
Sudah seminggu Cita dan Dewa berhubungan, bahkan kini keduanya semakin dekat, bahkan mereka tidak menutupi hubungan mereka, dan hal itu membuat para karyawan yang lainnya, menghormati Cita, sebagai kekasih orang nomor dua yang mereka hormati di perusahaan itu.
Namun meski demikian, hal itu tidak membuat Cita menjadi sombong dan terbang karena memiliki kekasih yang di hormati di perusahaannya, bahkan terkadang Cita merasa malu, karena merasa tak pantas sebagai kekasih Dewa yang memang bukan orang sembarangan tentunya.
Cita semakin di senangi oleh teman sekerja nya, karena menurut mereka, Cita sangat baik dan tidak sombong, tetap berprilaku seadanya, walau ia wanita yang jelas sebagai kekasih atasan mereka, tapi tidak membuat Cita lupa dan menyombongkan dirinya, bahkan Cita tetap bekerja sebagai OG, meski Dewa selalu memintanya agar bekerja di bagian lain, namun Cita menolak, baginya sama saja, bekerja sebagai OG atau pun posisi lainya, tetap hanya sebagai karyawan, dan menurut Cita, apa pun pekerjaannya, yang penting ia ikhlas dan mencintai pekerjaannya itu.
Cita sudah menyelesaikan tugasnya, dan biasanya ia akan lanjut berangkat kuliah, namun kali ini ia tidak akan pergi, karena tadi pagi Dewa mengiriminya pesan, bahwa mereka akan pergi bersama, entah mau kemana Cita tak tahu jelas, bahkan Dewa sudah meminta izin pada kampus tempat Cita kuliah, dengan alasan ada urusan mendadak. (sultan mah bebas)
Cita bersiap untuk pergi, karena Dewa sudah menunggunya di mobil saat ini, karena sebelum Cita bersiap, Dewa mengirim pesan pada Cita, kalau ia menunggu di parkiran mobil.
Sebelum pergi Cita pamit dengan teman kerjanya, bahkan diantara mereka sempat menggoda Cita dengan cara meledek Cita.
"Lin, aku pamit ya, ujar Cita yang memanggil nama Lina teman sekerja nya, yang lagi ngumpul dan istirahat di ruang tempat mereka biasa istirahat.
" Cie, yang mau jalan sama pangeran, pasti lagi deg, deg, ser nih" ujar Lina, yang langsung meledek Cita.
"Ais, kok jadi gue sih yang berbunga-bunga" ujar Raka tak mau kalah, membuat Cita malu, dan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
"Apaan sih, kalian yah, tahunya meledek aku doang, ntar kalau kalian seperti aku, aku akan balas, week" ujar Cita yang menjulurkan lidahnya, dan langsung pergi, tak ingin para temannya itu meledek nya lagi, dan juga tak ingin membuat Dewa menunggunya terlalu lama, sementara para temannya, hanya bisa tertawa terbahak, melihat tingkah Cita yang malu, tapi mereka senang, karena Cita mendapatkan pria yang tidak sembarangan.
__ADS_1
Melihat Dewa yang sudah berada di dalam mobil, Cita pun langsung masuk, sembari menampilkan senyuman manisnya, membuat Dewa jadi gelisah, karena bibir manis Cita selalu membuatnya, ingin menerkam saja, karena sangat imut dan menggoda.
"Lama ya mas nunggunya?" tanya Cita, sambil memperbaiki duduknya, yang berdampingan dengan Dewa.
"Nggak kok, mas aja juga baru tiba" sahut Dewa, dan menyalakan mobilnya, dan mereka pun segera melaju.
Sepanjang perjalanan, Cita dan Dewa hanya terlibat cerita dan Dewa senang, melihat Cita yang ceria seperti sekarang ini, dan itu juga yang membuat Dewa tertarik pada Cita, si gadis Ceria, dan tak punya kamus untuk putus asa, karena Cita memang gadis yang mandiri.
Tak lama mereka pun sampai di tempat tujuan, Cita yang melihat tempat sekitar, langsung membelalakkan matanya tak percaya, melihat tempat yang mereka datangi itu, begitu indah, karena Cita memang belum pernah pergi ke tempat itu, sebuah danau yang begitu indah, bahkan udaranya sangat sejuk, membuatnya begitu bahagia, karena angannya yang berhayal selama ini akhirnya terwujud, pergi ke sebuah danau bersama orang yang ia cintai.
