
Hampir jam makan siang, Rafa masih setia barkutat di depan laptopnya.
Namun sesaat kemudian, konsentrasinya terganggu, karena keributan dari luar ruangannya.
Samar-samar Rafa mendengar suara seorang wanita yang berkata kasar dan berteriak cukup kencang, hingga membuat Rafa geram, dan mencoba menebak siapa gerangan wanita yang sudah berani membuat keributan di kantornya.
Saat Rafa ingin berteriak memanggil Dewa, pintu ruangannya terbuka dengan kasar dan hal hasil ia melihat seorang wanita jatuh bersamaan dengan Dewa, yang berusaha menghalangi wanita itu untuk masuk.
Braaakkk
Dewa yang sadar wanita itu berada di atasnya, langsung mendorong kasar wanita itu hingga terbalik ke sampin Dewa.
Dewa pun langsung berdiri, dan melihat Rafa yang sudah melotot menatap geram.
"Maaf bos, saya sudah melarang Nona ini untuk masuk, tapi Nona ini terlalu keras kepala, ucap Dewa yang sudah takut.
" Hei.!! Kau bilang aku keras kepala, aku sudah baik-baik mengatakannya padamu, kalau aku ingin bertemu tuan Rafa, tapi tetap saja kau melarangku.!! ucap wanita itu lantang.
"Sudah pergilah Dewa, dan sekali lagi kalau dia datang kau jangan menghalanginya, ucap Rafa tenang.
Dewa pun melotot heran dengan ucapan bosnya itu, biasanya dia selalu dapat perintah agar tak mengizinkan satu wanita pun masuk ke ruangan bosnya itu, tapi kenapa wanita malah di berikan izin khusus dari bosnya itu, dan Dewa hanya bisa mengunggkapkan dalam hatinya.
" Kau dengar itu, pergi sana.! ucap wanita itu kesal.
Dewa pun tak berani melawan perkataan gadis itu, karena sepertinya gadis itu wanita spesial bagi bosnya, pikir Dewa, dan berlalu pergi, keluar dari ruangan bosnya itu.
"Sudah.! jangan kesal lagi, bukankah kau datang karena merindukanku, ucap Rafa berjalan ke arah sofa dan mengajak gadis itu duduk bersamanya.
" Ah iya, aku sangat merindukanmu kak, ucap gadis itu memeluk Rafa erat.
"Masih saja manja, gimana kuliahmu?? tanya Rafa mencubit pipi cubby gadis itu gemas.
" Jangan di cubit kak, nanti tambah, tembeb, dan ngak akan ada pria tampan yang tertarik padaku kalau pipiku tembeb, ucap gadis itu cemberut.
Rafa pun terkekeh, mendengar ucapan polos gadis itu, memang sepupunya itu selalu bisa membuat perasaan Rafa terhibur dengan kepolosannya.
Vani gadis polos dan punya sifat yang natural, putri bibi Feronsia. Rafa yang tidak memiliki adik, begitu menyanyangi Vani, hingga begitu manja pada Rafa.
"Kapan bibi akan kembali dari rumah eyang kamu, tanya Rafa yang sudah lama tidak bertemu dengan bibinya itu.
__ADS_1
" Vani juga belum dapat kabar dari mamah, kak.
"Jadi apa alasan kamu nemuin kakak, ke kantor pake teriak-teriak segala lagi, ucap Rafa mengacak rambut Vani gemas.
" Asisten kakak saja yang ada stresnya, Vani baik-baik permisi, malah di tarik-tarik ngak jelas, ucap Vani mencebikkan bibir kesal.
"Dia hanya menjalankan apa yang kakak perintahkan, dan jangan mengatainya stres, ntar kamu jatuh cinta loh sama asisten kakak itu, apa lagi dia itu masih jomblo, ucap Rafa menggoda Vani.
"Iih, ngak banget deh, Vani ngak tertarik sama pria tua, seperti asisten kakak itu.
" Kita lihat saja nanti, sahut Rafa tersenyum.
"Ah kakak, jangan menggodaku terus, aku ke sini mau ajak kakak makan siang, karena akau kan menghabiskan uang kakak nanti, ucap Vani dengan tersenyum jahil.
" Ohh, dengan senang hati, dan persiapkan perutmu untuk itu Nona.! ucap Rafa terkekeh.
Rafa dan Vani pun keluar dari ruangannya, mereka berjalan dengan Vani bergelayut manja di lengan Rafa, dan Rafa hanya tersenyum melihat sikap manja Vani, namun para kariawan yang melihat itu, mengira wanita itu adalah kekasih sang bos, hingga mereka yang tadi sempat kesal dengan wanita itu, jadi merasa takut karena sikap mereka kurang baik terhadap Vani.
Rafa dan Vani pun memasuki restauran mewah yang ada di kota itu, dan Vani sangat senang karena Rafa membawanya ke restauran yang ia suka.
"Ayo pesan apa yang kamu mau, ucap Rafa sambil mengacak rambut Vani gemas, karena Vani yang tampak antusias ingin makan makanan kesukaanya.
" Dengan senang hati Nona, ucap Rafa menarik hidung Vani dan mengayun ke kanan dan ke kiri.
