
Pagi hari yang cerah, tetesan embun yang menitik di dedaunan, kicau burung yang bersahutan, membuat suasana Vila terasa sejuk dan nyaman.
Namun suasana sejuk dan nyaman itu, tak sesejuk alam luas, dengan perasaan Rafa saat ini.
Duduk termenung, menatap jauh, perasaan bersalah masih menyelumuti, bahkan tiduknya tak nyenyak, karena hatinya yang masih perih, karena telah bersikap kejam dan kasar.
Sementara Atika dengan mata sembabnya, akibat menangis semalam, tak membuat Atika surut untuk mengais rezeki.
Pagi ini ia berencana menemui, mandor Ali, yang menampun pekerja kasar di jalan yang sedang di bangun.
Menjadi "Kuli" bukan hal yang buruk, yang penting hasilnya halal, dan hasil keringat sendiri, pikir Atika yang sudah berberes untuk berangkat.
"Ayah, Atika kerja dulu ya, dokan Atika ayah, biar dapat kerja, Atika janji Atika akan bawa makanan nanti untuk Ayah, ucap Atika semangat.
Ayah pun tersenyum hangat, ia tahu putrinya itu, berusaha kuat di hadapannya, dan sang ayah tidak bisa mengatakan apa pun, karena ayah juga tak bisa membuat Atika seperti gadis lainnya, yang seharusnya menikmati masa mudanya, tapi tidak dengan Atika yang harus menanggung beban untuk mengurus dan menafkahi ayah.
Atika bahkan tak bisa pergi merantau ke kota, karena tak mungkin meninggalkan ayah yang sakit, dan tinggal sendiri.
Masa muda Atika terenggut dengan kemiskinan, bahkan tak layak di katakan hidup cukup, karena Atika harus mengais di pagi hari, baru bisa makan di malam hari, itu pun kalau rezeki berpihak padanya.
Semenjak ibu Atika meninggal, hanya Atikalah yang bertanggung jawab pada ayahnya, dan Atika bahkan hanya tamat SMP karena tak mampu untuk biaya sekolah.
Rafabelum turun dari kamarnya, Dewa mengira bosnya itu lupa bangun pagi, naik ke atas bermaksud untuk membangunkan bosnya itu.
Tok, tok, tok.
"Bos, apa anda sudah bangun??panggil Dewa dari balik pintu.
Rafa yang mendengar Dewa, berjalan menuju pintu, dan membuka pintu itu, melihat Dewa yang sudah rapi dengan setelannya.
" Tunda pertemuan sampai jam makan siang, dan katakan pada Bibi Lana kita makan siang di luar, ucpa Rafa lalu menutup pintu kamarnya.
__ADS_1
Dewa masih bengong di balik pintu yang sudah tertutup itu, padahal ia masih ingin bicara, karena ada investor yang sudah menunggu mereka pagi ini, tapi Dewa tak bisa membantah, dan hanya menghela nafas berat, karena percuma juga ia bicara bila mood bosnya itu sedang tidak baik.
Dewa pun membatalkan pertemuan mereka pagi ini, dan menunda hingga makan siang, sesuai perintah Rafa.
Atika yang sudah tiba di posko, tempat para mandor yang memantau para pekerja jalan, langsung menemui mandor Ali.
"Eh, Atika.! sedang apa kamu di sini?? tanya Ali saat melihat Atika masuk ke dalam posko.
" Selamat pagi Ali, sapa Atika ramah.
"selamat pagi Tika, dan urusan apa Tika datang ke posko?? tanya Ali ramah.
"Eh, itu, apa Tika bisa ikut kerja di sini??
" Bukannya Tika kerja di Vila sama Bibi Lana?? tanya Ali bingung karena Atika malah minta kerja.
"Sudah tidak, dan Tika mau kerja di sini, apakah boleh??
" Ngak masalah, yang penting Tika kerja, jadi kuli bukan hal buruk, ucap Atika meyakinkan Ali.
Ali yang memang pria ramah, dan baik, tak bisa menolak Atika, yang berniat untuk kerja, bahkan Ali kagum pada Atika yang tidak pilih-pilih kerja, berbeda dengan gadis yang lain, yang punya rasa malu lebih tinggi meski hidup melarat.
