Ketegaran Hati Wanita Miskin

Ketegaran Hati Wanita Miskin
Jangan Lupa Langit Tidak Akan Selalu Gelap.


__ADS_3

Sedih bercampur takut, itulah yang di rasakan Atika saat melihat bekal makanan yang berserak di tanah.


Berharap bisa makan bersama dengan ayahnya, ternyata tak seindah angan-angan.


Rafa menatap Atika tajam, yang berdiri menunduk, karena takut dan ketahuan.


Atika yang melihat makanan yang berserak pun, menelan ludahnya berkali-kali, merasakan sungguh sulitnya mendapatkan sesuap nasi demi perut yang sejengkal ini.


Atika yang merasa tidak perlu meladeni Rafa, ia pun berjalan memungut tempat bekal makan yang sudah berantakan itu, ingin rasanya ia memungut nasi yang berserak itu, tapi tak berani, karena nasi itu memang bukan hasil jerih payahnya, itu hanya hasil belas kasihan Bibi Lana yang selalu perhatian pada Atika juga ayahnya.


"Sudah berani kurang a****r padaku.!! Dan sekarang kau masih berani membawa makanan dari Vila ku, nyalimu sungguh besar rupanya.!!


" Maaf tuan, saya memang tidak tahu kalau anda pemilik Vila ini, dan untuk makanan ini saya tidak mencurinya tuan, ini makanan sisa yang tuan makan tadi, dan Bibi Lana memang selalu memberi saya makanan dari Vila ini.


"Apa kau lupa, kau bahkan tidak lagi bekerja di Vila ku, tapi masih berani mengambil makanan dari Vila ini.!!


" Maaf tuan, ucap Atika Lirih.


"Jangan pernah perlihatkan wajahmu atau menginjakkan kakimu di Vila ku, karena aku tak suka melihat wajah yang berani menganku-ngaku sebagai orang kepercayaanku.


Deg


Atika ingat perkataannya tadi pagi, sebenarnya ia mengatakan itu, karena mengira Rafa adalah tamu.


" Saya tidak akan menampakkan wajah dan menginjakkan kaki saya di Vila anda ini tuan, saya berjanji akan hal itu, dan ingatlah tuan "Langit tak selamanya akan gelap" masih ada hari esok, ucap Atika yang merasa Rafa begitu kejam, dan setelah bicara Atika pun pergi dengan sesak di dadanya.


Selama ini Atika mengira pemilik Vila itu, adalah orang yang baik dan dermawan, ternyata ia salah.


Baik dari segi mananya yang di katakan orang-orang itu, makanan sisa saja dia tidak ikhlas untuk di makan gadis miskin sepertiku, batin Atika yang terus berjalan menuju gubuknya.


Rafa yang mendengar ucapan Atika, merasa tertusuk, tapi sedetik kemudian ia menepis rasa iba itu, karena baginya, semua wanita sama, di balik wajah cantik itu hanya ada topeng belaka.


Namun pikiran dan hati Rafa sepertinya bertolak belakang, ia yang terlihay begitu marah pada Atika, dan merasa Atika hanya mencari simpatiknya, dengan menunjukkan wajah sendu dan rasa bersalah, masih mengikuti Arika diam-diam.


Rafa melihat Atika yang berjalan ke arah belakan paviliun, dan masih terus mengikuti dari belakang, dengah langkah sepelan mungkin, agar Atika tidak tahu Rafa membuntutinya.


Atika pun tiba di gubuknya, sebelum masuk Atika memperbaiki penampilannya yang kusut, dan ia membuat wajahnya seceria mungkin agar ayahnya tidak sedih melihat keadaannya nanti


"Tersenyumlah Atika, jangan tunjukkan wajah putys asa di depan ayah, karena ayah akan sedih, ucapnya menyemangati dirinya sendiri.


Rafa yang mendengar dari persembunyiannya, merasa menyesal, apa lagi saat melihat gubuk Atika yang terlihat sudah miring ke samping, apa lagi melihat tiang kayu itu, siapa pun yang tidak sengaja bersandar di tiang itu, gubuk itu pasti akan rubuh tak bersisa.


Atika pun masuk, dengan suara merdunya, ia akan berteriak hangat bila sudah tiba di gubuknya.

__ADS_1


" Ayah,, Atika pulang, teriaknya dengan membuka pintu gubuknya, dengan cara mengangkat pintu itu, karena sudah miring, hingga tak bisa leluasa membuka pintu gubuknya.


Rafa yang melihat lagi-lagi terenyuh, dan melihat itu semua membuat Rafa semakin ingin tahu bagai mana keadaan gubuk itu di dalam, dan apa yang di lakukan Atika bersama ayahnya, hingga Rafa, berjalan mendekati gubuk itu, dan mengintip dari celah dingding kayu, yang tidak rapat.


"Ayah Atika yang mendengar suara putrinya, tersenyum hangat dalam pembaringannya, setiap kali Atika pulang, ayahnya begitu bahagia, dan selalu memberi senyum hangatnya.


Rafa yang mengintip lewat celah kayu itu pun, melihat seisi gubuk Atika hanya ada tikar dan satu bangku kayu yang sudah usang, dan satu gitar tergantung di dingding kayu, bahkan kamar tidur pun tak ada, sungguh membuat hati Rafa tertusuk ribuan jarum, karena telah memecat dan membuang makanan yang di bawa Atika tadi.


