
"Sampai kapan kamu akan menghindariku terus.!! Lili yang baru saja keluar dari rumah kostnya, kaget saat Rian menghadangnya di depan pintu.
Lili tak menjawab malah berbalik hendak masuk lagi ke dalam.
Namun Rian mencegah dengan menahan tubuh Lili.
" Lepas.!!! menepis tangan Rian, yang menarik tangannya.
"Tidak akan ku lepas, sebelum kita bicara.!! tetap bersikeras.
" Tak ada yang perlu di bicarakan, jadi silahkan pergi dari sini.!!
Rian yang sudah habis sabar, memaksa masuk, menarik Lili ke dalam lalu mengunci pintu dan memasukkan kunci ke saku celananya.
"Apa yang kau lakukan.!! tak terima dengan sikap Rian yang memaksa, apa lagi mengunci pintu rumah kostnya.
"Aku tak melakukan apa pun, hanya ingin bicara denganmu, dan meluruskan kesalah pahaman ini.
" Aku kan sudah bilang, tak ada yang perlu di bicarakan lagi.!! mulai tersulut emosi, Lili membentak Rian , dengan saling tatap di tempat mereka berdiri.
"Ada.!!! soal hubungan kita.!
" Aku tak tertarik membahas soal itu, dan lagi kita sudah berakhir, aku juga sudah bicara pada ayah dan ibu soal itu, jadi bersikaplah kita tak pernah saling kenal, ucapan lantang itu di utarakan Lili, namun hatinya sakit, bahkan tubuhnya bergetar, emosi dan menahan tangis campur aduk di rasakan Lili saat ini.
Rian yang mendengar perkataan Lili, mengepalkan tangannya, dadanya naik turun, tak terima dengan keputusan Lili yang seenaknya bersikap seolah Rian sangat bersalah, walau pun Rian akui ia turut merahasiakan identitas Rafa.
"Semudah itu kau mengatakannya?? mengatakan agar aku bersikap tidak pernah mengenalmu??
" Baik,,, aku akan bersikap seperti keinginanmu, asal kau mengatakan padaku saat ini, bahwa kau tak pernah mencintaiku.!!!
Deg
Perkataankakak. jadi dilema buat Lili, dadanya semakin sesak, air mata yang ia tahan dari tadi agar tidak tumpah, kini membanjiri wajahnya.
"Katakanlah,,, setelah itu aku akan pergi dan menjauh darimu, bahkan aku akan bersumpah saat ini juga tidak akan menganggumu selamanya.
Selamanya?? batin Lili bertanya, merasakan perkataan Rian seolah ia mau pergi jauh.
Lili yang menangis tertunduk, tak mampu bicara lagi, lidahnya keluh, ucapan Rafa membungkamnya.
" Aku artikan diammu itu pertanda kau memang tidak pernah mencintaiku, maka apa yang ku ucapkan tadi tidak akan berubah, dan dengar baik-baik.
"Aku Rian bersumpah mulai detik ini, tidak..
" Tidak.!!!! Lili menyela Rian karena tak sanggup mendengar yang akan di katakan Rian.
"Apa yang tidak.!! Rian tersenyum menyeringai, ia tahu Lili tak akan sanggup dengan itu, Rian sengaja melakukan itu, karena ia dan Lili saling mencinta, dan perasaan tak dapat di bohongi.
" Aku mencintaimu, di sela tangisnya Lili menjawab dengan Lirih.
Rian pun tersenyum, lalu mendekap Lili dalam pelukannya erat.
__ADS_1
Tangis Lili pun semakin pecah, dalam dekapan Rian.
"Jangan menghindariku lagi sayang,, aku ngak sanggup, dan maaf kalau kamu kecewa padaku.
Lili mengangguk, tak di pungkiri Lili juga tersiksa dengan situasi yang membuat hubungan mereka renggang.
