Ketegaran Hati Wanita Miskin

Ketegaran Hati Wanita Miskin
Atika Ingin Pulang.


__ADS_3

Ketika Bibi Lana melihat Atika yang berlari keluar dari Mall, mengejar Atika karena takut sesuatu terjadi pada Atika. Namun Bibi Lana tak melihat Rafa yang sedang bersama Vany.


Bibi yang sudah di luar Mall, melihat Atika masuk ke dalam mobil yang membawa mereka ke Mall tadi.


Bibi pun berjalan tergesah, apa lagi melihat Atika yang menangis, hingga membuat Bibi Lana heran dan bingung apa yang terjadi pada Atika.


Bibi pun masuk ke dalam mobil, mendapati Atika yang menangis menutup wajahnya dengan telapak tangannya.


"Tika, apa yang terjadi sayang?? tanya Bibi menyentuh bahu Atika yang bergetar karena menangis.


"Kita pulang Bik, ucap Atika yang tak ingin cerita, apa yang di lihatnya tadi.


"Baiklah, kalau kamu tidak ingin cerita pada Bibi, dan sebaiknya kita pulang, ucap Bibi memberi kode pada supir yang membawa mereka, supir itu pun paham, dan langsung menyalakan mesin mobil, dan melaju dengan kecepatan sedang.


Selama perjalanan, Atika hanya diam, tapi air matanya masih tak dapat di bendung, hatinya sakit melihat Rafa bersama gadis lain, apa lagi terlihat mesrah dan sangat dekat.


Mobil yang mereka tumpangi pun, tiba di mansion, tanpa menunggu Bibi Lana, Atika langsung keluar, berlari masuk ke dalam mansion, dan menuju kamarnya.


Felix yang melihat Atika masuk dengan buru-buru, bahkan melihat Atika yang menangis, langsung panik, ingin mengejar Atika, ke kamarnya, namun langkahnya terhenti, saat melihat Bibi Lana masuk.


"Bik, apa yang terjadi pada Atika?? tanya Felix yang terlihat khawatir.


"Bibi juga kurang tahu Ny, saat di Mall tadi Atika sempat pisah dari Bibi, dan saat Bibi mencari Atika, Bibi melihatnya berlari keluar dari Mall, dan Bibi tanya tadi saat di dalam mobil, Atika tidak mau bicara apa pun, hanya menangis Ny, ucap Bibi Lana menjelaskan.


Felix pun berjalan menuju kamar Atika, mencoba bicara pada Atika dan menanyakan apa yang terjadi, namun belum sempat Felix mengetuk pintu, Atika sudah lebih dulu membuka pintu kamarnya, dengan menenteng tas yang sudah berisi pakaiannya.


Felix yang melihat Atika, membawa tasnya sudah menebak Atika ingin pergi dari mansion, Felix tak ingin gegabah, ia hanya bersikap tenang dan mencoba bicara pada Atika selembut mungkin, agar Atika tidak bertindak lebih, pikir Felix.


"Ada apa sayang hm?? kamu boleh cerita pada tante, dan kalau ada masalah jangan langsung mengambil keputusan yang tidak bisa kamu pikirkan dengan kepala dingin dan jernih, ucap Felix membujuk Atika selembut mungkin.


"Maaf Tante, Atika mau pulang dengan ayah, ucap Atika tidak menjawab pertanyaan Felix tadi.


Atika pun langsung berjalan ke arah kamar ayahnya, bermaksud ingin meminta ayahnya berkemas karena mereka akan kembali ke kota B.


"Kalau kamu punya masalah jangan di pendam sendiri, Tante ada untuk kamu sayang, ucap Felix berjalan mengikuti langkah Atika yang menuju kamar pak Danu.


Atika tidak menghiraukan ucapan Felix, baginya sudah jelas tadi, saat melihat Rafa bersama seorang gadis, dan Atika merasa ia hanya di permainkan, dan Atika menilai bahwa Rafa tidak sepenuhnya mencintai Atika, dan Atika menyadari kebodohannya, yang mudah percaya pada Rafa, yang jelas-jelas kasta mereka sangat jauh berbeda, tidak akan mungkin seorang Rafa jatuh cinta pada seorang gadis miskin seperti Atika, yang pantas jadi pelayannya, malah bermimpi jadi Cinderella, pikir Atika, menghapus air matanya yang terus menetes di wajahnya.

