
Sudah dua hari Rafa di negara xx, dan kesibukannya, tidak punya waktu untuk melepas rindu pada Celi meski lewat ponselnya.
Seperti saat ini, Rafa mengadakan rapat dadakan karena kemarin ia memeriksa semua laporan setiap divisi, Rafa menemukan kejanggalan, dan tentunya itu membuat Rafa seolah di remehkan, karena sudah berani bermain api dengannya.
Namun di tempat lain Celi sedang bertemu dengan seseorang, yang membuat ketenangannya terganggu, bahkan tidurnya tidak nyenyak, karena selalu terbayang sekelebat wajah seseorang itu.
F**lash back on**
"Lepaskan.!! Celi berontak saat seseorang menariknya sedikit kasar, saat keluar dari toilet.
Selelah melihat dan menyadari siapa orang itu, Celi pun bungkam dan tertegun, seolah ia sedang bermimpi saat itu
Mereka pun saling tatap, tatapan kerinduan dari ke duanya, setelahnya Celi pun menundukkan kepalanya tak sanggup menatap mata laki-laki itu, ia ingat tatapan itu tatapan di mana pertama kali mereka bertemu.
Laki-laki itu yang sudah begitu merindukan wanita yang di hadapannya saat ini, tak dapat membendung lagi rasa itu, hingga spontan langsung memeluk Celi, dan saat mereka terbuai dalam pelukan itu, Celi tersadar bahwa itu adalah salah, karena ia sudah memiliki Rafa, pria yang begitu mencintainya.
Celi pun melepaskan pelukan itu, secara paksa, dan mendorong laki-laki itu agar sedikir menjauh dari tubuhnya, hingga laki-laki itu paham akan sikap Celi yang memikirkan sesuatu.
" kenapa?? dua tahun kita terpisah, apa kau tak merindukanku?? tanya pria itu pada Celi yang masih lekat menatapnya.
Celi pun mendongak, menatap netra pria di hadapannya itu, bahkan dadanya sesak, air matanya sudah meleleh, karena merasa seolah ia di permainkan takdir.
"Kita sudah tidak ada hubungan apa pun lagi, jadi tolong hargai itu.! ucap Celi dengan bibir bergetar, dan isak tangisnya.
Pria itu pun tersenyum sinis, mendengar perkataan Celi, menurutnya begitu mudahnya Celi melontarkan kalimat yang menyakiti hati pria itu.
"Ku kira selama mengenalmu, cinta dan hatimu tulus, dan kau akan setia menungguku, bahkan aku yakin padamu, kau akan selalu percaya dan yakin kalau aku masih hidup, tapi.. ternyata aku salah, ucap laki-laki itu, yang terlihat putus asa dengan perkataan Celi.
" Maaf,
Aku harus pergi, kekasihku menungguku, ucap Celi, sengaja mengatakan itu agar, laki-laki itu tidak menghalangi jalannya.
Saat Celi mulai berjalan hendak meninggalkan laki-laki itu, tangannya di cekal, dan Celi pun berhenti melangkah.
"Aku tidak akan menyerah sampai kapan pun, karena kau adalah "milikku", dan aku akan mengambil apa yang memang sudah menjadi milikku sejak lama, ucap pria itu dengan mencengram lengan Celi erat.
Celi yang sudah tak bisa mengatakan apa pun, dan ia juga takut karna terlalu lama, Rafa akan menyusulnya dan melihat ia bersama seorang pria, hingga Celi menepis kasar tangan pria itu, dan pergi meninggalkan laki-laki itu dengan kegeramannya.
__ADS_1
Laki-laki yang baru Celi temui adalah pria yang pernah mengisi hati Celi, yang bernama Refan.
Mereka dulunya sangat mencintai satu sama lain, hubungan yang di jalani semenjak masa SMA, setelah lulus pun, mereka juga masih lanjut berhubungan bahkan, kadar cinta mereka semakin besar.
Hingga satu kejadian naas, menimpa Refan kala itu, ketika melakukan perjalanan bisnis ke negara x, pesawat yang di tumpangi Refan, di kabarkan hilang kontak, dan jatuh ke jurang yang cukup terjal.
Berita pun menyeruak hingga ke telinga Celi, yang mengatakan kalau semua penumpang tidak ada yang selamat, dan hangus terbakar.
Celi pun shock, mendengar berita itu, bahkan ia samapi di rawat karena mengalami guncangan hebat.
Seminggu setelah kejadian itu, Refan yang di kabarkan sudah meninggal dalam puing-puing pesawat yang hangus terbakar, ternyata masih hidup, namun keadaanya cukup parah, di tambah kornea mata yang rusak, hingga Refan mengalami kebutaan.
Refan yang tak ingin Celi tahu keadaannya, meminta pada keluarganya untuk merahasiakan keadaannya, hingga ia pulih dan mendapatkan donor mata.
Saat itu Celi masih meyakini diri dan hatinya, bahwa Refan masih hidup, cinta yang begitu besar pada Refan tak membuat Celi sedikit pun ragu dengan keyakinannya, namun, selama dua tahun ia meyakinkan itu, namun Celi tak kunjung mendapat jawaban dari keyakinannya.
Hingga ia memutuskan meninggalkan kemewahan dan hidup sederhana, menghilangkan segala beban dan mencoba melupakan Refan perlahan.
