Ketegaran Hati Wanita Miskin

Ketegaran Hati Wanita Miskin
Atika Belum Siuman.


__ADS_3

Waktu berjalan cepat, Atika masih berada di ruan ICU, menurut keterangan dokter, keadaan Atika masih dalam pantauan dokter selama 2x 24 jam, mengingat janin dan rahim Atika mengalami benturan keras, mengakibatkan dinding rahim Atika robek, dan mengalami tekanan, membuat daya tubuh Atika semakin lemah.


Rafa tidak lagi memperdulikan apa pun, pikirannya hanya tertuju pada Atika yang belum juga siuman, apa lagi dokter mengatakan Atika belum melewati masa kritis, membuat Rafa, takut cemas dan khawatir bersamaan.


Tak henti-hentinya Rafa berdoa, memohon pada Tuhan agar istrinya di kuatkan dan bisa melalui beban berat ini, dan ingatannya kembali ke beberapa hari yang lalu, membuat Rafa berandai-andai dalam hatinya.


"Seandainya aku tidak mengijinkan Atika tetap tinggal, mungkin semua ini tidak terjadi"


"Seandainya aku bisa tegas, mungkin keadaan nya tidak akan seperti ini"


Ungkapan itu pun terus di otak Rafa, bagai roda yang berputar, dadanya sesak melihat keadaan istrinya yang tak berdaya itu, dan seketika Rafa ingin sekali meluapkan emosinya pada ketiga d


gadis komplek yang sudah menyakiti istrinya separah itu, tapi Rafa mengurungkan niatnya, meredam emosinya semampunya, ia masih lebih mementingkan keadaan istrinya yang masih belum ada kemajuan, dan tak mau meninggalkan barang sedetik pun, karena Rafa sudah merencanakan sesuatu, untuk ketiga gadis itu, Rafa akan membuat perhitungan, dan ketiga gadis itu akan menyesali perbuatan mereka.


Dibalik kaca ruang ICU itu, Rafa hanya bisa memandangi istrinya, karena dokter tidak memperbolehkan siapa pun masuk sebelum Atika melewati masa kritisnya.


"Kenapa kamu senekat itu sayang, aku menugaskan pengawal untuk menjaga mu karena tak ingin terjadi sesuatu pada mu, tapi lihatlah, apa aku boleh marah dengan kesalahanmu ini?? ujar Rafa bicara dari balik kaca itu.

__ADS_1


" Tapi sepertinya kali ini, aku akan lebih tegas pada mu, karena aku tidak mau kejadian seperti ini terulang lagi, ujar Rafa lagi, memutuskan agar istrinya paham dengan kekhawatirannya dan semua yang menyayanginya.


"Rafa kamu tidak lelah berdiri terus di situ?? ujar Felix yang lelah melihat putranya berdiri di balik kaca itu.


" Tidak mom, apa pun itu, kalau untuk istriku aku tidak akan merasa lelah, ujar Rafa, membuat Felix menggeleng lelah.


"Atika akan baik-baik saja, dan kita berdoa agar Atika bisa melewati semua ini, kalau kamu begitu, yang ada kamu bisa sakit juga, apa lagi dari semalam kamu belum makan, dan itu akan membuat semua nya akan lebih buruk.! ujar Felix tegas, agar Rafa paham dengan situasi saat ini, dan tidak menambahi keadaan yang sudah buruk menjadi lebih buruk lagi.


"Bagai mana aku bisa makan dan tenang mom, sementara istriku dalam kesakitan begitu, jangankan makan, minum pun istriku tidak bisa, dan aku nggak akan bisa melakukan itu, ujar Rafa yang tetap bertahan dengan pendiriannya.


"Rafa tidak bilang begitu mom, kenapa momy jadi sensitif dengan ucapan Rafa barusan?? ujar Rafa menentang perkataan momy nya.


" Kalian ini apa-apaan hah.!! di saat seperti ini masih bisa berdebat.!! ujar Aliando marah, tak habis pikir melihat putra dan istrinya malah berdebat, nggak jelas.


