Ketegaran Hati Wanita Miskin

Ketegaran Hati Wanita Miskin
Waktu Yang Tepat


__ADS_3

Tak banyak yang bisa di lakukan, hanya bisa menunggu, dan bersabar sampai Atika siuman.


Rafa hari ini yang terpaksa harus menghadiri rapat penting, bersama petinggi-petinggi perusahaan, mau tidak mau harus meninggalkan istrinya di rumah sakit, dan meminta bantuan pada mommy nya agar menemani Atika di rumah sakit.


Sementara di tempat lain, Jhon yang bersama Siska saat ini, mendapat berita tentang Atika yang masuk rumah sakit, dan menjalani operasi.


Mengingat mereka yang di bebaskan dari jeratan hukum, oleh Rafa, dan karena Felix ingin memberi mereka kesempatan untuk merubah diri mereka jadi orang lebih baik dari sebelumnya.


Siska yang mendengar cerita dari jhon, soal Atika yang berjuang untuk mereka agar bebas dari hukuman, dan berjanji pada Rafa, akan membawa Siska di jalan yang benar, dan tidak lagi melakukan kesalahan, Siska semakin merasa bersalah.


Mengingat dialah yang sangat ingin menyingkirkan Atika waktu itu, justru malah Atika yang menyelamatkan dirinya dari jeratan hukum.


Betapa bodohnya ia, yang telah di kuasai rasa obsesi, hingga melupakan moralnya sendiri, bahkan tidak menggunakan kewarasannya.


Mendengar cerita itu, membuat Siska ingin bertemu dengan Atika, menjenguk dan sekaligus memohon maaf, atas kesalahan dan dosanya pada Atika juga Rafa.


"Jhon, kalau kita mengunjungi Nona Atika, apakah kita akan di terima di sana?? tanya Siska, takut kalau mereka datang, justru kehadiran mereka tidak di harapkan.


" Kenapa tidak, kita datang bukan untuk berbuat yang tidak baik, justru kita memang harus membuktikan pada mereka kalau kita sudah menata hidup dan diri kita, meski pun, kita belum layak di katakan sebagai orang baik, setidaknya kita sudah berusaha" ujar jhon menjelaskan, ia tahu Siska masih kurang percaya diri muncul di hadapan mereka.


Tapi tidak dengan Jhon, karena sudah beberapa kali bertemu dengan Rafa, bahkan ia begitu antusias, bila bertemu dengan Rafa, bisa bercerita tentang dirinya yang sudah lepas dari belenggu kegelapan selama ini.


"Apa kau berniat menemui Nona Atika?? tanya jhon pada Siska.


" Hm, tapi aku nggak yakin mereka mau bertemu denganku" ujar Siska yang takut di tolak, malah mendapat caci maki di sana, dan di permalukan.


"Jangan berpikiran seperti itu, mereka keluarga yang dikenal baik dan juga terpandang, bagi mereka semua orang itu sama, dan tidak ada kamus dalam keluarga mereka untuk menyombongkan diri dan angkuh" ujar jhon, yang bisa melihat dari sisi sifat Rafa, yang sudah pernah bertemu dan bicara beberapa kali.


"Baiklah, aku percaya padamu, kalau pun mereka tidak menerima kedatangan dan mempermalukan kita di sana nantinya, itu wajar, karena perbuatan kita memang tercela" ujar Siska, yang merasa, kalau pun nantinya kenyataannya berbeda dari yang ia harapkan, ia ikhlas dengan itu semua, dan mungkin itulah cara yang di beri Tuhan untuknya menebus segala perbuatan jahatnya.


Akhirnya mereka pun pergi ke rumah sakit, dan rumah sakit itu tak asing lagi bagi Siska, karena tempat itu pernah menjadi tempatnya mengais rezeki, namun ia di buta kan cinta obsesi, yang merugikan dirinya sendiri.


Tatapan mata yang menatapnya jijik dan benci, Siska dapatkan saat ia baru saja masuk ke rumah sakit itu. Para perawat teman sekerja nya Siska dulu, menatapnya benci, karena mereka mengetahui kejahatan Siska, yang menculik Atika, dan ingin melenyapkan Atika.


