
Rafa menemui istrinya yang masih ngambek, membawa nampan yang berisi makanan, karena istrinya mogok makan karena tidak di ijinkan tinggal di Vila.
Rafa melihat istrinya yang tiduran di atas ranjang, dan berbaring miring menghadap balkon kamar mereka.
Atika yang mendengar suara langkah kaki, sama sekali tak menoleh dan melihat siapa yang masuk keep kamarnya, dan ia tahu kalau itu suaminya, tapi Atika sama sekali tidak perduli, sebelum mendapat ijin dari suaminya, Atika tetap bertahan mendiami suaminya itu.
"Masih ngambek ya?? tanya Rafa sembari meletakkan nampan makanan itu di atas nakas, dan duduk di sisi tempat tidur sambil mengelus punggung Atika lembut.
Atika tidak terkecoh sedikit pun, ia bersikap cuek dan tidak menjawab pertanyaan Rafa.
"Ayo makan dulu, kasian baby loh, dia pasti lapar juga, nggak kasian sama anak kita hm?? ujar Rafa sembari mengelus perut Atika yang mulai membuncit itu.
Atika tidak juga menjawab Rafa, malah menepis tangan Rafa dari perutnya, merasa suaminya nggak peak sama sekali, padahal Atika sudah ngambek, bahkan mogok makan, tapi jujur saja, Atika semakin lapar saat melihat makanan yang di bawa suaminya, apa lagi aromanya sangat menggugah selera, tapi Atika gengsi dan tak mau suaminya tahu kalau ia manga sangat lapar, bisa-bisa Rafa akan menertawainya nanti, dan Atika masih bertahan diam, tapi matanya tak luput pada makanan yang di atas nakas itu, "Sial.! kenapa aku sangat tergoda dengan makanan itu, apa karena aku sangat lapar?? batin Atika meronta, sungguh ini ujian berat"
"Nggak mau makan?? tanya Rafa yang tahu istrinya sudah sangat lapar, dan tergoda dengan makanan yang ia bawa itu.
Atika masih diam, berharap suaminya pergi meninggalkan ia sendiri, dan makanan itu juga, agar ia bisa melepaskan laparnya itu, tapi sepertinya itu tidak akan terjadi, mengingat suaminya sangat tahu kelemahannya bila sudah di hadapan dengan makanan lezat.
"Baiklah kalau nyonya Rafa Pratama masih ngambek juga, hamba tidak akan memaksa, dan makanan ini sayang di buang, lebih baik saya yang memakannya, ujar Rafa sengaja, ia tahu istrinya pasti tidak akan membiarkan Rafa menyantap makanan lezat itu, apa lagi makanan itu adalah makanan kesukaan istrinya.
Atika yang mendengar suaminya akan memakan makanannya, langsung melotot tajam, melihat suaminya sudah mengaduk-aduk makanan itu, membuat Atika berkali-kali menelan ludahnya, sungguh cobaan yang menyakitkan batin Atika.
Saat Rafa sudah ingin memulai suapan pertama, Atika reflek berteriak, dan tak sadar menarik piring itu dari tangan Rafa, dan hal hasil Rafa tertawa lucu, melihat ekspresi istrinya yang sangat menginginkan makanan itu, dan begitu takut di makan olehnya.
"Jangan.!! ujar Atika mengambil makanan itu dari tangan Rafa.
" Loh, kenapa?? bukannya kamu nggak mau ya?? ujar Rafa tersenyum meledek Atika.
"Siapa bilang, aku kan nggak ada bilang nggak mau.! ujar Atika terlihat kesal.
" Huh.! lapar aja pake gengsi segala, ujar Rafa sembari memencet hidung Atika gemas.
"Biarin.! pergi sana, aku masih nggak mau ngomong sama kamu, ujar Atika mengusir suaminya dari kamar mereka, karena masih kesal.
__ADS_1
" Yakin nih?? aku pergi dari sini, ujar Rafa masih menggoda istrinya itu.
"Yakinlah, lagian kamu itu suami pelit, aku malas berdekatan sama suami pelit kayak kamu, ujar Atika semakin kesal, dan tak sadar begitu lahap memakan makanan itu.
" Ya sudah aku pergi, ujar Rafa pura-pura beranjak, tapi sedetik kemudian Rafa berhenti dan berbalik menghadap ke arah Atika, lalu berkata sebelum benar-benar pergi, dan Rafa yakin kali ini istrinya akan menghalanginya pergi.
