Ketegaran Hati Wanita Miskin

Ketegaran Hati Wanita Miskin
Menegangkan


__ADS_3

Setelah melihat anaknya, hati Rafa menghangat, namun di sisi lain ia sedih karena putranya belum melihat wajah ibunya, demikian pula Atika.


Rafa menantikan momen kebersamaannya dengan keluarga lengkapnya, setelah istrinya siuman nanti, mereka akan berkumpul menjadi keluarga kecil, bahkan ia membayangkan Atika yang tersenyum saat mengendong bayinya, serta bercanda imut pada bayi mereka.


Betapa bahagianya ia, bila saat-saat itu terwujud nantinya, karena bagi siapa pun, tentu hal yang indah dan menyenangkan adalah saat kebersamaan dengan keluarga, dan itu impian semua orang.


Sepanjang jalannya, Rafa sampai senyum-senyum sendiri, karena memikirkan itu, selama berjalan menuju ruangan istrinya, hatinya menghangat, hanya melihat putranya bergerak semakin lincah, bahkan dokter anak mengatakan kalau bayi mereka, tidak lagi menggunakan inkubator, itu artinya putranya sudah melewati proses yang semestinya.


Hari ini adalah jari ke enam Atika di rumah sakit, seperti yang di prediksi dokter waktu itu, kalau Atika akan siuman 4-5 hari, tapi ini sudah hari ke enam, namun tidak ada tanda-tanda Atika akan siuman.


Saat tiba di ruangan istrinya, Rafa masih tetap saja mendapati Atika yang betah dengan tidur panjangnya. Padahal tadi ia berharap saat ia kembali keruangan istrinya, ia akan menemukan Atika yang sudah membuka mata, namun masih tetap zonk.


Mendekati ranjang tidur Atika, membelai lembut wajah istrinya itu yang masih terlihat pucat. perasaan bahagia, dan hal yang indah sempat ia bayangkan tadi, hilang seketika, dan membuat dadanya lagi-lagi sesak.


"Mas tahu kamu marah sama mas sayang, tapi tolong jangan hukum mas seperti ini" lagi dan lagi air matanya tumpah, setiap kali ia mengajak istrinya berbicara.


"Maaf kalau mas, sudah menyakiti mu, bangunlah sayang, mas menunggu mu, putra kita juga menunggu mu, apa kamu tega melihat aku dan anak kita seperti ini"??


Bicara sambil terisak, di samping istrinya, namun tetap tak ada tanda-tanda istrinya akan siuman, hingga Rafa ingat sesuatu.


Perkataan dokter yang mengatakan istrinya akan siuman 4-5 hari, sementara ini sudah hari ke enam, hingga membuat Rafa berpikir ada yang salah, atau istrinya sedang tidak baik-baik saja.


Merogoh saku celananya, mengambil HP nya, dan berniat menghubungi dokter Leo.


Saat panggilan tersambung, dan yang menerima panggilan bahkan belum menjawab, Rafa langsung membrondong dokter Leo dengan perkataannya yang singkat, namun yang di seberang sana, tanpa menjawab sudah paham, bahkan sambungan sudah terputus.


"Datang keruangan istriku, dan bawa tim dokter yang menangani istriku saat operasi"!!!


Dokter Leo hanya bisa menghela nafasnya berat, bagai mana tidak, hanya mendengar perkataan si tuan muda, dokter Leo, sudah paham ke mana arah dan tujuan perkataan si tuan muda.


Dokter Leo pun memerintahkan dokter Lala, dan timnya, untuk ikut bersamanya, ke ruangan Atika.


Dokter Lala yang melihat wajah tegang dokter Leo, jadi ikut gelisah, apa lagi mereka akan ke ruangan Atika, bahkan sudah bisa menebak, akan terjadi sesuatu di sana.


Pintu ruangan pun di ketuk dengan hati-hati, setelah mendapat jawaban dari dalam, Dokter Leo, dan dokter Lala beserta timnya, masuk ke dalam.


Rafa yang melihat mereka masuk, langsung menatap mereka satu persatu, dengan tatapan tajam dan mematikan.