Vani tak menghiraukan Rafa yang selalu gemas padanya, ia pun memesan beberapa menu makanan kesukaannya, dan juga jus dengan tiga rasa yang berbeda.
Saat makanan mereka di antarkan para pelayan, Rafa hanya tersenyum melihat banyaknya makanan yang di pesan Vani.
"Wah, sepertinya kamu akan menghabiskan uang kakak beneran ini, ucap Rafa yang di buat-buat terkejut, saat makanan sudah tersaji rapi di meja mereka.
Vani hanya tersenyum menanggapi ucapan Rafa, ia tahu Rafa hanya menggodanya saja.
Selesai menyantap makan siangnya, Vani yang belum puas pun, merengek meminta agar mereka belanja ke Mall dan tentunya Rafa hanya bisa menuruti kemauan Vani, baginya menyenangkan Vani adalah hal yang jarang Rafa rasakan, karena Vani sudah seperti adik perempuannya.
Tiba di Mall, Vani pun langsung menarik Rafa ke salah satu toko elektronik, dan ia meminta Rafa memnelikannya Laptop keluaran terbaru.
"Kak Rafa, Vani mau Laptop itu, ucap Vani manja, dan tidak ketinggalan wajah imutnya itu, yang membuat Rafa selalu gemas dan tak bisa menolak Vani.
Rafa pun meminta pelayan toko itu, untuk membungkus Laptop yang di tunjuk Vani dan mengirimnya ke alamat yang di berikan Rafa.
__ADS_1
Setelah membeli Laptop, Vani pun belanja beberapa gaun, juga yang lainnya, dan yang terakhir Rafa membelikan Vani perhiasan mahal, sebuah kalung yang berinisialkan nama Vani, dan tentunya Vani sangat senang.
Setelah puas berbelanja, Vani bukanya mau pulang, malah mengajak Rafa nonton film.
Dan lagi dan lagi Rafa menuruti permintaan Vani, hingga Rafa melupakan janji makan malam yang sudah di rencanakan sang momy.
Rafa pun memesan dua tiket nonton, dan Vani jangan di tanya lagi, dia sudah memborong beberapa cemilan dan minuman, dan Rafa hanya menggeleng melihat itu, dan ia senang melihat Vani yang sangat menikmati kebersamaan mereka, bahkan Vani tak mengeluh lelah, karena begitu senang dan bersemangat.
Sementara di mansion, Felix sudah dari tadi melihat keluar, karena Rafa tak kunjung pulang.
" Jangan sampai anak itu telat lagi, apa lagi sampai tak pulang, kalau itu terjadi?? oh Tuhan aku akan menahan malu lagi, ucap Felix yang membayangkan waktu yang lalu karena malu karena Rafa selalu menolak dan tak muncul.
"Kelihatannya kita akan menanggung malu lagi deh mom, ucapa Aliando yang sudah bisa menebak, bila Rafa tidak akan pulang, melihat jam sudah pukul 7:00.
Felix yang mendengar ucapan suaminya itu, hanya menghela nafas kasar, ia berpikir usahanya tak pernah berhasil untuk menjodohkan Rafa pada gadis pilihannya, dan sepertinya ia lebih baik menyerah dan berhenti menjodohkan putranya itu.
Felix pun mencoba menghubungi Rafa, namun tak ada jawaban sama sekali.
Rafa yang tadi menonaktifkan ponselnya sebelum masuk ke bioskop, karena tak ingin nantinya dering ponselnya mengaggu kenyamanan orang lain.
Felix yang sudah pasrah, dan tak lagi berharap kehadiran putranya itu, karena itu tidak akan terjadi.
Dengan berat hati ia pun bicara pada keluarga teman bisnis suaminya itu, dengan perasaan canggung, karena ia tahu mereka akan kecewa.
" Maaf, putraku katanya belum bisa pulang karena masih ada rapat, dan tak bisa ia tinggalkan, ucap Felix berbohong.
Sebenarnya teman bisnis suaminya itu, tidak terlalu masalah dengan alasan Felix, dan mereka tahu kalau itu hanya alasan belaka, namun anak gadis mereka, tak terima, karena seperti di permainkan, apa lagi gadis itu sudah dandan cantik, agar Rafa tertarik padanya, namun penampilannya itu sia-sia.
"Tante ini bagai mana sih, apa kalian sengaja ya mempermainkan kami.!! ucap gadis itu sewot.
" Bukan begitu sayang, tapi memang putra tante, sedang ada rapat katanya, dan ia minta maaf karena tak bisa ikut makan malam bersama kita, ucap Felix tersenyum paksa, menahan malu, akibat ulah putranya.
"Kalau begitu, tante dan om saja yang makan, kami tidak akan menikmati makanan yang tidak bertujuan jelas, ucap gadis itu dan mengajak papa dan mamanya pergi dari rumah Felix.
Felix dan Aliando hanya bisa pasrah melihat kepergian rekan bisnisnya itu, dan tak berniat menghalangi kepergian mereka karena sudah sangat malu.
Next
Jangan lupa jejaknya ya Guys.
__ADS_1
Salam Arthor.