Ketegaran Hati Wanita Miskin

Ketegaran Hati Wanita Miskin
Kenangan Masa Lalu Atika vs Felix.


__ADS_3

Waktu berlalu cepat, usia kehamilan Atika memasuki bulan ketiga.


Seperti biasa Atika hanya menghabiskan waktu di mansion, terkadang ia keluar bersama Felix atau pun suaminya.


Besok adalah akhir pekan, rencananya Rafa dan Atika dan Momy, Dady nya, akan ke kota B mengunjungi pak Danu yang sudah sebulan kembali ke kota itu.


Setelah kesembuhan total, pak Danu memilih kembali ke kota B, dengan alasan, pak Danu tidak mungkin meninggalkan istrinya sendiri di kota itu, meski sudah meninggal setidaknya mereka tetap bersama di kota yang sama.


"Jangan terlalu lelah, perlengkapan kebutuhan kita, suruh para Art untuk mengemasi, aku ke kantor dulu ya sayang, ucap Rafa pamit pada Atika, yang masih bermalas-malasan, di atas ranjang tidurnya.


"Hm, selamat bekerja sayang, maaf tak mengantarmu sampai depan, ucap Atika tak enak hati pada suaminya, karena masih enggan beranjak dari baringnya.


"Nggak apa-apa sayang, aku justru lebih suka kamu istirahat, kalau masih ngantuk tidur aja lagi, tapi jangan sampai lupa makan, karena baby juga butuh asupan, ucap Rafa mengingatkan istrinya.


Setelah pamit Rafa pun pergi, meninggalkan Atika yang kembali merebahkan tubuhnya, hormon kehamilan selalu membuatnya berubah-ubah, namun ia tidak ingin terlalu merepotkan suaminya, karena ia tahu suaminya juga lelah bekerja, ingin di perhatikan sudah pasti, tapi bagi Atika suaminya sangatlah pengertian dan bisa membagi waktu, walau pun singkat itu sudah cukup, karena Atika juga banyak mendapat perhatian dari Momy dan Dady nya, semua orang begitu peduli dengan keadaanya.


Sebelum pergi ke kantor, Rafa menyempatkan diri menemui para Art, agar mengantar makanan ke kamar untuk istrinya.


"Apa Tika sakit??


"Tidak mom, sedikit lemas dan malas-malasan, mungkin hormon kehamilan, ucap Rafa menjelaskan.


"Ya sudah, jangan hawatikan apa pun, istrimu aman bersama Momy, ucap Felix.


"Terima kasih mom, aku berangkat dulu, pamit Rafa pada Momy nya.


Felix pun mengangguk, menatap langkah putranya yang semakin menjauh, helaan nafas lega terdengar dari mulutnya, putranya begitu menyayangi menantunya, sungguh ia bersyukur putranya begitu bertanggung jawab, sebagai suami yang bisa diandalkan Atika menantunya itu.

__ADS_1


Felix pun pergi menuju kamar Atika, saat masuk ia tersenyum melihat menantunya itu masih bergelut dengan selimutnya, mata Atika terbuka saat mendengar langkah kaki semakin mendekati ranjang tidurnya.


"Mom, ucap Atika tak enak hati, karena kedapatan mertuanya, yang masih tidur dan malas-malasan.


"Jangan sungkan, istirahatlah, Momy hanya ingin melihat keadaanmu, ucap Felix duduk di sisi ranjang.


Melihat Momy mertuanya duduk di sisi ranjang, Atika pun mendekati Felix dan merebahkan kepalanya di pangkuan Momy mertuanya itu, entah kenapa ia ingin sekali melakukan itu, merasakan usapan lembut, yang pernah ia rasakan semasa ibunya masih hidup.


Tangan Felix langsung mengelus lembut kepala Atika, ia tahu menantunya itu merindukan sosok ibu, sikap yang di tunjukkan Atika membuat Felix haru, ia merasakan seperti seorang ibu yang memiliki putri yang manja, Felix senang karena menantunya tidak menganggapnya sebatas ibu mertuanya, tapi seperti ibunya sendiri.


Atika selalu terbuka, bercerita dan bersenda gurau, menyampaikan keluhannya, tentu hal itu membuat Felix sangat bahagia, karena Atika memperlakukannya seperti ibu yang sesungguhnya, punya menantu selayaknya putrinya sendiri.


"Mom"


"Hm, kenapa sayang.??


"Momy tahu itu, dan Momy juga menyayangimu, ucap Felix mengusap lembut kepala Atika dan punggungnya.


"Apa Momy dulu masih sempat merasakan kasih sayang nenek??


"Sempat, tapi hanya sebentar, dan meninggalkan Momy juga adik-adik Momy, ucap Felix menatap lurus ke depan.


"Berarti kita sama mom, Tika di tinggal ibu waktu Tika berumur 15 tahun, dan dari situlah penderitaan Tika di mulai, ucap Atika yang sudah meneteskan air matanya, bayangan masa lalu, berputar dalam ingatannya, ibunya yang menghembuskan nafas terakhirnya, tak satu pun sanak keluarga yang perduli, bahkan ayahnya masuk rumah sakit dan tak melihat kepergian ibunya untuk yang terakhir kali.


"Ya kau benar, Momy juga berusia 15 tahun saat di tinggal nenek dan kakek, perbedaanya kamu berjuang demi ayahmu dan Momy berjuang demi ke dua adik Momy, dan paling menyakitkan, Momy juga berjuang melawan penyakit yang setiap harinya menggerogoti tubuh Momy, ucap Felix menghapus air matanya yang menetes, mengingat perjuangannya di masa lalu, sungguh ia tidak pernah bermimpi bisa hidup tenang dan bahagia seperti sekarang ini, mengingat suaminya pernah menyiksanya, menambah penderitaan yang bertubi-tubi, mengingat itu semua Felix bahkan tak menyangka masih bisa bertahan dengan beratnya cobaan yang dilaluinya.