Awalnya Siska tak tahan dengan tatapan benci dan jijik itu, membuat Siska sempat ingin keluar dari rumah sakit itu, namun Jhon mencegahnya.


"Kenapa?? jangan hiraukan mereka, sampai kapan pun, kita tidak bisa menghindari dan lari dari kenyataan ini, karena kita memang bersalah dan pantas mendapatkan itu semua, untuk menjadi orang baik dan di percaya orang lain, memang tidak mudah, kita sudah melangkah ke depan, dan jangan mundur lagi, karena mundur itu bukan pilihan, tapi lari dari tanggung jawab" ujar jhon bijak, mendorong dan mendukung Siska, agar tidak mudah goyah dengan tantangan kecil seperti itu, meski ia juga tak tega melihat Siska yang di tatap begitu oleh teman sekerja nya dulu.

__ADS_1


Siska yang mendengar penuturan Jhon, merasakan hatinya menghangat, mengutuk dirinya yang begitu bodoh, betapa dewasanya jhon, dan tak melihat cinta tulus jhon selama ini, bahkan sampai detik terpuruk nya, jhon tetap mendampinginya, dan Siska menyesali itu semua, akan mencintai dengan tulus, seperti jhon yang mencintainya.


Mereka pun masuk, melewati para perawat yang menatapnya jijik dan benci. Dengan kepala tertunduk, Siska tak berani menatap seorang pun yang mereka lalui, bahkan air matanya jatuh, sungguh ia merasakan sakit, dan ia pun tahu kenyataan, sesakit itulah bila orang lain membenci dan menganggap kita seperti bukan manusia.


Langkah mereka pun terhenti saat tiba di depan ruang VIP, tempat Atika di rawat.


Tersirat keraguan di hati untuk mengetuk pintu ruangan itu, tapi jhon sudah siap dengan mentalnya, untuk bertemu Atika nantinya, atau pun keluarga besar Widodo.


Mendapat sahutan dari dalam, mereka pun masuk, begitu perlahan membuka pintu ruang VIP itu, dan hingga terbuka lebar menampilkan kedatangan mereka.


Rafa yang sudah kembali dari kantor, dan di sana ia masih bersama mommy dan daddy nya, dan mereka baru saja selesai makan siang, sedikit terkejut melihat kedatangan jhon dan Siska, hingga lupa mengajak mereka masuk, yang masih berdiri di ambang pintu.


Rafa yang tersadar pun, langsung mengajak jhon dan Siska masuk.


"Ah, silahkan jhon, ayo masuk"


Mendengar itu pun jhon langsung lega, karena sempat juga ia merasakan gelisah, mengira kehadiran mereka tak di harapkan.


Jhon dan Siska pun masuk, dan duduk di sofa yang sama dengan Rafa, dan orang tuanya.


"Bagai mana dengan Nona tuan?? apa masih belum ada perkembangan?? Tanya jhon yang menanyakan kabar Atika.


"Tuan nyonya, saya minta maaf atas perbuatan saya, maaf kalau kami sudah lancang untuk datang menemui anda" ujar Siska, yang akhirnya memberanikan diri buka suara.


"Kamu tidak melakukannya pada kami, tapi pada menantuku, jadi mintalah maaf padanya, siapa tahu dengan kamu bicara, menantuku mau bangun dari tidur panjangnya" ujar Felix.


Siska yang tadinya menunduk saat bicara, langsung mengangkat kepalanya, menatap tiga orang besar di depannya, lalu mengalihkan pandangannya pada Atika.


Siska pun langsung beranjak dari duduknya, berjalan mendekati Atika yang terbaring di ranjangnya itu.


"Kedatangan ku memang tidak pantas untuk menunjukkan wajahku ini pada Nona Atika, mengingat apa yang sudah ku perbuat pada anda, tapi karena kebaikan andalah saya masih bisa hidup bebas dan tentunya saya sangat berterima kasih pada anda Nona. Kesempatan yang anda berikan ini tidak akan saya sia-siakan, dan tentunya saya akan terus berusaha untuk menjadi lebih baik, Maafkan saya Nona, walau sebenarnya saya tak pantas untuk di maafkan" ujar Siska dengan tangis pilunya, sungguh ia masih beruntung, karena masih hidup, mengingat siapa yang sudah ia usik, sampai terisak Siska menangis memohon maaf pada Atika.


