Ketegaran Hati Wanita Miskin

Ketegaran Hati Wanita Miskin
Menentukan Pilihanku, Bukan Memaafkanmu.


__ADS_3

Rafa yang meninggalkan Atika di kamarnya, meminta Bibi Lana menemui Atika.


Bibi Lana pun naik ke atas, pintu kamar yang masih terbuka lebar, memperlihatkan Atika yang menangis histeris di kamar Rafa.


Bibi Lana pun mendekati Atika, jujur hati Bibi sakit, melihat keadaan Atika yang rapuh, penderitaan yang tiada habisnya, Atika yang selalu menomor satukan ayahnya, jelas begitu sedih, saat di hadapkan pada pilihan sulit yang di berikan Rafa.


Tapi Bibi Lana tak dapat menyalahkan tuan mudanya itu, karena memiliki niat baik, meski cara yang di lakukan, menekan Atika, agar mewujudkan rencana membantu beban hidup Atika, dan ayahnya, yang membutuhkan perawatan.


Bibi Lana pun menangis, melihat keadaan Atika, Bibi memeluk Atika hangat, merasakan kesedihan Atika.


Atika yang merasakan dekapan Bibi Lana, semakin menangis terisak. Bagi Atika hanya Bibi Lana lah yang mengerti perasaannya, dan segala perjuangan hidupnya.


"Bibi, apa yang harus Atika lakukan??


"Jangan bersedih, Tika harus kuat, mungkin ini juga jalan yang harus Tika lalui, ucap Bibi mengusap air mata Atika.


"Mengapa sesakit ini nasib Atika Bik?? tidak hanya satu, dua orang memandang Atika rendah, bahkan menganggap Atika tak berguna, dan menghina Atika tanpa Tika tahu apa salah Tika.


Bibi pun memeluk erat Atika, ucapan Atika membuat Bibi tak kuasa menahan tangisnya, sungguh berat cobaan yang di alami Atika.


" Dengarkan Bibi.! Bibi yakin Tika bisa melalui ini semua, anggap semua ini berkah dari yang kuasa, mengeluh tidak membuahkan hasil, tapi menjalani dengan tulus dan tetap bersyukur akan ada hikmah yang akan Tika nikmati kelak.


Atika yang mencerna ucapan Bibi Lana menyadarkan Atika yang hampir putus asa, menatap mata Bibi Lana dalam, apa yang di katakan Bibi benar, Atika tidak boleh lemah, harus kuat demi ayah, batin Atika.


"Sudah paham maksud Bibi?? melihat raut wajah Atika Bibi Lana tahu, Atika sudah memahami tujuan perkataan Bibi.


Atika pun mengangguk tanda paham, dan ia akan menentukan pilihannya, walau sesakit apa pun Atika akan tetap berjuang, nafas ini, tubuh ini, penderitaan ini, semua berasal dari yang kuasa, baik dan buruk hidup seseorang sudah di tentukan yang maha kuasa, hanya cara kita menyikapi dan menjalani berbeda, dan Tuhan maha tahu, bagi setiap orang yang merendahkan dirinya, maka akan di tinggikan, batin Atika, memantapkan hatinya.


" Baiklah Bik, Atika memutuskan pilihan itu, Atika menerima bekerja kembali di Vila, tapi Atika mohon katakan pada tuan, agar tidak menyakiti ayah, ucap Atika kembali meneteskan air matanya, setiap mengingat ayahnya yang lemah tak berdaya.


"Percayalah, ayahmu akan baik-baik saja, dan Bibi yakin Tika pasti bisa dan kuat hm??


Bibi pun membawa Atika keluar dari kamar Rafa, sesuai perintah Rafa Atika di tempatkan di kamar tamu, dan tidak ada bantahan.


Atika pun menurut saja, "demi ayah", itulah yang membuat Atika menurut apa saja perintah dan aturan dari Rafa.


Setelah Bibi Lana mengantar Atika ke kamar tamu, dan menyuruh Atika untuk istirahat sejenak, karena masih sakit dan menenangkan pikiran Atika, Bibi Lana pun menemui Rafa di ruang kerjanya.


" Permisi tuan, Bibi Lana membuka pintu dan melihat Rafa sedang bicara pada Dewa, entah apa yang mereka bicarakan tentu Bibi Lana tidak ikut campur dan ingin tahu.


"Masuklah Bik.!

__ADS_1


" Atika sudah memutuskan kembali bekerja di Vila ini tuan, dan satu permohonannya, agar ayahnya baik-baik saja, maaf tuan, Bibi tidak bermaksud berpikir buruk, ada baiknya, tuan membicarakan tentang ayahnya pada Atika.


"Tidak untuk sekarang Bik.! dan itu sudah keputusan saya.


" Baiklah tuan, Bibi permisi, dan makan malam sudah siap tuan.


"Terima kasih Bik.!


Bibi pun keluar dari ruang kerja Rafa, meninggalkan Rafa dan Dewa yang masih melanjutkan pembicaraan mereka yang terputus.


" Apa dokter yang ku minta sudah ada??


"Semua beres bos, dan ayah Nona juga sudah di tempatkan di ruang VIP, dokter Yoga yang langsung mengurus segalanya untuk ayah Nona.