__ADS_1


"Maaf membuat anda menunggu tuan muda" Sapa dokter Leo, mewakili yang lainnya.


"Bisa jelaskan, kenapa istriku masih belum siuman??


Dokter Leo pun menatap Dokter Lala, seakan memberi isyarat, agar dokter Lala yang menjelaskan.


Namun Dokter Lala justru menatap timnya, membuat dokter Leo geram, bukannya menjelaskan, malah clingak clinguk nggak jelas, batin dokter Leo.


"Oh, tidak mau menjelaskan?? melihat kebungkaman para dokter itu, Rafa sudah di ujung kesabarannya.


"Sesuai pengalaman kami tuan muda, dan beberapa pasien yang kami tangani, prediksi yang kami buat, sangat jarang dari perkiraan, namun itu biasa di alami pasien, meski prediksi yang kami katakan lewat dari perkiraan kami, terkadang lebih dari 2-3 hari" menjelaskan secara perlahan dan singkat, namun tetap tidak membuat perubahan wajah dan tatapan si tuan muda pada mereka.


Rafa tersenyum sinis mendengar penjelasan yang baru saja di dengarnya.


"Apa aku terlihat bodoh di mata kalian?? ujar Rafa, seolah para dokter itu menganggap ia sangat buta hal semacam ini, meski tak sepenuhnya tahu soal medis.


" Kami sama sekali tidak berpikir seperti itu tuan muda" ujar dokter Leo, karena memang begitu adanya.


"Lalu? bagai mana dengan istriku yang belum siuman sampai saat ini, bukankah kalian sebagai dokter, seharusnya tahu, kenapa istriku belum juga siuman, dalam arti kata, berarti diagnosa kalian salah??


Karena tak ada respon dari dokter Leo dan yang lainnya, membuat kesabaran Rafa pun habis, hingga kemarahannya pun meledak, bahkan ia tak perduli lagi dengan suaranya yang meninggi, menganggu ketenangan istrinya di ruangan itu.


"Maaf tuan muda, kalau begitu ijinkan kami memeriksa nona saat ini, agar kami bisa tahu apa yang membuat nona muda belum juga siuman" ujar dokter Lala memberanikan diri buka suara.


Saat Rafa ingin menjawab perkataan dokter Lala, bahkan ingin meluapkan kemarahannya sekali lagi, namun tak jadi, karena Aliando dan Felix datang berkunjung.


"Ada apa ini?? kenapa ramai sekali, apa terjadi sesuatu dengan Atika?? tanya Felix terdengar khawatir, apa lagi melihat wajah para dokter itu, begitu menegangkan.


Pertanyaan Felix tak seorang pun yang menjawab, namun Aliando bisa paham, apa yang terjadi saat ini, melihat putranya sampai memanggil beberapa dokter yang menangani Atika waktu operasi.


"Leo, katakan apa kamu sudah tidak lagi dokter terbaik di rumah sakit ini, agar aku bisa mencari dokter yang lebih berkualitas dan terbaik darimu"!!


Felix yang mendengar suaminya, mengatai dokter Leo seperti tak berpotensi sebagai dokter terbaik, merasa suaminya keterlaluan, seakan merendahkan kemampuan dokter Leo, dan membuat Felix tidak suka dengan penuturan suaminya itu.


"Dad, jangan asal bicara, apa daddy mengenal dokter Leo, sehari atau dua hari, hingga daddy begitu entengnya bicara begitu"! ujar Felix membela dokter Leo.


Dokter Leo yang mendapat pembelaan, langsung mengalihkan pandangannya pada Felix, dalam benaknya, dia selalu beruntung setiap berhadapan dengan petinggi rumah sakit, atau pemilik rumah sakit ini, selalu ada malaikat yang menolongnya, tidak salah ia selama ini, mengagumi Felix dengan segala kerendahan hatinya.

