
Atika duduk termenung di balkon kamar nya, masih memikirkan ucapan suaminya bersama Dewa tadi.
Rafa yang baru keluar dari ruang kerjanya pergi menuju kamar nya, mengira Atika masih berada di ruang tamu, bersama yang lainnya.
Melihat tak ada siapa-siapa di dalam kamar Rafa pun yakin kalau Atika masih berada di ruang tamu.
Namun tak sengaja Rafa melihat ke arah balkon, sempat kaget saat melihat Atika ada di sana.
Atika yang juga melihat Rafa, beranjak dari duduknya, kali ini Atika tidak perduli lagi dengan sikap dingin suaminya itu, bagai mana pun caranya Atika harus bicara pada Rafa, karena Atika tidak mau suaminya jadi pembunuh, mengingat pembicaraan mereka tadi saat di ruang kerja.
Rafa kembali berpura-pura, bersikap dingin, datar dan cuek, dan sibuk dengan ponselnya duduk di sofa.
Atika pun masuk ke kamar, dan duduk di samping Rafa, tekatnya bulat, dan harus membicarakan soal itu pada suaminya.
"Mas.!
"Mas.!!
"Mas.! aku tahu aku salah, dan aku menerima hukuman yang kamu buat, tapi sampai kapan mas mendiami aku dan bersikap datar, dingin seperti ini.!! Dadanya sesak, bahkan air matanya sudah tumpah saat bicara, karena berapa kali Atika memanggil suaminya, tak ada jawaban sedikit pun.
"Kalau kamu sudah menyadari itu bagus.!
"Aku sadar kok mas, kalau kesalahan ku memang tidak bisa mas maafkan, mas bisa membuang ku, aku akan pasrah.!!
Deg
Rafa tidak pernah menyangka Atika sanggup bicara seperti itu, jantungnya berdebar kuat, mendengar kalimat dari mulut Atika, membuat Rafa jadi tersulut.
" Membuang?? apa kamu menganggap dirimu sampah.!!
__ADS_1
"Aku bukan mengatakan aku sampah, tapi karena aku sadar kamu memungut ku menjadi wanita yang punya derajat.!
Perkataan Atika semakin membuat Rafa marah, dari kalimat sampah, sampai kalimat memungut, membuat s
darah Rafa mendidih, ternyata istrinya menilai dirinya serendah itu, padahal Rafa sendiri tidak pernah terpikir sampai ke situ.
" Sekarang katakan apa mau kamu.!! Aku tak mau berdebat dengan mu.!!
"Selama seminggu ini aku menerima sikap kamu yang datar dan dingin padaku mas, dan aku sadar dengan kesalahan ku, tapi kalau mas memang tidak bisa memaafkan kesalahan ku itu, aku menerima apa pun keputusan dari mu, karena aku nggak sanggup hidup seperti ini.!! tangis Atika pun pecah.
"Hanya karena itu kamu sampai mengatakan hal itu, kalau kamu memang sudah tidak sanggup, aku tidak akan menghalangi mu, bila itu kemauan mu, keputusan ada di tangan mu, aku tidak akan pernah mengusir mu, tapi kalau memang kamu yang mau pergi, aku tidak akan melarang.!! Bagai di hujam tombak besar dada Rafa, melontarkan kata-katanya pada Atika.
Atika tak menjawab apa pun lagi, hanya air matanya lah yang menjadi bukti kesedihannya saat ini.
Sebenarnya Atika ingin suaminya tahu, kalau Atika tak tahan terus-menerus di diami suaminya, tapi karena emosi, Atika mengatakan hal yang membuat Rafa tersulut, dan bagai menyiram minyak ke dalam api yang sudah berkobar, dan menambah keadaan semakin buruk.
"Mari bicarakan soal keinginanmu ini pada momy, dady juga ayah, karena mereka juga berhak tahu, agar mereka mendengar sendiri, ini murni keinginanmu, dan aku tidak mengusir atau pun membuang mu, seperti yang kamu katakan itu.!!
"Aku nggak menyangka, kamu bisa bicara seperti itu, dan aku sangat kecewa pada mu.!!
" Maaf, aku minta maaf mas, aku terlalu emosi tadi, karena kamu tidak memperdulikan panggilanku.!
