Ketegaran Hati Wanita Miskin

Ketegaran Hati Wanita Miskin
Hari Pertama Kerja Sebagai OG


__ADS_3

Kejutan yang di buat Rafa untuk istrinya, menyisahkan kebahagian tersendiri bagi Atika.


Apalagi ayahnya yang datang tanpa sepengetahuan nya, membuat Atika, begitu bahagia, apa lagi bisa bertemu dengan putranya, baby Reza.


Pagi ini Rafa bagun dengan senyum hangat dan bahagia, tidak ada lagi yang ia harapkan selain bisa melihat dan membuat istrinya bahagia.


Melihat ayah mertuanya yang bersenda gurau dengan baby Reza, dan senyum bahagia sang istri, membuat Rafa, juga bahagia.


Aliando bersama yang lainnya, termasuk besannya pak Danu, bersantai di taman belakang sambil menikmati sarapan pagi mereka. Tentunya Atika dan felix sangat menyukai situasi itu, karena bagi mereka berdua, yang memiliki nasib yang sama, yang selalu berharap punya keluarga utuh, meski tidak sesuai harapannya, namun situasi ini sudah begitu memenuhi impian mereka selama ini.


Felix yang mendapatkan orang tua, yaitu mami dan papi nya Aliando, Atika mendapatkan orang tua, yaitu Aliando dan felix, di tambah lagi masih ada ayahnya, dan itulah perbedaan kecil antara, felix dan Atika.


Rafa yang sengaja tidak masuk kantor, karena ingin menikmati kebersamaan bersama keluarga besarnya, dan sangat jarang untuk menikmati kebersamaan mereka, karena waktu dan pekerjaan Rafa sangat sibuk dan padat.


Dewa yang mendapat kabar dari Rafa, soal ia yang tidak datang ke kantor, akhirnya berangkat sendiri, tak lagi datang ke mansion nya Rafa, untuk menjemputnya, seperti biasa.


Dewa pun bersiap ke kantor, namun tiba-tiba ia ingat, akan kejadian kemarin, dan telah membuat Cita bekerja di perusahaan hari ini, sebagai hari pertama kerja bagi Cita.


Sementara Cita yang sudah tiba di kantor, dia sengaja berangkat lebih awal, takut di nilai tidak becus sebagai karyawan baru di perusahaan itu, membuatnya lebih hati-hati, dan kesalahan sebelumnya tidak akan terulang kembali.


Cita pun berjalan mendekati meja receptionis, dan dengan sopan dan ramah Cita bicara pada mereka, yang sudah bertugas di sana.


"Permisi, saya Cita, saya karyawan baru, yang di rekomendasikan pak Dewa, sebagai OG"


"Oh, mari silahkan, pak Dewa sudah memberitahukan hal ini pada kami, dan untuk masalah pekerjaan, nanti ada seorang kepala OG, yang akan mengarahkan anda nona"


"Terima kasih"


Cita awalnya agak takut, kini ia lebih bersemangat, karena semua yang ia temui cukup ramah dan sopan, membuatnya nyaman untuk pertama kali masuk kerja.


Setelah mendapat arahan, Cita pun memulai pekerjaannya, dan hal pertama ia lakukan adalah, membersihkan ruangan Dewa.


Saat Cita masuk ke ruangan Dewa, tanpa sengaja ia langsung melihat ada Foto Dewa yang tertata rapi di atas meja kerjanya, foto yang tidak sendiri, karena foto itu foto Rafa bersama Dewa, saat mereka masih kuliah dulu.


Melihat besarnya ruangan Dewa, Cita menyimpulkan kalau Dewa termasuk orang penting di perusahaan ini, dan ia tak lagi berani membuat kesalahan, demi pekerjaan yang sangat ia butuhkan, untuk kebutuhan hidupnya juga kuliahnya, yang tinggal satu semester lagi, baru selesai.


Cita pun mulai bekerja, membersihkan ruangan Dewa, dengan telaten dan hati-hati, karena sudah cukup baginya, yang telah kehilangan pekerjaannya di hotel, karena kecerobohannya, maka ia berusaha, tidak akan mengulangi lagi kesalahan yang sudah-sudah.

__ADS_1


Saat Cita selesai membersihkan ruangan Dewa, tepat saat itu Dewa baru saja tiba, dan bersamaan Cita yang akan keluar dari ruangan Dewa.


Dewa menatap Cita dengan seragam barunya, tapi justru penampilan Cita, membuat Dewa ingin tertawa, entah apa yang tiba-tiba menggelitik hatinya.


Cita memang gadis polos, tak pernah begitu mementingkan penampilannya, bahkan setiap kali bekerja, model rambutnya hanya cukup tiga macam yang selalu ia gunakan, kepang dua, kuncir kuda, atau di gulung.


Tapi pagi ini Cita, membuat rambutnya kepang dua, justru hal itu membuat Dewa, berpikir, masih bisa melihat gadis seperti di jaman dulu.


"Permisi tuan"


Suara Cita yang menyadarkan Dewa, dari tatapannya pada Cita, langsung buyar, karena ia memang berdiri tepat di ambang pintu, seakan menghalangi langkah Cita untuk keluar.


"Apa kau sudah membersihkan seluruhnya??


