
Sesuai permintaan Rafa pada momy nya, Felix mengajak Atika pergi ke Panti Asuhan, agar segala persiapan menyambut kepulangan pak Danu, dapat terlaksana tanpa di ketahui Atika, karena Rafa ingin membuat kejutan pada Atika.
Dewa pun menjemput pak Danu dari rumah sakit, namun sebelum kembali ke mansion Dewa membawa pak Danu membeli beberapa baju sesuai perintah Rafa, ia tak ingin Atika melihat penampilan Ayahnya yang seperti dulu.
Semua pelayan di mansion sibuk melakukan tugas masing-masing.
Sementara Bibi Lana baru tiba bersama beberapa pengawal yang di tugaskan Dewa langsung menjemput Bibi Lana dari kota B.
"Tuan, terima kasih karena sudah menganggap Bibi bagian dari acara ini, ucap Bibi Lana terharu.
" Jangan bicara begitu Bik, bagi Atika Bibi sangat berharga, aku tidak akan melupakan orang-orang yang sudah berperan penting pada Atika, ucap Rafa membuat Bibi Lana meneteskan Air matanya, sungguh ia begitu bersyukur Atika mendapatkan sandaran yang tepat.
"Bibi istirahat saja dulu, karena acaranya masih lama, dan Dewa masih dalam perjalanan, menjemput pak Danu, dan Bibi akan bertemu dengan Beliau nanti, ucap Rafa.
Bibi pun mengangguk paham, lalu seorang Art membawa Bibi ke kamar tamu, sesuai perintah dari Rafa.
Mobil yang membawa pak Danu dan Dewa memasuki halaman mansion, saat Dewa membukakan pintu untuk pak Danu, pak Danu sedikit ragu untuk turun dari mobil, karena masih berpikir, kenapa malah di bawa ke rumah mewah ini, bukannya langsung pulang ke kota B tempat ia bersama dengan Atika, karena sudah merindukan putrinya itu.
" Silahkan pak, ucap Dewa membuyarkan lamunan pak Danu yang terlihat bingung.
"Bukannya kita akan pulang ke kota B?? tanya pak Danu keluar perlahan dari mobil.
" Bukankah bapak, ingin bertemu Nona Atika?? tanya Dewa langsung paham maksud pak Danu.
Pak Danu pun mengangguk, dan pandangannya melihat sekeling mansion yang begitu besar dan megah, hingga pak Danu semakin bingung dan enggan untuk masuk.
"Bapak akan bertemu dengan Nona Atika di mansion ini, tapi tidak sekarang karena Nona sedang tidak ada di mansion, dan tuan Rafa ingin membuat kejutan kecil untuk Nona Atika dengan kepulangan bapak yang sudah sembuh dan sehat, ucap Dewa yang membuat pak Danu paham.
Saat pak Danu dan Dewa masuk, Rafa langsung berdiri dari duduknya, berjalan mendekat pada pak Danu, lalu memberi salam, dan memeluk pak Danu haru, melihat pak Danu bisa berjalan dan bicara membuat Rafa turut bahagia bisa mewujutkan harapan Atika yang ingin melihat ayahnya sembuh.
" Selamat datang pak, dan selamat untuk kesembuhan bapak, ucap Rafa sopan.
"Bapaklah yang seharusnya berterima kasih pada tuan, karena sudah mau menolong dan memberi bantuan yang tidak bisa saya balas kelak, ucap pak Danu terharu sedih.
" Jangan di pikirkan soal itu pak, saya tidak minta apa pun, saya hanya minta restu bapak untuk saya dan Atika, dan izinkan saya membahagiakan Atika dan bapak, semua ini terjadi karena Atika yang tulus dan sangat berbakti pada ayahnya, dan saya sangat bangga pada Atika yang mati-matian berjuang untuk ayahnya, dan bapak pantas bersyukur punya putri setus Atika, ucap Rafa membuat pak Danu meneteskan air matanya.
__ADS_1
Bayangan, di saat Atika yang selalu berusaha memberi pak Danu makan, bekerja apa pun asal menghasilkan uang, masa depan yang terkorbankan, hinaan dan ejekan yang selalu di keluhkan Atika saat sudah pulang ke rumah, menceritakan bagai mana kejamnya orang-orang memperlakukannya di luar sana, tapi Atika tidak putus asa atau pun menyerah demi ayahnya yang sakit tak berdaya.
"Kau benar Nak, Atika begitu berkorban untuk bapak, dan terima kasih sudah membantu bapak dan Atika, setelah ini, bapak akan memberi Atika hari-hari yang bahagia, yang telah terampas cukup lama selama bapak sakit, ucap Pak Danu menangis pilu, sungguh putrinya berbudi luhur, batin pak Danu.
Waktu sudah menunjukkan pukul 6:30, persiapan yang cukup matang sudah selesai dengan menanti kedatangan Atika dan Felix.
Pak Danu dan Bibi Lana sudah di beritahukan oleh Rafa agar mengikuti rencana yang sudah di buat oleh Rafa dan Dewa.
Supir yang membawa mobil Felix dan Atika, mengulur waktu sedikit agar rencana mereka berjalan baik sesuai yang di katakan Rafa.
Atika terlihay jenuh di dalam mobil, karena mobil yang mereka tumpangi, tidak seperti biasanya dan sangat lambat menurut Atika, ingin menegur supir itu, Atika tak punya hak dan sadar siapa ia yang hanya orang luar, menurut Atika.
Felix tersenyum melihat Atika yang mulai gelisah, ia tahu Atika jenuh karena laju mobil yang cukup lambat.