__ADS_1


Pak Danu yang melihat Atika masuk ke kamarnya, terkejut melihat wajah Atika yang sembab, dengan mata yang memerah, serta pandangan pak Danu tak luput dari tas yang di tenteng Atika.


"Apa yang terjadi Tika?? tanya pak Danu melihat Atika yang sibuk mengemasi baju-baju pak Danu.


"Tidak kenapa ayah, kita akan kembali ke kota B, dan tempat kita tidak di sini, ucap Atika meneteskan air matanya, memejamlkan matanya, menahan Isak tangisnya, dan berdiri membelakangi pak Danu, agar air matanya tidak di lihat pak Danu.


"Kamu bicara apa Tika, dan apa yang terjadi?? katakan pada ayah, ucap Pak Danu membalikkan badan Atika agar menghadap padanya.


Atika yang sejak tadi menahan Isak tangisnya, memeluk Pak Danu menumpahkan sesak di dadanya, dengan menangis pilu dalam dekapan Pak Danu.


"Ada apa, cerita pada Ayah, ucap pak Danu membelai kepala Atika sayang.


"Tidak kenapa ayah, lebih baik kita pulang, ucap Atika yang tetap kekeh ingin pergi, dan tak mau cerita yang menyakiti perasaannya, dan tak ingin terlalu banyak berharap dan bermimpi bisa menjadi wanita yang istimewa bagi Rafa.


Pak Danu yang tak dapat menolak keinginan Atika, menurut saja pada Atika, pak Danu berpikir, ia berharga di mata keluarga Rafa karena Atika, bila pak Danu lebih memilih tinggal sudah jelas pak bukan siapa-siapa bagi mereka, bila Atika sudah memutuskan pergi.


"Baiklah, ayah ikut Tika, kalau itu menurut kamu yang terbaik, ucap Pak Danu pasrah, tak ingin mengecewakan Atika putrinya.


"Maaf Buk, sepertinya kami akan kembali ke kota B, maaf telah membuat keluarga besar ibu kecewa, dan kami harus pergi, ucap pak Danu pada Felix yang sudah menangis pilu.


"Kami pergi Tante, ucap Atika dingin, dan bersikap biasa saja, ia tak ingin menyakiti hati wanita yang sangat baik dan perhatian padanya, memperlakuknanya layaknya putri sendiri.


Saat mendekati pintu masuk mansion, langkah Atika terhenti saat sosok yang sudah membuat hatinya sakit dan hancur, berdiri di hadapannya, menatapnya dengan mata yang sudah berkaca-kaca, apa lagi melihat Atika yang membawa tas di tangannya, membuat dada Rafa sesak, dan kakinya lemas, melihat Atika memutuskan pergi karena kejadian di Mall tadi, yang hanya sebuah kesalah pahaman.


Tanpa mengucapkan apa pun Rafa langsung merampas tas yang ada di tangan Atika, dan menarik tangan Atika, membawanya masuk ke kamar Atika.


"Lepas.!! ucap Atika berteriak menepis tangan Rafa yang menarik tangannya, saat mereka sudah di dalam kamar Atika.


Semua orang yang melihat Rafa menarik Atika, hanya menatap diam, bingung dan mereka hanya berperang pada pikiran masing-masing, membiarkan Rafa dan Atika menyelesaikan masalah mereka, dan tak ingin ikut campur, karena mereka juga tidak tahu persis, pokok persoalannya.


Tangan Rafa bergetar, melihat Atika yang menepis tangannya kasar, bahkan Atika membuang pandangannya ke arah lain, membuat Rafa merasa sakit di dadanya, melihat Atika yang seperti jijik menatapnya.


"Sebelum kamu melangkah, pergi dari sini, setidaknya dengarkan lebih dulu penjelasan ku, ucap Rafa yang sudah tak tahan dengan sesak di dadanya, bicara dengan suara yang bergetar menahan tangisnya.


"Tak ada yang perlu di jelaskan, dan aku sudah melihat semuanya, itu sudah cukup untukku, dan aku sadar siapa aku, dan tidak sepantasnya aku berharap lebih, dan aku memang terllau polos, begitu mudah terbuai dengan ucapan manis, dan si miskin ini terlalu bermimpi, dan aku merasa sudah cukup untuk hubungan ini, terima kasih atas kebaikan anda, dan saya juga ayah, akan mengembalikan segala yang sudah anda lakukan pada kami, dan kami berjanji akan membayarnya kelak, mohon ijinkan kami pergi, ucap Atika mengambil tasnya yang di rampas oleh Rafa tadi.