" Sudah tuan, anda bisa memeriksanya, dan kalau masih ada yang kurang anda bisa memanggil saya kembali"


"Ah tentu, tapi kau tidak menyentuh barang-barang ku kan?? karena aku baru saja mengenalmu, dan ini adalah hari pertama mu bekerja, jadi aku belum tahu kau ini bisa di percaya atau tidak, karena jaman sekarang, banyak orang berbuat modus, jadi karyawan, tapi niatnya lain, karena ingin mencuri sesuatu.!! "


Deg


Meski ia gadis yang miskin dan hanya bisa di katakan hidupnya pas-pasan, bukan berarti ia, menghalalkan segala cara, bahkan mencuri, tapi saat ini Cita bisa apa, ini hari pertama ia kerja, meski dadanya sesak, Cita mencoba menetralkan hati dan pikirannya, tak ingin terpancing karena kata-kata, atasannya itu.


"Anda bisa memeriksanya tuan, bahkan ruangan anda di penuhi CCTV, kalau anda ragu, anda bisa cek rekaman itu, dan kalau anda melihat saya ada mengambil sesuatu, saya menunggu anda di ruangan OG, untuk membawa saya ke kantor polisi, sebagai pencuri"


Deg


Bagai tertampar, Dewa mendengar ucapan Cita, sungguh ia sebenarnya, bukan menuduh Cita sebagai pencuri, namun Dewa hanya ingin, membalas Cita yang juga pernah mengatakannya pernah demikian, namun justru ucapannya, bagai senjata makan tuan bagi Dewa.


"Ah sudahlah, saya bukan pesuruh mu untuk melihat CCTV, tapi yang jelas sekali saja kau buat kesalahan maka bersiaplah di tendang dari perusahaan ini"


Dewa bukannya memperbaiki ucapannya, justru menambah sesak di dada Cita, tapi Cita tetaplah Cita, karena ini bukan hal yang pertama pernah ia alami, bahkan ia sudah terlalu kuat untuk menghadapi intimidasi dari atasannya, bahkan dari sesama teman kerjanya, sewaktu bekerja di tempat lain.


"Tentu tuan, saya tidak akan lupa soal itu"


Cita pun membenahi barang-barang yang ia bawa untuk bebersih, dan ingin segera pergi dari sana, karena ia sudah sangat muak bicara pada atasannya itu, yang selalu berpikiran buruk terhadapnya.


Namun saat Cita beberapa langkah, Dewa kembali bicara, membuat Cita menghentikan langkahnya.

__ADS_1


"Buatkan kopi untuk saya, dan jangan sampai saya menunggu"


"Baik tuan" menjawab dengan sopan, lalu Cita pun melanjutkan langkahnya.


Saat sudah di ruangan OG, Cita sempat menangis, sungguh ucapan Dewa begitu menyakitinya, membuatnya seperti orang yang begitu rendah, di tuduh sebagai pencuri.


Mengingat ia di suruh membuat kopi, Cita pun pergi ke ruang pantri, membuatkan kopi, sesuai perintah Dewa tadi.


Cita pun membawa kopi itu, dan dengan hati-hati ia meletakkan di atas meja kerja Dewa.


"Tuan kopi anda"


"Hm"


"Saya permisi tuan"


"Hm"


Dewa menatap kepergian Cita, pikirannya terganggu saat ia melihat mata Cita yang memerah, seperti baru habis menangis, membuat Dewa, berpikir, apakah karena ucapannya tadi Cita menangis??


Biasanya jam 10:00 pagi, para karyawan apa lagi khusus OG dan OB, akan istirahat sejenak, dan setelah itu, mereka akan lanjut lagi bekerja, hingga waktu yang di tentukan, atau sesuai sif masing-masing.


Cita yang belum sempat sarapan, menyempatkan diri untuk memakan bekal yang ia bawa tadi, memilih sendiri dan tidak bergabung dengan yang lain, mungkin karena perasaannya saat ini tidak baik, membuat Cita memilih mengasingkan diri.


Hanya dua suapan yang Cita makan, karena ia jadi tidak selera makan, masih mengingat ucapan atasannya itu, hingga ia pun menatap kosong, bahkan makanannya hanya ia aduk-aduk, hingga tak berbentuk lagi.


Dewa yang ingin keluar untuk menemui klien, tak sengaja melihat Cita di sudut ruangan, yang memang ruangan itu terlihat besar khusus bagi karyawan dan berisikan meja dan kursi bila para karyawan sedang senggang, dan ruangan itu selalu akan Dewa lewati saat datang mau pun keluar, karena tidak terlalu jauh dari pintu masuk, dan pembatas kaca, yang bisa menampilkan seluruh karyawan yang ada di dalam.


Melihat Cita yang bengong dengan tatapan kosong, apa lagi Cita hanya mengaduk-aduk makanannya, membuat Dewa, berpikir apakah Cita jadi seperti itu karena omongannya tadi.


Tapi sesaat Dewa menepis pikirannya itu, dan tidak perduli dengan keadaan Cita yang seperti itu, toh ia hanya mengatakan sesuai dengan apa yang juga cita katalan padanya, dan ia hanya membalas Cita yang pernah kurang ajar padanya.


Akhirnya Dewa pergi meninggalkan kantor, karena ia harus segera bertemu dengan klien hari ini, hampir saja tanggung jawabnya lalai, hanya karena sudah membuang waktu, untuk memperhatikan Cita, bagi Dewa, Cita pantas mendapatkan itu, karena sudah membuatnya kesal, dan berani kurang ajar padanya, dan itu hukuman untuk Cita.


Next..


Up lagi ya Sob, dukung terus, vote nya jangan lupa dong, dan Terima kasih karena masih setia dengan karya ku, dan selalu menunggu up terbaru. 🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2