" Bagus.! dan ingat, jangan sampai Atika tahu soal ini, sebelum pak Danu benar-benar sembuh.!


"Siap bos.!


" Cukup untuk hari ini, dan mari kita makan malam, ucap Rafa beranjak menyudahi pembicaraan mereka.


Rafa dan Dewa sudah duduk di meja makan, lalu ia menyuruh Bibi Lana, memanggil Atika untuk makan bersama.


"Maaf tuan, sepertinya Atika tidak berselera makan, sebaiknya tuan makan lebih dulu, ucap Bibi memperhalus karena Atika memang tidak ingin makan satu meja dengan Rafa, hatinya masih sakit.


Rafa pun tak mempersoalkan hal itu, ia sadar Atika masih belum bisa menerima, walau sudah membuat keputusan, memberi ruang pada Atika, menenangkan hati dan pikirannya.


Malam berganti pagi, Atika yang bisa bangun pagi, tidak membuat ia lupa di mana pun ia berada, karena kebisaan tentu sudah jadi bagian seseorang.


Atika pun beranjak dari ranjangnya, hal pertama ia lakukan berdoa, menopangkan tangannya di sisi ranjang dengan kaki bersimpuh, setelah berdoa Atika pun merapikan tempat tidurnya, mengikat rambutnya, dan keluar dari kamar tamu tersebut.


Saat Atika ingin menemui Bibi Lana di dapur, Atika mengingat bahwa pakaiannya harus du ganti, karena baju yang di kenakan Atika terkena noda darah akibat kepalanya yang terbentur semalam.


Atika pun meminta izin pada Bibi Lana, bermaksud ingin mengambil baju-bajunya.


" Bibi, apa Atika boleh pergi sebentar ke gubuk?? Atika mau ambil baju Atika.


Bibi pun tersenyum menanggapi ucapan Atika, lalu Bibi memberitahukan bahwa pakaian Atika sudah di kamar Bibi Lana.


"Tidak perlu ke gubuk lagi, baju-bajumu ada di kamar Bibi, Bibi yang mengambilnya semalam, ucap Bibi berbohong, karena Dewa yang sudah melakukan itu atas perintah tuannya.


" Kalau begitu, Atika ke kamar Bibi mengambilnya, baju Atika kotor dan bau amis.

__ADS_1


Bibi pun mengangguk, dan membiarkan Atika pergi ke kamarnya, Bibi senang melihat Atila terlihat tenang, dan bersikap seperti biasa, waktu masih bekerja di Vila.


Atika pun menganti bajunya, Atika memakai baju kaos kebesaran bahkan kerah baju itu sudah sangat molor, hingga memperlihatkan tulang bahunya.


Atika pun kembali mendapati Bibi Lana di dapur menyiapkan sarapan pagi, tapi Bibi menyuruh Atika bersih-bersih saja.


Rafa yang sudah selesai mandi, dan sudah Rapi dengan setelan jasnya, turun ke bawah, saat Rafa baru beberapa langkah menuruni anak tangga, melihat Atika yang membersihkan ruang tamu.


Di pandanginya Atika dari atas hingga bawah, lagi-lagi Rafa tak sanggup melihat penampilan Atika, yang memakai baju kaos kebesaran, celana pendek selutut, yang sedikit robek, dan melihat kerah baju yang menampakkan tulang bahunya, membuat Rafa sesak di dadanya.


Apakah dia sama sekali tidak punya baju yang ukuran pas di badannya?? batin Rafa.


Rafa pun melanjutkan langkahnya, saat sudah di bawah, Rafa mencoba menyapa Atika, bermaksud agar tidak merasakan canggung, hingga Rafa percaya diri menyapa Atika.


"Selamat pagi.!


Atika yang mendengar sapaan Rafa, berpura-pura sapaan itu bukan tertuju padanya, hingga tak perduli dan sibuk dengan pekerjaannya.


"Apa kupingmu bermasalah?? ucap Rafa dingin, karena tak ada sahutan dari Atika.


Atika yang tersindir pun menoleh, bagai kompor yang tersulut minyak, Atika pun langsung meledak.


"Ah iya tuan.! terkadang lebih baik pura-pura tuli, dari pada pura-pura buta.!


Deg


Rafa pun tertegun dengan ucapan Atika, ternya tidak semudah harapannya menghadapi Atika, yang sudah begitu banyak menghadapi hidup yang keras, hingga pribadi Atika pun terarah pada sifat yang mudah tersinggung.


"Apakah salah aku menyapamu??


" Tidak salah, hanya saja itu tak perlu.!!


"Baik.! ini yang pertama dan terakhir, ucap Rafa dingin, merasa Atika terlalu keras kepala menurutnya, dan mungkin masih terlalu dini memndekati Atika dan bisa membuatnya paham dengan keadaan.


"Itu lebih baik.! Aku menentukan pilihan bukan berarti sudah memaafkan anda, jadi bersikaplah hubungan ini karena kesepakatan dan ancaman, dan antara budak dan tuannya.!!! ucap Atika ketus melanjutkan pekerjaannya, tak menghiraukan Rafa yang sudah mengepalkan tangannya.


Next.


Jangan lupa jejaknya ya Guys.


Salam Arthor.

__ADS_1


__ADS_2