
Selama Atika belum siuman, Rafa tak pernah sekali pun meninggalkan Atika.
Takut terjadi sesuatu dengan istrinya, seperti kejadian sebelumnya.
Bahkan urusan kantor sepenuhnya di serahkan pada Dewa dan Rico, bila pun ada urusan yang penting atau berkas yang harus di tanda tangani Rafa, Dewa atau pun Rico lah yang datang menemuinya ke rumah sakit.
Sementara Felix yang berada di mansion nya, sedikit berdebat dengan Aliando, karena Felix merasa di bohongi soal keadaan Atika dan cucunya yang sudah lahir.
"Maaf, kalau daddy membuat mommy kecewa" Aliando mengakui kesalahannya tanpa bantahan apa pun, karena lebih baik mengakui kesalahan dengan cepat dari pada akan berujung sandiwara yang panjang, karena ujung-ujungnya, Felix tetap menyalahkannya sepenuhnya.
"Maaf?? ini menyangkut soal nyawa menantu dan cucu kita, daddy begitu gampang mengatakan maaf?? Felix yang kesal bicara sembari membuat bibirnya berbelok-belok, karena kesal.
" Itu Daddy lakukan, karena daddy memikirkan kesehatan mommy, dan yang pantas mommy salahkan itu disini Rafa, bukan daddy.! Tak terima ia yang jadi sasaran istrinya itu.
"Kenapa jadi bawa-bawa Rafa?? di sini daddy yang membohongi mommy, bukan Rafa.! kesal Felix, karena suaminya selalu membela diri.
" Ok, semua yang terjadi saat ini, itu kesalahan Daddy, dan putramu lah yang terbaik, apa mommy puas?? Tak ingin ribut, lebih baik mengalah, pikir Aliando.
"Mommy nggak bilang ya, kalau Rafa tidak salah, kenapa sepertinya daddy jadi terkesan kurang senang?? ujar Felix yang selalu menyangkut pautkan kan setiap apa yang di lontarkan Aliando.
Mengaku salah, tetap salah, minta maaf tetap salah, mengatakan putranya tak salah juga tetap salah, Aliando jadi pusing sendiri, menghadapi istrinya itu, hingga berpikir istrinya seperti orang yang sedang hamil, yang mengalami perubahan hormon yang naik turun.
"Lalu mau apa lagi, daddy sudah minta maaf,mengaku salah juga sudah, tidak menyalahkan Rafa dalam hal ini juga salah, trus salah nya daddy sekarang dimana??
Felix yang mendengar keluhan suaminya itu pun jadi terdiam kaku, berpikir kalau ia memang sudah terlalu berlebihan pada suaminya itu, namun menit kemudian ia bicara kembali.
__ADS_1
"Jadi daddy mau menyalahkan mommy gitu?? masih dengan ego nya Felix bicara dengan entengnya.
" Tidak, sama sekali daddy nggak berpikir begitu, tapi menurut daddy, lebih baik kita sudahi membahas soal ini, dan kalau mommy ingin pergi ke rumah sakit, maka bersiaplah untuk ke sana, daddy tunggu mommy di bawah.!" ujar Aliando sembari beranjak dari duduknya, berjalan ke luar dari kamar mereka.
Felix yang melihat kepergian suaminya, hingga menghilang di balik pintu, hanya terdiam membisu, dan hanya menghela nafasnya kasar, lalu ia pun bersiap untuk ke rumah sakit, menjenguk menantu, putra dan cucunya yang sudah lahir, yang belum ia lihat sama sekali.
Di rumah sakit, Rafa duduk termenung di atas sofa, menatap istrinya yang masih betah dengan tidur panjangnya, namun tatapannya kosong, dan pikirannya jauh menerawang ke tempat lain.
Gubuk yang rapuh, yang di huni seorang pria paru baya bersama seorang anak gadisnya, yang berusia 23 tahun, yang menjadi saksi nyata bagi Rafa, mempertemukan dirinya dengan Atika, yang saat ini sudah menjadi istrinya.
Mengingat kekonyolan Atika saat ia mengunjungi Vila di kota A, sempat membuat Rafa, menilai Atika sebagai wanita sembarangan, karena sudah berani mengakui kalau dia adalah orang yang di percaya di Vila itu, dan sudah sangat mengenal sang pemilik Vila.
Namun pertemuan itu justru satu awal bagi Rafa dan Atika, semakin dekat, meski sempat berseteru dan salah paham.
Rasa penasaran yang besar, membuat Rafa saat itu, menguntit Atika, sampai ke gubuknya, dan di sanalah ia menyaksikan Atika yang tinggal dengan seorang ayahnya yang sedang sakit, dimana, Atika yang setiap kalinya pulang, lebih dulu memperbaiki penampilannya dan membuat senyum palsu pada ayahnya, agar tak terlihat betapa kerasnya hidup yang ia jalani dalam seharian, demi agar sang ayah tidak merasa sedih dan merasa tak berguna sebagai orang tua yang seharusnya, bertanggung jawab pada keluarga, namun karena keadaan justru Atika lah yang harus berkorban, dan tetap sabar dan tabah menjalani kesehariannya.
