
Refan tidak memberikan Celi pulang ke rumahnya, dengan alasan Refan masih merindukan Celi, walau Celi berkali-kali menolak Refan tidak menyerah, dan ia berusaha membuat Celi kembali padanya meski dengan cara licik dan kotor.
"Refan, kau tidak bisa memaksaku untuk tetap di sini, aku harus pulang, momy dan dady akan hawatir, ucap Celi yang terus mencari alasan agar ia bisa lepas dari Refan.
" Kamu tinggal telpon momy dan dady, dan katakan kau bersamaku saat ini.
Celi pun menatap Refan tajam, yang bicara enteng tanpa perduli dengan perasaan Celi.
"Jangan membuatku semakin membencimu.!! ucap Celi yang geram dengan sikap Refan.
" Dan aku tidak ingin kamu menghindariku, dan sikap dinginmu itu.!! ucap Refan ketus tak mau kalah.
Celi pun menghela nafasnya kasar, ucapan Refan membuatnya semakin serba salah.
"Maaf, karena sudah mengecewakanmu, dan seharusnya aku yang marah dan kecewa karena kau menyembunyikan keberadaanmu selama ini, tapi untuk sekarang, keadaannya sudah berubah, dan aku sudah tidak bisa lagi bersamamu, ucap Celi mencoba membuat Refan memahami keadaannya.
" Aku hanya ingin mengambil apa yang sudah jadi milikku sejak dulu, apa itu salah?? ucap Refan yang mulai tersulut.
"Tapi kita sudah lama berpisah, dan aku mohon, mengertilah Refan, ucap Celi yang sudah menangis pilu.
"Jangan memohon yang tidak bisa ku penuhi, kita memang sudah lama berpisah, tapi bukan berarti itu adalah alasan, kau tetaplah Celi tunanganku, dan kau akan tetap jadi milikku, ucap Refan yang terlihat semakin emosi.
" Tapi aku tidak bisa, ucap Celi dengan suara bergetar, hatinya sakit dengan ucapannya sendiri, namun ia tidak bisa mengikuti kemauan Refan, dan tak ingin menyakiti perasaan Rafa.
"Apa yang tidak bisa?? kau tinggal berterus terang pada semuanya, dan aku tidak akan lari dari tanggung jawab ini, aku akan mendampingimu mengatakan semuanya pada mereka, ucap Refan yang terus memojokkan Celi.
" Tidak semudah seperti membalikkan telapak tangan, akan banyak orang tersakiti, bukan hanya saja Rafa, orang tuanya juga pasti akan membenciku, apa lagi momy dan dady, ucap Celi yang semakin terisak.
"Kau hanya memikirkan perasaan orang lain, tapi tidak berpikir bagai mana perasaanku?? ucap Refan membuat Celi bungkam.
" Apa kau kira hatiku tak sakit, melihatmu bersikap manja dan mesrah saat di pesta itu, bahkan aku ingin menghajarnya saat itu, ucap Refan yang mengingat, saat Celi dan Rafa berjalan mesrah saat di pesta pernikahan Lili dan Rian.
__ADS_1
"Aku tahu, kau masih begitu mencintaiku, dan aku pun demikian, mari sudahi semua dan kita akan berterus terang, ucap Refan berharap Celi tidak menolak lagi.
" Aku... Celi tak melanjutkan ucapannya, karena ponselnya berdering, dan ia semakin gemetar karena Rafa menghubunginya.
Refan melihat Celi tak mengangkat panggilan itu, tersenyum sinis.
"Angkatlah, pasti dia sangat merindukanmu, ucap Refan dingin, hatinya sakit, mengapa ia di hadapkan dengan masalah rumit ini, dan ia juga menyesal telah bersembunyi cukup lama, hingga sang kekasih menyerah dan telah bersama pria lain.
Celi tak mengangkat panggilan dari Rafa, ia takut saat bicara terlihat gugup dan Rafa akan curiga, lebih baik ia menunggu setelah pulang, ia akan menghubungi Rafa nanti, pikirnya.
Saat Refan melihat Celi tak mengangkat panggilan dari Rafa, ia pun menyeringai, pikiran kotor melintas di kepalanya, ia akan membuat Celi kembali padanya, bagai mana pun caranya ia tak perduli.
Celi yang tak merasa curiga pada Refan, ia hanya bersikap biasa, tak menghiraukan Refan yang beranjak dari duduknya, menuju dapur, Celi pun menatap layar ponselnya yang sudah tidak berdering lagi.
Di negara xx, Rafa pun frustasi, beberapa kali sudah ia menghubungi ponsel Celi, tapi tetap tidak ada jawaban, padahal ia sudah sangat begitu rindu pada sang kekasih, di tambah lagi rencananya sudah ia sampaikan pada momy dan dadynya, membuat Rafa ingin secepatnya pulang, dan melamar Celi dengan penuh kejutan yang sudah ia rencanakan.
Lamunan Celi buyar, ketika Refan datang dan memberikannya segelas jus, Celi tak mengucapkan apa pun menerima jus itu dari Refan.
Refan hanya diam tak menanggapi ucapan Celi yang terus memelas dan memohon padanya, ia hanya memperhatikan Celi yang terus meneguk jusnya hingga tandas tak bersisa, dan senyuman manis pun terukir di bibir Refan, melihat gelas di tangan Celi sudah kosong.