Rafa pun melihat ayahnya Atika yang berusaha bicara pada Atika, dan sudah tentu ucapan ayah Atika tidak jelas dan hanya Atika yang paham apa yang di ucapkan sang ayah.


" Kenapa ayah, ucap Atika menyentuh tangan ayahnya yang paham sang ayah ingin mengatakan sesuatu.


"Llll..pal, ucap ayahnya Atika, dan Atika yang paham pun menatap sendu ayahnya.


" Maaf ayah, Atika tidak bawa makanan untuk ayah, tapi Atika punya roti kok, sebentar ya Ayah, berdiri mengambil bungkusan di dalam tas usangnya.


Atika pun, memberikan sepotong roti itu pada ayahnya, dan tentu itu tak luput dari penglihatan Rafa, dan semakin membuat Rafa sakit, bahkan dadanya sesak, sungguh ia sudah keterlaluan tadi, pikirnya.


"Malam ini tidak apa kan ayah kita hanya makan roti, besok Atika janji akan bawa makanan untuk ayah, ucap Atika memberi ayahnya minum.


Ayah Atika yang sudah biasa demikian, hanya tersenyum, ayahnya tak ingin menunjukkan wajah sedihnya, meski ayah tahu Atika hanya bersikap kuat di hadapannya, dan tentu Atika tidak mudah mendapatkan rezeki di luar sana.


" Ayah istirahat ya, Atika juga sudah sangat lelah, ucapnya sambil menghela nafas pelan.


Atika yang melihat ayahnya tak kunjung menutup mata, menghampiri sang ayah, yang terlihat melamun.


Ayah Atika hanya tersenyum, lalu mencoba meraih wajah Atika dengan tangan kakunya, Atika yang tahu maksud ayahnya, menarik tangan sang ayah, menempelkan di pipinya, dan mencium tangan Ayahnya berkali-kali.


" Nnnn..ni, ucap Ayah Atika dengan lidah kakunya.


"Baiklah, tapi ayah janji harus tidur ya, ucap Atika yang paham apa permintaan ayahnya, dan ayah Atika pun mengangguk tersenyum.


Atika pun berdiri, mengambil gita yang tergantung itu, dan ia akan menyanyikan lagu untuk ayahnya, karena sang ayah meminta Atika bernyanyi sebagai pengantar tidurnya.


Atika pun mulai memetik senar gitar itu, padahal sebenarnya Atika tidak mood untuk bernyanyi karena suasana hatinya, sedang tidak baik, tapi demi ayahnya Atika tidak akan membuat ayah kecewa.


Atika pun bernyanyi dengan suara merdunya, dan karena suasana hati yang tak baik, dan melihat ayahnya yang tak makan nasi malam ini membuat Atika sedih dan menyanyikan lagu yang sungguh menyanyat hati, apa lagi hati seseorang yang sejak tadi mengintip di celah dingding kayu itu.


" Titip Rindu Buat Ayah"


Dimatamu masih tersimpan selaksa peristiwa.


Benturan dan hempasan, terpahat di keningmu.

__ADS_1


Kau nampak tua dan lelah, keringat mengucur deras.


Namun engkau tetap tabah


Hmm...


Meski nafasmu kadang tersengal, memikul beban yang masih sarat


Kau tetap bertahan.


Engkau telah mengerti hitam dan merah jalan ini.


keriput tulang pipimu gambaran perjuangan.


Bahumu yang dulu kekar, legam terbakar matahari, kini kurus dan terbungkus.. Hmm


Namun semangat tak pernah pudar meski langkahmu kadang gemetar, kau tetap setia.


Ayah.. dalam hening sepi ku rindu.


Untuk menuai padi milik kita, namun kerinduan tinggal hanya kerinduan anakmu sekarang banyak menanggung beban.


Ayah Atika pun tak dapat membendung air matanya, ayah yakin lagu itu. menunjukkan kalau Atika sedang tidak baik-baik saja.


Karena lagu itu biasanya di nyanyikan Atika di saat ia terpuruk, dan butuh sandaran, dan ayah sangat yakin kalau Atika sedang bersedih saat ini.


Atika yang sudah selesai dengan lagunya pun, menghapus air matanya, lalu melihat ayahnya yang menutup mata, namun cairan bening itu mengalir dari sisi mata ayah Atika.


Atika tahu ayahnya menangis, dan ia tak berniat untuk bicara pada ayahnya, karena akan menambah sakit bagi ayah dan Atika sendiri.


Sementara si penguntit, jangan di tanya lagi.


Rafa pun berjalan meninggalkan gubuk Atika setelah Atika selesai bernyanyi.


Rafa tak kuat, dan ia berkali-kali merituki dirinya, selama berjalan menuji Vila.


Rafa semakin meraskan sesak dan hatinya ngilu, saat sekilas ingatannya, tertuju pada cerita momy nya yang merasakan sakit, untuk bertahan hidup.


Dulu Rafa sempat membenci dady nya, saat Felix cerita tentang perjalanan hidupnya yang tak mudah, banyak rintangan, cacian, hinaan, bahkan siksaan dari dady nya.


Rafa pun merenungi sikap buruknya, hanya karena satu wanita, ia hampir membenci seluruh wanita yang baginya hanya segelintir tak penting, hanya karena masa lalunya.


Next

__ADS_1


Jangan lupa jejaknya ya Guys.


Salam Arthor.


__ADS_2