Ketegaran Hati Wanita Miskin

Ketegaran Hati Wanita Miskin
Kesedihan Felix.


__ADS_3

Setelah Aliando merasa tenang, ia pun keluar dari ruang kerjanya, takut istrinya menunggu dan tahu tentang keadaannya, ia pun bergegas keluar dan mendapati istri dan menantunya sedang di dapur menyiapkan makan malam.


"Mom, minta kopi, ucap Aliando yang duduk di sofa ruang tamu dan menyalakan Televisi, ia harus terlihat biasa agar istrinya tidak curiga, pikir Aliando.


Felix yang mendengar ucapan suaminya pun, menoleh dan melihat suaminya yang sudah duduk di sofa dengan TV yang menyala.


Felix tahu suaminya melakukan hal itu, agar tidak terlihat bersedih dan menutupi kesedihannya tadi, padahal Felix mendengar semuanya tadi.


Melihat suaminya yang duduk di sofa, bersikap biasa saja, padahal hatinya menyimpan banyak rasa bersalah, membuat Felix menatap suaminya dengan mata yang sudah berkaca-kaca, dadanya sesak, sungguh ia sangat merasa bodoh, tidak mengetahui perasaan suaminya yang menyimpannya sampai selama itu.


"Biar Tika saja yang buat mom, ucap Atika yang melihat Felix sibuk mengaduk masakannya.


Felix pun mengangguk, menghapus air matanya yang sempat menetes, untung saja Atika tidak melihatnya menangis, dan Atika yang menawarkan membuatkan kopi untuk Aliando, dan Felix bisa menutupi kesedihannya.


Atika pun membuatkan kopi itu, ia sama sekali tidak mengetahui ke dua mertuanya sedang mengalami perang batin, dalam bayang-bayang masa lalu, hingga Atika pun bersikap biasa saja.


"Ini kopinya dad, ucap Atika meletakkan kopi itu di atas meja tepat Aliando duduk.


"Terima kasih nak, oh ya Rafa bilang dua hari lagi dia kembali, dan berpesan untuk sementara ini, kau dan momy jangan keluar mansion dulu, dia hawatir dengan keselamatanmu dan Momy, ucap Aliando pada Atika.


"Sama-sama dad, aku dan momy paham soal itu, dan akan menunggu Rafa pulang, ucap Atika yang paham kekhawatiran suaminya.


Atika pun kembali ke dapur, bergabung kembali dengan Felix yang hampir selesai dengan kegiatan memasaknya.


"Dady bilang apa tadi?? tanya Felix yang melihat Atika bicara pada suaminya tadi.


"Biasalah mom, Rafa bilang kita tidak boleh keluar mansion sampai dia kembali, ucap Atika cemberut, Felix pun terkekeh melihat Atika yang lesu karena perintah mutlak putranya itu.


"Jangan cemberut, itu demi kebaikan dan keselamatan kita hem?, ucap Felix dan di anggukki Atika tanda paham.


"Yah sudah, kamu rapikan meja makan dan kalau sudah selesai kita mandi dan makan malam bersama, ucap Felix dan Atika pun melakukan yang di katakan mertuanya itu.

__ADS_1


Setelah di rasa sudah cukup, Felix dan Atika pun, membersihkan diri mereka, setelah itu baru akan makan malam bersama.


Aliando sudah duduk lebih dulu di kursi meja makan, menunggu istri dan menantunya untuk makan malam bersama.


Felix yang sudah selesai pun turun ke lantai bawah dan mendapati suaminya sudah duduk menantikannya dan Atika.


Tak lama Atika pun juga sudah turun dan melihat Felix baru saja duduk di kursi dan mulai mengambil makanan untuk Aliando.


"Dady sangat lapar, apa lagi aroma masakan ini membuta Dady semakin membuat Dady tak tahan, ucap Aliando menatap makanan itu sangat mengunggah selera makannya.


"Dady seperti anak kecil saja, ucap Felix tersenyum, melihat suaminya begitu bersemangat.


Atika pun tersenyum, melihat ke dua mertuanya itu sangat rukun dan begitu harmonis, membuat Atika yakin Rafa yang begitu lembut padanya, tentu mendapat didikan yang baik dari ke dua mertuanya itu.


Setelah selesai makan malam, Atika memilih masuk ke kamarnya, bermaksud untuk menghubungi suaminya, dan ingin menanyakan soal kepulangannya dua hari lagi yang di beritahukan Dady nya tadi.


Felix yang masih terpikir dengan keadaan suaminya itu, memilih pergi ke taman, menikmati suasana malam yang sejuk dan menenangkan perasaannya, memikirkan cara bagai mana membuat suaminya bisa melupakan masa lalu itu.


Namun saat ia masuk ke dalam kamarnya, Aliando tak mendapati istrinya di dalam kamarnya, berjalan ke kamar mandi dan melihat ternyata kosong, pergi ke arah balkon kamar juga tak mendapati istrinya di sana, namun saat ia ingin masuk ke kamarnya, langkahnya terhenti saat tatapannya melihat istrinya duduk di taman dan termenung, seperti memikirkan sesuatu.