Sebungkus roti yang di bawanya pulang, untuk ayahnya, dan berkata dirinya sudah makan dan kenyang, padahal sama sekali tak ada makan apa pun, bagi Atika tidak masalah, asalkan ayahnya tidak selalu merasa tak berguna.
Bukannya ayah Atika, tak tahu soal putrinya yang belum makan, tapi ayah pun juga berbuat kepalsuan di hadapan Atika, seolah bangga pada putrinya yang selalu membawa bekal bila kembali ke gubuk mereka. Menebarkan senyum palsu, padahal hatinya sakit bagai teriris, karena putrinya begitu berkorban demi dirinya yang tak berguna, yang tak bisa menafkahi dan melindungi putrinya itu.
Begitu saatnya istirahat malam, seorang ayah, dan putrinya itu, Sama-sama hanya bisa mengeluh di tempat tidurnya masing-masing, mengungkapkan dalam hati,, "maaf ayah, kalau Atika selalu berbohong pada ayah" dan demikian juga sang ayah, "Maaf nak, ayah hanya jadi beban untukmu, dan entah sampai kapan", menyembunyikan air mata masing-masing, agar tidak merasa bersalah satu sama lain, padahal begitu merasakan sakit yang sama.
Begitulah yang terjadi setiap harinya, belum lagi sepenggal hinaan dan caci maki yang selalu mewarnai hari-hari mereka, bahkan orang terdekat mereka pun ikut membuat mereka bagai tenggelam hingga ke dasar laut, yang menganggap mereka bukan bagian dari keluarga.
Mengingat masa lalu yang kelam itu, Rafa sampai meneteskan air matanya, mengingat dirinya pernah menggores luka, pada istrinya itu, bahkan pernah menghina, dan menuduh istrinya seorang pencuri.
__ADS_1
Di tambah lagi dengan masalah yang belakangan ini, istrinya beberapa kali mengatakan, kalau ia hanya memiliki nasib yang baik, karena sudah di pungut dari jalanan, dan beranggapan seperti "sampah", membuat dadanya semakin sesak, padahal tak sekali pun ia pernah menganggap atau mengumpamakan istrinya itu sebagai " sampah".
Hal yang termasuk sepele dalam pertengkaran mereka waktu itu, justru membuat Rafa begitu menyesali sikapnya, di tambah kesalahpahaman yang ada.
Rafa yang larut dalam ingatan di masa lalu, tersadarkan karena kedatangan mommy dan daddy nya, dan buru-buru, menghapus air matanya, tak ingin di lihat mommy dan daddy nya.
Felix dan Aliando yang baru saja tiba, masuk tanpa adanya tegur sapa, seolah menganggap tak ada siapa pun di tempat itu selain Atika.
Melihat kecuekan daddy dan mommy nya, yang tak menyapa dan mengajaknya bicara, Rafa pun semakin sesak di dadanya. Namun Rafa sadar akan semua itu, karena ialah yang membuat situasi itu menjadi dingin dan kaku, akibat ego yang selalu ia pertahankan.
"Hai sayang, mommy datang, maaf, mommy nggak bisa nemani kamu saat kamu butuh dukungan sayang, tapi mommy bersyukur, karena kamu dan cucu mommy baik-baik saja" air mata pun tak terbendung, melihat menantunya terbaring lemah.
"Mom, ingat mommy baru saja pulih, dan jangan karena mommy stres, mommy jadi drop lagi, menantu kita baik-baik saja, sudah ya" Aliando langsung membujuk felix, takut istrinya drop lagi, karena sebenarnya masih harus dirawat.
Felix pun mendengarkan nasehat suaminya itu, namun saat ia bertatapan pada Rafa, dan si Rafa yang mengira mommy nya mau berbicara padanya, justru berbanding terbalik dari apa yang ia harapkan.
Felix justru, memasang wajah garang dan sinis pada putranya itu, seolah memasang bendera peperangan akan baru di mulai.
Rafa yang mendapat tatapan garang dan sinis dari mommy nya, hanya bisa menelan ludahnya kasar, bahkan merinding, tatapan itu seperti ingin mengulitinya, berharap daddy nya, bisa menolongnya, namun saat ia mengalihkan pandangannya pada sang daddy, justru seperti ingin menghabisinya, karena Aliando saat di tatap Rafa, membuat gerakan, yang memperagakan pada lehernya seperti menebas, dan wajah yang terlihat sangar.
Merasakan keadaan di ruangan itu bagai tak ada pasokan udara, membuat Rafa susah mengambil nafasnya. Baru kali ini ia merasakan bagaimana rasanya di intimidasi lewat tatapan yang membunuh dan menyeramkan, bahkan ia berkali-kali membatin "habislah aku" "siapa pun adakah yang bisa menolong ku dari serangan sepasang singa ini??? tolooooonnnnggggg", menjerit tapi tak bersuara, karena hanya bisa di dalam hati, pasrah dengan keadaan.
Next...
Maaf baru Up ya Sob, mohon dukungannya selalu๐๐๐
__ADS_1