Namun tak lama, mobil yang mereka tumpangi memasuki mansion, semua orang yang ada di dalam sudah bersiap dengan persiapan kejutan bagi Atika.
Felix turun dan di ikuti oleh Atika, namun saat melihat ke arah mansion, Atika mengeryit heran karena suasana mansion gelap dan terlihat sepi.
"Kenapa mansiob sangat gelap tante, dan ke mana semua orang?? tanya Atika yang berjalan sambil melihat keadaan mansion yang gelap itu.
" Mungkin ada padaman, dan mereka sedang berusaha menyalakan Ganset, ucap Felix biasa aja, dan terus berjalan.
Deg, deg, deg.
Jantung Atika serasa mau melompat dari tempatnya, melihat sosok yang begitu di rindukannya, berada di hadapannya saat ini.
Air mata yang sudah menetes, sesak di dada yang membuat nafas Atika tersengal, langkah kaki yang bergetar, Atika perlahan berjalan mendekati ayahnya yang menatapnya itens.
Pak Danu ingin sekali berlari memeluk putri kesayangannya itu, putri yang berjuang untuknya tanpa kenal lelah, dan tidak pernah menyerah demi dirinya, namun sesuai rencana pak Danu menahan sesak dan air matanya, melihat putrinya, yang terlihat berbeda dan sangat cantik, membuat pak Danu yakin bajwa Atika sangat di perlakukan baik oleh keluarga Rafa.
"Aa,aayah, ucap Atika saat menggapai wajah pak Danu, mengelus dari dahi hingga seluruh wajah pak Danu.
Pak Danu memejamkan matanya, menikmati sapuan lembut di wajahnya, membayangkan tangan mungil Atika sewaktu kecil selalu menempelkan di pipinya, dan ulusan lembut itu serasa menghantar pak Danu pada waktu Atika masih berusia satu tahun.
Pak Danu tak bisa lagi membendung air matanya, usapan lembut di wajahnya, membuat dadanya sesak, tangan itulah yang selalu berjuang ketika ia terpuruk salit tak berdaya, tangan itu yang menyuapinya makan, tangan itu, yang menghapus air matanya, dan tangan itu yang selalu menguatkannya.
__ADS_1
Atika yang sadar itu bukab halusinasinya atau pun mimpi, dengan merasakan cairan hangat yang menetes di jari tangannya, langsung memeluk erat pak Danu, dengan isak pilu, dan haru, "Ayah".
Pak Danu pun mengusap lembut punggung Arika, mencium pucuk kepala Atika dengan kasih sayang, dan merasakan hangatnya pelukan putri kebanggaanya itu.
Atika yang merasakan usapan tangan di punggungnya, dan kecupan hangat di kepalanya, merenggangkan pelukannya, melihat dalam ayahnya, yang sudah bergerak dan tidak kaku lagi.
" Aa,ayah, ucap Atika terbata seraya menyentuh tangan pak Danu dengan gemetar.
Pak Danu pun mengangguk, paham apa maksud Atika, yang menyentuh tangannya, lalu berkata..
"Ayah sudah sembuh Tika, ucap Pak Danu dengan tangisnya pecah.
Jedaaarrr.!!
Atika semakin gemetar saat mendengar suara ayahnya, yang sudah bisa bicara, menangis pilu meletakkan kepalanya di atas pangkuan ayahnya.
Rafa pun berjalan mengelus lembut kepala Atika, merasakan bagai mana perasaan Atika saat ini, yang tak dapat di ungkapkan dengan kata-kata, karena ini adalah hal yang selalu di impikan Atika, melihat ayahnya sembuh, seperti sedia kala.
Atika pun mendongak, saat merasakan usapan lembut itu melihat sang kekasih tersenyum hangat padanya, dan tanpa rasa enggan Atika pun berdiri memeluk Rafa erat, dengan tangis harunya.
"Terima kasih, telah melakukan ini untukku dan ayah, hiks, hiks, hiks, ucap Atika dalam dekapan Rafa.
" Suuttt,, sudah jangan menangis, dan berterima kasihlah pada Tuhan, yang masih menyanyangimu dan ayah, ucap Rafa menghapus air mata Atika.
Bibi Lana yang juga sudah dari tadi menangid dan menahan sesak, mendekati Atika dan mengusap lembut punggung Atika.
"Bibi bangga pada Atika yang tidak pernah lelah dan putus asa, dan kamu sudah mendapatkan jawaban dari doa-doamu sayang, ucap Bibi Lana membuat Atika menghambur dalam pelukan Bibi Lana, dan semua orang turut terharu, apa lagi Felix yang sudah menangis dalam pelukan suaminya, yang merasakan pernah dalam situasi berat seperti Atika.
Rafa yang sudah yakin dengan hatinya, menarik Atika berdiri di sampingnya, berhadapan langsung pada pak Danu yang menatap serius pada sepasang kekasih itu.
" Ayah, saya Rafa Aliando Widodo Pratama, izinkan dan restuilah saya membahagiakan putri kebanggaanmu ini, sebagai pendamping hidupku dan menjadi ibu dari anak-anakku dan membangun keluarga kecil kami, ucap Rafa lantang membuat Atika dan yang lainnya tegang, karena pak Danu masih diam dan menatap dalam Rafa melihat keseriusan dan ketulusan di mata Rafa, hingga detik kemudian pak Danu merentangkan tangan dan mengangguk cepat, memeluk Atika dan Rafa erat.
Dan semuanya pun bernafas lega, bahagia dan berucap syukur, atas segala kelancaran dan kejutan yang membuat Atika tidak akan melupakan momen bahagia ini.
Next
__ADS_1
Jangan lupa jejaknya ya Guys.
Salam Arthor.