
Dalam seminggu, tiga kali Celi mengunjungi Panti Asuhan.
Celi yang semakin yakin dengan Nana, bahwa yang di alaminya bersama keluarga barunya dulu, benar adanya.
Terlihat banyak perubahan dari Nana, kecerian dan kedekatannya bersama anak yang lain, menunjukkan bahwa Nana sudah mulai melupakan kejadian yang melukai mental dan perasaan gadis kecil itu.
Celi pun mencobai Nana, dengan membuktikan bahwa ia tidak cerita bohong kala itu.
Celi meninggalkan jam tangan mahalnya di kamar Nana.
Dan selama tiga hari, Celi sengaja tidak datang ke Panti Asuhan.
Celi ingin melihat kejujuran Nana, bila Nana jujur maka Celi yakin untuk bicara pada dady dan momy nya.
Celi datang berkunjung ke Panti, setelah tiga hari berlalu, semenjak ia meninggalkan jam tangannya di kamar Nana.
Saat anak-anak Panti, melihat kedatangan Celi, mereka pun sangat senang, terutama Nana, yang sudah begitu rindu.
Ketika Celi menatap Nana, Nana terlihat murung, dan hanya tersenyum sekilas saat Celi tiba di Panti.
"Kenapa..? apa tak rindu pada kakak? Celi nendekati Nana, bersikap seperti biasanya, agar Nana tak curiga Celi sengaja meninggalkan jam tangannya.
Nana pun menatap Celi dengan tatapan nanar, terlihat raut kecewa di wajah Nana, tak menjawab Celi namun ia malah tertunduk.
Celi pun merasa aneh dengan sikap Nana, terlihat sedih, namun Celi mencoba bertanya lagi.
" Nana,,, apa kamu marah sama kakak??
Nana tak menjawab,, ia menatap Celi dalam, lalu merogoh saku celana pendeknya, mengambil sesuatu dan memberikan pada Celi, dengan memegang telapak tangan Celi, meletakkan benda yang ada di tangan Nana.
"Aku tak tahu kakak melupakannya, atau sengaja meninggalkannya di kamarku, ucap Nana dengan mata berkaca-kaca.
Setelah memberikan jam tangan itu, Nana pun pergi dengan tangisnya.
Nana merasa sakit hati, menurutnya Celi tidak percaya padanya, hingga ia kembali kecewa pada orang yang sudah ia sayang.
Celi tertegun, mendengar ucapan Nana, ia merasa bersalah dan menyesal melakukan itu pada Nana.
Terlihat jelas tatapan Nana, yang begitu kecewa dan sedih, Celi yang sudah menyadari Nana berlari semakin jauh, mengejar Nana, yang menuju kamarnya.
Saat Celi, ingin membuka pintu kamar Nana, ternyata terkunci dari dalam, Celi pun semakin menyesal, namun mencoba mengetuk pintu itu, dan ia akan bicara yang sejujurnya pada Nana.
" Tok,,tok,,tok..
"Nana sayang,,, apa kakak boleh masuk??
Tak ada jawaban,, dan Celi pun semakin merasa bersalah, apa lagi dari balik pintu, Celi mendengar isak tangis Nana.
__ADS_1
" Nana,,
"Buka pintunya sayang,, kakak akan jelaskan, kakak tahu Nana kecewa dan sedih, tapi kakak punya alasan untuk itu.
" Ayo buka pintunya sayang..
Felix yang baru tiba pun, melihat Celi sedang mengedor pintu kamar Nana, berjalan ke arah Celi.
"Celi.! Kamu disini?? Felix bicara tepat di belakang Celi.
" Eh,, tante.!
"Ada apa dengan Nana?? Felix bertanya.
" Nanti aku akan cerita ke tante, dan mungkin kalau tante yang meminta Nana untuk membuka pintu, dia akan membuka, Nana marah pada Celi tante.
Felix tak banyak bertanya, dan mencoba mengetuk pintu kamar Nana.
"Tok,,tok,,
" Nana,,, ini Bunda,, ayo buka pintunya sayang, Felix bicara selembut mungkin agar Nana mau membuka pintu itu.
Nana yang mendengar suara Felix pun, semakin menangis.
Sosok lembut Felix begitu di damba anak Panti, hingga mereka tak dapat mengabaikan apa pun yang di katakan Bunda Panti itu.
Celi yang melihat Nana, langsung memeluk Nana, karena rasa bersalah telah membuat Nana sedih, dan tersinggung.
"Maaf sayang,, kakak tidak bermaksud melukai hatimu, memeluk erat Nana, dan mengecup kepala Nana berkali-kali.
Nana hanya menangis dalam pelukan Celi, namun ia tak bisa menaruh benci pada Celi, karena mungkin ada alasan, dan tentu Nana ingin mengetahui alasan itu.
" Ayo kita ke ruang kerja Bunda, kita bicara di sana, Felix berkata, sembari mengelus rambut Nana lembut.
