
Sudah beberapa hari Rafa yang tak dapat jawaban dari panggilan ponselnya, bahkan saat ini ponsel Celi sudak tak aktif, membuat Rafa semakin gusar, hingga ia memutuskan untuk menghubungi momy nya.
Dreett
Ponsel Felix yang ada di genggamannya berdering, Felix melihat Rafa yang menghubunginya, hingga Felix begitu ragu untuk mengangkat, namun Aliando menyerukan agar istrinya mengangkat dan bicara dengan tenang agar Rafa tidak curiga.
"Halo sayang, sahut Felix yang merasakan dadanya sakit.
" Halo mom, apa momy lagi di panti??
"Tidak, momy lagi di rumah sayang, sahut Felix dengan tangannya mulai gemetar.
"Mom, apa Celi bersama momy?? dari kemarin aku telpon tapi ngak di angkat, dan sekarang ponselnya malah tidak aktif, apa Celi baik-baik saja mom?? tanya Rafa bertanya dengan suara terdengar frustasi di telinga Felix.
Felix pun menjatuhkan air matanya, tak tega mendengar suara anaknya, yang begitu hawatir pada Celi, namun yang di hawatikan putranya, sudah menghianatinya dan pergi entah kemana.
Aliando yang melihat istrinya menangis, meletakkan satu jarinya di bibir, dengan maksud agar tidak mengeluarkan isak tangis, karena Rafa bisa curiga.
Felix pun menghapus air matanya, setelah melihat isyarat dari suaminya.
" Celi baik-baik saja sayang, ponselnya tertinggal di rumahnya, dan Celi sedang membawa anak panti bertamasya bersama Nana juga, ucap Felix berbohong, hatinya sakit mengatakan itu pada putrannya, membayangkan betapa hancurnya putranya itu saat tahu kebenarannya.
"Haah, ponsel saja dia bisa lupa, padahal Rafa sangat merindukannya, ucap Rafa terdengar sedikit kesal.
" Jangan kesal sayang, toh kamu tinggal sehari lagi di sana, dan tentunya kamu akan bertemu dengan Celi saat sudah kembali, ucap Felix yang kembali meneteskan air matanya, karena sudah berbohong pada putranya.
"Yah, momy benar, Rafa akan kembali besok, dan apa yang Rafa minta sudah momy persiapkan?? Rafa bertanya tentang rencana yang ingin melamar Celi saat kepulangannya nanti.
Felix pun semakin tak tahan dengan perkataan Rafa dari seberang telpon, dadanya berdenyut sakit, air matanya meleleh deras, hingga Aliando pun tak tega, melihat istrinya yang sekuat tenaga menyebunyikan isak tangisnya dan memengang dadanya.
__ADS_1
" Bagaimana mom?? tanya Rafa lagi karena Felix yang belum menjawab pertanyaan Rafa tadi.
"Sss sudah sayang, ucap Felix dengan suara tersendat, hingga Rafa merasa aneh dengan suara momy nya.
"Kenapa momy terdengar ragu, dan sepertinya suara momy aneh, ucap Rafa yang mulai curiga.
" Tidak sayang, momy tadi sambil minum saat bicara, ucap Celi yang terus berbohong.
Rafa yang yakin pun, tidak lagi bertanya, dan hanya mengatakan kalau ia akan secepatnya pulang karena sudah tak sabar untuk melamar sang kekasih.
"Ya sudah, Rafa tutup ya mom, momy jaga kedehatan, dan jangan terlalu lelah, karena anakmu ini tak ingin momy sakit di hari bahagiaku, ucap Rafa senang.
" Iya sayang, ucap Felix, lalu panggilan terputus.
Tangis Felix pun pecah, sejak tadi ia menahannya, ia tak bisa membayangkan bagai mana hancurnya perasaan Rafa, saat pulang nanti.
Yayuk yang berada di sana pun juga menangis pilu, ia merasa tak enak hati dan bersalah, karena putrinya sudah menyakiti perasaan wanita berhati lembut itu, sungguh ia merasa malu, karena putrinya tak hanya menyakiti satu orang, melainkan ada beberapa yang tersakiti termasuk Yayuk.
"Dad, apa yang akan kita jelaskan pada Rafa, momy ngak akan sanggup, dad, ucap Felix menangis pilu di pelukan suaminya.