Celi pun tiba-tiba merasa pusing, dan gelisah, gerah dan aliran darahnya yang sepertinya tidak normal, membuat Celi jadi merasa panas, seolah hawa di ruangan itu membuat ia sesak.
Refan yang melihat tingkah Celi yang sudah mulai tak tenang, hanya tersenyum, dan ia tidak akan melewatkan kesempatan ini dengn pikiran kotornya, entah ide dari mana ia dapat, membuat obat pe*******ng di jus yang di minum Celi, yang jelas ia tak akan melepaskan Celi untuk yang ke dua kalinya.
Celi yang semakin tak tenang dan gelisah, panas yang ia rasakan semakin membuatnya tak sadar dengan membuka bajunya satu persatu, bahkan ia tak perduli Refan yang terus mandanginya, hingga yang di nantikan Refan pun tiba, Celi turun dari sofa, dan merangkak, mendekati Refan yang duduk dengan santainya, menikmati pemandangan indah di hadapannya.
Dalam sekejap Celi sudah berada di pangkuan Refan, bahkan dengan buasnya Celi mencumbui Refan di atas sofa itu.
Refan yang juga sudah terbuai dengan sentuhan lihai dari Celi, melancarkan aksinya, dan ia pun menggendong Celi menuju kamarnya seperti anak koala, dan membaringkan Celi di atas ranjang empuk itu.
Celi yang sudah terbakar g*****h, begitu agresif, hingga ia mendorong dada Refan sedikit kuat dan Refan pun terhempas ke ranjang dengan posisi terlentang.
__ADS_1
Celi pun naik ke tubuh Refan dan mencium Refan sangat benafsu, hingga Refan yang sudah merasakan di bawah sana juga sudah begitu berontak, hingga ia pun membalikkan posisi dan mengkukung Celi.
Perlahan Refan menyentuh seluruh lekuk tubuh molek itu, dengan lembut, tapi pasti, membuat Celi semakin tak terkendali.
Refan melihat Celi yang sudah merintih ingin segera terbang melayang, Refan pun mulai menyatukan tubuh mereka.
Rasa sakit dan nyeri di rasakan Celi saat sosis jumbo itu mengarungi gua beracunnya, hingga Refan tersenyum karena ia pria yang pertama mengambil hal berharga wanitanya itu, dan itu semakin membuat Refan bahagia dan semangat dengan aksinya.
Selama penyatuan itu, Celi yang merasakan beberapa kali pelepasan, dan setiap sentuhan Refan bagaikan sengatan listrik, membuat mereka lupa akan waktu yang sudah cukup lama melakukan hal intim itu.
Refan yang juga sudah beberapa kali menggeram kenikmatan dengan lahar panas yang ia semburkan berkali-kali di rahim Celi akhirnya pun tumbang ke sisi kanan Celi dengan nafas tak teratur dan dada naik turun.
Celi yang sangat lelah, langsung memejamkan matanya, Refan yang masih membuka mata, melirik Celi ke samping, tersenyum bahagia karena ia sudah melakukan hal panas dengan wanita yang di cintainya, dan akhirnya ia pun terlelap.
Pukul empat dini hari, Celi merasakan badannya remuk dan gua beracunnya terasa sakit dan nyeri, hingga memaksa ia harus membuka matanya.
Saat ia membuka mata, pertama yang ia lihat adalah Refan yang tidur di sampingnya, hingga ia cukup terkejut karena tidur seranjang dengan Refan.
Celi memandang sekitaran kamar itu, dan ia mulai mengumpulkan kesadarannya, dan melihat keadaannya yang hanya tertutup selimut dengan Refan tanpa sehelai benang, membuat dadanya berdebar hebat, dan memory ingatanya pun kembali sebelum ia berujung di ranjang Refan.
Celi pun menangis dalam diam, ia tak ingin Refan mendengar suaranya, ia tak menyangka bahwa Refan telah merencanakan ini, dan meminta bertemu, sementara Celi tak punya curiga karena menurutnya Refan tak mungkin menyakiti wanita yang di cintainya, namun ia salah.
Celi pun perlahan beranjak, mengambil bajunya dan memakainya lagi, rasa sakit di gua beracunnya tak di hiraukan Celi lagi, ia hanya ingin secepatnya pergi dari tempat itu, dan sebelum keluar dari kamar itu, ia menatap Refan dalam tidurnya, dan menagis pilu.
Celi pun mengambil kunci apartemen yang ada di saku celana Refan yang sudak berserak di lantai, lalu ia pun keluar perlahan tak menimbulkan suara, dan membuka pintu apartemen lalu pergi.
Di dalam mobilnya Celi menangis histeris, membayangkan wajah Rafa menatapnya kecewa, ia sudah menghianati Rafa, dan ia sudah kotor dan tak pantas untuk Rafa, aku jijik dengan tubuhku, aku kotor, dan aku sudah hancur.!! itulah yang keluar dari mulut Celi selama perjalanan dalam mobilnya.
Next
Jangan lupa jejaknya ya Guys.
__ADS_1
Salam Arthor.