"Mas.! panggil Cita, bahkan ia menatap Dewa dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Ada apa sayang, kamu nggak suka ya, sebaiknya kita cari tempat yang lain" ujar Dewa yang langsung ingin menyalakan mesin mobilnya kembali.
Namun gerakan tangan Dewa langsung terhenti, saat lengannya di sentuh Cita dengan lembut, dan Dewa pun reflek menatap ke arah Cita yang masih meneteskan air mata, serta menggelengkan kepalanya, pertanda ia bukannya tidak suka, melainkan terharu, karena angannya terwujud, seperti mimpi dan keinginannya.
Dewa masih tak bicara, namun tatapannya menatap sendu pada Cita yang masih menangis dan terus menggelengkan kepalanya, membuat Dewa sedikit bingung dengan kekasihnya itu, dan kenapa sampai menangis seperti itu.
"Mas tahu, aku sangat bahagia, karena mas mewujudkan keinginanku untuk datang ke tempat ini, dan aku pernah berangan-angan akan ke tempat ini, dengan pria yang ku cintai, dan ternyata aku bukan hanya bisa berhayal saja, namun sekarang nyata mas" ujar Cita menjelaskan, agar Dewa tidak salah paham dengan sikapnya yang tiba-tiba menangis.
__ADS_1
Dewa langsung menarik Cita dalam dekapannya, sungguh perasaannya saat ini begitu bahagia, padahal tadi ia sempat berpikir karena sudah salah memilih tempat, dan ternyata malah membuat hal yang tak terduga sama sekali, bahwa kekasihnya begitu terharu, karena mimpinya selama ini terwujud. "Semoga di hari-hari berikut dan seterusnya, aku bisa selalu membuatmu bahagia, dan aku akan selalu jadi sandaran mu, saat kamu butuh dan lemah, dan semua mimpi mu akan aku wujudkan sebisa dan semampuku" batin Dewa dalam hatinya, yang semakin mempererat pelukannya, menuangkan rasa bahagianya pada Cita.
"Jangan menangis sayang, itu tandanya Tuhan punya rencana yang baik untuk kita, dan kita memang berjodoh, dan ini adalah salah satu bukti, kalau kita memang di takdirkan bertemu dan tanpa sengaja pertemuan dan hubungan kita, sudah mulai membuka misteri mimpi mu selama ini, dan semoga akan terwujud mimpi-mimpi kamu yang lainnya, dan mas akan coba melakukan yang terbaik dan membahagiakanmu" ujar Dewa yang masih memeluk Cita erat, dan membenamkan wajah Cita di dada bidangnya, Cita yang mendengar pun hanya mampu mengangguk, bahkan di dalam hatinya, mengaminkan setiap ucapan yang Dewa katakan baru saja.
"Apa kamu mau kita hanya berpelukan di mobil saja?? nggak mau turun sayang? ujar Dewa yang sengaja menggoda Cita.
Cita langsung merenggangkan pelukannya, dan menyipitkan matanya, menatap Dewa dengan wajah kesal.
"Huh, bilang aja kalau sebenarnya mas yang sangat suka begituan, sok meledek aku lagi" ujar Cita yang tahu kalau kekasihnya itu suka modus.
Dewa terkekeh mendengar ucapan Cita, dia tidak memungkiri apa yang di katakan Cita, karena dia memang sangat suka memeluk tubuh Cita yang mungil itu.
Mereka pun turun dari mobil, dan Dewa langsung menyewa perahu terbaik untuk dia dayung sendiri, dan akan menikmati kebersamaannya bersama kekasihnya seharian ini, dan tentunya mereka akan menghabiskan waktu mereka untuk berkencan, karena ini termasuk kencan pertama mereka, dan Dewa sangat bahagia, karena kencan pertamanya ini sungguh istimewa.
Sebagai wujud dari angan sang kekasih, yang pernah memimpikan pergi ke sebuah danau bersama orang yang di cintainya, jelas hal ini membuat Dewa juga berhayal, kalau ia sedang membawa sang permaisuri dan tentunya sang pangeranlah yang akan membuat permaisuri itu tersenyum indah, dengan perahu dan dayung cinta, sungguh suasana yang membahagiakan batinnya.
Next....
Mohon Votenya, juga follow ya sobat, makasih🙏🙏🙏
__ADS_1