Ketegaran Hati Wanita Miskin

Ketegaran Hati Wanita Miskin
Tangis Bahagia


__ADS_3

Keesokan harinya Rafa menemui Rian di Cafenya, awalnya Rian menolak membahas masalahnya dengan Lili, namun ketika Rafa memberinya pandangan serta nasehat, Rian yang tadinya sudah putus asa, merasa ada harapan untuk memperjuangkan cintanya pada Lili.


"Apa sudah siap meluncur, ucap Rafa meyakinkan Rian lagi.


"Apa pun yang nantinya aku dapatkan di sana, aku akan terima, dan aku harap kamu juha mendukungku meyakinkan orang tua Lili, ucap Rian dengan tatapan sendu.


" Sudah tentu aku mendukungmu, karena aku yang memberi saran ini, dan kita akan hadapi bersama, ujar Rafa memberi semangat pada Rian.


"Mari berangkat karena waktu kita tak banyak, kita punya pekerjaan yang harus kita kerjakan, ujar Rafa lagi.


Rian dan Rafa pun pergi ke desa Lili, untuk menemui kedua orang tua Lili di desa L.


Rafa yang memberi saran pada Rian, bahwa dia harus jentle jadi seorang pria, untuk meyakinkan ayah dan ibu Lili, karena sebuah ujian bila tidak di coba untuk mengerjakannya dan berusaha menyelesaikannya, tidak akan tahu hasilnya bagai mana.


Sepanjang perjalan menuju desa L, Rian terlihat gelisah, tapi ia tetap optimis, apa pun yang akan ia hadapi nantinya ia akan pasrah bila memang Lili tidak di takdirkan padanya.


Rafa menyadari Rian di rundung hawatir, dan itu wajar karena Rian harus benar-benar mampu meyakinkan ayah dan ibu Lili nantinya.


" Aku tahu kamu gugup dan hawatir, tapi menurutku lebih baik berusaha dari pada berdiam diri dan merasakan hampa di setiap harimu, ucap Rafa meyakinkan Rian.


"Makasih Raf,, kamu sudah membuat aku bisa bertindak sampai sejauh ini, bahkan ini tak pernah terpikir olehku, meski hasilnya kita belum tahu, dan apa pun keputusannya nantinya, setidaknya bisa membuat aku lega, dan melanjutkan langkahku tanpa rasa yang tidak jelas, ujar Rian.


" Ayolah, ini bukanlah hal yang terlalu berat, dan yakinkan dirimu, bahwa kamu bisa menghadapi ayah dan ibu Lili nanti dan kalau bisa harus berhasil, ucap Rafa selalu memberi support pada Rian.


Lili sama sekali tidak tahu Rian pergi ke desanya untuk bertemu ayah dan ibunya, tapi tidak dengan Celi, karena Rafa mengabarinya tadi lewat chat WA, dan Rafa juga meminta Celi agar tidak cerita dulu tentang kepergian mereka ke desanya Lili.


Saat di Cafe Lili masih terus melihat pintu ruangan Rian, dia mengira Rian tak ingin lagi melihat wajahnya, dan itu membuat Lili sakit, karena sejak tadi ia tak melihat sosok yang sangat ingin ia lihat.


Sebenarnya Celi tak tega melihat Lili yang terus menerus melihat pintu ruangan Rian, Celi ingin sekali memberitahu, tapi ia tak ingin mengecewakan Rian dan Rafa, maaf Li aku harus pura-pura tak tahu perasaanmu saat ini, karena pria yang mencintaimu saat ini sedang berjuang untukmu, karean kamu begitu berharga dalam hidupnya, batin Celi yang menatap Lili yang terlihat sedih dan lemah.


Saat Rian dan Rafa sudah tiba di desa L,,, mereka bertanya pada penduduk desa alamat rumah Lili, dan mereka pun mendapatkan alamat yang di tunjukkan penduduk desa tadi.

__ADS_1


Rian dan Rafa pun turun dari mobil, saat melihat dengan jelas rumah yang ada di hadapan mereka saat ini, seorang pria paru baya menatap mereka.


Rumah sederhana terlihat asri, dan di samping terdapat kios kecil, yang menjual beberapa macam roti, dan sudah pasti itu warung roti yang di katakan Lili waktu itu pada Rian.


Rian dan Rafa pun menghampiri pria paruh baya itu yang berdiri menatap mereka intens, karena merasa tak punya kerabat yang kaya dan punya mobil mewah.


"Salam pak dan selamat siang, ucap Rafa dan Rian bergantian, serta menyalami ayahnya Lili.


" Selamat siang,, sahut ayahnya Lili menyambut jabat tangan dari Rafa dan Rian.


"Perkenalkan kami teman Lili pak, kami dari kota, ucap Rian sedikit gugup.


Ayahnya Lili yang mendengar mereka dari kota dan mengaku teman Lili, seketika hawatir, menduga terjadi sesuatu pada anak gadisnya.


" Silahkan duduk,, sebentar saya panggil istri saya dulu, ucap ayahnya Lili dan berjalan menuju kios roti di sebelah rumah itu.


Rian dan Rafa yang sudah memperkenalkan diri pada ibunya Lili pun, kini sedang menikmati teh hangat dan beberapa roti yang di sediakan ibunya Lili.


"Panggil Rian dan Rafa saja om, ucap Rafa yang tak enak hati mendengar mereka di panggil ayahnya Lili, yang juga sebaya pada orang tua mereka.


" Baiklah,, nak Rafa, sahut ayahnya Lili.


"Apa terjadi sesuatu pada Lili?? tanya ibunya Lili yang sudah meremas tangannya karena sudah sangat hawatir.


