Ketegaran Hati Wanita Miskin

Ketegaran Hati Wanita Miskin
Jangan Membenciku.


__ADS_3

Isak tangis pilu terdengar dari kamar Atika, Felix pun panik dan hawatir, karena Atika tak mau membuka pintu kamarnya, dan masih terdengar jelas suara Isak tangisan Atika.


Felix tidak tahu saat ia menerima telpon di kamarnya, dan yang menelponnya adalah Rafa, Atika yang ingin menemui Felix, tak sengaja mendengar pembicaraan Rafa di telpon yang membicarakan keadaan ayahnya yang sedang dalam perjalanan dalam pengawalan ketat menuju rumah sakit milik JW Grup itu.


Mendengar keadaan ayahnya yang mendapat musibah, membuat Atika teringat dengan mimpinya waktu itu, Atika kecewa pada suaminya yang merahasiakan keadaan ayahnya yang mendapat musibah, padahal Atika sempat menceritakan mimpinya itu, tapi suaminya tidak juga jujur dengan keadaan yang sebenarnya, Atika pun menangis pilu menatap foto ayahnya.


Felix yang panik pun, menyuruh para penjaga untuk mengambil kunci cadangan, dan membuka pintu kamar Atika dan Rafa.


Pintu pun terbuka, Felix melihat Atika yang duduk di lantai, menangis dan memeluk foto ayahnya, Felix pun mendekati Atika mencoba menenangkan Atika agar tidak berpikir buruk dengan keadaan ayahnya saat ini.


"Tika sayang, Momy tahu Tika pasti kecewa, tapi percayalah nak, semua akan baik-baik saja, suamimu sedang berupaya melakukan yang terbaik, dan maaf karena merahasiakan ini dari mu, ucap Felix hati-hati, mengelus lembut bahu Atika.


"Tapi aku berhak tahu keadaan ayah, menyembunyikannya dariku tidak akan merubah musibah yang sudah menimpa ayah, aku seperti anak yang tak berguna, berdiam diri dalam kebohongan suamiku yang menyimpan rapat keadaan ayahku, apa yang di pikirannya, apa dia ingin aku jadi anak yang durhaka pada orang tuanya, membiarkan ayahnya yang sekarat dan tidak tahu menahu keadaan yang sebenarnya, ucap Atika menangis histeris, sungguh ia kecewa.


"Kau benar sayang, tapi ayah sendiri yang melarang Rafa untuk memberitahukan mu soal keadaan yang sebenarnya, dan Rafa tak bisa menolak keinginan ayahmu, dan ia pun terpaksa sayang, Momy harap Tika bisa paham situasi yang membuat Rafa membohongimu, karena itu bukan keinginannya yang sesungguhnya, ucap Felix meyakinkan Atika.


"Aku ingin sendiri mom, maaf, ucap Atika yang tak ingin berdebat dengan Momy mertuanya itu.


Felix pun memahami perasaan menantunya itu, andai ia juga di posisi Atika, mungkin Felix akan melakukan hal lebih dari yang di lakukan Atika, Felix pun ke luar dari kamar Atika, memberi ruang pada Atika untuk menenangkan pikiran dan perasaannya.


Rafa yang baru saja tiba, terkejut saat Momy nya menarik kasar tangannya, dan membawanya ke kamar Felix untuk membicarakan keadaan Atika saat ini.


"Mom, ada apa, kenapa Rafa di tarik sih?? tanya Rafa sedikit kesal.

__ADS_1


"Suutt, Felix menaruh jari telunjuknya di bibirnya, agar Rafa tidak mengeluarkan suara yang keras.


"Kenapa sih mom??


"Dengar, istrimu tidak sengaja mendengar pembicaraan kita tadi di telpon, dan dia sudah tahu yang sebenarnya, Momy harap kau jangan memaksa Atika untuk bicara saat ini, biarkan dia tenang dulu, ucap Felix membuat Rafa terdiam bengong, inilah yang di takutkan nya, dan akhirnya terjadi juga, tapi mau bagai mana lagi, nasi sudah menjadi bubur, rasanya Rafa masih harus melewati masa sulit untuk membujuk istrinya, padahal ia sangat lelah saat ini, tapi sepertinya masalah semakin bertambah dan rumit, pikir Rafa.


"Momy jangan hawatir, aku tahu sifat istriku bagai mana, dan ku akui dia pasti kecewa karena telah di bohongi, dan aku bisa memahami itu mom, ucap Rafa membuat Felix lega, mendengar putranya yang tidak putus asa, dan bisa menerima keadaan yang semakin rumit itu.


"Baiklah, Momy percaya pada mu, dan pergilah temui istrimu, dan bicaralah perlahan dan dalam keadaan tenang Hem? ucap Felix mengingatkan putranya itu.


Rafa pun mengangguk paham, ia pun keluar dari kamar Momy nya, berjalan menuju kamarnya.


Rafa membuka pintu kamar itu perlahan, melihat istrinya duduk di sofa dan menatap kosong ke depan.


