Ketegaran Hati Wanita Miskin

Ketegaran Hati Wanita Miskin
Kesedihan Dan Penyesalan Atika.


__ADS_3

Sudah berlalu dua hari, dan ini hari ketiga Atika masih setia dengan tidur panjangnya. Namun saat Rafa mau ke toilet, seorang suster memanggil nya dan mengatakan agar menemui dokter Mira di ruangannya.


"Tuan Rafa, maaf dokter Mira memanggil anda ke ruangannya, ujar suster itu menyampaikan pesan dokter Mira.


" Apa terjadi sesuatu pada istriku?? Rafa malah bertanya dan tidak mengiyakan ucapan suster itu.


"Tidak tuan, dokter Mira ingin membicarakan hal penting pada anda, ujar suster itu.


" Baiklah, aku akan ke sana, ujar Rafa langsung pergi menuju ruangan dokter Mira.


Rafa pun masuk ke ruang dokter Mira, pikirannya berkecamuk, ia takut ada hal yang serius pada istrinya, dan dokter Mira bisa melihat kecemasan Rafa saat itu.


"Silahkan duduk tuan, dokter Mira mempersilahkan Rafa duduk tepat di depan nya, dan hanya meja sebagai pembatas mereka.


Rafa pun duduk, tapi ia merasakan dadanya berdebar kuat, memikirkan hal apa yang ingin di bicarakan dokter Mira pada nya.


" Begini tuan, sesuai hasil pemeriksaan kami, ibu Atika sudah melewati masa kritisnya, tapi, _


"Tapi apa Dokter?? tanya Rafa memotong ucapan dokter Mira, takut ada hal buruk yang di alami istrinya.


" Jangan terlalu tegang tuan, ini masih diagnosa kami sementara, dan untuk lebih pastinya, kami masih harus melihat perkembangan ibu Atika, dan kami baru berani mastikan, ujar dokter Mira.


"Maksud dokter?? apakah ada hal serius pada istriku?? tanya Rafa semakin merasakan debaran jantungnya sangat kuat.


"Begini tuan, keadaan janin ibu Atika masih sangat lemah, meski sudah melewati masa kritis, tapi janin ibu Atika mengalami pendarahan, karena dinding rahim yang robek, dan masalahnya di sini, kalau pendarahan ibu Atika tidak juga berhenti, itu akan mengakibatkan janin tidak bisa di selamat kan, mengingat umur janin masih rentan dan usia janin masih empat bulan, dan apa bila janin tersebut tidak bisa bertahan, kami akan melakukan tindakan dan kami butuh persetujuan dari anda, untuk mengeluarkan janin itu dengan melakukan operasi, tapi ini masih diagnosa kami sementara tuan, dan bisa saja, berubah, dan kesehatan ibu Atika ada kemajuan, ujar dokter Mira Menjelaskan.


"Aku mohon dokter, selamat kan istri dan anakku, lakukan cara apa pun, ujar Rafa, lemah dalam tangisnya, selama dokter Mira bicara, Rafa sudah meneteskan air matanya, ia tidak perduli di nilai dokter Mira cengeng sebagai laki-laki, karena istri dan anak nya adalah hidup nya saat ini, dan ia tidak lagi mementingkan imagenya sebagai orang besar, baginya hanya agar bagai mana istri dan anak nya tertolong.

__ADS_1


"Kami tetap akan melakukan yang terbaik tuan, dan mudah-mudahan ibu Atika kuat, dan janinnya selamat, ujar dokter Mira.


" Aku percaya pada kalian dokter, dan harapan saya janin itu bisa selamat, saya mohon dengan sangat lakukan yang terbaik, ujar Rafa tak tahu mau mengatakan apa lagi, hanya ucapan permohonan lah yang bisa ia ungkapkan saat ini.


"Baiklah tuan, kami akan berusaha semampu kami, dan bila Tuhan berkehendak lain, kita tidak bisa berbuat apa pun, dan pasrah, ujar dokter Mira, sengaja mengatakan itu, karena mereka hanya berusaha, tapi tetap Tuhan yang punya keputusan mutlak dengan mati hidup nya seseorang.


Rafa tak lagi menjawab ucapan dokter Mira, ia beranjak dari duduk nya, pergi begitu saja tanpa mengucapkan pamit, dan selama berjalan menuju ruang ICU, pandangan Rafa kosong, pikirannya ke mana-mana, ingin sekali Rafa berteriak saat itu juga, meluapkan sesak di dadanya, bagaikan ada beban yang mengganjal di sana.


Sudah berlalu selama 3 jam, semenjak Rafa keluar dari ruangan dokter Mira, ia hanya diam duduk termenung dengan pandangan kosong, dan ia pun tersadar saat melihat dua orang suster dan satu dokter mendorong brankar istrinya keluar dari ruang ICU, dan ternyata Atika istrinya sudah siuman, dan akan di pindahkan ke ruang perawatan.