Sementara di tempat dan keadaan berbeda, Celi sedang bermain dengan beberapa anak di atas lima tahun.
Felix yang mengajak Celi ke Panti Asuhan begitu senang, dan ia juga prihatin melihat anak-anak Panti itu, yang masih kecil sudah tak mrmiliki keluarga dan orang tua.
Rafa yang fustasi, sejak tadi menghubungi ponsel Celi, tak ada satu pun panggilannya terjawab, geram dan panik, membuat Rafa melempar berkas yang ada di depannya.
Celi yang melupakan ponselnya tertinggal di mobil, tidak menyadari ada seorang pria yang sudah kebakan jenggot di kantornya, karena sejak pagi pria itu belum mendengar suara wanita kesayangannya.
Celi melihat seorang anak perempuan yang tidak bergabung bermain dengan yang lain, hingga Celi berpikir anak perempuan itu sedikit aneh, padahal dari tadi beberapa temannya mengajak untuk bermain, namun anak itu terus menolak dan hanya diam dan duduk sendiri.
"Adik-adik kakak yang manis, kalian bermain lagi saja ya, kakak pergi sebentar, berniat untuk mendekati anak perempuan itu.
" Baiklah kak..! sahut anak-anak serempak.
Celi pun berjalan ke arah anak perempuan itu, dan mencoba mendekati.
"Hai cantik,,, Celi tersenyum menyapa selembut mungkin.
Anak perempuan itu pun menoleh pada Celi yang duduk di sebelahnya, sedetik kemudian memalingkan wajahnya, menatap ke depan, seolah tak perduli dengan kehadiran Celi.
Celi yang melihat sikap anak perempuan itu, merasa anak itu seperti tak ingin di ajak bicara, namun Celi tak menyerah, menurutnya, anak seusianya, harusnya lebih cenderung untuk bermain, tapi tidak dengan anak ini.
"Kenapa tak bermain bersama hm?? Celi mengelus rambut anak itu lembut, mencoba agar anak perempuan itu agar lebih dekat padanya seperti yang lain, walau baru pertama kali, anak yang lain langsung terlihat akrab dan senang.
Anak perempuan itu menatap Celi lagi, melihat wajah Celi tersenyum hangat padanya, setelahnya menunduk sambil memainkan kuku jarinya.
"Nn,,Nana.! namaku " Nana", anak perempuan itu pun menjawab dengan terbata dan matanya sudah berkaca-kaca.
"Nama yang bagus sayang"
"Namun tidak sebagus nasibku.! Nana bicara seperti orang dewasa, dan Celi sempat kaget, namun ia hanya tersenyum, dan berharap anak perempuan itu cerita padanya.
" Kenapa bicara begitu?? apa ada yang menyakitimu??
Nana menggeleng, tanda tak ada yang menyakitinya di Panti itu.
Namun hatinya yang sakit, karena orang yang di sayanginya.
"Lalu..?? apa yang membuat Nana bersedih sayang.?
" Ayo cerita sama kakak,, siapa tahu kakak bisa menghibur Nana.
"Apa Nana boleh bertanya kak?? menatap Celi dalam.
" Boleh sayang,, apa pun itu, Nana boleh tanya sama kakak??
__ADS_1
"Apa kakak, punya orang tua??
"Punya,,, kenapa bertanya tentang itu sayang, apa kakak boleh tahu??
Nana pun tertunduk, terlihat ia menangis, saat tetesan air matanya jatuh mengenai punggung tangannya.
" Kamu menangis sayang,,, maaf kalau kakak bertanya banyak padamu, Celi membawa Nana dalam pelukannya, dan perasaannya semakin iba pada Nana.
"Katakan apa yang sebenarnya terjadi sayang, kalau kakak bisa bantu Nana, kakak akan bantu, memegang ke dua bahu Nana, menghapus air mata Nana, dan menatapnya penuh kasih.
" Apa kakak mau mendengar cerita Nana??