Nana dan Celi pun mengikuti langkah Felix dari belakang, mereka berjalan masih merangkul Nana erat di sampingnya.
Felix duduk berhadapan dengan Celi dan Nana yang duduk di sofa yang sama.
"Nana sayang,, sebelumnya kakak minta maaf sama Nana.
" Kakak, sudah buat Nana sedih dan kecewa.
"Seperti yang kakak katakan tadi, kakak punya alasan tentang itu, dan kakak akan jelaskan sekarang ke Nana.
" Kamu tahu kan sayang,,, dimana pun, dan bersama siapa pun kita harus bisa berlaku jujur.
"Kejujuran itu,, adalah hal yang membuktikan seseorang agar di percaya tanpa embel-embel curiga, kakak melakukan itu, karena kakak menyayangi Nana.
__ADS_1
" Kakak tahu kamu orang yang baik dan jujur, tapi Nana pernah dengar kan, kita harus membuktikan kejujuran itu, agar membuat kita yakin dan percaya.
"Kakak tidak punya pikiran buruk pada Nana, kakak hanya ingin adik kakak ini, pantas untuk di percaya dan di sayang, agar orang-orang di luar sana tidak memandang kita hanya dari tampilan luarnya saja, dan memandang sebelah mata.
" Ada banyak orang berpenampilan yang begitu luar biasa, tapi punya pikiran dan sikap buruk, ada orang yang terlihat biasa tapi punya akhlak dan sikap yang baik dan jujur.
"Namun realitanya, orang-orang menilai, bila melihat seseorang berpenampilan luar biasa, sudah bisa menjamin sikap dan akhlaknya, tapi kenyataan hanya sebuah topeng yang menyimpan sikap-sikap buruk dan etikanya.
" Sekarang Nana paham yang kakak maksud sayang??
Nana hanya mengangguk tanda ia paham, dan memeluk Celi dengan tangis haru.
Celi dan Felix pun tersenyum, karena Nana mudah di beri nasehat dan arahan, hingga menyimpulkan Nana, anak yang tulus dan tidak pembangkang.
"Suatu saat Nana akan menghadapi hal demikian, karena hidup, tidak dapat kita ramal bagai mana ke depannya, dan di luar sana kita tidak tahu siapa teman siapa lawan, siapa yang tulus dan tidak, ucap Felix menimpali, menatap Nana dengan senyum hangat.
Di tempat berbeda, Lara dan Dino, bertengkar. Karena pihak Panti Asuhan tempat Nana berasal dan di adopsi Lara dan Dino, datang mengunjungi Nana, karena mendapat informasi bahwa Nana di terlantarkan dan di buang keluarga yang mengadopsi Nana dulu.
Namun Lara dan Dino berdalih, mengatakan kalau Nana lari dari rumah, dengan alasan Nana mencuri uang Lara, dan mereka menghukum Nana.
Tak juga kebohongan itu yang di katakan sepasang suami istri itu, mereka juga mengatakan kalau Nana, anak yang nakal, pembangkang dan susah di atur, bahkan sering bicara kasar.
Pihak panti Asuhan jelas tidak percaya, karena sejak umur tiga bulan Nana di besarkan di Panti, baik buruknya Nana jelas mereka tidak meragukan Nana.
Hingga pihak Panti memberi waktu pada Lara dan Dino, bila tidak berusaha mencari Nana maka mereka akan melanjutkan pada pihak yang berwajib, tentu hal itu membuat Lara dan Dino geram pada Nana.
" Dasar anak br****k.!!!!
Sudah pergi masih saja bikin susah.!! Dino mengumpati Nana karena sudah membuat mereka dalam masalah.
"Pokoknya kamu harus bawa kembali anak kurang a***r itu.!! Lara bicara tak kalah geram dari Dino.
" Kamu kira gampang mengambilnya dari Panti itu hah.!!! Dino pun jadi kesal karena Lara selalu mendesaknya.
"Itu urusanmu.!! ucap Lara ketus.
" Kau kira semudah membalikkan tangan, bisa mengambil anak itu, apa lagi Panti Asuhan yang di tinggali anak kurang a****r itu, adalah Panti Asuhan milik Ny Pratama Widodo, yang jelas sangat berkuasa, dan aku tak ingin perusahaanku jadi hancur hanya karena anak s*****n itu.!!
"Kan kamu bisa cari orang, sepasang suami istri untuk mengadopsi Nana dari panti itu, setelah mereka mendapatkan anak s*****n itu, baru kita bawa dia ke rumah ini.!! gampangkan???
Dino yang mendengar rencana licik istrinya, tersenyum menyeringai, kenapa ia tidak kepikiran ke sana.? tinggal cari orang, dan tawari dengan bayaran yang mengiurkan, maka masalah selesai, otak licik Dino dan tersenyum puas dengan rencananya.
Next
Jangan lupa jejaknya ya Guys.
Salam Arthor.
__ADS_1