
"Rafa...!!!! Kamu sangat keterlaluan, baru kali ini Felix terlihat marah dan membentak putranya itu, bagi Felix begitu sakit saat di depan matanya anaknya menyakiti hati seorang wanita, karena dulunya ia mengalami berkali-kali lipat atas perlakuan Aliando suaminya.
Rafa yang tidak pernah mendengar momynya membentak, tersentak, menatap momnya sekilas lalu membuang muka kembali.
Yayuk ibunya Celi,, jadi merasa tak enak hati, karena Felix membentak putranya, karena Celi merasa tersinggung.
" Mom tidak pernah mengajari hal yang buruk.!! "Apa kamu tahu dia bahkan sangat takut semua orang akan menyalahkannya?? tapi sikapmu sungguh kekanakan.!! " Dan kamu harus sadar dan ingat,, kejadian dan kesalahan ini berawal darimu..!!
Setelah mengatakan itu, Felix keluar dari ruangan itu, ia sungguh malu melihat sikap Rafa yang tidak menghargai orang lain, dan ia mersa seolah gagal jadi ibu untuk putranya itu.
Yayuk pun turut keluar setelah Felix pergi, saat sudah di luar Yayuk melihat Felix sedang bicara pada Celi, yang menangis karena sikap Rafa, jelas Celi paham akan ucapan Rafa tadi, jelas setelah melihat Celi, Rafa langsung bersikap dingin dengan ucapan yang membuat Celi sakit di hatinya.
"jangan pikirkan apa yang di ucapkannya tadi, dia hanya bicara asal, dan jangan membawa dalam hati, Felix berkata memeluk Celi yang menagis sendu.
Yayuk pun tersenyum tipis melihat Felix begitu lembut, dan sangat rendah hati, melihat Felix yang perhatian dengan perasaan Celi, menenangkan layak putrinya sendiri.
Selama ini Yayuk hanya mendengar isu yang beredar, bahwa menantu Pratama Widodo itu sangat baik, dan berhati malaikat.
Saat melihat kenyataan, jelas sudah ia menyimpulkan realita seorang wanita Pengusaha Panti Asuhan dan pecinta anak-anak terbuang dan terlantar itu, sungguh sangat berhati mulia, dan tidak salah banyak orang memuji kelembutan hatinya.
Aliando, papi, maminya serta Levi Quera, masih bicara di dalam ruang perawatan Rafa.
" Apa yang kamu lakukan son?? dadynya berkata dengan tatapan kecewa, karena sudah membuat istrinya membentak putra kesayangannya.
Rafa hanya diam, namun matanya menatap Grandma dan Grandpanya, seolah butuh pembelaan, namun malah tidak di hiraukan Widodo dan istrinya.
"Kamu tahu,, mom tidak pernah marah atau pun meninggikan suaranya pada siapa pun, karena mom wanita yang tidak suka hal seperti itu.
"Tapi tadi,, kamu sudah membuat macan betina bagun dari tidur panjangnya, Aliando berkata menatap Rafa dengan alis yang naik turun.
Plaaakkk..!!!
" Beraninya kau mengatakan putriku macan betina.!!! sang mami memukul kepala Aliando karena tak terima dengan kata-kata Aliando mengatai menatunya.
Widodo pun tak kalah sengit menatap putranya tajam, bahkan juga ingin melayangkan pukulan pada Aliando.
__ADS_1
"Aduh mih,,, kenapa memukulku?? merasa tak salah.
" Jangan karena putriku, sudah mengampunimu, kau bisa seenaknya mengatainya, atau..
"Maaf,,maaf, Ok aku salah mengatai putri tercinta kalian, ucap Aliando cepat sebelum papinya itu melanjutkan ucapannya.
Rafa menahan tawanya melihat sang dady tertindas, karena sudah mengatai momy macan betina.
Levi Quera yang menyaksikan hal itu pun tercengang, karena baru kali ini ia melihat Aliando rival bisnisnya itu tak berkutik di hadapan keluarganya, bagai mana kalau pada istrinya, mungkin akan lebih dari ini, akhh jadi penasaran?? batin Levi dengan senyum tipisnya melihat wajah si Raja arogan, dingin dan datar itu langsung ciut saat ini.
" Apa kamu bisa jelaskan, pada kami apa yang sebebarnya terhadi?? dan sepertinya Grandpa banyak melewatkan hal yang sangat berharga.
Widodo berkata, menatap cucynya itu dengan tatapan menati jawaban mutlak, dan takkan bisa untuk menolak jika si tuan besar sudah angkat bicara, karena sejatinya Widodo adalah sosok yang sangat di hormati karena sikap bijak dan tak nego-nego, sekali berkata maka harus ada jawabannya.
Rafa yang mendengar pertanyaan Grandpanya pun, menelan salivanya kasar, tatapan mata itu membuat Rafa ingin sekali menutup dirinya dengan selimut tebalnya, agar tatapan itu tidak ia lihat saat ini
Tapi siapa yang bisa berdalih dari Widodo si tuan besar, karena urusan akan panjang, mau tidak mau harus siap dengan resikonya.