Celi pun mengangguk, mengelus rambut Nana, memberi kasih sayang lewat sentuhannya.
"Waktu Nana umur lima tahun, Nana orang yang paling bahagia, setelah Nana, menyadari bahwa Nana sangat di sayang dalam keluarga Nana yang baru.
Waktu dulu, Nana di adopsi mama Lara dan papa Dino, di umur satu tahun.
Nana di adopsi dari panti yang ada di kota S.
Nana tahu itu saat Nana di anggap hanya anak pancingan, agar mama Lara dan papa Dino cepat mendapat keturunan hasil darah dagingnya.
Di tahun ke empat Nana masih, merasakan kasih sayang mama Lara dan papa Dino. Namun dua bulan kemudian mimpi Nana seperti secara paksa di renggut, anak yang ada di dalam kandungan mama Lara.
Mama Lara dan papa Dino, tak lagi perhatian pada Nana, bahkan Nana di perlakukan seperti pembantu, dan perlahan hari demi hari Nana lalui, hanya kekasaran dan makian dari mama Lara dan papa Dino.
Setiap Nana bangun telat, atau tak sengaja memecahkan barang, lupa mengerjakan apa yang di perintahkan, Nana tak luput dari kekejaman mama Lara yang mengurung Nana di gudang dan tak di beri makan selama tiga hari, dan begitulah seterusnya yang Nana lalui.
Setelah mama Lara dua bulan lagi akan melahirkan, Nana di panggil untuk mengatakan sesuatu, di mana, mama Lara dan papa Dino, tak lagi menginginkan Nana berada di antara mereka, dan itu sangat sakit, ketika mama Lara mengatakan, mama akan punya anak dari hasil darah dagingnya, dan Nana harus secepatnya pergi dari ruamah itu, karena mereka tak ingin anak mereka memiliki saudara anak darah dagingnya yang berasal dari panti asuhan, bahkan mengatakan Nana anak dari hasil yang haram.
Meski sakit Nana rasakan atas perkataan mama Lara, namun Nana tetap memohon agar mereka tidak membuang Nana.
Nana rela jadi babu untuk mama Lara dan papa Dino, asal mereka tidak membuang Nana.
Hingga suatu malam, mama Lara dan papa Dino, menyeret Nana masuk ke dalam mobil mereka, dan membawa Nana dan meninggalkan Nana di jalan.
Nana tidak tahu itu di mana, Nana hanya menangis dan tak tahu arah, hingga Nana duduk di depan pusat perbelanjaan, dan seorang satpam mengusir Nana dari sana, namun ketika satpam itu, menarik tangan Nana, bertepatan ibu panti (Felix) melihat kejadian itu, meminta satpam agar melepaskan tangannya dariku.
Nana tidak mengenal ibu panti, namun saat ibu panti melihat saya yang menahan lapar, membawa saya untuk makan.
Saat di tanya di mana orang tuaku, Nana mengatakan sudah tak ada, karena memang demikian, ibu panti pun akhirnya memutuskan membawa Nana ke rumahnya, dan esok harinya Nana di bawa ke panti ini.
Celi yang mendengarkan cerita Nana berkali-kali menghapus air matanya, sungguh hatinya pedih, melihat Nana mengalami hal yang seharusnya tidak ia jalani dalam usia yang masih delapan tahun.
"Jangan sedih lagi, dan air mata ini tak pantas untuk mereka sayang, ucap Celi sembari menghapus air mata Nana.
" Mulai sekarang kakak adalah kakak perempuanmu, dan kita akan jadi teman yang baik, dan kakak akan sering mengunjungimu, jadi jangan sedih lagi ya.
Nana pun tersenyum bahagia, karena Celi bisa membuatnya nyaman, dan memeluk Celi erat.
Next
__ADS_1
Jejaknya jangan lupa ya Guys, like, Vote, love, komen, OK
Salam Arthor.