
Setelah kontraksi palsu itu, semua kepanikan yang dialami keluarga besar Widodo, mereda dan mereka semua berpikir, belum juga hadir ke dunia, sudah membuat semua orang heboh dan kewalahan, apalagi setelah lahir, bisa-bisa , semua orang akan kalang kabut nantinya.
Karena sudah terlanjur masuk rumah sakit, dan keadaan Atika memang sedikit kurang baik, akhirnya mereka memutuskan untuk menginap saja, dan hanya Rafa yang menemani Atika di sana, yang lainnya pulang ke mansion, meski Felix bersikeras untuk tetap tinggal, tapi Aliando tidak mengizinkannya, hingga Felix menyerah, dan hanya berharap menantunya baik-baik saja.
"Awas ya Dad.! kalau sampai Atika kenapa-napa, mommy tidak akan mengampuni daddy.! !
" Kenapa jadi daddy yang mommy salahkan?? Dan lagian dokter Lala juga bilang, kalau mantu kita baik-baik saja, hanya butuh istirahat saja, nggak ada yang serius, kok.!! kesal karena istrinya jadi menyalahkannya, karena tidak di izinkan menginap di rumah sakit.
"Ya tetap saja daddy salah, kenapa nggak mengizinkan mommy menemani mereka di rumah sakit.!!
" Memangnya kalau mommy menginap, mommy bisa membantu Atika?? nggak kan?? yang ada juga para dokter dan perawat yang bekerja.!! semakin dongkol, karena Felix terus menyalahkannya.
"Daddy itu memang sulit di kasih tahu, tapi mommy merasakan, _
Felix menghentikan ucapannya, tak ingin membuat semua orang khawatir, meski ia merasakan firasat tidak baik, tapi mungkin hanya perasaannya saja yang berlebihan, batin Felix.
" Merasakan apa Mom??
"Nggak apa-apa Dad.! sahut Felix cepat, takut suaminya bertanya lagi.
Akhirnya mereka pun melanjutkan perjalanan pulang, dan tak ada lagi pembicaraan apa pun, namun Felix larut dalam firasatnya, dan sesekali ia menghela nafas, berharap tak terjadi apa-apa, dan menantunya Atika baik-baik saja.
Rafa membenahi selimut Atika yang masih belum memejamkan matanya, hingga Rafa pun mencoba mengelus perut buncit istrinya itu, memberi kenyamanan pada Atika.
"Belum bisa tidur, hem??
" Atika menggeleng, tak menjawab pertanyaan suaminya, namun terlihat dari wajahnya yang ingin mengatakan sesuatu, tapi ia takut suaminya akan menolong keinginannya.
"Kenapa.?? tanya Rafa lagi, tahu istrinya ingin mengatakan sesuatu.
" Aku pingin makan rendang mas, cicit Atika yang sedikit takut mengatakan keinginannya dengan wajah tertunduk.
"Rendang?? bukankah tadi kamu makan sangat banyak sayang, apa masih lapar?? tanya Rafa yang heran dengan istrinya itu, mengingat mereka tadi sore sangat banyak makan makanan yang di inginkan istrinya, dan sekarang masih mau makan lagi, batinnya.
" Kalau mas, nggak ngizinin, nggak papa.! ujar Atika cemberut, dan membuang pandangannya kearah lain, lagi mode ngambek.
"Bukan nggak ngizinin sayang, aku takut kamu nya yang nanti kenapa-napa, karena kebanyakan makan jadi sakit perut, ujar Rafa memberi pengertian pada Atika.
" Tapi aku memang pingin mas, kan bukan kemauan ku juga, ujar Atika yang mulai memasang senjata, dengan embel-embel keinginan si bayi, agar suaminya tidak bisa menolak.
"Baiklah, mas akan hubungi Dewa, untuk membeli rendang keinginan mu itu, ujar Rafa, sambil menghela nafasnya, dan hanya bisa sabar dengan permintaan bumil itu.
" Jangan mas, aku mau mas yang beliin, ujar Atika manja, membuat Rafa , lagi dan lagi menghela nafas panjangnya.
"Kalau mas yang pergi, terus siapa yang nemani kamu??
" Kan cuma sebentar mas perginya, lagian ada perawat yang berjaga di luar, aku bisa panggil mereka, kalau butuh sesuatu, ujar Atika, yang memaksa, agar suaminya yang pergi bukan Dewa.
__ADS_1
"Baiklah, tapi ingat, jangan kemana-mana, dan turun dari ranjang ini, tunggu mas sampai kembali, ujar Rafa tegas, dan Atika pun menganggukkan kepalanya, dan tersenyum manis, pada Rafa, yang memang sedikit terlihat kesal, tapi bagi Atika itu, tidak masalah, karena suaminya memang tak pernah bisa menolak Keinginannya.
