Ketegaran Hati Wanita Miskin

Ketegaran Hati Wanita Miskin
Kejutan Kecil 2


__ADS_3

Seluruh karyawan menikmati pesta tersebut, bergantian mengucapkan selamat pada Rafa dan Atika, bahkan mereka juga memberikan hadiah pada Baby Reza.


Dewa yang juga merasa bahagia melihat tuan mudanya itu, begitu menikmati pesta, saat beberapa pelayan datang menyodorkan minuman di atas nampan, Dewa mengambil satu minuman itu, namun saat ia mengambil minuman itu,matanya langsung melotot lebar, karena pelayan yang membawa minuman itu adalah wanita yang sudah berani menginjak kakinya, dan melarikan diri, bahkan wanita itu menyebutnya dengan, "kepala batu"


Cita nama gadis itu, ia baru satu bulan bekerja di hotel itu, dan ia tinggal di sebuah kos-kosan, dan hanya sebatang kara. Meski begitu Cita termasuk gadis yang mandiri, demi cita-citanya ia harus bekerja paruh waktu juga, karena Cita, kuliah di salah satu universitas yang cukup bagus, meski ia harus banting tulang, tidak membuatnya mengeluh, dan merasa lelah, demi terwujudnya cita-cita, sesuai harapannya.


Cita yang melihat sosok pria tampan yang melotot padanya, sama sekali tidak takut atau berpengaruh padanya, dengan santainya ia menyapa Dewa, bahkan tak lupa menyebut panggilan baru untuk Dewa.


"Hah, ternyata tuan kepala batu juga ada di sini??"


"Ternyata ingatanmu cukup bagus, ku kira setelah waktu itu, kau akan pura-pura bodoh dan lupa, yah tak heran juga sih, kalau gadis seperti mu, biasanya suka modus, dan menjerat pria bodoh yang mudah di percaya"


Cita yang di katai modus, dan dituduh seperti wanita yang tidak, baik darahnya langsung mendidih, hingga dengan sengaja ia menuangkan satu gelas ke sepatu Dewa.


"Yah, beginilah caraku melakukan modus itu, apa anda puas??" menatap sinis pada Dewa, ingin sekali rasanya Cita menjambak dan memukul kepala pria di depannya itu, tapi situasinya tidak mendukung, karena kalau ia buat keributan ia bisa di pecat oleh atasannya.


"Kau.!! apa yang kau lakukan gadis bodoh.! "


Dewa yang melihat sepatunya basah, bahkan gadis di depannya itu seperti tidak punya rasa takut, membuat Dewa, semakin geram.


"Itu balasan untuk anda, dan saya peringatkan,, jangan terlalu mudah menilai orang lain dengan pikiran kotor mu,, karena anda juga tidak tahu bagai mana anda di nilai orang lain.!!


Cita berkata sedikit emosi, namun ia bisa menahan agar tidak meledak, mengingat ia masih sangat butuh pekerjaannya, dan berharap tidak akan pernah bertemu dengan pria di depannya itu.


"Apa kau sadar sedang berhadapan dengan siapa?? Dewa pun kini tersulut, karena gadis di depannya itu, sungguh kurang ajar menurutnya.


" Mau anda siapa pun, saya tidak perduli, yang jelas saya hanya takut pada Tuhan, bukan manusia seperti anda.!!


Setelah mengatakan itu, Cita pun pergi melanjutkan kerjanya, meninggalkan Dewa, yang penuh dengan kegeraman juga kesal, berpikir, baru kali ini ia menemui wanita yang merk seperti ini, dalam kata lain, "merk pota" polos tapi berbahaya. 😂😂😂


Dewa pun pergi mencari toilet, sepanjang menuju toilet, ia pun merencanakan sesuatu, akan memberikan gadis itu pelajaran, dan kali ini Dewa serius untuk itu.


Cita yang memang sama sekali tidak tahu siapa Dewa, merasa aman dan berpikir pria yang ia jumpai tadi tidak akan berani bertemu dengannya lagi, tapi Cita sepertinya salah kali ini, meski selama ini ia selalu berhasil melakukan trik itu pada setiap pria yang ia anggap kurang ajar padanya, tapi kali ini Cita salah orang.


Setelah selesai dari toilet, Dewa tak lagi ke acara pesta, ia pun pergi ke suatu ruangan, lalu menghubungi seseorang agar menemuinya di ruangan itu.


Tak lama, suara pintu di ketuk, pertanda seseorang yang di hubungi nya tadi pun datang menemuinya, sesuai perintahnya tadi.


"Masuk"!