Entah dorongan dari mana, atau memang itulah kuasa Tuhan, selalu menempatkan hal-hal yang begitu di syukuri manusia, Atika pun perlahan membuka matanya, membuat Siska yang tadinya sudah tidak lagi menangis, jadi terisak kembali, karena melihat Atika membuka mata.


"Nona, anda sudah sadar" ujar Siska sambil menangis bahagia, merasa dirinya tak sia-sia datang.


Rafa yang mendengar Siska mengatakan istrinya sadar, langsung beranjak, dan mendekati istrinya itu.

__ADS_1


"Sayang, kamu sudah sadar?? syukurlah, terimakasih Tuhan, mas sangat takut sayang, jangan hukum mas seperti ini" ujar Rafa yang berkali-kali mencium wajah Atika, bahkan air matanya membasahi wajah Atika.


Atika masih diam, namun ia menatap dalam pada suaminya itu, lalu tangannya pun meraba perutnya yang sudah datar, membuat Atika menurunkan pandangannya ke arah perutnya.


Di tatapnya semua orang yang berdiri di dekat ranjangnya, seakan bertanya di mana anakku.


"Kamu sudah melahirkan putra kita sayang, dan dia sangat tampan" ujar Rafa, yang di angguk ki semua yang ada di situ.


Felix pun mendekati menantunya itu, mengecup keningnya lembut, menuangkan kasih sayangnya, selayaknya putrinya sendiri.


"Bagai mana keadaan mu, ada yang sakit tidak sayang?? tanya Felix lembut.


" Tidak ada mom, aku baik, hanya saja badanku pegal, seperti kesemutan" sahut Atika.


Deg


Rafa yang mendengar istrinya bicara saat mommy nya yang bertanya, padahal ia sudah dari tadi bicara pada istrinya itu, tapi tak satu pun ucapannya mendapat respon dari istrinya.


Sesak dadanya, hingga Rafa, mundur dari tempatnya berdiri, berpikir istrinya tidak ingin bicara dengannya, Rafa yang tak tahan pun, keluar dari ruangan itu, karena sangat sakit baginya, di abaikan istrinya, padahal ia begitu khawatir dan takut.


Kepergian Rafa, membuat keadaan jadi canggung, hingga Jhon, mencari akal, dan sengaja bicara ke topik yang lain.


"Nona, syukurlah anda sudah baikan, dan saya juga Siska minta maaf atas perbuatan kami dulu, dan kesempatan yang nona berikan tidak akan kami sia-siakan" ujar Jhon, mengalihkan.


"Tentu Jhon, Terima kasih juga sudah menyelamatkan aku waktu itu. Dan untuk kamu Siska, saya sudah mendengar apa yang kamu katakan tadi, dan mudah-mudahan kalian kedepannya akan menjadi lebih baik, hidup lah dengan damai, dan sayangi kesempatan yang Tuhan berikan, karena tidak ada kesempatan ketiga dan keempat" ujar Atika, dan di angguki Jhon dan Siska, dengan senyum yang tulus.


"Waktunya sangat tepat, saat mereka datang mengunjungi mu, justru membuatmu bangun dari tidur panjang mu sayang" ujar Felix tersenyum senang karena menantunya sudah sadar, dan baik-baik saja.


"Tapi, di mana anakku mom??


"Ada di ruang bayi sayang, karena waktu itu kamu harus menjalani operasi, karena keadaannya lemah, karena kamu juga lemah, hingga kami memutuskan untuk melakukan operasi, meski kandungan mu, sesungguhnya belum cukup umur untuk melahirkan.


Atika hanya mengangguk paham, tak mempermasalahkan apa yang di katakan mommy nya,, justru pikirannya tertuju pada Rafa, ia tahu suaminya pasti sedih karena ia tidak menjawab ucapan suaminya itu.


Siska dan jhon pun pamit, perasaan lega pun mereka rasakan, beban berat, rasa bersalah yang selalu mewarnai keseharian mereka kini, terasa plong, membuat Siska bisa sedikit tersenyum kembali.


Next....

__ADS_1


Up lagi ya Sob, jempol-jempol nya mana??


dukung ya🙏🙏🙏


__ADS_2