"Momy hanya tidak ingin Rafa jadi ikut sakit karena terbebani dengan keadaan Atika, kita semua juga ingin Atika baik-baik saja, dan cepat sadar, tapi bukan cara seperti yang Rafa lakukan, apa karena tidak makan dan minum, dan berdiri di sana selama berjam-jam, bisa membuat Atika sadar dan sembuh?? tidak kan, karena kita hanya bisa memohon pada Tuhan, agar Atika kuat, dan para dokter yang menangani Atika di beri kemampuan untuk membuat Atika lebih baik dari keadaan sekarang ini, tapi sepertinya ucapan momy dianggap Rafa seolah momy tidak perduli pada Atika, ujar Atika, meluapkan kekesalannya pada Rafa, bahkan Felix sampai menangis karena putranya seperti tidak menghargai perasaannya sebagai seorang ibu, yang di rundung ketakutan, apa lagi Felix pernah mengalami yang lebih sulit dan sakit dari ini.


Rafa terdiam mendengar perkataan momy nya, ia menyesal telah bicara seperti itu pada momy nya, karena terlalu memikirkan Atika, Rafa sampai lupa dengan perasaan momy nya, dan membuat momy nya sakit hati karena perkataan nya, apa lagi melihat momy nya menangis, membuat Rafa merasa bersalah karena sudah tidak menghargai kecemasan momy nya, yang juga merasa takut sama sepertinya.

__ADS_1


Rafa pun berjalan mendekati momy nya yang duduk di sebelah dady nya, duduk di sebelah momy nya juga, lalu Rafa memeluk momy nya, tak tega melihat air mata momy nya itu, yang bersedih karena ucapan nya tadi.


"Maaf, Rafa minta maaf mom, tidak menghargai perasaan momy, ujar Rafa menangis dalam pelukan momy nya.


" Momy tahu ini berat buatmu, tapi setidaknya jangan menambahi ketakutan momy, ujar Felix menasehati Rafa, dan menangis, hatinya sakit melihat keadaan putranya yang seperti kehilangan arah, dan ibu mana yang tega melihat putra dan menantunya begitu?? Siapa pun orangnya pasti tidak ada yang ingin di posisi seperti ini, tapi ini sudah jalannya rencana Tuhan, dan semua itu harus ikhlas menjalani segala cobaan yang kita terima dalam hidup, dan Tuhan tidak akan memberi cobaan di luar kemampuan manusia, dan pastinya, akan ada pelangi setelah hujan, dan Tuhan tidak pernah menjanjikan hari selalu gelap, akan ada terang, dan kita di tuntut bagai mana cara untuk menyikapi masalah yang datang, dan pastinya harus lebih berserah, dan yakin Tuhan tidak akan meninggalkan orang yang selalu mengingatnya dalam senang mau pun susah.


"Sudah.! jangan di bahas lagi, bersihkan dirimu dulu, lalu makanlah sedikit, momy bicara begitu, karena juga memikirkan kamu, setidaknya kamu paham dengan perasaan momy, ujar Aliando, menengahi putra dan istrinya, karena ia juga tak tega melihat istrinya yang selalu menangis memikirkan nasib Atika, yang berjuang di dalam sana.


" Baiklah, maaf sudah membuat momy dan dady khawatir dan tidak menghargai perasaan kalian, pikiran Rafa buntu, membuat Rafa egois dan tak memikirkan kecemasan momy dan dady juga, ujar Rafa lalu pergi membersihkan dirinya.


"Dady tahu kecemasan momy, dan dady paham betul bagai mana perasaan putra kita, karena dady pernah di posisi ini, ujar Aliando, mengungkapkan perasaanya pada Felix setelah Rafa pergi. Mengingat semua itu, Aliando pun merasa hatinya bagai di iris, meski situasi nya berbeda, tapi tetap saja sama-sama menyakitkan, karena tak bisa berbuat apa-apa, dan hanya bisa menunggu dan menunggu, dan itu cukup berat, dan sangat menakutkan.


Next.


Jangan lupa jejaknya Guys, jempolnya mana?? arthor mengharapkan dukungan kalian semua, thanks.


Salam Arthor

__ADS_1


__ADS_2