Karena bagi Widodo, siap bermain maka akan siap dengan hasil menang atau kalah, karena itulah ia selalu berpikir dua kali bila melakukan hal apa pun, apa lagi menyangkut keluarga.
" Pusing ya?? sini Grandma pijitin, tersenyum menyeringai karena tahu cucunya mulai cari aman.
Rafa yang melihat senyuman licik Grandmanya itu pun langsung bicara cepat sebelum ia menyesal dengan ucapannya tadi.
"Ah ti,,tidak.!! Rafa tidak pusing"
Aliando yang tahu putranya beralasan, tersenyum mengejek, seolah mengatakan, "habislah kau anak nakal".
Dan itu membuat Rafa geram, karena dadynya malah membiarkannya di tindas dari dua penguasa di keluarga itu.
Levi yang sejak tadi hanya memperhtikan tingkah empat orang itu, hanya geleng kepala tak percaya, apa memang begini sikap mereka bila dalam lingkup keluaraga??
Padahal semua orang di luar sana banyak begitu takut berhubungan pada keluarga ini, dan kenyataannya sangat jauh terbalik dari berita yang beredar, pikir Levi yang semakin tak habis pikir, bahkan kalau saja tidak betsama dengan mereka ia sudah tepok jidat dari tadi, keluarga konyol batinya menjerit.
"Masih tak mau cerita hm?? Widodo kembali bertanya, dan jelas Rafa sudak tidak bisa mengelak lagi.
__ADS_1
"Ck,,,, Ok..! Rafa menyerah saat Aliando melototinya.
Rafa pun menceritakan semua dari awal, di mulai ia bertemu Celi tanpa sengaja, dan mulai mencari tahu, hingga ia membuat sandiwara yang indah, berujung membuat hubungannya dengan Celi merenggang.
Dan tak lupa ia juga menceritakan kejadian yang mengakibatkan ia mabuk berat dan berujung kecelakaan dan di rumah sakit inilah ujung dari persoalan itu.
" Begitu ceritanya Grandpa,, ujar Rafa dengan kepala tertunduk, sadar karena langkahnya salah, dalam menahlukkan hati Celi dengan sebuah kebohongan.
"Celi sebenarnya bukan merahasiakan identitasnya, karena memang putriku itu, tidak begitu tergantung dengan apa yang ada pada kami, hidup sederhana dan biasa, jadi keputusannya, namun dia sama sekali tidak melepas nama yang menyatakan bahwa ia putri dari Quera, dan kami tidak bisa melarang, atau pun mengekang keinginannya, kami membebaskan dia bertindak yang menurutnya baik, dan bagi kami, hal itu tidak menjadikan putri kami hina dengan pilihannya yang sederhana, yaahh, walau dunia tahu dia putriku.
Dan laki-laki yang kamu lihat bersama Celi itu adalah sepupunya, anak kakak laki-laki istriku yang datang dari luar negeri.
Deg
Rafa pun semakin menyesal dan bersalah, tak berani menatap semua yang ada di ruangan itu.
Rafa dan yang lain mendengar ungkapan Levi, tersentuh.
Sikap mereka menanggapi keputusan putri mereka sungguh mengingatkan mereka pada Felix, hanya saja perbedaannya jelas berbanding jauh, Felix yang dengan ketegarannya dalam hal apa pun, Celi ke sederhanaannya yang memiliki segalany tapi tidak meninggikan yang di anggap hanya sebuah titipan semasa kita hidup.
Karena harta duniawi yang kita miliki selama dalam hidup belum tentu menjamin kebahagian di akhirat, karena hanya perbuatan tanpa pamrilah yang selalu mengatasnamakan kebaikan melebihi dari kekayaan.
Next
Mohon tinggalkan jejak ya Guys.
Hai,, kakak,,abang sekalian,arthor berterima kasih untuk yang sudah dukung novel ini, dengan jempol, vote, love, dan komennya ya.
Untuk penebar kritik yang menjatuhkan semangat arthor, saya minta maaf ya, kalau masih belum bisa menyenangkan kalian, sungguh menulis cerita ini tidaklah segampang kita membaca, karena ini murni dari otak saya sendiri, bahkan karena memikirkan cerita ini agar lebih bagus, saya sampai lupa dengan yang namanya makan, apa lagi saya masih pemula, mohon jangan kritik yang membuat jadi down ya Guys, bila tak berkenan membaca, tingalkan saja, karena arthor tidak maksa siapa pun.
Maaf, maaf, karena belum bisa membuat kalian puas dengan karya aku ini.
Buat yang suka dan setia, arthor bahagia, karena masih ada yang arthor perjuangkan, karena pembaca setia saya, dan arthor juga minta maaf karena harus mengatakan hal ini.
Salam Arthor.
__ADS_1