
Sudah hampir dua minggu Rafa menjalani hari-harinya sebagai orang biasa yang sederhana.
Dan hal itu memiliki hal yang luar biasa untuk Rafa, ternyata di banding menjadi seseorang yang memiliki jabatan dan kesibukan yang padat, hidup sederhana yang ia jalani itu sungguh lebih membuat hari-hari Rafa lebih berwarna.
Namun Rafa tetap mensyukuri apa yang ada padanya, karena banyak orang mendamba hidup layak dan terhormat.
Seperti saat ini Rafa baru saja mengantarkan Celi ke Cafe Rian, kedekatan mereka berjalan baik, bahkan Celi merasa nyaman saat dekat dengan Rafa.
"Tidak ingin mampir dulu Raf?? tawar Celi pada Rafa saat mereka tiba di Cafe Rian, dan Rafa mengantarkan Celi dengan mengendarai motornya.
" Nanti saja saat aku menjemputmu, takut telat, ujar Rafa yang menolak mampir karena ia tidak ingin telat karena ada rapat penting di kantornya.
"Baiklah,, hati-hati di jalan dan jangan ngebut, ucap Celi memberi perhatian pada Rafa.
Rafa yang mendengar Celi yang menghawatirkan keselamatannya, tersenyum karena Celi mulai perhatian padanya.
" Tentu,,, aku tak akan ngebut, karena aku tak ingin mendengar omelan seseorang yang selalu cerewet, ucap Rafa sengaja menggoda Celi.
Celi yang mendengar perkataan Rafa pun, tersenyum malu, karena apa yang di katakan Rafa, Celi sering ngomel bila Rafa ngebut saat mengendarai motornya.
"Aku hanya tak ingin terjadi sesuatu padamu, ucap Celi yang memukul lengan Rafa pelan.
" Jangan hawatir,, aku berangkat dulu, pamit Rafa dan mengelus lembut kepala Celi.
Rafa pun melajukan motornya, setelah pamit, sementara Celi masih berdiri menatap Rafa yang hampir tak terlihat dari pandangannya, Celi merasakan sentuhan kecil Rafa tadi membuat ia nyaman dan begitu di sayang, bahkan kian hari Celi merasakan perasaanmya bergejolak, dengan sikap lembut Rafa. Celi pun masuk ke dalam Cafe dan ia tak sadar Rian dan Lili memperhatikan kedekatan Celi dan Rafa tadi di depan Cafe.
Saat Rafa tiba di kantornya, ia pun langsung masuk Lift khusus, tampak ia tergesa karena waktunya sudah sangat mepet.
Para kariawan yang melihat Rafa dengan penampilan sederhana berserta motor yang di kendarai Ceo mereka itu, sudah tak heran lagi, karena Dewa sudah memperingati mereka, dan tak perlu ada pertanyaan, bahkan Dewa mengatakan bila Ceo mereka nanti melakukan hal yang tak pantas di kantor sebagai OB, jangan pernah sekali pun ada yang bertanya dan belaku biasa saja.
Rafa yang sudah mengganti pakaiannya di ruang pribadinya pun, bergegas menuju ruang rapat, dan ia ingin segera menyelesaikan rapat itu, karena ia akan ke kampus setelahnya.
__ADS_1
Sementara Rian dan Lili saat ini berada di ruangan Rian dalam keadaan canggung, karena Rian sengaja meminta Lili datang ke ruangannya dengan alasan pekerjaan.
"Kamu memanggilku?? tanya Lili saat sudah masuk ke ruangan Rian.
" Duduklah,, ucap Rian terlihat tanpa ekspresi, ia tidak ingin Lili curiga dengan tujuannya.
Lili yang merasa sedikit aneh dengan sikap Rian, apa lagi wajah datar itu membuat Lili yang memiliki jiwa kepo hilang bila sudah berhadapan dengan Rian.
Lili yang sudah duduk di sofa, menatap Rian yang masih sibuk dengan laptopnya, hingga membuat Lili bertanya dalam hati, kenapa ia di suruh datang, malah hanya melihat Rian bekerja.
Rian sekilas melirik Lili, saat Lili fokus menatap Rian, hingga tatapan mereka bertemu satu sama lain.
Lili yang di tatap pun, langsung mengalihkan pandangannya, dan itu sungguh membuat dada Lili berdebar tak karuan.
"Khem,, Rian berdehem, membuat Lili menatap Rian sekilas lalu tertunduk tak ingin menatap mata itu lebih lama lagi, dan ia tak ingin Rian tahu perasaannya yang memang mencintai Rian, karena Lili selalu menolak, karena merasa tak pantas menjadi seorang yang berharga bagi Rian.