"Ya sudah, kalau Tika memang mau kerja, tidak masalah, ucap Ali tersenyun ramah, dan Atika pun jadi semakin semangat, karna di terima kerja.
Rafa yang dari semalam jadi banyak diam karena sikap egoisnya, dan perasaan bersalah selalu menyelimuti hatinya, membuat Dewa kelimpungan, tak tahu mau berbuat apa, bicara salah, tak bicara juga salah, pikir Dewa terlihat geram menatap bosnya itu, yang dari tadi sesuka hatinya membatalkan pertemuan mereka dengan investor.
Belum ada sejam sudah memberi perintah lagi untuk melakukan pertemuan, membuat kepala Dewa serasa mau pecah, memikikan tingkah tak biasa dari bosnya itu.
Dewa yang tidak bisa membantah, hanya menuruti dan menjalankan perintah saja, seperti saat ini, mereka sudah berada di dalam mobil, untuk menuju hotel tempat pertemuan mereka, padahal sudah sempat di batalkan.
Wajah masam Dewa tak luput dari penglihatan Rafa, namun Rafa tak perduli, apa lagi suasana hatinya yang masih berdenyut sakit, hingga membuat Rafa tak memikirkan hal lain selain Atika.
__ADS_1
Mobil yang di bawa Dewa pun melintasi jalan yang sedang di perbaiki, hingga membuat laju mobil itu pun sedikit pelan, karena adanya bebatuan serta pasir yang menumpuk di sisi kanan jalan, dan perkerja(kuli) yang cukup banyak melakukan aktivitas sebagai kuli jalan.
Awalnya Rafa membuka jendela mobil, mandang keluar, karena banyaknya debu Rafa pun menutup kaca mobil itu.
Walau kaca mobil tertutup Rafa masih tetap menatap keluar, melihat para kuli yang bekerja di bawah terik matahari, dengan peluh, dan debu berterbangan ke mana-mana.
Saat ingin mengalihkan pandangannya, Rafa pun melihat sosok yang sudah membuat hati dan moodnya hancur dari semalam hingga pagi ini.
Tatapannya tak lepas dari sosok gadis itu, Rafa meringis saat melihat Atika mengangkat batu di atas kepalanya dengan bantuan pekerja lain.
Ternyata ia bekerja di jalanan ini, batin Rafa, menatap sendu Atika yang terlihat semangat bekerja.
Rafa pun memperhatikan para pekerja lain, membuat Rafa semakin sakit di dadanya, saat menyadari hanya Atiklah seorang gadis yang bekerja di jalanan itu, sebagian lagi hanya beberapa ibu-ibu dan Laki-laki yang beda usia.
Rafa yang tak tahan melihat Atika bekerja sebagai kuli, meminta Dewa memutar balik kembali ke Vila, karena Rafa ingin bicara pada Bibi Lana.
Dewa yang mendengar perintah bosnya itu pun sempat bengong, berpikir ada apa dengan bosnya itu, sejak tadi terlihat aneh, piki Dewa yang hampir putus urat sarafnya karena memikirkan tingkah si bos itu.
Dewa pun tersadar dari bengongnya, karena Rafa menendang jok mobil, membuat Dewa langsung memutar mobil balik menuju Vila.
Atika melihat mobil yang memutar, merasa tak asing, hingga ia teringat ketika mengerjai Rafa, sempat melihat flat mobil Rafa.
Atika yakin kalau itu mobil si tuan muda sombong dan kejam, tidak memperdulikan, "Jangan kira aku hanya bisa bekerja di Vilamu itu, batin Atika menatap garang, ke arah mobil Rafa.
Rafa yang melihat tatapan garang Atika ke arah mobilnya semakin merasa bersalah, dan Rafa yakin tatapan itu tatapan kebencian, sorot mata nyalang Atika membuktikan Atika sangat membenci Rafa.
Penyesalan selalu datang terlambat.!!!!!
Next
Jangan lupa jejaknya ya Guys.
__ADS_1
Salam Arthor.