Pintu ruangan itu pun terbuka, menampilkan sosok pria yang berumur bekisar 50 tahun itu pun, masuk, namun tak berani menatap seseorang yang ada di ruangan itu, yang tentunya pria itu adalah Dewa, orang kedua yang mereka takuti selain tuan muda mereka yaitu RAFA ALIANDO WIDODO.


Dewa sengaja memanggil menejer hotel, dan ingin menanyakan soal gadis yang sudah membuatnya kesal dan geram, bahkan Dewa berencana memberikan gadis itu pelajaran, atau menghukum gadis itu.


Menejer yang sudah masuk pun terlihat gelisah, berpikir mereka melakukan kesalahan, atau para bawahannya tidak becus bekerja, karena biasanya, kalau ia di panggil secara khusus begini, tentunya telah terjadi sesuatu, atau kelalaian kerja para karyawan hotel.


"Apa anda butuh sesuatu tuan??


" Tidak, tapi saya butuh penjelasan mu.!"


Tanpa basa basi, Dewa langsung mengatakan tujuannya memanggil menejer itu.


"Apa saya, atau yang lainnya melakukan kesalahan tuan??"


"Apa dia karyawan baru?" Memperlihatkan HP nya pada menejer, yang berisikan foto seorang gadis, yang tak lain adalah Cita.


"Benar tuan, gadis ini baru satu bulan bekerja di hotel kita, namanya CITA ALEXANDER"

__ADS_1


Menjawab takut-takut, dan perasaannya pun semakin gelisah, bahkan berpikir keras, kesalahan apa yang sudah di perbuat gadis itu, sampai ia harus menghadap saat ini.


"Panggil gadis itu sekarang juga, dan jangan katakan padanya kalau saya yang memanggilnya"


"Baik tuan, sesuai perintah anda"


"Aduh mampus aku, apa yang sudah gadis itu lakukan??" batin pak menejer, keluar dari ruangan itu, untuk mencari Cita.


Sementara Cita masih sibuk melayani para tamu, suasana pesta semakin riuh dan heboh, karena jarang-jarang para karyawan mengikuti pesta, dan makan gratis, tentu mereka tidak melewatkan kesempatan itu.


Cita yang mendapat kabar, kalau ia di panggil pak menejer nya, langsung bergegas pergi, meninggalkan ballroom pesta, dan segera menemui pak menejer.


"Bapak memanggil saya??


Cita bicara sambil memberi hormat, setengah menundukkan kepalanya.


" Ikut saya, ada yang perlu kita bicarakan"


Cita mengerutkan dahinya, merasa tak biasa melihat ketegangan di wajah pak manejer nya itu, tapi Cita tetap ikut, hingga mereka sampai pada ruangan yang mereka tuju.


Menejer masuk lebih dulu, dan di susul oleh cita di belakang pak menejer itu.


Dewa yang sengaja duduk membelakangi mereka, bahkan ia ingin melihat wajah terkejutnya Cita saat melihatnya ada di ruangan itu.


"Tuan" hormat pak manejer, meski Dewa tak melihat.


Dewa yang di panggil pun, membalikan badannya, dan tatapannya langsung pada Cita saat ini.


Cita yang menunduk, sama sekali tidak melihat siapa yang ada di hadapannya, tapi Cita bisa menebak orang itu pasti atasan mereka, tapi pikirannya, malah menebak-nebak, kenapa dia di panggil, dan sedikit gelisah.


"Bagai mana bisa kamu memperkerjakan seorang gadis yang tidak punya sopan santun sama sekali, bahkan orang itu sudah berani berbuat hal yang tidak terpuji denganku??"


Cita yang mengenali suara itu, dadanya berdebar, mendongak melihat pria yang baru saja bersuara tadi, "Mampus Aku" batin Cita, saat melihat jelas siapa pria itu.


"Maaf tuan, saya tidak tahu kalau Cita sudah melakukan kesalahan pada anda"


"Apa kelebihannya hingga kau menerima wanita ini, sampai tak menanyakan dulu padaku??


Mendengar itu, Cita langsung sadar siapa pria yang berhadapan dengannya saat ini.


" Saya minta maaf tuan, saat itu kami terpaksa menerima Cita sebagai karyawan, karena waktu yang begitu mendadak, hingga tak sempat merekomendasikannya pada anda"


"Baik, alasanmu bisa saya pertimbangkan, keluarlah, tinggalkan kami"


Cita pun menatap pak manejer dengan tatapan memelas, berharap ia juga diajak keluar, dan tidak di tinggalkan bersama kepala batu itu, batinnya.


tapi harapannya pupus, saat pak manejer sama sekali tak menatap Cita, berjalan mundur, dengan menundukkan kepalanya.


Pintu ruangan pun tertutup rapat, Cita hanya bisa diam dan menundukkan kepalanya, tak berani menatap Dewa, dalam pikirannya, ia sudah salah ternyata, orang yang di katainya kepala batu, dan ia siram tadi, adalah atasannya, sungguh nasibnya sangat sial, batin Cita.