" Lili baik-baik saja bu, sahut Rian menatap dalam ibunya Lili, jelas Rian rasakan kekawatiran ibunya, tentu itu membuat mereka mengingat masa lalu kelam itu.


"Saya datang secara langsung menemui bapak dan ibu, karena ingin menyampaikan maksud hati dan tujuan saya, ucap Rian yang sudah bertekad tak ingin menunda lagi.


" Maksud nak Rian?? tanya ayahnya Lili.


"Sebelumnya saya minta maaf pak, bu, karena sudah lancang menemui bapak dan ibu tanpa izin dari Lili, ucap Rian lagi.

__ADS_1


" Kami tak mengerti apa yang kamu bicarakan nak Rian, ucap ayahnya Lili lagi.


"Kedatangan saya pak, bu, untuk meminta restu dari bapak dan ibu, karena saya mencintai anak gadis kalian, dan saya ingin menjadikan Lili sebagai pasangan hidup saya, saya juga berani melangkah menemui bapak dan ibu, karena Lili tidak menerima saya, karena dia tidak ingin mengecewakan dan menyakiti perasaan orang tuanya, karena Lili sangat menghargai nasehat dari bapak dan ibu, dan kedatangan kami pun tanpa sepengetahuan Lili, ucap Rian tegas dan menatap lekat ayah dan ibunya Lili.


Ayah dan ibunya Lili pun saling pandang, bahkan ibunya sudah meneteskan air mata, karena begitu terharu pada Lili yang selalu mengingat nasehat dan menghargai keputusan mereka sebagai orang tua.


Rian yang melihat ayah Lili hanya diam, seolah berat menjawab ucapan Rian, karena secara tak langsung ingatan ayahnya Lili terarah pada anak gadisnya yang sudah tenang di alamnya.


Rian pun berjalan mendekati ayahnya Lili, dan berlutut serta mengenggam tangan renta itu menundukkan kepalanya, serta air mata yang sudah tak terbendung lagi.


" Ayah,,, aku tahu kalian menekankan pada Lili agar tidak bergaul pada laki-laki yang berbeda status sosialnya, dan aku tahu bagai mana rasa sakit yang ayah dan ibu rasakan saat kehilangan putri kalian di masa lalu, namun percayalah ayah, aku tulus pada putrimu, dan aku sangat mencintainya, aku tak pernah memandang status sosial kalian, ucap Rian yang sudah menagis memohon pada ayahnya Lili.


Ibunya Lili yang mendengar ucpan Rian pun menangis pilu, ia tak menyangka putrinya Lili, begitu memegang teguh nasehat dan pesan mereka, hingga ia harus mengorbankan perasaan agar tak menyakiti perasaan ayah dan ibunya, sungguh putrinya itu sangat berbakti, batin ibunya Lili yang sudak terisak pilu.


"Apa ayah dan ibu tahu, putri kalian gadis yang begitu hebat, walau kami tahu ia banyak menyimpan duka dalam hatinya, namun ia bisa menyembunyikan semua itu, dan berusaha terlihat tegar, dan kami tahu itu dia lakukan agar bisa melupakan masa lalu yang selalu membayanginya, ucap Rian lagi.


Ayahnya Lili pun tak dapat lagi membendung air matanya, luruh sudah pertahanannya, mendengar putrinya berusaha tegar karena masa lalu itu, ternyata Lili sangat terbebani akan hal itu, di tambah lagi beberapa larangan dan nasehat yang harus ia ingat selalu dan tidak boleh di langgar, sungguh kami orang tua yang egois, kami tak memikirkan bahwa Lili begitu terbebani akan semua ucapan kami hingga ia sangat takut memberi hatinya pada pria yang di cintainya, batin ayah Lili dengan tangis pilu serta sesak di dadanya menjadi satu mendengar kenyataan yang di alami Lili selama ini.


Ayahnya Lili yang melihat Rian menangis pilu, saat memohon dan meminta restu dari mereka, merasa yakin Rian tidak seperti pria yang sudah menghancurkan masa depan kakaknya Lili.


Melihat kesungguhan Rian, ayahnya Lili menatap istrinya meminta pendapat, dan ibunya Lili pun mengangguk tanda menyetujui dan merestui Rian dan Lili putrinya.


"Bangunlah nak Rian, ayah hanya minta satu hal, saja dan setelahnya itu kami serahkan pada Lili, ucap ayahnya Lili menatap Rian serius.


" Kelak bila nak Rian sudah tak mencintai Lili lagi, tolong kembalikan dia pada kami dengan baik-baik, jangan membuangnya seperti sampah, karena hanya Lili harta yang paling berharga milik kami, dan sebagai ayahnya saya minta jangan pernah menyakiti perasaannya, karena Lili sudah sangat menderita dengan kepergian kakaknya. Ayah dan ibu memberimu restu, dan bahagiakan Lili untuk kami, ucap ayahnya Lili finis.


Rian yang mendengar semua ucapan ayahnya Lili, tangisnya pecah, dan kembali berlutut mencium tangan ayahnya Lili berkali-kali begitu juga pada ibunya Lili, karena ia tak menyangka semudah ini mendapatkan restu dari kedua orang tua Lili, bahkan Rafa yang dari tadi membiarkan Rian bicara dengan maksud tujuan dan kesungguhan Rian yang tadinya meneteskan tangis haru pilu, kini menangis bahagia, karena perjuangan Rian tak sia-sia meyakinkan ayah dan ibu Lili.


Next


Mohon tinggalkan jejak ya Guys.

__ADS_1


Salam Arthor


__ADS_2