__ADS_1


Melihat tatapan dan senyum tipis dokter Leo, yang mendapat pembelaan dari istrinya, Aliando semakin geram pada dokter Leo, bukannya menjawab pertanyaannya, malah menatap istrinya dan senyum nggak jelas, dan ingin sekali Aliando melempar dokter Leo saat itu juga, tapi mana dia berani, karena istrinya akan memusuhinya dan bisa-bisa, akan berimbas dengan jatah si entong, apa lagi si entong sudah 3 hari puasa, akkhh, menjerit dalam hati.


Melihat tatapan membunuh dari Aliando, dokter Leo pun, menelan ludahnya kasar, seakan tatapan itu, mengatakan akan melenyapkan nya dari muka bumi ini, membuat dokter Leo bergidik ngeri.


"Maaf untuk semuanya, karena kami sedikit lalai dalam hal ini, dan kami mohon ijin, untuk memeriksa keadaan Nona muda, dan apa bila ada sesuatu yang serius, kami akan melakukan tindakan teliti" ujar dokter Lala, menyudahi perang dingin antara Aliando dan dokter Leo.


"Baiklah, tolong lakukan yang terbaik untuk, menantuku, dan mudah-mudahan menantuku tidak apa-apa" ujar Felix, ia tak ingin menyudutkan para dokter itu, karena mereka juga sudah melakukan tugasnya dengan baik, dan mungkin saja menantunya belum punya niat untuk bangun dari tidur panjangnya, meski kekhawatiran ia rasakan.


Mereka pun keluar, memberikan ruang bagi para dokter yang memeriksa Atika, berdoa dan berharap tidak terjadi hal serius pada Atika.


Melihat tidak adanya kesalahan dan kejanggalan pada kesehatan Atika, dokter Lala menyimpulkan, keadaan Atika baik-baik saja, dan hanya bersabar untuk menunggu sampai Atika siuman, karena keadaan Atika memang baik dan stabil, bahkan seluruh bagian vitalnya bekerja dengan baik, dan tidak ada yang perlu di ragukan dan di takuti.


Mereka pun menyampaikan hasil pemeriksaan tersebut, karena Felix ada di sana, maka kedua pria yang tak terima dengan hasil itu, hanya bisa bungkam, karena bila menentang hasil itu, sama saja menentang sang Ratu, dan bisa panjang urusan, hanya pasrah dan mengalah.


Para dokter pun pamit undur diri, namun Aliando yang masih kesal pada Leo, sengaja mencegah kepergian dokter Leo, hal hasil, mau tidak mau, Leo pun menghentikan langkahnya.


"Ada yang masih ingin kamu tanyakan?? ujar dokter Leo, mengira Aliando ingin bertanya, karena ada yang kurang paham dari penjelasan mereka.


" Tanya kepalamu"!! ku peringatkan kau, jangan coba-coba mencari perhatian pada istriku, kalau kau masih sayang dengan nyawamu"!! ancam Aliando pada dokter Leo.


"Memangnya aku terkesan cari perhatian ya pada istrimu?? bingung dengan ancam yang di lontarkan Aliando padanya.


" Masih saja pura-pura bego, cih.! kau kira aku buta, kau senang kan istriku membelamu tadi?? ujar Aliando, yang semakin kesal.


"Tentu aku senang, karena menurut ku, hanya Felix yang waras di antara kalian bertiga" ujar dokter Leo blak-blakan.


"Beraninya kau.! mengatai aku dan putraku nggak waras, mau mati kau ya.!!" kesal Aliando ingin menghajar dokter Leo, yang sudah mengepal tinjunya, namun saat akan melayangkan tinjunya, dokter Leo pun langsung cari aman.


"Lihat istrimu datang" Aliando yang sudah mengepal kan tinjunya pun langsung berbalik, melihat apakah benar istrinya datang, dan saat ia berbalik, Leo pun kesempatan kabur, meninggalkan Aliando yang menggeram kesal, karena di kerjai dokter Leo.


"Dasar dokter laknat, awas saja kau nanti.!! teriak Aliando yang geram bukan kepalang.


Begitulah, dari dulu kedua sahabat itu, tidak pernah akur, dan saling mengejek, justru itu hal yang menyenangkan bagi mereka tersendiri.


Next...


Up lagi ya Sob, jangan lupa jempolnya, vote nya juga ya, makasih🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2