"Apa kau sudah menjadi putri malu kali ini?? di mana ekspresi garang, dan kelantangan mu saat bicara denganku??"


Melihat Cita yang masih terus menunduk, bahkan kakinya terlihat gemetar saat ini, dapat Dewa lihat bahkan wajah Cita, sedikit pucat.


"Maaf, karena saya sudah lancang, dan berlaku tidak baik pada tuan"


"Wah, sekarang saja kau baru tau mengatakan maaf, setelah tahu siapa aku??

__ADS_1


Cita bungkam, tak berani menjawab, bahkan ia merutuki kebodohannya, yang sudah ceroboh dan tak mengenali siapa atasannya.


" Apa kau kira setelah ini, kau masih bisa bekerja di hotel ini?? Dewa sengaja mengatakan itu, ingin melihat reaksi Cita.


"saya mohon tuan, saya sangat butuh pekerjaan ini, jangan pecat saya, saya rela anda hukum asalkan saya tidak di pecat"


"Hahaha, kau bahkan rela di hukum sekarang, mana kegarangan mu itu, padahal kemarin dan tadi, kau sangat tangguh melawan saya??


Dewa tertawa mengejek pada Cita, yang memilih di hukum dari pada di pecat.


" Itu karena saya tidak tahu kalau anda atasan saya, dan saya minta maaf akan hal itu tuan, jangan pecat saya tuan"


Cita kembali memohon, bahkan menumpukkan tangannya, memohon agar atasannya itu, mengampuni nya, dan tidak memecatnya.


"Baik, kali ini aku kasih kau kesempatan, tapi... kau tidak bekerja di hotel ini, melainkan di tempat lain, dan sebagai OG, bagai mana??


Dewa sengaja, dan memberikan penawaran pada Cita, membuat Cita, tidak punya pilihan lain, selain menyetujui penawarannya.


" Maksud anda saya akan bekerja di tempat lain, di mana tuan??


"Di perusahaan, tentunya setiap hari saya bisa mengawasi mu, selama pekerjaanmu baik dan apa saja yang ku perintahkan kau lakukan dengan baik, maka itu akan jadi tiket buat mu, kembali bekerja di hotel ini, bagai mana??


Cita diam, berpikir nasibnya sungguh malang, dan kenapa juga dia harus punya bos, yang menyebalkan seperti ini, dan kenapa pula pria yang baru dia kali bertemu dengan cara yang tidak akur, menjadi atasannya saat ini, sungguh ini bagai permainan, batin Cita.


Dewa yang melihat cita hanya diam, berpikir Cita menolak penawarannya, dan memilih untuk di pecat, dari pada tetap bekerja, meski di tempat yang berbeda.


"Kalau kau tidak setuju, maka silahkan angkat ka-,


" Saya setuju tuan.!


Cita menjawab cepat, memotong ucapan Dewa, hampir saja ia kehilangan pekerjaannya, meski ia akan bekerja di tempat lain, setidaknya, ia masih bekerja.


"Tapi tuan, saya punya satu permintaan"


"Katakan.!"


"Bolehkah saya, bekerja sampai pukul 11 saja, karena saya harus kuliah tuan"


Cita jujur, karena ia tidak ingin kuliahnya jadi terbengkalai, karena itu adalah harapannya, untuk bisa mencapai tujuannya.


"Kuliah??"


Menarik, batin Dewa, ia tak menyangka, gadis di depannya ini ternyata gadis yang berpendidikan, tapi bagi Dewa itu tidak masalah, toh itu hanya kuliah saja.


"Baik, saya menyanggupi itu, tapi tentu gaji kamu sesuai dengan jam kerjamu, karena kau tidak bekerja full"


"Tak apa tuan, itu sudah resiko saya"


"Saya rasa cukup, dan besok datanglah ke kantor ini, dan katakan pada receptionis kalau saya yang merekomendasikan mu"


Cita pun menerima kartu nama itu, lalu menunduk hormat, keluar dari ruangan itu.


Di luar Cita langsung murung dan sedih, kenapa nasibnya sangat tidak baik, padahal sebulan ini ia begitu menyukai pekerjaannya di hotel ini, dan sekarang dalam semalam semua berubah, dan itu juga di karenakan kecerobohannya yang tidak mengenali siapa atasannya.


Next...


Maaf, karena libur Up kemarin, maklumlah emak-emak, sibuk Sob, dan semoga hari kalian baik ya Sob.

__ADS_1


Votenya jangan lupa ya Sob, sama jempolnya. 🙏🙏🙏


Memberikan Cita kartu nama,


__ADS_2