Rian pun berjalan ke arah sofa tempat Lili duduk, ia melihat Lili yang menunduk, dan Rian tahu Lili selalu menghindari kontak mata dengannya.
" A,ada yang bisa ku bantu?? tanya Lili gugup saat Rian sudah duduk di sebelahnya di sofa yang sama, masih dengan wajah tertunduk.
"Apa kamu tidak bosan menolak dan menghindar dariku terus?? tanya Rian dengan perasaan bergejolak, karena ia merasa sakit karena Lili seolah tak menghargai perasaannya.
"Apa kamu juga tak bosan, hanya membahas hal itu padaku?? bukannya menjawab pertanyaan Rian, Lili malah balik bertanya.
Rian yang mendengar ucapan Lili merasakan sesak di dadanya, mengapa begitu sulit meyakinkan Lili untuk menerima perasaannya.
"Apa karena ada pria lain.?? ucap Rian dengan dadanya yang berdenyut, tak sanggup mendengar bila Lili punya perasaan terhadap pria lain.
Lili yang di tanya begitu pun kaget, ia tak menyangka Rian berpikiran begitu padanya, padahal Rian tahu sendiri Lili tak pernah berhubungan dengan pria mana pun, baik di kampus bahkan di desanya.
Tapi biarlah Rian berpikir demikian, menurut Lili mungkin itu lebih baik, agar Rian menyerah mendekatinya, dan pertanyaan Rian spontan di angguki Lili.
__ADS_1
Rian yang melihat Lili mengangguk, tanda pertanyaannya itu adalah benar, merasakan dadanya sesak, hatinya sakit, begitu lamanya ia mendambakan Lili,ternyata perasaannya bertepuk sebelah tangan.
" Apa pria itu mencintaimu tulus?? tanya Rian dengan darah berdesir yang mengalir di tubuhnya, ingin rasanya ia berteriak, karena tak terima wanita yang di cintainya, memilih pria lain.
Lili hanya menjawab dengan anggukan, tak ingin mengeluarkan suara, perasaannya sakit mengakui hal yang tak ada sama sekali, dan bagi Lili itu lebih baik dan Rian akan menyerah, Lili sadar ia siapa, tak ingin bermimpi jadi cinderella, karena ia dan Rian punya banyak perbedaan yang sangat jauh.
Lili tak ingin di nilai sebagai gadis yang terlalu bermimpi untuk menjadi seorang ratu di hati Rian, karena status sosial mereka sangat jauh dari kata setara.
"Aku ingin bertanya padamu, dan aku minta kamu berkata jujur, setelahnya aku tidak akan menganggumu lagi, ucap Rian dengan bibir bergetar, seolah tak mampu menerima jawaban dari Lili.
" Apa kamu memang tak pernah mencintaiku?? tanya Rian, yang semakin merasakan sesak di dadanya.
Lili menggeleng, tak sangup mengatakan tidak, namun gelengan itu membuat Rian sakit, mengartikan Lili tak pernah mempunyai perasaan apa pun pada Rian.
"Keluarlah.!!! ucap Rian dengan suara seraknya, dan wajahnya terlihat datar dan dingin, ia tak ingin berlama-lama lagi melihat Lili yang sudah mengakui tak pernah mencintainya.
Lili menatap Rian nanar, saat Rian memintanya keluar dari ruangan itu.
Dadanya bedebar, hatinya sakit melihat Rian yang seperti tak ingin melihatnya lagi, mata Lili pun sudah berkaca-kaca, ingin sekali ia menangis dan mengatakan bahwa ia sangat mencintai Rian, namun status yang berbeda selalu mengingatkan Lili siapa ia sebenarnya.
Lili pun keluar dari ruangan Rian dengan langkah gontai, hatinya sakit melihat Rian yang berdiri membelakanginya.
Rian yang mendengar suara pintu yang sudah tertutup, menandakan Lili sudah pergi, berteriak histeris melepaskan sesak yang ia tahan sejak tadi.
"Aaakkkhhhhhh.!!!! teriak Rian frustasi.
Lili yang masih berdiri di depan ruangan Rian, menangis pilu, apa lagi saat mendengar teriakan Rian, Lili merasa bersalah telah menghancurkan perasaan Rian,entah kenapa Lili begitu takut menjalin hubungan dengan Rian, apakah hanya karena status sosial atau ada hal yang lain??
Perasaan yang sama-sama hancur, Rian merasa harapannya sudah pupus pada Lili, apa lagi ketika Lili mengakui bahwa ada pria lain dalam hidup Lili, Rian merasa dunianya runtuh, gadis yang ia damabakan ternyata sudah milik orang lain.
Next
__ADS_1
Mohon tinggalkan jejak ya Guys..
Salam Arthor.