Felix pun meneteskan air matanya, mendengar menantunya sudah melewati masa kritis dan siuman, tapi Felix sama sekali tidak tahu soal pembicaraan Rafa dengan dokter Mira, dan Rafa belum sanggup untuk memberitahukan soal itu pada dady, momy , dan ayah mertuanya.


Mereka semua pun mengikuti Atika yang di bawa ke ruang perawatan, dan membaringkan Atika di ranjang rumah sakit itu dengan hati-hati, lalu para suster dan dokter pun pergi undur diri, memberikan waktu pada keluarga untuk menemani Atika yang baru saja siuman itu.


"Bagai mana keadaanmu sayang, tanya Felix lembut, dan sangat antusias mengajak Atika bicara, setelah beberapa hari menunggu, akhirnya Atika sadar juga.


"Yang terpenting kamu sudah sadar, dan kami senang karena kamu bisa melewati semua ini, ujar Aliando, agar Atika lebih tenang.


" Ya, itu benar, ayah bersyukur pada Tuhan karena masih sayang pada kita, dan kamu bisa melalui ini semua, ujar pak Danu, ikut bersyukur.


Atika hanya mengangguk lemah, tapi dari tadi hatinya tak tenang, karena suaminya masih tidak bicara sepatah kata pun dengan nya, dan Atika merasa ada sesuatu, tapi ia tidak tahu apa itu.


"Mas, panggil Atika lemah, menatap Rafa penuh harap agar dekat dan bicara dengannya, dan menanyakan keadaan nya.


Rafa yang di panggil tidak menyahut sama sekali, hanya menatap Atika sekilas lalu melihat ke arah lain.


Sikap Rafa yang demikian, membuat Atika sakit, mengira suaminya sudah tidak lagi perduli dengannya, dan Atika pun menangis tak sanggup melihat sikap suaminya yang diam saja dan tidak mau mendekat dengannya.

__ADS_1


"Rafa, jangan begitu nak, lihatlah istrimu jadi sedih, ujar Felix mendekati Rafa yang berdiri sedikit jauh dari mereka.


" Aku tidak kenapa mom, hanya saja sangat lelah, ujar Rafa beralasan.


Namun Aliando dan pak Danu paham dengan sikap Rafa yang demikian, mereka tahu Rafa sengaja bersikap begitu, agar Atika menyadari kesalahannya, dan pak Danu mendukung hal itu, karena Atika terlalu nekat dan tidak memikirkan keselamatannya, dan hampir saja nyawanya melayang, kalau tidak secepat itu para pengawal menemukan Atika.


"Ayah mendukung ketegasan kamu, dan itu Perlu agar Atika berpikir dua kali, melakukan hal yang membahayakan dirinya, ujar pak Danu, sedikit berbisik, lalu menepuk bahu Rafa, sebagai ayah ia juga sangat tidak menerima cara Atika yang membuat semua orang kelimpungan dan khawatir.


Melihat pak Danu keluar dari ruangan itu, Aliando pun ikut keluar, sebelum pergi Aliando juga membisikkan sesuatu pada Rafa.


"Jangan terlalu keras, dady tahu kamu tak sanggup melakukan itu, ujar Aliando lalu pergi keluar.


" Momy tahu kamu kecewa nak, tapi Atika baru saja siuman, jangan bersikap begitu, dia bisa stres, dan itu bisa mempengaruhi kemajuan kesehatan nya, momy keluar dulu, kamu bicaralah pada Atika, dan jangan buat dia semakin tertekan, ujar Felix, lalu pergi meninggalkan Atika dan Rafa di ruangan itu berdua.


"Sudah puas.!! kalau kamu ingin aku mati, kenapa tidak membunuh aku saia.!! ujar Rafa dingin dan datar.


Atika tidak menjawab, ia hanya menangis, dan sadar kenapa suaminya bicara begitu, karena kecerobohan dan tindakan bodohnya lah, semua ini terjadi, dan Atika yakin, pasti saat suaminya tahu soal kejadian nya dia di culik, murka dan karena perbuatannya, yang tidak bersalah jadi kena imbasnya.


"Inikah yang kamu bilang tidak ke mana pun, dan kamu tidak menghargai kekhawatiran ku sedikit pun.!! ujar Rafa lagi, membuat Atika semakin meneteskan air matanya, hatinya sakit suaminya bicara seketus itu dengannya.


" Aku hampir tidak bisa bernafas karena memikirkan mu, aku hampir gila karena tak sanggup keadaan mu.!! ujar Rafa lagi, meluapkan sesak dan kekesalannya yang mengganjal di dadanya.


Atika tak bisa berkata apa pun untuk membela dirinya, semua yang di katakan suaminya benar, dan Atika paham dengan kecemasan suaminya, Atika pun menyesali perbuatannya yang sudah membuat suaminya dan semua orang khawatir dan ketakutan, karena tidak memikirkan keselamatannya sendiri.


Next.


Jangan lupa jejaknya ya guys.

__ADS_1


Salam Arthor


__ADS_2