
Dewa baru saja mendapatkan informasi dari orang kepercaannya, tentang keberadaan Celi.
"Apa kau yakin itu Nona Celi?? tanya Dewa dari sambungan ponselnya.
"Tidak di ragukan lagi, bos.!
"Apa yang di lakukannya, selama berada di negara itu??
"Dia tinggal di desa yang cukup terpencil, menerut informasi dari warga sekitar, Nona Celi pernah melakukan aborsi.
" Hm, kurasa cukup, dan lakukan apa yang kukatakan, cukup beri pelajaran dan peringatan, dan tutup semua akses untuknya agar tidak menganggu bos lagi, ucap Dewa yang geram pada Celi, ternyata kejadian bejat itu membuahkan hasil di rahimnya.
Dewa pun mengakhiri sambungan telponnya, dan akan segera melaporkan semua yang ia ketahui tentang Celi.
"Cih, sudah bekas pakai masih saja tidak punya urat malu, ucap Dewa berdecih jijik membayangkan Celi, yang masih punya muka mendekati bosnya itu.
Sementara Atika yang sedang menikmati sarapan pagi, merasa canggung, karena di perlakukan seperti tuan putri.
Felix yang mengatur semuanya, dan Atika bahkan tidak bisa menolak, karena tak enak hati, apa lagi melihat ketulusan Felix membuat Atika masih tak percaya, di perlakukan dengan hangat di dalam keluarga Rafa.
" Kamu harus makan banyak, ucap Felix mebambah porsi makan ke piring Atika.
Rafa yang melihat momy nya selalu perhatian pada Atika terkekeh geli, karena Atika kewalahan menghadapi sikap momy nya yang selalu mengutamakan Atika.
"Jangan sunggkan, momy memang begitu, ucap Rafa sedikit berbisik pada Atika.
Atika hanya tersenyum masam, kalau boleh memilih ia akan memilih tinggal di Vila yang bebas melakukan apa pun yang ia mau, tidak seperti sekarang, melangkah sedikit saja sudah di tanya beberapa kali.
__ADS_1
"Nanti momy mau ajak Atika belanja, dan momy tidak memberimu izin membawa Tika ke kantor, ucap Felix menatap Rafa tajam.
" Tidak sekarang mom, Rafa mau bawa Atika juga ke suatu tempat, ucap Rafa yang kesal karena selalu menguasai Atika.
"Tidak ada bantahan.!! ucap Felix yang melotot pada Rafa.
" Ayolah son, biarkan momy puas dulu bersama Atika, kan masih banyak waktu juga, dan Atika akan lebih nyaman bepergian dengan sesama wanita, ucap Aliando membela istrinya, karena sudah dapat kode dari Felix dengan menendang kaki Aliando di bawah meja makan.
Setiap kali Felix melakukan kode itu, Aliando paham, dan tentunya bila tak berpihak pada istrinya, Aliando akan siap-siap di tendang dari kamar, dan berakhir di kamar tamu, sungguh malang nasibmu babang, hehehee.
Rafa yang mendengar perkataan dady nya, memutar bola matanya malas, ia sudah tahu trik momy dan dady nya, yang satu paket komplit, apa lagi dady nya yang sudah mendapat ancaman tidak akan bisa berkutik di hadapan Singa Betinanya.
"Ok.! kali ini Rafa mengalah, tapi besok-besok tidak akan pernah Rafa kasih kesempatan lagi, ucap Rafa yang mengalah, berdebat dengan momy nya tidak akan ada hasilnya, karena akan selalu menang dan selalu bisa membuat Rafa tidak berkutik seperti dady nya.
Felix yang mendengar putranya mengalah dan pasrah, tersenyum penuh kemenangan.
Rafa dan dady nya pun berangkat, ke kantor, Atika yang mendapat kecupan lembut di pipinya, sebelum pergi, tersenyum kikuk, tertunduk malu karena di lihat dady dan momy Rafa.
Tak berapa lama Rafa dan dady nya, pergi, Felix langsung mengajak Atika bersiap-siap, mereka akan memanjakan diri dengan menghabiskan uang para lelaki yang baru saja pergi ke kantornya.