"Apa kamu tahu, bagai mana rasa nya ketakutan di tinggalkan orang yang kita sayang?? Aku terguncang saat melihat mu dalam keadaan tak sadarkan diri, dan penuh luka.! aku bahkan sulit bernafas, pikiran buruk membayangiku.!! Aku merasa duniaku hancur dan berakhir, kalau sampai kamu tidak selamat.!! Apa aku salah bersikap demikian dengan mu, yang tidak menghargai kecemasan suaminya, pergi tanpa siapa pun, dan kabur dari Vila, karena merasa terkekang.!!
Rafa pun mengeluarkan semua unek-uneknya, yang mengganjal selama seminggu ini, dan kini Rafa puas, telah mengatakan itu semua pada Atika.
Atika semakin menangis, dadanya sesak mendengar penuturan suaminya, betapa egois dirinya, telah bicara kasar pada suaminya, yang begitu mencemaskan keadaannya. Atika pun paham, mengapa suaminya masih bersikap dingin pada nya, itu di karenakan suaminya masih belum bisa melupakan kejadian, di mana saat ia di temukan malam itu.
"Mas, aku minta maaf, sudah menyakiti perasaan kamu, dan tidak menghargai kecemasan mu, serta ketakutan mu, aku egois, aku terima mas apa pun keputusan kamu, aku tidak akan membantah apa pun yang menjadi keputusan mu.!
__ADS_1
Memohon, mengatupkan kedua telapak tangannya, agar suaminya memaafkan kesalahannya, dan berjanji tidak akan mengulangi hal itu lagi, dan menuruti apa pun keputusan suaminya.
"Aku mengijinkan mu tinggal di sini, karena aku ingin kamu merasakan kebahagian mu, menikmati kehidupan baru mu, tapi kepercayaan ku, tak kamu hargai sedikit pun.
" Kalau kamu tidak secepatnya di temukan, entah apa yang terjadi malam itu, dan begitu entengnya kamu mengatakan agar aku membuang mu.!!
"Kalau kamu tidak berharga sedikit pun di hidup ku, aku tidak akan mencari keberadaan mu.!!
"Aku bahkan hampir gila, karena dokter mengatakan janin dalam kandungan mu hampir saja tidak tertolong.!!
Rafa yang menahan air matanya sejak tadi, akhirnya pun runtuh juga pertahannya, merasa sangat sesak, karena istrinya begitu mudah melontarkan kalimat yang menyakiti perasaannya, seolah tak ada lagi rasa antara mereka.
Atika yang melihat suaminya menangis, beranjak dari duduknya, memeluk Rafa dari belakang, menyesal telah mengucapkan kata-kata yang membuat suaminya rapuh.
"Mas, aku minta maaf, telah menyakiti perasaan mu dengan ucapan ku, aku memang bodoh, tidak bisa melihat betapa besarnya cinta dan kasih sayangmu padaku mas, menangis di punggung Rafa, hingga membasahi kemeja Rafa.
" Aku tahu sikapku membuatmu sakit dan tertekan, dan aku juga menderita, namun demi kebaikanmu agar kejadian itu tidak terulang lagi.
"Iya mas aku mengerti, maaf karena aku marah tanpa alasan, dan sudah membuat mas kecewa dan sakit hati.
Rafa pun membalikkan badannya, menatap mata Atika dalam, menghapus sisa air mata dari pipi Atika.
" Berjanjilah tidak bertindak gegabah seperti itu lagi, aku adalah suamimu yang harus kamu patuhi dan turuti, semuanya ku lakukan hanya untuk kebahagiaanmu, dan hidup damai dengan keluarga kecil kita, dan kita akan menua bersama, dalam suka duka, kita akan melalui itu bersama, dan apa pun salah paham dalam rumah tangga kita, aku tidak mau mendengar kata "Cerai" dari mulut kamu, karena ucapan itu adalah doa.!!
"Aku berjanji mas, aku akan mendengarkan apa pun yang kamu katakan, maafkan aku ya mas, aku melupakan cintamu yang begitu besar padaku.
Rafa pun mengangguk, mencium kening Atika dalam, mendekapnya erat, hatinya lega, karena Atika bisa memahami semuanya, dan bisa menerima kesalahannya dan menyadari semua kecerobohannya, yang terlalu polos, menganggap semua orang baik, dan tidak punya niat buruk pada seseorang.
Next.
__ADS_1
Jangan lupa jejaknya ya guys.
Salam Arthor๐๐๐