Ketegaran Hati Wanita Miskin

Ketegaran Hati Wanita Miskin
Antara Pilihan Dan Ancaman


__ADS_3

Setelah Rafa bicara pada Bibi Lana, dan meminta Bibi Lana agar tidak menceritakan semua maksud baik Rafa.


Rafa pun menyuruh Dewa untuk melakukan apa yang sudah jadi keputusan Rafa.


"Lakukan tugasmu sebaik mungkin, dan ingat jangan pernah buka mulut, bila tak perlu, ucap Rafa tegas.


"Siap bos, sesuai perintah anda, Dewa pun beranjak pergi meninggalkan Rafa di ruang kerja.


Atika yang sedang bekerja, perasaannya tiba-tiba tak enak.


Ali yang memperhatika Atika sejak tadi, melihat Atika gelisah, dan tak fokus bekeja.


Atika terlihat sering melamun, dan lebih banyak diam, padahal biasanay kalau lagi kerja, Atika selalu membuat para pekerja lain tertawa.


Ali pun memanggil Atika, karena di lihatnya Atika semakin aneh.


" Tika.!!


Atika yang di panggil Ali pun masih bengong, hingga panggilan kedua Atika tersadar dari lamunannya.


"Tika.!!


Mendengar namanya di panggil, Atika pun menoleh, ternyata Ali memanggilnya.


"Ada apa Ali?? berjalan menuju posko.


" Apa kamu sakit Tika??


Atika pun menggeleng tanda dia sedang baik-baik saja, tapi tidak dengan perasaannya yang gelisah dan tak tahu apa sebabnya.


"Apa aku terlihat sakit?? Atika balik bertanya.


" Kamu ini, di tanya malah balik bertanya, ucap Ali terkekeh.


"Mamang kenapa bertanya begitu??


"Aku perhatikan sejak tadi kamu seperti tak fokus bekerja, aku kira kamu lagi sakit, atau kamu ada kepikiran sesuatu?? tanya Ali menyelidik.


" Entahlah, hanya saja perasaanku tidak enak saja, dan tadinya tidak begini, ucap Atika yang memang merasakan sesuatu, tapi tak bisa ia ungkapkan.


"Kalau begitu, jangan bekerja lagi, lebih baik kamu pulang, ucap Ali.


" Tapi..


Atika ragu mengatakan maksud hatinya, kalau ia pulang belum waktunya, apa ia akan mendapatkan upahnya, atau besok ia tidak di terima kerja lagi.


"Kenapa?? kamu takut tidak kerja lagi, dan kamu memikirkan upahmu?? ucap Ali seakan tahu apa yang di pikirkan Atika.


Atika hanya mengangguk, takut salah bicara, dan ia tak ingin di keluarkan dari pekerjaannya karena hal sepele.


" Aku tetap akan beri upahmu, dan besok kamu masih bisa bekerja, aku hanya tidak mau, kamu memaksa bekerja, tapi pikiranmu tak fokus, dan itu bisa membahayakan kamu tika, ucap Ali menjelaskan dan tentu Atika lega mendengarnya.

__ADS_1


Ali pun memberikan upah hasil kerja Atika yang tidak ful satu hari, tapi Ali tetap memberikan uapah Atika penuh, dan tak memotongnya.


Atika sempat ingin menolak, karena menurut Atika itu tak adil bagi pekerja lainnya, yang bekerja seharian penuh, apa lagi Atika yang pulang lebih dulu, dari pekerja lainnya.


"Jangan di tolak Tika, aku ikhlas, dan pulanglah, dan bawa ini, ucap Ali memberikan kantongan plastik yang berisi roti.


Atika pun semakin tak enak hati, menurut Atika, Ali terlalu menomor satukan Atika semenjak Atika bekerja.


Dapat Atika rasakan perhatian lebih dari Ali, mulai Atika bekerja.


" Jangan bengong, ayo di ambil, dan pulang, ucap Ali terkekeh karena Atika sempat kaget karena bengong.


"Terima kasih Ali, aku pamit, mengambil bungkusan roti, lalu pergi.


Dewa yang sudah menjalankan perintah bosnya, melaporkan semua urusan dan rencana beres, dan tidak ada yang terlewatkan.


" Bos, semua terlaksana sesuai perintah anda, ucap Dewa.


"Bagus, dan mari kita lihat bagai mana reaksinya nanti.


"Apa anda yakin bos, kalau ini akan berhasil, ucap Dewa kurang yakin dengan rencana bosnya itu, tapi tak berani mengungkapkan.


" Kita lihat saja nanti, dan bersiaplah, tak lama lagi permainan akan kita mulai, ucap Rafa tersenyum menyeringai.


Atika yang baru tiba di gubuknya, tersenyum bahagia, karena ia membawa beberapa makanan, dan tentunya, Atika akan menikmatinya bersama ayah tercintanya.


Atika pun masuk, dengan sapaan khasnya kalau sudah pulang dari bekerja.


Bukk


Makanan yang di bawa Atika jatuh dari tangannya, kakinya lemas dadanya berdetak kuat, dan tangannya dingin, melihat Ayahnya yang tidak ada di pembaringannya.


" Ayaaaahhhh..!!!


teriak Atika karena tak melihat ayahnya di mana pun, jangan tanyakan lagi, air matanya bahkan sudah membanjiri wajah mulusnya.


Atika menangis histeris, pikirannya pun berlarian entah kemana,, karena panik dan hawatir terjadi sesuatu pada ayahnya, Atika tak bisa berpikir jernih saat ini.