" Dady juga tidak tahu mom, Rafa akan menggila bila tahu segalannya, tapi tanpa kita jelaskan pun, dengan surat yang di tinggalkan Celi untuk Rafa, akan menjawab dan menjelaskan pertanyaannya, ucap Aliando yang tak tahu lagi mengatakan apa pun, ia akan menyiapkan batinya, saat di mana Rafa akan murka dan terpuruk.
Yayuk yang merasa tidak penting lagi berada di sana, ia pun pamit setelah mengatakan segala maaf yang sebesar-besarnya, dengan kelakuan putrinya, yang sudah mengecewakan dan menyakiti perasaan keluaraga Widodo.
Sementara di tempat lain, Celi yang sudah sehari berada di desa terpencil di negara ss, merenungi perbuatannya yang sudah bisa di katakan sebagai manusia tak berhati.
Sesaat ia menatap ponselnya yang terletak di meja kecil dalam kamarnya, ia mengambil ponsel itu, melihat beberapa foto saat kebersamaanya dengan Rafa, sedetik ia tersenyum saat menatap wajah tampan Rafa, di mana foto itu di ambilnya secara diam-diam.
Namun senyuman itu pun luntur saat sekelebat bayangan terlintas di benaknya, wajah yang ia benci saat ini, yang sudah membuatnya hancur tak bersisa, dan meninggalkan bekas yang sulit untuk ia lupakan.
__ADS_1
Celi yang mengingat wajah Refan pun, mengenggam ponselnya erat, ia benci wajah itu, wajah yang tak pernah ia pikirkan akan melakukan hal yang membuatnya hancur dan malu, bahkan ia jijik dengan tubuhnya, yang selalu ia umpat dengan sebutan kotor.
Begitukah caramu melakukan pada wanita yang kau cintai??
Cintamu itu bahkan menyakitiku, menghancurkanku.!!
Itu bukan cinta, yang tak mengikhlaskan aku bersama dengan pria yang sudah mengisi hatiku.!!
Kau mengira dengan melakukan itu padaku, maka aku akan kembali padamu??
Celi berteriak sendiri di rumah kecil itu, menangisi kenancurannya, dan mengutuk Refan dalam setiap isak tangisnya.
Semenjak Felix menerima surat yang di tinggalkan Celi, dan sudah membohongi Rafa putranya, Felix jadi banyak diam.
Felix merenung di dalam kamarnya, berulang-ulang ia menghela nafas panjang, dalam benaknya memikirkan seolah nasib tidak berhenti mempermainkan kehidupannya.
Dulu aku yang begitu menderita, menjalani hari-hariku yang penuh ejekan, hinaan, bahkan tuduhan keji, hingga Tuhan memberikan uluran tangan melalui, kedua mertuanku, yang begitu menyanyangiku, juga adik-adikku, hingga Tuhan memberiku lagi uluran tangan lewat seseorang berhati mulia, memberikanku sebuah Panti Asuhan, yang sama sekali tak pernah terbayangkan olehku.
Hingga aku masih harus berjuang melahirkan buah cintaku, yang bertaruh dengan nyawaku, dan aku membesarkannya dengan kedua tanganku ini, berharap kelak anakku tidak mengalami hal yang pernah ku alami.
Tapi sepertinya Tuhan masih ingin melihat seberapa mampu aku menjalani dan melewati, meski nasib yang berubah, ternyata tidak akan menjamin kita lepas dari cobaan dan ujian hidup.
Tuhan Engkau yang maha tahu, apa yang baik dan buruk, kalau aku pernah melakukan dosa yang besar, cukup menghukumku Tuhan, jangan putraku, sekali pun aku harus menebus dosa itu dengan nyawaku, tapi jangan putraku.! tangis Felix dalam diam.
Permainan apa ini Tuhan, aku tak pernah minta lebih, aku hanya minta kebahagian yang sudah Engkau sediakan untukku, tidakkah cukup aku yang dulu merasakan sakitnya?? Haruskah putraku juga merasakan seperti yang ku alami??
Sesaat Felix sadar dengan keluhannya dalam batinnya, ia seolah menyalahkan sang pencipta, Felix pun menangis dalam diam, merenungi jalan hidupnya yang lagi dan lagi, harus menelan pil pahit yang di alami putrannya.
Next.
__ADS_1
Jangan lupa jejaknya ya Guys.
Salam Arthor.