Rafa yang baru tiba di kantornya, dan ini hari pertamanya kembali ke perusaahan setelah hampir dua bulan ia tinggalkan.
Para kariawan yang sudah lama tak melihat sosok tampan sang Ceo itu pun, menatap mendamba dengan ketampanan Ceo mereka itu, terutama para kariawan wanita, bereriak histeris, karna sangat sudah sangat lama tidak mihat aura yang membuat mereka selalu semangat bekerja, karena bisa curi-curi pandang.
Dewa yang mengikuti langkah bosnya itu hingga masuk ke ruangan Rafa, dan tentunya membuat para kariawan wanita lesu, karena hanya sebentar bisa menikmati wajah tampan sang Ceo.
Rafa yang sudah duduk di kursi kebesarannya, sedikit menghela nafas, memikirkan Atika yang dari kemarin, di kuasai momy nya, hingga Rafa tak punya waktu berduaan pada Atika.
__ADS_1
"Katakan.!!
" Nona Celi berada di negara xxxx, tepatnya di salah satu desa terpencil, dan ternyata Nona Celi pernah melakukan aborsi sesuai informasi yang di dapat orang kepercayaan kita, dan bukti keseluruhannya, sudah saya kirim ke email anda bos, ucap Dewa melaporkan dengan jelas.
Rafa yang mendengar tentang kabar buruk Celi, tersenyum sinis, "sungguh wanita tak tahu malu.!" sudah berbuat dosa masih punya muka menganggu ketenanganku, ucap Rafa geram, tak mengira ternyata Celi begitu rendah.
"Apa kau sudah melakukan yang ku perintahkan.! ucap Rafa ingin tahu apa yang sudah di lakukan Dewa pada Celi.
" Tentu bos, saya sudah perintakan orang kita, untuk memberi Nona Celi peringatan dan sedikit pelajaran, dan menutup segala akses yang bisa menjangkau anda.
"Bagus.!! pantau terus, jangan sampai ia berbuat nekat, menemuiku dan Atika, karena sekali saja ia betemu dengan Atika, maka bersiaplah ku tendang ke kolam buaya.! ucap Rafa yang tak ingin Dewa sepele pada Celi, ia tahu watak Celi yang bisa melakukan apa pun karena, memiliki Levi Quera ayahnya.
Dewa pun bergidik ngeri, membayangkan para buaya akan mencabik-cabik kulit dan tubuhnya, kerongkongannya kering, bahkan bernafas pun sangat sulit, membuat Dewa berkali-kali menarik nafas perlahan.
"Jam berapa rapatnya, tanya Rafa yang beralih pada urusan kantor, ia tak ingin memikirkan Celi yang akan merusak moodnya pagi ini, bahkan ia tak perduli meski Celi meronta-ronta di hadapannya sekali pun, tidak akan merubah keputusan Rafa, karena baginya Celi wanita yang tidak pantas ia beri hati, karena sudah menghianatinya.
" Jam 10:00 bos, dan beberapa laporan keuangan sudah di siapkan di meja anda, di ruang rapat, sahut Dewa lagi.
"Bagai mana dengan pak Danu?? tanya Rafa lagi, membuat Dewa berbalik badan cepat karena mau keluar dari ruangan, yang sangat minim oksigen itu bagi Dewa seorang.
" Ya Tuhan, masiha ada saja pertanyaan yang membuatku harus berlama-lama di ruangan ini, bunuh saja saya tuan, batin Dewa menjerit pilu.
"Pak Danu semakin banyak kemajuan bos, dan sepertinya dalam dua minggu ini beliau sudah bisa berjalan normal, ucap Dewa cepat yang sudah tidak tahan di dalam ruangan itu.
" Baiklah, kau boleh pergi.! ucap Rafa yang tak menghiraukan Dewa yang kesal.
"Huh, untung bos, kalau tidak sudah ku lempar juga ke kandang macan, batin Dewa berlalu pergi, meninggalkan Rafa yang memeriksa beberapa berkas.
__ADS_1
Next.
Jangan Lupa jejaknya Gu