Banyak terkaan dalam pikiran Atika, namun ia tak bisa mengatakan apa pun, selain menangis, dan saat ia mau beranjak ingin mencari ayahnya, Atika melihat sebuah surat tertempel di gitarnya yang tergantung di dingding kayu.


Atika pun mengambil surat itu, buru-buru ia membuka isi surat itu, dan matanya terbelalak, dadanya kian bergetar hebat bahkan terlihat amarah mengkilat di matanya.


Atika merobek surat itu, hingga jadi beberapa potongan, melampiaskan emosinya yang sudah di ubun-ubun.


Atika pun menyambar tasnya, beranjak pergi dari gubuk, menuju sesuai petunjuk dalam surat itu.


"Datanglah ke Vila bila tak ingin terjadi apa pun pada ayahmu.!!


Isi surat itu, sudah bisa di tebak Atika siapa pelaku sesungguhnya, Atika pun dengan langkah seribu mendatangi Vila, dengan nafas dan emosi yang memburu.


Rafa yang sedang duduk menikmati teh bersama Dewa, mendengar teriakan Atika yang menggema dari luar Vila.

__ADS_1


" Ayaaahhhhh..!!!! teriak Atika saat sudah di depan pintu masuk Vila.


Rafa hanya bersikap biasa dengan teriakan Atika, ia sudah memprediksi hal ini, dan kali ini Rafa akan kembali ke wujud arogan, nan kejam serta datar dan dingin, untuk mengjadapi Atika yang sulit di takhlukkan.


Bibi Lana yang mendengar teriakan Atika, menulikan pendengarannya, di kamar tamu, karena Rafa melarang Bibi Lana untuk tidak berinteraksi pada Atika sebelum Atika menentukan pilihannya.


Atika yang melihat Rafa yang bersantai di sofa, dan seolag tak terkejut dengan kedatangannya, membuat Atika ingin sekali menerkam Rafa saat itu juga.


'Kembalikan ayahku.!!! suara Atika pun memekakan telinga Rafa dan Dewa.


"Apa begini caramu bertamu ke rumah orang?? ucap Rafa datar, tak menghiraukan kegilaan Atika yang sudah terbakar.


" Aku tak butuh ceramah anda tuan, dan saya tidak punya urusan apa pun pada anda, jadi tolonh kembalikan ayahku.!!! ucap Atika lantang, dan menatap tajam pada Rafa, yang duduk santai dengan kaki tersilang.


"Apa kau yakin tidak punya urusan denganku?? ucap Rafa dingin.


Dewa yang melihat bosnya dan Atika, saling jawab, yang satu teriak, dan yang satu lagi begitu santai dingin dan datar, ingin rasanya Dewa menenggelamkan dirinya di laut lepas tak tahan melihat makhluk lawan jenis itu sama-sama bersitegang, dengan cara yang berbeda.


"Sedikit pun tidak terlintas dalam benakku untuk berurusan pada anda, dan itu mustahil, " orang miskin bisa berurusan pada orang kaya raya seperti anda" ucap Atika membuat Rafa merasakan dadanya seperti tertusuk jarum, namun Rafa tetap bersikap dingin, tak ingin terlihat lemah di hadapan Atika.


"Cukup sudah aku mengalah dengan ucapan ketusmu itu, dan dengar baik-baik, karena aku tidak akan mengulanginya.


" Gubuk yang kau tempati sekarang berdiri di tanahku, dan aku beri kau pilihan, kembali bekerja di Vila ini, atau aku akan menghancurkab gubuk itu.!!


Duaaarrr


Kaki Atika lemas, lututnya gemetar, Atika melupakan hal yang begitu besar, ia yang masih bernaung di atas tanak kepemilikan Rafa, dan apa yang harus ku lakukan sekarang??


Namun Atika yang tak ingin lebih jauh berurusan dengan Rafa, di manusia kejam bagi Atika, memilih untuk pergi dari gubuk itu.


"Baik, aku akan keluar dari gubuk itu, dan kembalikan ayahku.!!!


Dewa yang mendengar keputusan Atika pun menggeleng heran, ternyata Atika gadis yang tangguh dan penuh tanggung jawab pikir Dewa.


Walau sudah di ambang tekanan, Atika tetap pada pendiriannya, namun saat Dewa melihat senyuman bosnya, ia pun mulai was-was bergidik ngeri, karena kalau senyuman itu terlukis di bibir bosnya itu, tentu sesuatu akan terjadi, walau akan merugikan salah satu pihak.


"Aku tidak akan menyerahkan ayahmu, karena ayahmu akan jadi tawananku, untuk membayar ganti rugi selama kalian menggunakan tanahku sebagai tempat tinggal.


" Bila kau menyanyangi ayahmu, aku tidak akan menyakitinya, asal kau mau jadi gantinya.


"Aku akan menyerahkan ayahmu, sampai aku yakin kau bisa ku percaya, dan aku memberi waktu dua bulan untuk masa percobaanmu, bila aku senang dengan kerjamu maka aku akan menyerahkan ayahmu, ucap Rafa enteng, dan membuat Atika semakin emosi dan mencerca Rafa, dengan tatapan membunuhnya.


" Ini bukan pilihan tapi ancaman.!!!!


Atika berteriak histeris, menangis pilu, memikirkan nasib ayahnya yang tidak Atika ketahui di mana keberadaannya.


Next.


Jangan lupa jejaknya ya Guys.


Salam Arthor.

__ADS_1


__ADS_2