Akhirnya pun Rafa pergi, mencari restauran rendang, dan ia pun pergi ke tempat yang memang terjamin kelezatan dan kebersihan makanannya, tak ingin istrinya kenapa-napa.
Sementara, saat Rafa keluar dari rumah sakit, tepat Siska, baru saja tiba, karena akan berganti shif.
Melihat kepergian Rafa, Siska pun tersenyum menyeringai, dan mengambil ponselnya, menghubungi seseorang.
"Cepatlah datang ke rumah sakit, dan siapkan beberapa orang juga, karena aat ini ada kesempatan untuk kita, ujar Siska, tanpa menjeda ucapannya dan langsung memutuskan sambungan teleponnya.
Siska pun, berjalan kearah belakang rumah, sakit, dia tidak masuk lewat loby, agar rencananya berjalan dengan baik.
Saat tiba di tempat yang agak, sepi, dia mengeluarkan kembali ponselnya, dan mengetikkan sesuatu, dan ternyata ia mengirim pesan pada pihak rumah sakit, khususnya piket, meminta izin tak masuk karena kurang enak badan.
Saat pesan itu terkirim, Siska pun tersenyum jahat, dan sudah tidak sabar ingin menjalankan rencananya, yang memang saat ini ada kesempatan, pikirnya.
"Memang kalau rezeki, nggak akan kemana, hahahaha, tertawa jahat.
Tak lama pun, orang yang di hubungi nya tadi pun sampai, dan ada tiga orang lagi, yang ikut dalam rencana jahat itu.
" Jhon, apa orang yang kau bawa ini bisa di andalkan?? menatap ketiga orang itu satu persatu, dengan tatapan menyelidik.
"Mereka sudah profesional, kamu tenang aja, bahkan mereka lebih baik mati, dari pada buka mulut, ujar Jhon meyakinkan Siska, dengan tiga orang yang di bawanya itu.
" Aku memang tidak meragukan mu.! ujar Siska tersenyum jahat.
"" Di ruang VIP, saat ini ada seorang wanita hamil, bagaimana pun caranya, kalian harus, bisa membawanya segera ke hadapan ku, dan ingat, jangan sampai ada jejak, aku menunggu di tempat biasa.!! ujar Siska, memberi perintah pada Jhon dan juga ketiga rekannya itu.
Setelah mengatakan itu, Jhon dan ketiga rekannya pun langsung, bergerak cepat, menganti pakaian mereka, layaknya seorang dokter, dan petugas rumah sakit, agar saat mereka masuk, tidak ada yang curiga, dan aksi mereka berjalan lancar.
Sementara Siska, langsung pergi, dengan cara mengendap-endap, takut ada orang yang melihat dan mengenalinya, ia pun berjalan kearah parkiran mobil, dan segera pergi ke tempat yang sudah mereka tetapkan tadi.
Rafa yang memilih restauran terbaik, harus mengantri, karena pelanggan restauran itu cukup ramai, mau tak mau Rafa pun dengan sabar menganti, demi istri tercintanya, dan calon si buah hati mereka.
Jhon, dan ketiga rekannya itu, sudah memasuki lift, dan di dalam lift, mereka membagi tugas, agar aksi mereka tidak mencurigakan siapa pun.
Saat mereka keluar dari lift, Jhon melihat ada tiga perawat yang berjaga di luar ruangan itu, dan mereka sudah yakin, bahwa sasaran mereka ada di dalam kamar VIP itu.
Dengan langkah elegan Jhon berjalan menuju kamar VIP itu, dengan seragam dokter yang di pakaiannya, membuat semua orang yakin dia seorang dokter, dengan postur tubuh yang lumayan gagah.
"Permisi.! saya ingin mencek keadaan Nyonya Rafa Pratama, ujar Jhon, bicara dengan tenang dan sopan.
Para perawat yang berjaga, pun hanya melihat sekilas, dan langsung mengatakan iya, karena mereka sibuk dengan ponsel mereka, yang melihat sale besar-besaran, hingga membuat jiwa kere mereka pun meronta, yang memang tidak mampu membeli barang bermerek, karena mereka lebih mengutamakan, membantu keluarga, dari pada kesenangan semata.
Jhon yang melihat kebodohan ketiga perawat itu, tersenyum tipis, seolah mengatakan, setelah ini tamatlah riwayat kalian, karena akan ada berita besar, beberapa menit lagi, pikirnya dengan tatapan yang sulit di artikan.
Dengan santainya Jhon masuk, bersama ketiga rekannya itu, tanpa ada halangan dan perlawanan sedikit pun.
__ADS_1
Saat mereka sudah berada di dalam, Atika yang memang bosan saat menantikan Rafa, terlelap dan sangat terdengar, dengan dengkuran kecilnya, ia tidur begitu lelap.