Namun nasib berkata lain, di saat Celi sudah bisa melupakan Refan, dan Rafa yang hadir mengisi kekosongan hatinya, kenyataannya masih hidup dan hadir di saat hatinya sudah milik Rafa.
flash back of
Celi turun dari mobilnya, ia menatap bangunan tinggi itu dengan helaan nafas beratnya.
Celi menemui Refan di apartemennya, dan semoga apa yang menjadi pertanyaannya selama ini akan terjawab batin Celi, seraya menaiki lift menuju lantai 24 itu.
Setelah dua kali Celi menekan bell, pintu apartemen itu pun terbuka dan menampilkan sosok yang sebenarnya amat ia rindukan selama ini, namun situasinya sudah berbeda saat ini.
Refan pun tersenyum, melihat Celi yang mau datang menemuinya, lalu ia pun mengajak Celi masuk.
Celi berjalan masuk dan Refan menyuruh Celi untuk duduk di sofa, dan ia pergi mengambil minuman untuk mereka.
"Terima kasih, ucap Refan meletakkan minuman itu di meja, dan duduk di sofa sebelah Celi.
Celi hanya tersenyum singkat, membalas ucapan Refan, karena ia masih canggung dan jujur dadanya berdebar, bahkan tangannya dingin, seperti sedang menjalani interviuw.
"Aku ke sini hanya ingin menjelaskan tentang keadaan kita, dan aku harap kamu bisa mengerti dan paham posisiku saat ini, ucap Celi yang tak ingin bertele-tele.
__ADS_1
Refan hanya diam mendengar Celi, dan menatap dalam mata Celi, seolah tak terima dengan ucapan Celi.
"Tidakkah kau ingin tahu keadaanku dulu, baru membicarakan hal lain?? ucap Refan yang terlihat kesal.
" Aku tidak banyak waktu, dan..
"Apa kamu sedang di awasi saat ini.?? ucap Refan langsung mencela perkataan Celi yang seolah tahu maksud perkataan Celi.
Celi pun diam, dan mencoba tenang agar ia tidak terbawa suasana, dan ia sudah sejak tadi menahan sesak dan air matanya agar tidak tumpah.
"Apa kebersamaan kita selama ini, hanya kau anggap permainan dan angin yang berlalu begitu?? ucap Refan yang sudah tidak tahan dengan sikap dingin Celi.
"Permainan apa lagi yang akan kamu bicarakan padaku.!! ucap Celi yang juga sudah tidak tahan dan meninggikan sedikit nada suaranya.
" Dua tahun aku meyakinkan diri dan hatiku, selama itu aku menutup diri dari siapa pun bahkan pada momy dan dadyku, tapi kenapa sekarang kau baru muncul di saat aku sudah akan melupakannya, dan kenapa kalau memang kau masih hidup, tak ada kabar yang membuat aku untuk bertahan, kenapa?? kenapa.!!! Hiks, hiks runtuh sudah pertahanan Celi, ari mata yang ia tahan sejak tadi akhirnya tumpah juga, sesak yang menderanya dalam dua haru ini terluapkan sudah.
Refan yang mendengar ucapan Celi pun merasakan sakit di dadanya, sungguh bukan ini yang ia harapkan saat bertemu cinta pertamanya itu, tapi ia tak ingin egois, karena Refan sendiri yang merahasiakan keberadaannya selama dua tahun belakangan ini, dan ia akan menjelaskan semuanya sekarang agar Celi tidak semakin membencinya, dan Refan masih berharap Celi kembali padanya.
"Maaf,, ucap Refan lirih, ia pun mendekap Celi yang menangis terisak, hatinya menghangat karena Celi tak menepis pelukannya, ia merasakan pelukan itu, pelukan yang selalu menghangatkan hatinya dulu.
" Maaf, telah merahasiakannya darimu, aku hanya tak ingin kamu meninggalkanku, saat melihat keadaanku yang memprihatinkan.
"Aku yang meminta keluargaku merahasiakannya darimu, hingga aku bisa bangkit lagi dan bisa melihatmu, ucap Refan menagis dan memeluk Celi semakin erat, ia tak sanggup membayangkan bila berterus terang kala itu, Celi akan meninggalkannya, di tambah lagi matanya yang buta saat itu, Refan berpikir Celi tidak akan mau berhubungan lagi dengan pria buta seperti dirinya, hingga bertekad selama belum mendapatkan donor mata ia tidak akan memunculkan dirinya di hadapan Celi.
Tangis Celi pun semakin pecah dalam dekapan Refan, ia merasa bersalah karena dengan mudahnya menggantikan Refan di hatinya, apa lagi setelah mendengar cerita Refan dengan keadaannya yang cukup memprihatinkan, Celi jadi semakin frustasi, memikirkan keadaan saat ini.
Jujur, Celi masih mencintai Refan, pria pertama yang memberinya cinta, namun keadaan saat ini, tidak lagi seperti sedia kala, Celi bahkan sudah mencintai Rafa, yang sudah mengisi kekosongan hatinya, hingga Celi merasa di antara dua pilihan yang sangat sulit.
Apa yang harus ku lakukan??
Siapa yang akan ku pilih??
Keduanya sangat berarti, aku dilema "antara kau dan dia" tak punya celah untuk ku sakiti, aku di antara pilihan sulit, dan apakah aku sanggup menyakiti hati yang begitu tulus dari kalian berdua?? batin Celi menjerit pilu, masih dalam dekapan Refan.
Next
Jangan lupa jejaknya ya Guys.
__ADS_1
Salam Arthor