Deg

__ADS_1


Rafa yang mendengar ucapan Atika, jantungnya berdetak keras, dadanya sesak, dan dunianya seolah runtuh dalam sekejap, Atika yang memutuskan pergi membuat Rafa mengepalkan tangannya, lalu menghubungi Vany agar masuk yang masih menunggu di dalam mobil.


"Setidaknya dengarkan dulu penjelasan seseorang, dan setelah itu aku tidak akan menahanmu apa pun keputusanmu, ucap Rafa membuat langkah Atika terhenti.


Pintu kamar pun terbuka, Vany masuk bersama dengan Felix, Vany sengaja mengajak Felix masuk, agar ikut menjelaskan siapa dirinya, yang sudah membuat Rafa dan Atika jadi bertengkar saat ini.


"Maaf, karena sudah membuat kakak salah paham, ucap Vany saat melihat Atika yang berdiri dengan menenteng tasnya.


"Perkenalkan namaku Vany, aku adalah putri adik kandung bunda Felix, dan aku dan kak Rafa adalah sepupu dari pihak bunda Felix, ucap Vany menunduk, merasa bersalah karena sudah membuat Atika salah paham pada Rafa.


"Maaf kakak, kalau sikap Vany sudah berlebihan tadi pada kak Rafa, dan membuat kak Tika salah paham, ucap Vany lagi dan membuat Atika tertunduk malu karena sudah salah paham.


Tapi tetap saja Atika tidak terima, melihat sikap Rafa yang begitu manis pada Vany, dan wanita mana yang tidak cemburu, melihat kekasihnya begitu manis pada wanita lain meski itu adiknya, apa lagi Atika yang tidak mengenal Vany, jadi wajarlah ia bersikap demikian dan menilai Rafa hanya mempermainkan perasaannya.


"Kamu sudah dengarkan, dan sudah tahu siapa dia, sekarang terserah padamu, kalau kamu memutuskan pergi aku tak akan menghalagimu, dan itu adalah hak kamu, ucap Rafa dingin, ia sengaja mengatakan hal itu,agar Atika tidak mudah percaya dengan apa yang di lihat tanpa mengetahui yang sebenarnya, karena Rafa tidak hanya akan bertemu atau jalan pada Vany, karena banyak klien dan rekan bisnisnya yang selalu terlihat bersama dengannya.


Atika yang polos, mengartikan ucapan Rafa sebagai tanda bahwa Rafa tidak ada perasaan apa pun padanya selain rasa kasihan, hingga semudah itu Rafa bicara dan tidak menghalangi kepergiannya, Atika pun membalikkan badannya menatap Rafa dalam, lalu ia tersenyum meski hatinya begitu sakit seperti teriris.


"Tentu tuan, saya memang tidak pantas di sini, dan maaf kalau saya sudah salah paham, dan saya tahu perasaan anda hanya rasa kasihan dan tidak lebih dari itu, ucap Atika membuat Rafa tertegun, berpikir Atika akan merasa bersalah karena sudah salah paham, dan ia lupa Atika yang polos dan apa adanya.


"Terima kasih sudah menampung saya dan ayah, saya berjanji akan membayar semua kerugian anda yang sudah melakukan yang terbaik untuk saya dan ayah, sekali lagi terima kasih dan saya pamit tuan, ucap Atika berjalan membawa tasnya, melewati Felix yang menangis pilu, karena Atika tetap pada keputusannya untuk pergi.


"Atika.!! panggil Rafa yang menghentikan langkah Atika.


Brukk.!!


Rafa ambruk dengan berlumuran darah dari pergelangan tangannya, tak sanggup menerima kepergian Atika yang memutuskan hubungan mereka yang sudah di ujung pernikahan, dan Atika yang menilai perasaan Rafa hanya sekedar belas kasihan.


"Rafaaa.!! teriak Felix yang melihat putranya jatuh tak sadarkan diri, melihat darah segar yang mengalir deras dari pergelangan tangan putranya itu.


Deg


Atika pun menangis, melihat Rafa yang nekat memotong pergelangan tangannya, entah sejak kapan Rafa melakukan itu, dan semua orang sama sekali tak melihat gerak-gerik Rafa yang secara cepat melakukan hal yang bisa merenggut nyawanya itu.


Next.


Jangan lupa jejaknya ya Guys.

__ADS_1


Salam Arthor.


__ADS_2