Aliando pun langsung berjalan cepat, turun ke bawah menuju taman tempat istrinya berada.


Perlahan Aliando berjalan, mendekati istrinya yang duduk menatap kosong ke depan, helaan nafas panjang terdengar jelas dari mulut istrinya, membuat Aliando yakin istrinya sedang memikirkan sesuatu.


"Mom, panggil Aliando duduk di sebelah istrinya yang terkejut melihatnya.


"Sudah selesai dengan pekerjaan Dady?? tanya Felix menutupi kegugupannya yang tertangkap melamun tadi.


"Sudah, apa momy sedang memikirkan sesuatu?? tanya Aliando yang tahu istrinya menutupi sesuatu darinya.


Felix pun menghela nafasnya berat, menatap suaminya dalam dan menggenggam erat tangan suaminya itu, mencoba menyalurkan perasaannya lewat tatapan dan sentuhan hangat dalam genggaman tangannya.

__ADS_1


"Maaf, momy tak bisa melihat dan tak menyadari Dady masih menyimpan ingatan buruk yang kita lalui di masa lalu, ucap Felix dengan mata berkaca-kaca, menatap suaminya dalam.


"Apa yang momy bicarakan, ucap Aliando pura-pura bingung, padahal ia tahu tujuan ucapan istrinya itu.


"Dad, momy tahu Dady masih menyimpan rasa bersalah itu sampai sekarang, momy tahu Dady sangat menyesal dengan kejadian di masa lalu itu, tapi kenapa dad?? apa selama ini Dady menikahi momy karena rasa bersalah dan menyesal?? ucap Felix menangis pilu, menatap lekat mata suaminya itu.


Aliando pun diam, ternyata istrinya tahu ia masih menyimpan rasa bersalahnya, tapi ucapan istrinya itu membuatnya sakit, berpikir, istrinya mengira ia menikahinya karena esa bersalah dan penyesalan saja, bukan karena mencintai dan menyayanginya.


Atika yang melihat suaminya hanya diam, mengartikan perkataannya benar, bahwa suaminya itu menikahinya hanya karena rasa bersalah dan menyesal selama ini, sungguh hal itu membuat Felix sakit dan sangat sedih.


Felix pun reflek melepaskan genggaman tangannya, merasa tidak pantas karena ternyata hubungan pernikahan mereka tanpa cinta, dan hanya karena rasa bersalah dan penyesalan hingga bertahan sampai selama ini.


Aliando tahu istrinya mengira ia tidak memiliki cinta dan perasaan yang sama dengan istrinya, melihat istrinya melepaskan genggaman tangannya, membuta Aliando juga sakit, tapi secepat mungkin ia menarik dan memeluk istrinya itu agar tidak semakin salah paham.


"Kenapa berpikir begitu mom, momy adalah hidup Dady, nafas Dady, dan Dady sangat mencintai momy lebih dari apa pun, ucap Aliando memeluk hangat dan erat istrinya itu.


Felix yang mendengar ucapan suaminya pun, tangisnya pecah dalam pelukan hangat Aliando, ia begitu bodoh bicara begitu pada suaminya, padahal ia tahu suaminya begitu mencintainya selama ini, tapi saat mendengar ucapan suaminya di telpon bersama putranya, membuat Felix sempit berpikir, mengira suaminya menikahinya hanya karena rasa bersalah dan penyesalan serta kasihan.


"Maaf, ucap Felix lirih dan terisak pilu.


"Suttt, momy tak salah apa pun, Dady yang seharusnya minta maaf, membuat momy jadi berpikir dan meragukan cinta Dady, dan jujur Dady memang belum bisa melupakan masa lalu itu, karena memang sangat sulit, Dady belum bisa memaafkan diri Dady yang pernah menyia-nyiakan momy dulu, bahkan menyiksa momy, ucap Aliando yang juga meneteskan air matanya.


"Momy sudah melupakannya dan memaafkan dady, mari lupakan masa lalu itu, momy tidak ingin Dady masih dalam bayang-bayang masa lalu itu, semua kenangan buruk itu memang sangat menyakitkan, tapi keadaan sekarang sudah berubah dad, lihatlah putra kita, ia bahkan berusaha tidak melakukan hal yang sama seperti Dady, itu tandanya ia juga belajar dari Dady yang membuka mata dan hatinya agar tidak jatuh pada lubang yang sama seperti Dady, ucap Felix dan di anggukki Aliando.


"Terima kasih mom, sudah menjadi istri dan ibu yang bijak untuk kami, terima kasih yang Momy sudah bertahan berdiri di samping Dady dalam suka dan duka, aku bersyukur dan berterima kasih pada Tuhan yang telah mengirimkan momy untukku sampai maut memisahkan kita kelak, ucap Aliando memeluk hangat Felix, dan mereka pun menyalurkan perasaannya satu sama lain, dan mensyukuri setiap pemberian Tuhan yang tak terkira dan penuh dengan berkah yang nikmat.


Next.


Jangan lupa jejaknya ya Guys.


Salam Arthor.

__ADS_1


__ADS_2