"Sudah pulang?? ucap Atika dingin, mengambil jas yang di letakkan Rafa tadi, berdiri menaruh jas tersebut ke dalam keranjang kain kotor.


Rafa merasakan dadanya sesak, sikap dingin istrinya itu, Rafa pun berusaha setenang mungkin, memahami sikap dingin istrinya, dan terlihat jelas tatapan kecewa dari mata istrinya, dan wajah sembab itu, dapat Rafa tebak istrinya menangis cukup lama.


"Kalau lelah istirahat saja, aku akan membuatkan kopi untukmu, ucap Atika, namun menatap ke arah lain, tak ingin melihat wajah suaminya itu.


Melihat istrinya berjalan keluar dari kamar, dan tak menatapnya sedikit pun, Rafa pun terduduk lemas, di sofa dadanya sakit melihat istrinya cuek dan dingin, Rafa pun mengusap wajahnya kasar, sungguh ia tak sanggup dalam situasi begini, Atika yang selalu bersikap hangat padanya, dan membuatnya selalu nyaman, ingin sekali rasanya Rafa berteriak, yang tak biasa melihat perubahan sikap istrinya itu.


Atika pun membawakan segelas kopi hangat, dengan wajah menunduk Atika meletakkan kopi itu di atas nakas dekat sofa yang di duduki Rafa.

__ADS_1


"Minumlah, kau cukup lelah kan, setidaknya kopi itu bisa mengurangi lelah mu, dan kau sudah bekerja keras beberapa hari ini, ucap Atika membuat Rafa tertegun, menatap istrinya yang sudah berkaca-kaca, menahan tangisnya.


Setelah memberikan kopi itu, dan bicara ketus pada Rafa, Atika pun keluar lagi dari kamarnya, ia masih sangat kecewa, dan memilih sendiri dan tidur di kamar tamu.


Ditatapnya kopi buatan istrinya itu, selama ini Rafa sangat menyukai kopi yang di buat oleh Atika dan menyuguhkan dengan perasaan dan perhatian hangat padanya, tapi kali ini kopi itu di suguhkan dengan kalimat yang membuat dada Rafa sesak, apa lagi Atika cukup ketus mengucapkan kata-katanya tadi, membuat Rafa tak sanggup menikmati kopi itu.


Sudah pukul 23:00, Rafa masih menunggu istrinya dan posisinya masih duduk di sofa, menatap kopi yang sudah dingin di atas nakas itu.


Mengingat istrinya sudah cukup lama ke luar dari kamar, Rafa pun beranjak dari duduknya, keluar dari kamar, dan mencari istrinya di setiap sudut mansion, tapi tidak menemukan Atika, Rafa pun memeriksa satu persatu kamar tamu, saat membuka pintu kamar tamu yang terakhir, langkah Rafa pun terhenti melihat istrinya ternyata memilih tidur di kamar tamu, sungguh ia tak sanggup dengan keadaan ini.


Rafa pun berjalan mendekati ranjang tempat istrinya yang sudah tertidur lelap, menatap lekat wajah sembab itu, Rafa menghela nafasnya berat, situasi ini lebih sulit di hadapinya dari pada menyiksa para cecengguk di luar sana pikirnya.


"Jangan Membenciku, aku tahu kau kecewa dengan semua ini, tapi itu bukan kehendaki, ucap Rafa mengelus lembut wajah sembab istrinya.


"Aku bahkan sangat tersiksa dalam beberapa hari ini, membohongi mu, dan menghindari mu,. aku hampir gila memikirkan semua itu, aku tahu kau sulit menerima kenyataan ini, tapi aku terpaksa karena ayah, dan aku tahu seberapa berartinya ayah bagi mu, aku hanya tidak ingin kau terbebani dengan musibah ini, tapi kalau kau memilih untuk diam dan membenciku, aku terima hukuman ini, asal jangan pernah pergi dari sisiku karena aku tak akan sanggup untuk itu, kau adalah nafasku, hidupku, dan segalanya bagiku, maaf karena sudah tak jujur, ucap Rafa mengelus lembut kepala Atika, dan pergi keluar dari kamar tamu itu, sembari menghapus air matanya yang sempat menetes.


Atika membuka matanya, saat pintu kamar tertutup rapat, sebenarnya ia belum tidur, mendengar ucapan suaminya tadi, Atika pun menangis pilu, memang ia kecewa pada Rafa, tapi mendengar ucapan suaminya membuat Atika sesak, ternyata suaminya sangat tersiksa dalam beberapa hari ini, hanya karena memikirkan perasaannya, apa aku terlalu egois?? batin Atika, bagai mana pun suaminya jelas tidak sanggup membohonginya, dan terpaksa, sungguh ia tidak memahami situasi serba salah yang di hadapi suaminya, malah mendiami dan menghindari suaminya yang sudah melakukan yang terbaik untuknya juga ayahnya, Atika pun menyadari, dan menyesali sikapnya yang dingin pada suaminya itu.


Next.


Jangan lupa jejaknya ya Guys.


Salam Arthor.

__ADS_1


__ADS_2