Jhon yang melihat situasi aman, langsung memberi kode pada rekannya, agar cepat bergerak, karena waktu mereka tidak banyak.
Salah seorang langsung membekap Atika dengan sapu tangan yang ada biusnya, dan saat sapu tangan itu membekap Atika, sempat ada pergerakan, namun sedetik kemudian Atika sudah terlelap lagi, bulan tidur, melainkan tak sadarkan diri, akibat bius itu.
Dengan cepat mereka langsung mengangkat Atika ke kursi roda, menutup seluruh bagian kepala Atika agar mereka bisa membawa Atika keluar.
Sebelum membawa Atika keluar dari kamar VIP, ketiga rekannya Jhon pun,, mengeluarkan kembali sapu tangan yang sudah ada biusnya itu, perlahan membuka kamar VIP, dan dengan sigap langsung membius ketiga perawat itu, dan kini para perawat itu pun tertidur pulas juga, dengan posisi duduk di kursi tunggu, karena memang keadaan si luar kamar VIP sepi, dan tidak begitu banyak orang yang berlalu lalang, karena memang kamar itu khusus untuk petinggi rumah sakit.
Saat kode aman dari ketiga rekannya itu, Jhon pun langsung mendorong kursi roda itu dengan cepat, dan menuju pintu, darurat.
Mereka sengaja tidak menaiki lift, karena itu sangat beresiko.
Namun saat pintu darurat tertutup, tepat seorang petugas rumah sakit keluar dari lift, dan masih sempat melihat salah seorang dari mereka sebelum pintu darurat ditutup, namun petugas itu tidak menghiraukan, karena melihat seragam yang di gunakan sama seperti yang ia pakai, hingga mengira itu hal biasa.
Jhon dan ketiga rekannya, dengan susah payah, membawa Atika, akhirnya pun mereka sampai di lantai dasar, dan salah seorang dari mereka langsung sigap, berlari menuju mobil, yang susah sejak tadi terparkir di sana.
Saat mobil sudah di buka, jhon pun mengeluarkan Atika, dari tempat yang tersembunyi, dan dengan cepat mereka mengangkat Atika, masuk kedalam mobil, dan tak lama pun, mobil meluncur meninggalkan rumah sakit.
Siska yang menunggu di suatu tempat, mondar-mandir, seperti gosokan panas, perasaannya tak tenang, menerka-nerka, apa Jhon dan ketiga rekannya berhasil, atau gagal.
Namun saat ia mendapat panggilan dari jhon, dan mendengarkan apa yang di katakan Jhon, Siska langsung tersenyum cerah, karena Jhon berhasil membawa Atika, wanita yang ingin ia singkirkan, dan menggantikan posisinya sebagai Nyonya Rafa Pratama. (Dalam mimpi mu aja ya, hehehe)
"Sayang ma, _
Rafa menghentikan ucapannya, karena melihat istrinya tidak ada di atas ranjangnya.
" Hei bangun.!! bentak Rafa, pada ketiga perawat yang tertidur pulas di kursi tunggu itu.
Awalnya Rafa tadi, ingin menegur mereka saat tiba, namun ia juga merasa mereka pasti lelah, dan tak tega, membiarkan saja, dan melewati ketiga perawat yang di kiranya tertidur itu.
Melihat tak ada pergerakan dari ketiga perawat itu, padahal suara Rafa, sudah cukup keras menghardik mereka, namun ketiga perawat itu tetap pada posisinya masing-masing, hingga Rafa pun, mendorong bahu salah seorang perawat itu, dan
Bruk.!!
Para perawat itu, ambruk secara beruntun, karena bergeser kesamping, mengenai teman si sampingnya, hal hasil mereka bagai ikan yang tersusun rapi.
Melihat itu Rafa, langsung paham apa yang sudah terjadi, bahwa sudah terjadi sesuatu, dan istrinya di culik, sempat berpikir sang mommy yang melakukan hal itu, karena mommy nya suka sekali main culik-culik kan.
Masuk ke dalam kamar VIP lagi, melihat petunjuk yang ada di sana, apakah memang mommy nya yang melakukan hal itu, namun Rafa langsung berteriak, saat ia mendapatkan sapu tangan, yang ada biasanya di ranjang istrinya, dan susah jelas bukan mommy nya yang melakukan hal itu, karena tidak mungkin sang mommy membahayakan Atika dan calon anaknya dengan membius Atika.
"Atikaaaaaa.!!!!!
Next...
Maaf ya baru Up lagi, soalnya banyak kerjaan mendadak, yang masih setia, mksh ya. 🙏
__ADS_1
Yang ikhlas dukung dan kasih Like, komen juga Vote, semoga kalian selalu mendapat rezeki yang melimpah, Amin. 🙏🙏🙏
Salam Arthor 🙏🙏🙏