"Momy benar, Atika berjuang demi ayah, karena hanya ayah yang Atika punya, walau keadaan ayah membuat Atika harus berjuang berat, tapi Tika masih mensyukuri memiliki ayah, setidaknya Tika tidak sebatang kara, walau hidup begitu sakit.

__ADS_1


"Tika juga bersyukur, Tuhan mempertemukan Tika pada laki-laki yang baik dan bertanggung jawab, meski di awal kami bertemu dengan cara yang tidak baik, tapi begitulah cara Tuhan mempertemukan dan menyatukan kami, Tika bahkan tak pernah meminta lebih pada Tuhan, cukup bisa hidup nyaman bersama ayah, namun Tuhan punya rencana lain, dan merubah hidup dan penderitaan Tika seperti mimpi, ucap Atika menegakkan tubuhnya duduk di samping Felix.


"Kau tahu Tika, sebenarnya nasibmu lebih beruntung dari pada Momy, kau tidak merasakan seperti yang Momy rasakan, sakitnya bahkan membekas lama, dan kau tidak mendapatkan kekerasan dan penyiksaan dari putra Momy, ucap Felix membayangkan kejamnya Aliando memperlakukannya dulu.


"Apa Dady pernah melakukan itu dulu?? tanya Atika, sungguh ia tidak menyangka itu pernah terjadi pada Momy mertuanya.


"Ya, Momy dan Dady dulunya tidak akur seperti sekarang ini, Dady dulunya begitu membenci Momy, apa lagi kami menikah terpaksa, karena grandma dan grandpa, menginginkan harus Momy jadi menantu keluarga Widodo, dan entah dari sudut pandang dari mana, mereka menilai Momy jadi menantu mereka.


"Setelah menikah, Momy selalu mendapat hinaan dari Dady, menuduh Momy mengincar harta kekayaan keluarga Widodo, bahkan tindakan kasar juga Momy dapatkan, tidak di beri makan, tidur di kamar yang sempit, tanpa di nafkahi suami.


"Namun Momy tidak menyerah sampai di situ, Momy memilih bercerai, padahal usia pernikahan kami masih berjalan tiga bulan lebih, keputusan Momy sudah bulat kala itu, dan kami resmi bercerai dan Momy kembali pada kehidupan yang sesungguhnya, hidup nyaman bersama adik-adik Momy, dan seperti yang kau katakan Tuhan punya rencana yang indah di balik penderitaan itu, Dady yang mengetahui fakta sebenarnya, menyesali perbuatannya, dan mencoba kembali merebut hati Momy lagi, dan kegigihan serta penyesalan Dady merubah segalanya, dan Momy menerima Dady kembali, dan kami mulai membangun keluarga kecil kami.


"Setiap harinya Dady tidak terlepas dari rasa bersalah dan penyesalan, apa lagi saat Momy mengandung Rafa, kenyataan pahit pun terbongkar, penyakit yang Momy rahasiakan dari semua orang tercuat karena kebaikan seorang dokter yang tidak bisa melihat Momy menderita sejauh mungkin, dokter Lala pun mengungkap rahasia itu pada Dady, dan membuat Dady semakin hancur dan penyesalannya pun bertambah besar.


"Pilihan yang di tentukan dokter membuat Dady mengutuk dirinya yang pernah menyiksa Momy, hingga Momy melahirkan Rafa yang berujung di ambang maut kematian, namun lagi dan lagi Tuhan menunjukkan keajaibannya, keyakinan Dady yang memperjuangkan Momy membuahkan hasil, Momy tertolong dari malaikat maut yang hampir saja membawa Momy, menemui nenek dan kakek.


"Tuhan begitu mencintai orang yang tulus dan sabar, malaikat penolong pun dikirimkan lewat seseorang yang membuat Momy bisa bertahan, dan berjuang demi suami dan buah hati kami, Dokter Kevin sebagai dokter terbaik dan cukup terkenal, di rekomendasikan langsung untuk menangani Momy, dan lagi-lagi kami harus mensyukuri kebaikan Tuhan, dokter Kevin adalah orang yang pernah menolong Momy sewaktu Momy meninggalkan desa, dan juga teman satu sekolah Dady, kerja keras dan usaha dokter Kevin membuahkan hasil, dan Momy sembuh total dari penyakit mematikan itu, dan kami hidup bahagia setelah badai itu berlalu, hingga sekarang Momy menikmati hasil dari kesabaran, ketegaran dan ketulusan, yang Momy jalani selama ini.


Berkali-kali Atika menghapus air matanya, mendengar cerita menyedihkan dan perjalanan hidup Momy mertuanya, sangat jauh berbanding dengan yang di alaminya, sungguh ia bangga melihat Momy mertuanya itu, yang bisa di sebut bukan wanita biasa, tapi wanita yang luar bisa dan penuh perjuangan.


Felix menghapus air matanya, melempar senyum indah pada Atika yang terbawa suasana dengan cerita panjangnya, tapi dia lega, menceritakan semuanya pada menantunya itu, walau sakit saat mengenangnya tapi itulah hidup, berat dan ringan, sakit dan senang harus ikhlas menjalaninya, dan jangan mengeluh, karena mengeluh itu adalah salah satu sikap "Putus Asa", dan Tuhan tidak menyukai orang yang putus asa dan mencari jalan pintas, karena "HIDUP ITU ADALAH ANUGERAH".


Next.


Jangan lupa jejaknya ya Guys.


Salam Arthor.

__ADS_1


__ADS_2