nenek Mila.
__ADS_1
"Apa pun itu, yang jelas Nenek ingin kamu dan Atika berbaikan seperti sedia kala, hanya itu yang Nenek inginkan, tidak lebih. Nenek bahkan bersyukur Atika mendapatkan laki-laki sebaik kamu, karena mengingat Atika yang jauh dari kata bahagia dulunya, dan melihatnya dengan keadaan sekarang ini, Nenek cukup lega, karena Atika tidak berada pada orang yang salah, dan setiap persoalan pasti ada solusinya, nenek yakin kamu pasti bisa meyakinkan Atika" memberi dukungan pada Rafa.
"Terima kasih Nek, sudah percaya sama Rafa"
Nenek pun tersenyum lembut, menanggapi ucapan Rafa, lalu nenek pun beranjak pergi, meninggalkan Rafa, berpikir lebih baik ia menyiapkan makanan karena hari sudah menjelang sore.
Rafa pun ikut masuk ke dalam rumah, tatapannya tertuju pada kamar yang tertutup, dan ia yakin istrinya ada di dalam sana.
Perlahan Rafa berjalan ke arah kamar di mana Atika berada, dan dengan hati-hati, Rafa membuka pintu itu, melihat sosok istrinya yang meringkuk tertidur di atas kasur, karena kelelahan menangis.
Rafa pun mendekati Atika, duduk di sebelah ranjang Atika, menatap Atika yang terlihat pucat dan kurus.
Tangan Rafa pun terangkat membelai lembut rambut Atika, agar si pemiliknya tidak terganggu dan bangun.
Pikirannya kembali pada ucapan Atika yang mengatakan dirinya adalah "sampah yang di pungut" bahkan kata "cerai" pun juga terngiang di telinganya, membuat Rafa merasakan sesak di dadanya, sungguh ia tak ingin ungkapan itu ia dengar lagi.
Atika yang merasakan ada pergerakan, membuka matanya perlahan, saat kesadarannya kembali, Atika melihat dengan jelas siapa yang berada di dekatnya saat ini.
"Mas tahu kamu berpikir yang tidak-tidak tentang mas kan?? ujar Rafa sembari menggeser pelan wajah Atika agar menatapnya.
" Terserah.!! jawaban ketus dari Atika.
"Apa yang kamu lihat, belum tentu benar sayang" ujar Rafa bicara selembut mungkin, agar istrinya nyaman dan tidak ketakutan.
"Dengan tak pulang seminggu, berdalih menuduh ku punya perasaan pada Jhon, ternyata mas sendiri yang berkhianat?? ujar Atika, meluapkan isi hatinya, sembari membelakangi Rafa, tak ingin suaminya melihat dia begitu menyedihkan saat ini, bahkan air matanya kembali menetes.
" Mas memang sengaja tak pulang, karena mas ingin kita saling mendingin dulu, dan mas pergi waktu itu bukan karena mas berpikir kamu punya perasaan pada Jhon, tapi karena mas nggak terima kalau kamu mengatakan mas melihat kamu hanya sebatas kasihan dan kamu mengumpamakan dirimu sebagai "Sampah", membuat mas tak habis pikir kenapa kamu bisa mengatakan hal itu, padahal mas begitu berjuang memiliki mu" ujar Rafa yang juga mengeluarkan unek-unek nya.
Atika tak menjawab ucapan Rafa, ia hanya menangis terisak, entah kenapa saat ini ia tidak ingin berdekatan dengan suaminya itu, hatinya masih sakit, karena seminggu di tinggalkan, namun ia malah melihat suaminya bersenang-senang dengan seorang wanita cantik.
"Dan perlu kamu ingat, mas tidak ingin kamu mengucapkan kata " cerai" lain kali, dan kalau pun kamu menginginkan hal itu, sampai kapan pun itu tidak akan terwujud, selain kematian yang memisahkan kita" ujar Rafa yang sangat tidak menyukai satu kata itu.
__ADS_1
"Kalau memang sudah tidak ada kecocokan lagi, tentu tidak akan bisa bertahan kan?? sahut Atika, hatinya semakin sakit mengatakan itu.
" Hanya karena pertengkaran waktu itu, kamu langsung bisa menyimpulkan tidak ada kecocokan lagi dengan kita?? tanya Rafa semakin tak mengerti jalan pikiran istrinya itu.
"Apa kamu memang menginginkan kita berpisah?? tanya Rafa ingin tahu apa yang di maksud Atika.
" Kalau itu jalan terbaik, aku akan menyerah" Atika pun bicara seolah pasrah.
"Jangan bicara yang nantinya kamu sesali sendiri" ujar Rafa, ia tahu istrinya mengatakan itu karena salah paham.
"Aku tidak akan menyesali, kalau memang Tuhan bisa mengabulkan permintaan ku, aku ingin tinggal bersama ibuku saja saat ini" ujar Atika yang menginginkan kematiannya dan bertemu dengan ibunya.
"Apa yang kamu katakan Atika, sadarkah kamu bicara demikian, kamu tidak ingat saat ini di rahim mu ada anak kita, apa kamu tak memikirkan itu?? Rafa pun semakin tak habis pikir, mendengar perkataan istrinya, yang sudah ngelantur menurutnya.
" Kalau begitu, mas bisa pergi, dan kalau mas berpikir aku akan ikut pulang, itu tidak akan terjadi, karena tempatku bukan di sana, tapi di mana selayaknya aku berada" ujar Atika yang tak ingin membahas apa pun lagi, malah mengusir suaminya dari sana.
"Sampai kapan pun mas tidak akan pergi, kalau kamu menginginkan tinggal di sini, maka kita akan tinggal di sini juga" ujar Rafa tak mau kalah.
"Kamu nggak punya hak tinggal di sini mas, dan aku tidak menginginkan kamu ada di sini, jadi pergilah" lagi dan lagi Atika mengusir Rafa, dan itu sangat menyakiti Rafa.
"Aku mengira kamu mengerti dengan keadaan dan perasaanku, aku datang mencari mu, tapi inikah yang aku dapat?? bahkan mommy ku sampai masuk rumah sakit karena memikirkan mu, apa kamu tega menghancurkan perasaan seorang ibu yang begitu menyayangi mu seperti putrinya sendiri, bahkan ia hanya ingin selalu memberi mu kebahagian" ujar Rafa yang merasakan sakit dan sesak di dadanya.
Atika yang mendengar ungkapan suaminya itu, semakin terisak, pikirannya langsung tertuju pada Felix ibu mertuanya. Apa yang dikatakan suaminya itu memang benar, karena Felix begitu menyayanginya, bahkan seperti putrinya sendiri, tapi Atika masih merasakan sakit di hatinya, hingga tidak bisa berpikir jernih saat ini.
"Baiklah, kalau kamu masih tak ingin ikut pulang, aku tidak lagi memaksa mu, dan maaf kalau mas sudah menganggu waktumu, dan sebaiknya mas pergi, karena percuma saja kalau akhirnya kita hanya bertengkar, kalau menurut mu ini lebih baik, mas tidak akan memaksa mu" setelah mengatakan itu, Rafa pun keluar dari kamar Atika, dan sepertinya ia memutuskan untuk pergi saja, membiarkan Atika memilih jalannya.
Atika yang melihat kepergian suaminya itu, tangisnya pun pecah, merasakan sakit di hatinya, mendengar penuturan Rafa, tapi di sisi lain ia benci dan sakit hati, karena seperti di tipu dan di permainkan, karena pemikirannya yang terlalu polos.
Next...
Up lagi ya Sob, semoga masih setia ya🙏🙏🙏
__ADS_1