"Padahal tadi aku mau ngijinin kamu untuk tinggal di Vila, tapi, _ Rafa tidak melanjutkan ucapannya langsung berbalik, dan perlahan melangkah, sambil berhitung, dan yakin saat hitungan ketiga pasti istrinya akan mengejarnya, satu, dua, ti, _
" Tunggu.! kamu nggak bercanda kan?? ujar Atika yang sudah berdiri di hadapan Rafa, secepat kilat turun dari ranjangnya, mengejarnya suaminya sebelum benar-benar pergi.
"Maksud kamu?? tanya Rafa pura-pura tak ingat dengan ucapannya barusan.
"Yang mas bilang tadi, ngijinin aku, ujar Atika.
" Memangnya aku ada bilang begitu?? ujar Rafa sengaja, menggoda istrinya lagi.
"Tadi barusan mas bilang begitu.! ujar Atika yang kesal pada Rafa merasa di permainkan suaminya.
" Perasaan aku nggak ada bilang gitu deh, ujar Rafa lagi semakin membuat Atika geram.
Rafa yang melihat istrinya hampir menangis, tak tega, ia pun merasa keterlaluan sudah mengerjai istrinya.
" Sudah, jangan nangis, aku cuma bercanda tadi, ujar Rafa, duduk di sebelah Atika, dan menghapus air mata Atika yang sudah menetes.
"Jahat, teganya ngerjain istri sendiri, ujar Atika memukul lengan Rafa.
" Aku hanya menggoda mu saja kok, hanya bercanda, ujar Rafa, mengelus lembut kepala Atika.
"Nggak lucu tahu.! ujar Atika kembali meneteskan air matanya, merasa suaminya sudah tega mengerjainya.
"Aku minta maaf ya, udah dong, jelek kamu nya kalau nangis, masa udah mau jadi mama, masih suka ngambek?? ujar Rafa agar istrinya tenang.
" Terus?? mas nggak bohong kan soal tadi?? tanya Atika, takut suaminya hanya bercanda.
__ADS_1
"Nggak, tapi, _
" Tapi apa??
"Hanya seminggu.! ujar Rafa to the point.
" Kok seminggu?? tanya Atika tak terima.
"Kamu pilih seminggu, atau tidak sama sekali.! ujar Rafa, tak ingin istrinya terlalu lama di kota B, karena merasa tak sanggup terlalu lama berjauhan dari istrinya.
" Ok.! ujar Atika setuju, dari pada nggak sama sekali.
"Ok deal.!! tapi ada syaratnya.! ujar Rafa lagi, agar istrinya tahu, kalau ia tidak ingin terjadi sesuatu pada Atika.
" Pakai syarat segala, ujar Atika kesal, ia tahu suaminya tidak akan semudah itu memberi ijin, dan sudah yakin pasti ada embel-embelnya.
"Ya haruslah, kalau tidak siapa yang tanggung jawab kalau kamu kenapa-napa?? ujar Rafa, tak ingin istrinya menganggap sepele masalah kenyamanannya.
" Ok, nggak masalah, ujar Atika mengalah, membantah pun nggak guna, pikir Atika, yang paham sifat suaminya tidak bisa di bantah, soal yang satu ini.
"Selama di sini, Bibi Lana akan menemani kamu kenapa pun, dan keluar harus sama pengawal, jangan pergi sendiri, kamu harus menjaga diri juga, ingat kamu lagi Hamil, jangan sampai kamu dan anak kita kenapa-napa, kamu paham kan?? ujar Rafa pada Atika.
" Baiklah, itu tidak masalah, lagian aku nggak akan kemana-mana kok, paling cuma ke rumah kak Ali, ujar Atika.
"Walau hanya ke rumah Ali, nggak boleh sendiri, tetap di temani Bibi Lana, dan pengawal, ujar Rafa.
" Siap pak Bos, ujar Atika seraya membuat tangannya tanda hormat, membuat Rafa tersenyum tipis, istrinya ini, kalau sudah ada maunya, sangat pintar membuatnya tak berkutik, apa lagi semenjak Hamil, istrinya menjadikan anak mereka alatnya, agar kemauannya selalu di turuti.
Namun Rafa senang, karena istrinya selalu mengandalkannya, apa lagi sangat menghormatinya sebagai suami, bagi Rafa yang terpenting istrinya bahagia, dan itu adalah tujuan utamanya.
Bersambung.
Jangan lupa jejaknya ya Guys.
__ADS_1
Salam Arthor